Rabu, 31 Desember 2008

Mengaca Demokrasi, Kita Yang Kalah

Oleh T. WIJAYA

DEMOKRASI yang masuk ke dalam kesadaran masyarakat Sumatra Selatan, ceritanya seperti kilat atau petir. Setelah menggantikan fasisme, demokrasi tanpa dialog nasional yang panjang langsung menyentuh wilayah kelokalan di Nusantara, termasuk di Sumatra Selatan.
Seseorang di Mekakau, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan, yang biasanya penuh ketakutan dan tekanan saat menentukan satu sikap politik, tiba-tiba seperti orang yang baru bangun tidur, langsung diminta menentukan siapa yang akan mewakili dirinya di parlemen atau pemerintahan; apakah tetangganya, saudaranya, atau dirinya sendiri. Panik. Gagap. Tapi penuh emosi.
Jadi, tak heran, demokrasi lokal yang berlangsung di Indonesia, khususnya di Sumatra Selatan, melahirkan fragmen-fragmen yang mengenaskan, aktor-aktor yang mengejutkan. Dapat dikatakan sampai menjelang Pemilu 2009, kepanikan menyerap demokrasi itu masih berlangsung. Pertarungan antara pejuang demokrasi dan pemanfaat isu demokrasi terus berlangsung. Pada akhirnya, rakyat menjadi bingung, marah, pragmatis, hingga irasional.
Dan, yang mengejutkan, aktor atau lembaga yang semasa Soeharto berkuasa tidak pernah mengenal demokrasi secara utuh, justru hingga hari ini berada di depan dalam memanfaatkan demokrasi. Birokrat yang selama ini hidup dalam kepatuhan yang absurd, justru mampu memanfaatkan demokrasi secara baik dalam mengelola politik, ekonomi, dan sosial. Dan, mereka yang selama Soeharto berkuasa sudah sering berteriak demokrasi justru sebagian besar termarginalkan atau terkalahkan.
Salah satu kekuatan itu yakni para pekerja seni. Tepatnya, apa yang didapatkan para pekerja seni selama proses demokrasi yang berlangsung di Sumatra Selatan sejak Soeharto lengser hingga hari ini? Dapat dikatakan jauh dari harapan, apalagi bila dibandingkan dengan dampak revolusi yang berlangsung di Prancis, Amerika Serikat, termasuk di Iran dan sejumlah negara pecahan Uni Soviet.

Kebijakan
Kegagalan para pekerja seni di Sumatra Selatan memaknai demokrasi yakni ketika mereka gagal menguasai Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Mereka dikalahkan oleh sekelompok birokrat, dan pekerja seni yang kebetulan juga menjadi birokrat.
Keinginan mengubah lembaga kesenian itu menjadi sarana perjuangan, sejak 1998 hingga hari ini, menjadi sia-sia. Tak heran, lokasi Taman Budaya Sriwijaya yang berada di Jalan POM IX Palembang justru diambilalih pemilik modal, yang kemudian dijadikan lokasi hotel dan pusat perbelanjaan. Baru setelah ada desakan atau juga sebuah pemanfaatan prasarana, gedung kesenian itu diganti dengan gedung yang berada di Jakabaring, Palembang. Ironisnya, lantaran tidak memiliki dana yang cukup buat melakukan pemeliharaan, Dewan Kesenian Sumatra Selatan melepaskan gedung kesenian tersebut buat dikelola pihak pemerintah.
Kegagalan lainnya, para pekerja seni tidak mampu mendesak Dewan Kesenian Sumatra Selatan melahirkan satu pun kebijakan yang terkait dengan seni dan budaya. Sehingga tak heran, subsidi kesenian nyaris tidak ada. Tidak itu saja, berbagai program pemerintah yang berbau seni dan budaya, hampir semua keputusannya diambil oleh para birokrat. Para pekerja seni—umumnya yang juga birokrat—dilibatkan sebagai pelaksana kegiatan. Buruh kesenian.
Di luar Dewan Kesenian Sumatra Selatan, para pekerja seni juga gagal memaknai demokrasi. Ada beberapa langkah yang cukup cerdas dan memiliki potensi keberhasilan, seperti kongres seniman Sumatra Selatan yang melahirkan Majelis Seniman Sumatra Selatan (MSS). Sayang, sejak 2003, lembaga itu tidak berhasil memperjuangkan satu pun kebijakan atau menyediakan sebuah fasilitas berkesenian yang menjadi amanah konggres. Begitupun ketika sejumlah pekerja seni mampu menguasai Dewan Kesenian Palembang (DKP), yang selama tiga tahun ini, belum berhasil menelorkan satu pun kebijakan yang terkait seni dan budaya.

Keaktoran
Memanfaatkan demokrasi, juga dilakukan para pekerja seni Sumatra Selatan secara individu, yakni dengan memanfaatkan dunia politik. Sayangnya, lantaran tidak memiliki dukungan massa, ekonomi, yang kuat, mereka pun kalah dalam pertarungan "liberal". Mereka dikalahkan mantan birokrat, mantan meliter, pengusaha, aktifis organisasi massa, yang sebetulnya baru belajar berdemokrasi sejak Soeharto tumbang.
Yang lebih mengejutkan lagi, para pekerja seni yang dikenal banyak berkarya selama Soeharto berkuasa, justru menghilang. Ada beberapa alasan yang membuat mereka menghilang. Mulai dari memanfaatkan kebebasan akses ekonomi, seperti menjadi pengusaha atau profesional di bidang yang lebih menguntungkan secara finansial, hingga yang menjadi "penghubung" aktor demokrasi, atau terlindas dalam pergaulan sosial dan ekonomi, yang memang agak lebih liberal.
Fakta ini dapat dilihat minimnya frekwensi pementasan teater yang digarap secara serius, seperti yang dilakukan Teater Kembara atau Teater Potlot di masa Orde Baru. Begitupun dengan seni rupa, yang gagal menaikan frekwensi pameran tunggal, meskipun seni rupa merupakan wilayah lebih cepat mendapatkan apresiasi dari publik. Dan, terakhir tari. Saya tidak mendapatkan karya-karya tari semacam garapan Elly Rudi saat Soeharto masih berkuasa dulu.
Mungkin, yang agak berhasil memanfaatkan demokrasi para pekerja sastra dan musik. Para pekerja sastra, misalnya, mereka tidak hanya mengoptimalkan publikasi melalui buku lantaran percetakan yang kian murah—sebagai dampak persaingan bisnis—juga dunia ruang ekspresi lainnya, seperti internet sebagai dampak dari kebebasan media. Sementara musik, tetap mempertahankan kondisinya seperti dulu.
Memang, pemanfaat pekerja sastra dan musik terhadap demokrasi lokal, belum begitu mendalam saat mengeksplorasi kelokalan, meskipun memiliki ruang kebebasan begitu besar.
Di sisi lain, para pekerja sastra dan musik ini juga mampu memainkan dua peran sekaligus dalam proses demokrasi lokal. Artinya, mereka dapat terus berkarya, dan dapat juga memanfaatkan akses ekonomi secara baik. Tidak heran, bila di era Soeharto, kehidupan para pekerja sastra dan musik ini sederhana atau kekurangan, di masa reformasi hidup mereka jauh lebih baik.
Pada 5 atau 10 tahun mendatang, berbeda dengan Revolusi Prancis, para pekerja seni dari sastra dan musik yang akan lebih dahulu memanfaatkan demokrasi, dibandingkan para perupa.

Pilihan Langkah
Pertanyaan pentingnya, bagaimanakah para pekerja seni di Sumatra Selatan dapat memanfaatkan demokrasi secara baik, sehingga mereka tidak tergilas arus kebijakan Bank Dunia?
Menurut saya, ada beberapa langkah yang harus diambil. Pertama, membangun kepercayaan publik atau memperluas pergaulan, sehingga memiliki hubungan yang baik dengan kekuatan lainnya dalam memanfaatkan demokrasi. Dalam hal ini, para pekerja seni di Sumatra Selatan harus terus menunjukkan karyanya, tanpa satu pun alasan menghentikannya, seperti halnya semangat tersebut hadir pada saat Soeharto berkuasa.
Kedua, bila muncul kepercayaan ini, para pekerja seni dapat mendesak atau melobi kekuatan politik untuk melahirkan berbagai kebijakan yang terkait dengan seni dan budaya. Ketiga, setelah mendapatkan dukungan atau kekuatan hukum tersebut, para pekerja seni dapat memanfaatkannya dengan menjalankan berbagai program pembangunan humaniora yang selama Soeharto berkuasa sangat dimimpikan.
Keempat, bila tiga tahapan di atas dilalui secara baik, maka demokrasi yang berlangsung merupakan tangga bagi seni dan budaya menjadi panglima peradaban. Bukan menyerahkannya kepada kekuatan modal, yang jelas-jelas telah menghancurkan kemanusiaan, seperti yang kita biarkan berlangsung saat ini. [*]

Kamis, 25 Desember 2008

Internet Lebih Penting daripada Koran

Oleh Eddi Santosa - detikNews
Washington - Internet merupakan sumber berita penting di Amerika, melampaui koran. Demikian hasil penelitian Pew Research Center, seperti dilaporkan de Volkskrant dari ANP hari ini (25/12/2008).

Internet dipilih 40% responden sebagai sumber penting berita, padahal 5 tahun lalu baru 20%. Sementara 35% responden memilih koran atau menyusut 15% dibandingkan 5 tahun lalu yang mencapai 50%.

Televisi masih menjadi sumber berita penting, namun popularitasnya menurun tajam di kalangan usia 30 tahun ke bawah. Sebanyak 70% responden masih menyebut layar kaca itu sebagai sumber berita penting nasional maupun internasional.(es/es)

http://www.detiknews.com/read/2008/12/25/193623/1059538/10/internet-lebih-penting-daripada-koran

Rabu, 24 Desember 2008

Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI


Hendri, salah satu peserta yang dirinya juga terkutip dalam buku Indonesia Dikhianati.

Suasana diskusi, yang sebagian besar aktifis dan wartawan.

Suasana diskusi.

Tarech Rasyid, seorang peserta diskusi, yang aktifitasnya terekam dalam buku Indonesia Dikhianati tersebut.

Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI


Sutrisman Dinah, moderator diskusi terbatas tentang buku Indonesia Dikhianati yang digelar harian Sriwijaya Post, Rabu (24/12/2008), di Horison, Jalan Angkatan 45, Palembang.

Para peserta diskusi buku Indonesia Dikhianati.

Aziz Kamis, seorang peserta diskusi juga menyatakan hal yang sama seperti Bambang Hariyanto, SH. Dia merasa keberatan dengan pernyatan Collins dalam buku tersebut.

Bambang Hariyanto, SH, seorang pengacara, yang ikut diskusi. Saat diskusi Bambang menyatakan keberatan dengan sejumlah data yang disodorkan dalam buku Indonesia Dikhianati, dan dia berencana melakukan upaya hukum.

Hadi Prayogo, Pimred Harian Sriwijaya Post, saat membuka diskusi buku Indonesia Dikhianati karya Elizabeth Collins dari Ohio University, Rabu (24/12/2008).

Cerpen "Pelangi Nusantara" Sigid Widagdo

INI cerpen karya Sigid Widagdo yang berjudul "Pelangi Nusantara". Cerpen pemenang ketiga dalam JILFest 2008. Sigid merupakan generasi baru cerpenis di Palembang. Menyimak cerpennya, kita menemukan gaya realis, yang mana sudah kita jarang temukan dari para cerpenis muda saat ini. Inilah cerpen tersebut:

Pelangi Nusantara

Cerpen Sigid Widagdo

Tar... ter... tor... ter... dor..., suara petasan bersahut sahut. Ratusan petasan yang diikat memanjang di batang rambutan itu sumbunya mulai terbakar satu persatu, lalu meledak mengeluarkan suara keras bertepatan dengan pecahnya gulungan kertas pembungkus bubuk mesiu, menjadi ribuan serpih yang melayang bertebaran di udara kemudian berserak jatuh ke tanah. Minggu pagi, pada satu perkampungan padat di Bintaro pinggiran Jakarta Selatan, pecah seketika, pertanda pesta pernikahan segera dimulai.
Lamat-lamat bebunyian lain muncul dari ujung jalan. Suara gendang kayu ditabuh seperti mengiringi pencak silat meliukkan jurusnya. Kenongan seng dipukul layaknya pertunjukan lenong sedang berlangsung. Tekyan yang digesek mengeluarkan suara ratapan gembira gadis negeri tirai bambu. Dan walau tidak ada balatentara kompeni yang berbaris pada upacara kenegaraannya, suara trombon dan terompet yang ditiup juga terdengar. Sebuah kolaborasi musik yang tersajikan instrumental, perpaduan Gambang Kromong dan Tanjidor, dengan dua boneka besar sebagai dirigennya.
Dua boneka besar itu setinggi dua kali tinggi orang Indonesia kebanyakan. Badannya sangat besar, pelukan dua orang dewasa belum sanggup merangkul seluruh lingkar perut boneka itu. Di kepalanya mengenakan kedok, yang satu berwarna merah dengan mata melotot dan kumis tebal, yang satunya lagi berwarna putih matanya lebih sipit dan lentik. Rambutnya dibuat dari ijuk berhias bunga kelapa, tegak-tegak berdiri tak bergeming diterpa angin. Baju dan selendang di bahunya berwarna cerah mencolok. Dan sarung berwarna gelap bermotif batik menutupi bagian bawahnya. Di daerah lain juga terdapat boneka seperti itu. Kami menyebutnya ondel-ondel. Melenggok kiri kanan, menjadi bintang tamu dalam arak-arakan.
Bintang utamanya Sang Pangeran yang ditunggu itu, Tan Liong San, yang bisa dipanggil A Liong, mengenakan baju koko panjang sampai ke mata kaki berwarna merah dengan hiasan keemasan dan topi bulat merah menutupi kepala. Payung kebesaran, yang memang berukuran besar itu, mencegah sinar matahari menyentuh tubuhnya. Matanya yang sipit serta melihat perawakan, penampilan, apalagi namanya itu, semua orang tahu Sang Pangeran adalah orang Tionghoa. Ia berjalan pelahan di tengah arak-arakan dengan puluhan orang mendampinginya.
Pertunjukan ini jadi tontonan langka yang takkan terlupakan untuk orang kampung metropolitan. Banyak juga yang baru pertama kali menyaksikan. Anak-anak berjingkrakan lari-lari kecil menggoda ondel-ondel.
Cing Nawi sudah siap sedari tadi di halaman rumahnya menunggu arak-arakan besan datang. Ia tampak sederhana, seperti seorang pendekar tobat dan menjadi wali. Busana serba putih dengan kopiah haji, dan sandal tertutup penuh pada bagian depan yang juga berwarna putih. Ia tidak seram seperti biasanya. Kumis tebalnya tertata rapi. Kaos putih, celana tiga perempat berwarna hitam, dan ikat pinggang besar berwarna hijau, yang menjadi seragam sehari-hari, tersimpan rapi dalam kamar, bersama golok kesayangannya.
Anak ketiga Cing Nawi, Minah, tak sabar lagi menunggu Sang Pangeran datang. Dalam baju kurung berwarna merah, wajah tertutup rumbai cadar dengan rambut tersanggul berhias kembang. Dan terpenting, di dahi Minah terlukis bulan sabit merah, tanda kesucian Sang Permaisuri. Kalaupun bulan sabit ini menjadi simbol hiasan adat semata, cukuplah Sang Pangeran yang tahu.
“Assalamualaikum.” Bapak A Liong memberi salam lalu menyalami Cing Nawi.
“Waalaikumsalam.” Cing Nawi bergegas mengucap salam seraya mempersilakan rombongan masuk.
A Liong segera mempertemukan kedua belah telapak tangannya, menjulurkan kepada Cing Nawi sambil membungkukkan badan dan menundukkan kepala. Sang Pangeran siap dinobatkan sebagai raja sehari dengan penyematan tahtanya, Ratu Minah, oleh Cing Nawi yang berwenang.
Kesunguhan cinta A Liong dan Minah meruntuhkan perbedaan etnis dan agama. Apalagi sekedar gunjingan orang. Kedua manusia dimabuk cinta ini malah mempersatukannya dengan indah. Prosesi dilakukan seadanya, tidak serumit pakemnya. Raja dan ratu sehari sudah duduk disinggasana.
Teras dan halaman rumah yang dipenuhi bangku dengan penutup tenda mulai terisi. Cing Nawi masih sibuk menyambut tamu undangan. Banyak juga saudara kandungnya yang sudah jadi orang udik datang dari luar kota. Para tetangga pun kondangan. Mas Paijo mengenakan batik dengan belangkon di kepala datang lebih dulu.
“Ora bawa keris, Mas ?” canda Cing Nawi menyalami Mas Paijo dengan tangan kiri merangkul ke pinggang belakang.
“Lupa Bang. Loh … golok Abang mana?” Balas Mas Paijo dengan logat Jawa totok sambil tertawa kecil.
Badaruddin datang menggandeng istrinya yang mengenakan baju kurung dengan sarung bertenun songket. Situmorang tampak mengenakan selendang ulos. Beberapa tamu lainnya mengunakan baju adat masing-masing. Ada juga yang menggunakan baju muslim dan jas tanpa dasi. Anak-anak muda banyak juga yang menggunakan kemeja dan celana jin. Tidak sedikit yang datang seperti pendekar Betawi, tentu tanpa golok. Juga datang Koh Tao mengenakan baju koko berwarna merah terang dengan topi bulat yang juga berwana merah.
“Haya... lu undang orang dari seluruh Indonesia,” sapa Koh Tao menyalami Cing Nawi melihat tamu undangan yang mengenakan pakaian adat beragam yang memenuhi bangku di bawah tenda itu.
“Pan dari Cina juga aye undang. Sebentar lagi dateng juga saudara aye yang pake seragam kompeni,” canda Cing Nawi bersemangat merasa himbauan yang disebar bersama undangan, harap tidak membawa bingkisan dan mengenakan pakaian adat masing-masing, ternyata berhasil.
Cing Nawi memang dikenal sebagai pencinta budaya Betawi. Ondel-ondel dan perangkat alat musik yang meramaikan pesta adalah miliknya. Kebanyakan ia buat sendiri. Sering kali mulutnya nyerocos marah kepada anak-anaknya yang tidak perduli kepada budaya sendiri. Jadinya kebanyakan pemain musik bukan orang Betawi asli. Dan orang di dalam ondel-ondel itu, ia temukan di pasar sedang memanggul karung, yang tidak tahu dirinya beretnis apa. Orang Indonesia, katanya.
Raja dan ratu sehari sudah mulai pegal duduk berdampingan di singgasananya. Satu persatu undangan pamit menyalami Cing Nawi. Seseorang lelaki berjas hitam dengan kemeja putih lengan panjang di dalamnya menyalaminya sambil berbisik, “Kalau tanah bapak mau dijual, hubungi saya,” lelaki itu lalu pergi meninggalkan sebuah amplop di tangan Cing Nawi. Bisikan itu langsung bersemayam di benak Cing Nawi. Di tengah pesta ini, risau Cing Nawi yang lama tersimpan kembali terusik.
Saat Minah masih sekolah dasar. Kebun rambutan milik Cing Nawi dijual. Batang rambutan dibabat dan didirikan perumahan. Rumah setengah gedek bambu yang berada di tengah kebun itu pun dibongkar. Sebagai gantinya, Cing Nawi membangun rumah yang lebih besar tanpa gedek bambu sedikitpun di atas tanah yang dibelinya di pinggiran kota.
Dan setelah rumah Cing Nawi selesai dibangun, ia berniat kawin lagi. Cekcok besar dengan istrinya, Munah, terjadi. Dua anaknya yang paling besar malah mengeruhkan suasana, minta ini dan itu serasa harta hasil menjual kebun rambutan tidak akan pernah habis. Cekcok besar ditinggalnya pergi, Cing Nawi mengajak Munah menunaikan ibadah ke tanah suci. Sepulang naik haji, Cing Nawi membangun kontrakan dua pintu di sisa halaman rumahnya.
Dan pesta perkawinan anaknya yang ketiga ini diharapkan memperpanjang nafas dari tetes terakhir sisa harta hasil jual kebun rambutan yang dijadikan komplek perumahan itu. Banyak anak banyak rejeki, kiranya Cing Nawi mulai goyang kepedeannya dengan semboyan lama itu. Mungkin lebih tepatnya kali ini, banyak undangan banyak rejeki.
Walau tak sedikitpun terbersit di wajah, apalagi saat pesta pernikahan ini, Cing Nawi mulai risau memikirkan empat adik Minah yang masih sekolah, berikut kebutuhan tiga cucunya yang kadang masih disponsorinya.
Ia menyadari. Tidak hanya kebun rambutannya yang kini menjadi komplek perumahan. Daerah yang dulu dipenuhi kebun jeruk telah menjelma menjadi hutan beton bertingkat, kumpulan menara pencakar langit. Jembatan bukan hanya untuk menyebrang sungai, berangsur kota ini membuat jembatan yang melintas diatas jalan, bahkan diatasnya lagi, dan lagi.
Hutan-hutan kayu, jati, aren, dan lainnya, tinggalah menjadi sebuah nama daerah yang biasa diteriakkan kernet bis kota. Kota ini tidak pernah tidur, sibuk memperbesar diri, mempercantik, atau lebih tepatnya mempertahankan diri dari serbuan orang yang sedari dulu berdatangan menggapai mimpi.
Kebun rambutan dan hasil tanaman lain yang dulu menjadi andalan penghidupan tinggal kenangan. Kalaupun mau bertanam lagi, paling sebatas hobi. Jurus terobosan baru dengan membangun kontrakan tidak juga ampuh, semenjak anak pertama dan keduanya berkeluarga dan menempatinya. Orang bilang, ondel-ondel sudah tidak zamannya lagi. Jawara seperti Si Pitung pun bisa nganggur di kota ini.
Sudah banyak saudara-saudara sekandungnya terpental ke luar Kota Jakarta. Lantaran menjual tanah atau ada juga yang tergusur proyek pembangunan, dan kembali membeli tanah yang lebih murah di luar kota untuk menetap, lalu menjualnya lagi, dan pindah lagi. Tidak hanya sampai pingiran kota. Bahkan ada yang terpental sampai pinggiran kota lain, tetangga kota ini.
Kerisauaan Cing Nawi tidak membuat gengsinya menciut. Pernikahan anaknya yang banyak mengundang protes itu malah di buat semeriah mungkin. Jauh dari bayangan keluarga besan sekalipun. Tidak cukup banyak undangan banyak rejeki, penting juga agar tidak kehilangan gengsi, sekalian promosi ondel-ondel agar tidak mati.
***
Ancur Minah. Baru enam bulan berlalu setelah pernikahan itu, perut Minah sudah besar menunggu hitungan menit mungkin jam untuk melahirkan. Saat mentari baru saja menutup mata, Minah yang tinggal di rumah utama babehnya serasa tak sanggup menahan bayi dalam kandungan.
Bidan terdekat dipanggil. Munah tidak meninggalkan anaknya barang sedetikpun. Munah tidak perduli kata orang, usia kandungan anaknya lebih tua dari masa pernikahan. A Liong mondar mandir di teras rumah. Dua orang Abang Minah berikut keluarga dan adik-adiknya ikut heboh. Dua orang tukang dukung ondel-ondel yang tinggal tidak jauh dari rumah Cing Nawi tidak ketinggalan, nongkrong di teras siap membantu jika diperlukan.
“Dasar anak kota,” Cing Nawi tampak kesal geleng-geleng kepala berjalan menuju teras, “Sini loe semuanye !” lalu duduk di kursi bambu.
Anak-anak, mantu, dan juga cucu-cucunya berkumpul di teras. Siapa yang berani menolak panggilan murka mantan jawara Betawi. Tinggalah Bidan, Munah, dan Minah yang sedang mengerang kesakitan, bersama bayi dalam kandungan, yang tidak ikut konvensi dadakan di teras depan. Tukang dukung ondel-ondel memang sudah sedari tadi nongkrong di situ, otomatis jadi peserta konvensi.
“Pan gua udah omongin dari dulu, Lu pade kagak mau dengerin omongan gue.”
Kerisauaan Cing Nawi yang sudah lama mengendap dalam otaknya berkecamuk tidak terkendali. Soal kebun rambutan yang sudah terjual, soal anak-anak yang tidak menghargai budayanya sendiri, dan orang Betawi lainnya yang terlempar jauh ke luar kota, dan sekarang cucu keempatnya akan lahir melangkahi moral waktu yang telah terbentuk lama oleh leluhurnya. Bulan sabit merah di dahi Minah saat menikah hanya menjadi budaya sandiwara, kebohongan semata. Semua soal dalam benak Cing Nawi terangkai tak beraturan menjadi satu, kecamuk itu sedang puncaknya, meminta jawab.
“Ini memang Jakarta bukan Betawi lagi. Tapi lu-lu pade kudu menghargai budaye.” Cing Nawi mengawali orasinya tanpa sanggah sedikitpun. Hingga hampir seperti berbicara sendiri. Seperti ini kiranya :
Budaya itu pegangan hidup agar tidak mudah tersesat, agar kita tidak tergelincir dari moral dan etika serta indahnya ajaran agama. Betawi boleh berubah, kebun dan hutan telah menemui ajalnya, langit-langit Jakarta boleh saja koyak tercakar tingginya manara, tapi budaya tidak boleh mati.
“Jangan lu pikir budaye hanya manggul ondel-ondel. Mau lu, gua masukin museum ?” Mata Cing Nawi melotot dengan tangan menujuk kepada seluruh anak-anak dan mantunya.
Tukang panggul ondel-ondel yang tidak kena tunjuk malah terkejut. Tidak terlalu mengikuti orasi Cing Nawi, kok tahu-tahu ingin dimasukkan ke museum. Mendengar Cing Nawi sering menyebut ondel-ondel, tukang panggul ondel-ondel mulai konsentrasi. Cing Nawi semakin tidak terbendung melanjutkan:
Ondel-ondel boleh saja berlenggok di istana menyambut tamu kehormatan atau berlenggok sesuka hati saat ulang tahun Jakarta. Bahkan kalau disimpan di seluruh museum yang ada di kota ini juga tidak apa. Namun jangan sampai sejarah, nilai moral dan etika yang terkadung didalamnnya ikut tersimpan di museum. Jadilah kota ini tempat ondel-ondel bisa bergaul dengan wayang kulit, golek, dan orang. Boleh juga bercengkrama dengan barongsai, bahkan dengan sincan dan donal bebek sekalipun.
“Kalo sampe semuanye tinggal di museum, Jakarta bakal ancur.”
Cing Nawi belum selesai : Jika tidak ada lagi moral dan etika yang tersisa dari budaya, Jakarta akan menjadi hutan belantara. Tidak cukup hutan beton menara, jalan melintang-lintang di atas jalan, bahkan seluruh lampu di kota ini yang telah mengalahkan pesona bintang di waktu malam, belum cukup kuat mempertahankan keberadaan kota tanpa budaya leluhur.
Tangis bayi menginterupsi orasi Cing Nawi. Peserta konvensi bubar seketika. A Liong lari lebih dulu masuk ke kamar Minah. Cing Nawi masih duduk di bangku bambu di teras rumahnya.
A Liong kembali ke teras mengabari, “Syukur, Beh. Ganteng kaya Engkongnya.” Lalu menyalami mertuanya, dengan hormat persis saat ia menjadi Sang Pangeran yang memohon restu kepada Cing Nawi agar dinobatkan menjadi raja sehari.
“Nah, lu kayaknya udah mulai ngerti yang gua omongin tadi.”
A Liong dengan wajah penuh syukur masih berdiri disebelah Cing Nawi.
“Gua kasih nama anak loe, Nursan.”
Risau Cing Nawi yang memuncak kecamuknya mulai redam bersama tangis Nursan. Cing Nawi menutup orasinya, yang lebih mirip seperti doa penuh kebaikan : Nursan artinya cahaya nusantara. Agar semua anak tidak melupakan budaya leluhurnya saat dewasa. Ingat akan cahaya asalnya, berbaur dengan cahaya lainnya, melahirkan warna yang membias mewarna-warni, menjadi pelangi. Dan pelangi nusantara itu adalah Jakarta.
Biarkan pelangi itu menunjukan keindahan warna-warninya. Jangan sampai hilang barang satu warna. Kalau sampai Jakarta ini hilang warna-warninya. Ia akan lupa dirinya sendiri. Lalu membias sampai seluruh nusantara, yang juga akan lupa akan jati dirinya. Seketika itu, ia akan hancur. Namun tidak hari ini, juga berabad lagi. Jakarta tetap menjadi pelangi nusantara.
Tengah malam menjelang, tangis Nursan masih terdengar, membawa harapan baru.

Palembang, awal November 2008

Jumat, 12 Desember 2008

Sekilas Puisi Menandai Internet

Oleh T.WIJAYA

SAYA akan mengatakan, meskipun dunia dipenuhi makanan instan, politikus busuk, peperangan, penyakit mematikan, orang-orang yang bunuh diri, beragam bentuk sepatu, jutaan aroma parfum, menumpuknya utang negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, miliaran manusia menikah sesama jenis atau berlainan jenis, triliunan mobil dan sepeda motor dibuat, atau jutaan buruh dipecat dan jutaan petani kehilangan lahan, puisi tetap hidup. Puisi tetap lahir, hadir, walaupun kita tidak tahu di mana sebenarnya puisi-puisi itu diciptakan. Apakah lahir dari keliaran hati dan pikiran seorang penyair, atau dia memang ada sebelum manusia ada? Dia tumbuh di daun, berdiam di dalam batu, menggeliat di dalam air, menari di bungkus mi instan, batuk-batuk di bungkus rokok, bersenandung di alkitab, membelai dan menghentak bersama angin, membakar bersama matahari. Entahlah. Mungkin, kira-kira puisi selalu bersuara bersama bayangan Tuhan, yang saya percayai.
Mengapa saya mengatakan kalimat-kalimat yang mungkin terkesan meledak itu? Tak lain lantaran saya mengarungi sebuah lautan puisi di dunia internet. Saya geger budaya. Ya, memasuki wilayah atau negara baru yang 20 tahun lalu tidak terbayangkan. Berkenalan dengan banyak puisi bersama wajah, suara, bahasa, dari manusia yang menyampaikannya.
Website youtube atau dengan alamat www.youtube.com, memberikan suatu rumah yang begitu luas. Begitu juga halnya blog dengan alamat www.blogger.com, facebook atau www.facebook, multiply atau www.multiply.com, dan sebagainya.
Siapa pun penyair atau penikmat puisi dapat membuat kamarnya. Berekspresi sebebasnya, meskipun ada batasan etika, misalnya, jangan bersikap rasis atau mengundang dan mengajak berbuat kejahatan kemanusiaan.
Nah, di dunia internet itu miliaran puisi bertaburan. Mereka melintasi benua, berseliweran di kabel telepon, menembus badai, gempa bumi, seakan bersaing dengan mimpi-mimpi dan keinginan manusia.

Puisi Digital

SETAHUN belakangan ini, saya banyak memberikan waktu buat mengarungi youtube. Saya menyukai website ini lantaran dia menghadirkan puisi secara visual. Saya sebut puisi digital. Baik berupa video kreatif, live pembacaan puisi di panggung, di kamar, di jalan, di pasar, hingga animasi.
Berdasarkan data channel puisi di youtube yang saya temukan—mungkin akurasinya tidak lemah dan bisa bertambah atau berkurang saat ini—terdapat lebih kurang 421 channel puisi!
Channel puisi ini baik dikelola seorang penyair, organisasi, atau seorang remaja yang senang menulis puisi. Mulai dari www.youtube.com/user/badboypoet hingga www.youtube.com/user/ashaj45.
Menariknya, channel-channel tersebut saling berkomunikasi dan berbagi karya. Mereka berteman begitu saja dengan latar belakang budaya dan wilayah yang ribuan mil jauhnya. Pertemanan mereka tidak dibatasi agama, etnis, apalagi ideology.
Apa yang menarik dari puisi-puisi pada channel mereka? Tentu saja semua puisi ditampilkan dalam bentuk video, sebab youtube merupakan negara video terbesar dan terpopuler saat ini.
Di youtube, tampaknya seorang penyair tidak hanya dituntut pandai menulis, dia juga harus mampu memvisualkan karyanya—sekreatif mungkin—dalam sebuah video. Dampaknya setiap saat youtube menjadi ruang pertunjukkan puisi yang dapat dinikmati siapa pun di dunia ini. Mereka menyaksikannya secara gratis, di mana pun tempat, dan waktunya dapat ditentukan sendiri.
Anda akan menemukan puisi Four Quartets karyaT.S. Eliot yang dibacakan seorang nenek menyebutkan dirinya Ida (80) di channel www.youtube.com/user/Idlinfarm, lalu para penyair yang sekian abad lalu sudah mati, seperti Edgar Allan Poe, Gerard Manley, Alfred Lord, Walt Whitman, Ezra Pound, Zinaida Gippius, Dante Gabriel Rosseti, James Weldon, di youtube kembali hidup lalu membacakan puisinya di channel www.youtube.com/user/poetryanimations, puisi-puisi yang dalam film animasi pada www.youtube.com/user/akatashii, mendengarkan aktor Robert Gray menyenandungkan “Swarthy as oilcloth and as squat. as Sancho Panza. wearing a beret's little stalk. the pear…” atau artinya saya terjemahkan bebas menjadi: “Berkulit hitam sama taplak berlapis minyak dan seperti, berjongkok, seperti Sancho Panza, memakai suatu stalk kabaret yang kecil , buah per…” dari puisinya berjudul A Bowl of Pears di www.youtube.com/user/poetryinternational, hingga kita dapat mendengarkan puisi yang di-Rap-kan dalam banyak channel, contohnya channel www.youtube.com/user/PoeM1988. Sedikit promosi, jika Anda buat mencarinya di internet, Anda cukup mengklik blog saya www.sajakdigital.blogspot.com. Di sana Anda menemukan 113 channel puisi yang ada di youtube.

Masih Asing
Tetapi, yang mengejutkan, ternyata sulit sekali menemukan puisi digital atau video puisi para penyair Indonesia. Baik yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup. Saya beruntung menemukan puisi Aku dan Tuhanku karya Sutan Takdir Alisjahbana yang dibacakan Dian Sastrowardoyo dalam acara 100 tahun STA. Untungnya juga penyair seperti Chairil Anwar, Sutardji Calsoum Bahri atau WS Rendra banyak ditemukan.
Saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi. Padahal bila ditelisik dari perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, penyair selalu di depan. Katakanlah, pada saat masyarakat Indonesia butuh hurup latin, penyairlah yang lebih dulu pandai membaca dan menulis, begitupun soal tradisi mencetak buku.
Memang, saya nyaris menemukan para penyair di Indonesia dalam sebuah blog. Tetapi, saya merasakan itu semacam pemindahan ruang baca, dari media cetak, buku, ke dunia internet. Artinya, dapat dikatakan para penyair di Indonesia masih percaya puisi adalah bahasa tulis, bukan bagian dari sebuah proses penandaan dengan menggunakan berbagai bahasa lain, seperti bunyi dan rupa.
Terlepas soal perdebatan mengenai media puisi, saya melihat fenomena puisi digital yang mulai membooming sejak 2006 atau 2007 lalu di berbagai belahan dunia, merupakan media yang cukup efektif dan artistic dalam membangun komunikasi dengan mayarakat pecinta puisi di dunia.
Apalagi saat ini, dunia video bukan merupakan sesuatu yang mahal atau mewah. Tiap computer kini memiliki program pengolahan video, alat perekam gambar bukan hanya tergantung pada kamera yang harganya jutaan rupiah seperti dimiliki stasion televisi, sebab sebuah handphone yang harganya ratusan ribu kini sudah dapat memotret dan merekam gambar. Lalu, ribuan jaringan internet, baik di warung internet atau di rumah, siap dikunjungi.
Jelasnya, saya merasakan penyair hari ini dituntut seperti di awal abad masehi, yang mampu menampilkan puisi dalam beragam penandaan, atau seperti kita mendengarkan senandung puisi di sebuah dusun di kaki Bukitbarisan.
Namun, ada satu hal yang harus diingat sebelum menggunakan internet. Dunia internet juga memiliki etikanya. Semangat internet adalah semangat berbagi sebagai sikap kritis atas dominasi informasi yang selama ini dimainkan pemerintah, humanis, individualistic, dan tidak rasis. Pengguna internet yang baik yakni memberikan ruang bagi banyak orang. Bila egois, niscaya dia akan kesepian dalamt pergaulan, tak ada yang mau ke rumah kita seandainya tamu yang sedikit atau cenderung memilih.
Selain itu, saya ulangi lagi, etika tetap dijaga. Yang cukup mengejutkan saya—kecuali blog atau situs khusus porno—di dunia barat yang selama ini dipercaya sangat “bebas” ternyata mereka sangat menjunjung etika. Gambar-gambar yang ditampilkan jauh lebih sopan, atau tidak mengekspos pornografi atau “seks” dalam pengertian pribadi. Bila ada yang berbau porno, itu semata berkarakter natural, sebab ditampilkan sangat hati-hati. Bagaimana tidak, bila itu dilanggar alamat mereka akan dihapus—terutama yang gratisan—dan akan diasingkan para pengguna internet lainnya.
Jadi, mempertegas pernyataan saya di awal tulisan ini, sebenarnya tak ada kuburan bagi puisi. Ketika penyair kehilangan pena dan kertas, media cetak, gedung kesenian, mesin cetak, kebebasan berekspresi, internet menjadi kebun bunga, lapangan sepakbola, atau negara yang lebih luas dan bebas. [*]

Minggu, 07 Desember 2008

Inside Your Shoes

Jumat, 05 Desember 2008

DKSS Persiapan Renstra Pembangunan Humaniora

GUNA mewujudkan manusia Sumatra Selatan ke depan yang lebih sehat dan cerdas, menurut Dewan Kesenian Sumatra Selatan, dibutuhkan strategi pembangunan humaniora. Bukan semata pembangunan fisik atau sarana dan prasarana.
“Kami telah menyusun sebuah renstra yang akan digunakan dalam kepengurusan DKSS periode 2009-2014 mendatang,” kata Z.A. Narasinga, sesuai rapat persiapan musyawarah seniman Sumsel pada akhir Januari 2009, di sekretariat Dewan Kesenian Sumsel, Jalan Amri Yahya Palembang, Jumat (05/12/2008).
Supriyadi, Z.A. Narasinga, Didik Kamil
Dijelaskan Narasinga, selama kepengurusan DKSS selama lima tahun itu, ditargetkan berdirinya sebuah perguruan tinggi seni di Sumatra Selatan. Selain itu, lahirnya sebuah landasan hukum dalam pembangunan seni dan budaya di Sumsel dalam bentuk peraturan daerah. “Kita juga berharap adanya penambahan fasilitas seni dan budaya, serta penguatan sumber daya manusia seni dan budaya seperti dalam bentuk pelatihan dan bea siswa pendidikan,” katanya.
Pernyataan Narasinga ini dipertegas oleh pekerja seni Didik Kamil. “Kita sudah terlambat sekian puluhan tahun dari daerah lain di Indonesia. Sekian abad dari negara-negara luar. Kini saatnya kita memperbaiki atau menyempurnakan semua kebijakan pemerintah. Program Sumsel sehat dan cerdas merupakan peluang guna melaksanakan pembangunan humaniora,” kata Didik.
Sedangkan Supriyadi, seorang dosen dari Universitas Sriwijaya mengatakan DKSS ke depan juga akan mendorong perguruan tinggi di Sumatra Selatan untuk meningkatkan pemberian pendidikan di bidang kebudayaan. “Misalnya Unsri sudah sepantasnya membuka fakultas sastra atau fakultas kebudayaan,” katanya.
Lalu, di tingkat pendidikan dasar, kurikulum sudah harus dimasuki dengan muatan budaya lokal.
Z.A.Narasinga
Didik Kamil
Musyawarah Budayawan
Pada akhir Januari 2008, selain digelar pesta seni, kemah seniman, musyawarah seniman, juga dilangsungkan musyawarah budayawan. “Semua menampung semua pekerja seni dan budaya di Sumsel. Mulai dari pekerja seni, pekerja budaya, dan aktifis seni dan budaya. Dari pentas seni, pameran, hingga berdiskusi, dan merumuskan berbagai rekomendasi pembangunan kebudayaan Sumsel ke depan,” kata Narasinga.

Selasa, 02 Desember 2008

Boy Legend From Musi River

Oleh T. WIJAYA

PADA zaman dahulu. Abad 20 Masehi. Hiduplah seorang lelaki, berhidung mancung, beralis tebal, berkumis dan berjanggut tipis, tubuh agak tambun, berambut ikal panjang sebahu, dan paling senang makan masakan pindang. Dari pindang tulang sapi hingga pindang kepala ikan patin. Dia bukan anak seorang raja, bukan pula anak seorang petani. Dia anak seorang pegawai sebuah perusahaan pengolahan minyak bumi di Plaju, Palembang.
Sore itu, dia bercerita; puluhan tahun lalu, saat dia masih kanak-kanak, tiap sore atau malam setelah mengaji dan belajar, buyutnya banyak bercerita tentang legenda-legenda yang berkembang di masyarakat Palembang, khususnya di sepanjang tepian sungai Musi.
Dia juga bercerita saat itu mudah sekali mencari ikan di sungai Musi. “Kita biso mancing iwak selontok dari cela-cela papan lantai rumah,” katanya. Sementara sekarang, lanjutnya, mancing semalaman, sulit sekali mendapatkan ikan juaro seberat 1 kilogram. Saya manggut-manggut; setuju. “Padahal kotoran manusia yang dibuang ke sungi Musi, kian hari kian bertambah. Logikanya iwak juaro seharusnya cepet beranak dan cepet besak, ,” kata saya. Dia tertawa.
“Awak pecak tau nian iwak juaro senang makan itu...?”
“Aku nih jugo wong plembang. Lahir di tepi sungi Musi,” jawab saya dengan membusungkan dada.
“Awak pacak manjat?”
“Idak.”
“Pacak berenang?”
“Idak jugo.”
“Dak jelas awak nih. Kalu wong sungi pasti pacak berenang, kalau wong darat pasti pacak manjat pohon. Awak nih dak jelas nian. Lahir di sungi tapi dak pacak berenang.”
Saya terdiam. Dia cengar-cengir.
Sekian detik kemudian ujung bibirnya menurun. “Aku kangen dengan masa kecilku. Aku juga kangen dengan dongeng, legenda, yang diceritakan buyutku. Aku pengen nulisnyo,” katanya.
Saya terus diam, sebab masa kecil saya dipenuhi kisah petualangan Batman, Superman, atau Bobo. Kalau saya kangen dengan masa kecil, saya cukup membuka buku-buku cerita milik anak saya.
“Pecak mano kalu cerito-cerito buyut awak tuh diterbitkan dalam buku. Rasonya belum ado buku kumpulan cerito pecak itu. Sementara wong tuo sudah sedikit yang seneng bercerito pecak buyut awak tu,” kata saya.
“Setuju nian aku. Bagus nian ide awak tu.”

19 tahun lalu. Lelaki itu selalu berpenampilan seperti seorang bule dari Texas, Amerika Serikat. Bercelana blue jeans. Rambut disisir rapi ke belakang, bergaya Elvis Presley. Mengenakan sepatu dan tali pinggang dari kulit buaya. Berkaos ketat. Mengenakan jaket, juga dari kulit, berwarna hitam atau coklat susu. Pokoknya dia selalu tampil necis bila berkumpul dengan teman-teman pekerja seni.
“Oi borjuis! Jangan awak sering ngumpul di sini,” kata saya.
Dia bergegas mendekati saya. “Yo, kalu awak ploletar.”
“Indonesia sekarang nih miskin. Jadi jangan awak banyak gaya.”
“Apo wong miskin dan susah tidak boleh bergaya?” tanyanya.
“Yo. Sebab itu tidak mencerminkan jiwo perlawanan.”
Dia pergi, “Dasar gilo.”
12 tahun kemudian. Dia tetap tampil penuh gaya. Bedanya, rambutnya panjang. Tapi, mungkin karena ikal dan sedikit botak, rambutnya sering disisir ke belakang dan diikat ujungnya.
“Bagus nian jaket awak, nih,” katanya, mengomentari jaket hitam yang sangat kenakan.
“Apo wong miskin dak boleh bergaya?”
Kami tertawa. Kami wong miskin yang sadar dengan gaya.
“Kalu di surga kagek Allah pasti mewajibkan kito tampil penuh gaya, dan aroma tubuh wangi. Sebab mano ado bidadari di surga seneng dengan kito kalu tampil kayak Chairil Anwar. Kurus, kumel, dan bau.” Saya membuat kesimpulan. Dia tersenyum. Dipegangnya buku novel saya yang baru diterbitkan saat itu, Juaro.

1 Desember 2008, dia datang ke rumah saya. Dia memberikan saya sebuah buku yang baru ditulisnya, dan diproduksi oleh Dinas Pendidikan Sumatra Selatan. Judulnya Legenda Tepian Musi. Buku ini berisi 7 cerita legenda yang berkembang pada masyarakat di tepian sungai Musi. Baik yang berkembang pada masyarakat di Palembang maupun di daerah pedalaman.
“Buku ini katek yang salah. 100 persen bener. Menjawab kegalauanku pada novel Juaro dan Buntung. Ngapo? Sebab buku awak nih ngidupke buyut kito yang pinter dan arif.”
Dia tersenyum. Tak lama kemudian bersama seorang teman dia keluar rumah. Setengah jam kemudian dia muncul. Dia baru saja difoto.

Sebuah foto memberi satu fakta yang membuat saya terkejut. Foto dia tengah manjat pohon kelapa. Ternyata, sebagai seorang manusia yang dilahirkan di tepi sungai Musi, dia dapat manjat pohon kelapa. Tapi, pohon yang paling sering dipanjatnya saat kanak-kanak ternyata pohon nangka.

PADA zaman sekarang. Abad 21. Lelaki itu terus hidup. Namanya Yudhy Syarofie. Dia terus menulis dan berkisah kepada kita. Maka, baca dan bersenanglah kita dengan buku Legenda Tepian Musi ini agar kita dapat manjat pohon dan berenang, meskipun di buku ini tidak ada legenda tentang lelaki yang tidak dapat berenang dan manjat pohon seperti saya.

*]

Kamis, 27 November 2008

Novel Perahu karya Conie Sema


MULAI Jumat (21/11/2008) lalu, dapat dinikmati novel Perahu karya Conie Sema di www.novelperahu.blogspot.com. Novel ini bersetting masyarakat pesisir Lampung. Sebelumnya Conie Sema banyak bekerja di dunia teater bersama Teater Potlot. Novel ini ditulis di tengah kesibukan Conie Sema menjadi jurnalis. "Saya menulis novel, karena saya ingin menulis. Dan saya merasa lucu sehingga saya menulis novel," kata Conie.
Berikut kutipan dari novel Perahu:
Dari pengeras suara terdengar teriakan parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Mereka menembak Rizal! Jangan mundur! Lawan! Maju… maju!” Mahasiswa kembali keluar dari kampus UBL. Mereka tumpah ruah ke jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.
Siapa Conie Sema? Inilah biodatanya:
CONIE SEMA, anak laki-laki, nomor urut lima dari sembilan bersaudara lahir di Kota Palembang. Bapaknya Sema’i (Alm), mengabdi jadi pegawai negeri sipil. Sampai pensiun berpangkat rendah, karena menolak dipaksa mencoblos Golkar, partainya ORBA. Selain bersastra juga berkesenian di Teater Potlot Palembang (1984-1996). Sehari-hari bekerja sebagai koresponden RCTI di Lampung.
Karya-karya drama yang ditulis dan sempat dipentaskan antara lain, Sari (drama tivi) produksi TVRI Palembang (1989), Bonseras (Boneka Setengah Waras), pentas tiga kota, Jambi, Lampung, dan Palembang (1992-1993). Sebungkus Deterjen Hari Ini di Palembang dan Jakarta (1993). Tahun 1994 hijrah ke Lampung, menggarap Orang-Orang Barunta pentas 6 Kabupaten dan Kota di Lampung (1999), Hutan Geribik Roadshow 50 desa di Lampung (2000).
Karya drama panggung lainnya yang belum sempat dipentaskan antara lain, Denting-Denting Piano (1989, drama tivi), Kereta Tanpa Rel (1996), Kondominium Bocor (1995), Monolog: Gergaji (2000), dan Rekonstruksi Angin (2001). Juga menulis esai-esai sastra dan budaya di Majalah Kebudayaan Dinamika, Sumatera Ekpres, Sriwijaya Post, Suara Rakyat Semesta, Media Indonesia, Lampung Post, Tabloid Sumber, Suara Lampung, dan lain-lain. Novel “Perahu” (2004-2006), adalah karya pertamanya menulis cerita panjang.

Nama : Conie Sema
Lahir : Palembang, 24 April 1965
Kelamin : laki-laki
Alamat : Jalan Imam Bonjol, Gang Randu 13 B, Kemiling, Bandarlampung
Pekerjaan : Jurnalis Televisi (Koresponden RCTI di Lampung)
Nama Isteri : Bisri Merduani
Nama Anak : 1. Sema Milenia
2. Sema Giga Ramadan
3. Sema Epik Revolka

Rabu, 26 November 2008

Kapan Pengurus Dewan Kesenian Sumsel Menerima Gaji?

Oleh T. Wijaya

SEMUA orang boleh kecewa dan marah terhadap Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Kemudian menyalahkan orang lain. Menempatkan diri sebagai orang yang paling benar, bermoral, dan cerdas. Atau juga, mengakui diri sebagai orang yang paling bertanggungjawab.
Lalu, apa salah Dewan Kesenian Sumatra Selatan? Jawabannya semua sudah tahu. Dewan Kesenian Sumatra Selatan dinilai gagal mengurusi seni-budaya di Sumatra Selatan, khususnya mengurusi pribadi-pribadi para pekerja seni.
Saya sepakat. Tapi kegagalan yang saya lihat yakni Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum mampu mewujudkan sebuah perguruan tinggi seni di Sumatra Selatan. Sebab sebagai salah satu daerah tertua di Indonesia dan memiliki sejarah dan peradaban tinggi, Sumatra Selatan belum memiliki perguruan tinggi seni, seperti halnya di Bali, Sumatra Utara, Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Kegagalan kedua, Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum dapat mendorong lahirnya sebuah peraturan daerah mengenai seni dan budaya.
Kegagalan ketiga, mungkin naif, Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum pernah memberikan saya biaya buat berkesenian, apalagi buat biaya makan dan minum saya sehari-hari sebagai pekerja seni.
Nah, ada dua sikap menyikapi kegagalan tersebut. Pertama, menghukum para pengurus Dewan Kesenian Sumsel dengan menggantungnya hidup-hidup di atas jembatan Ampera, atau kedua, mengkoreksi kegagalannya dan menyusun sebuah strategi baru mengoptimalkan peranan Dewan Kesenian Sumsel.
Saya tidak akan memilih langkah pertama. Sebab saya bukan manusia barbar, yang senang menyiksa atau membunuh orang lain. Maka, saya akan memilih sikap yang kedua.
Berdasarkan sikap yang kedua, penyebab kegagalan pertama Dewan Kesenian Sumsel yaitu mendirikan perguruan tinggi seni—saya berasumsi—lantaran secara sistematis ada kekuatan dari pusat atau luar yang tidak menginginkan Sumatra Selatan memiliki sebuah perguruan tinggi seni. Sebab jika di Sumatra Selatan lahir sebuah perguruan tinggi seni, akan terungkap semua kebesaran sejarah masa lalu nusantara yang beranjak dari Sumatra Selatan, sehingga memengaruhi berbagai kebijakan strategi kebudayaan di nusantara yang tengah berjalan. Artinya, bila Sumatra Selatan memiliki perguruan tinggi seni sejak 30-40 tahun lalu, mungkin konsep otonomi daerah yang dipakai kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, sudah lama dijalankan pemerintahan di Indonesia.
Sementara kegagalan kedua yaitu mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni dan budaya lantaran Dewan Kesenian Sumsel tidak memiliki sumber daya manusia yang mampu bekerja secara fokus dan konsisten dalam mewujudkan peraturan daerah tersebut. Saya mengetahui keinginan Dewan Kesenian Sumsel mewujudkan peraturan daerah itu sudah berjalan sejak tiga tahun lalu, tapi sampai saat ini saya belum pernah melihat daft soal peraturan daerah tentang seni dan budaya versi Dewan Kesenian Sumsel.
Memang, mewujudkan peraturan daerah ini dibutuhkan kerja keras. Bahkan, kelompok seniman di luar kepengurusan Dewan Kesenian Sumsel, seperti Majelis Seniman Sumsel (MSS) dengan presidennya yang belum diganti—meskipun masa kerjanya sudah melewati batas waktu 2 tahun—yakni Nurhayat Arief Permana, belum berhasil selama 5 tahun ini mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni-budaya.
Lalu, kegagalan ketiga yakni membantu biaya kreatif bagi pekerja seni, lantaran Dewan Kesenian Sumsel memang “bokek”. Dana yang didapatnya hanya berdasarkan “niat baik” pihak pemerintah, baik melalui kantor gubernur Sumsel atau dinas-dinas yang terkait dengan isu seni dan budaya.
Bahkan, ironinya, para pengurus Dewan Kesenian Sumsel sendiri tidak memiliki gaji. Mereka diminta sukarela buat mengurusi kesenian di Sumsel. Sungguh mengharukan.
Sudah miskin, tak dapat gaji, lalu dimarahi para pekerja seni!
Jadi, berdasarkan penglihatan saya di atas, posisi Dewan Kesenian Sumsel sangat lemah. Posisi tawar lembaga ini jauh lebih lemah dari sebuah organisasi pemuda, klub sepakbola, bahkan lembaga swadaya masyarakat. Istilah gaulnya, Dewan Kesenian Sumsel itu pakaiannya kecil tapi badannya besar. Jelasnya, uangnya kecil, tanpa kekuatan hukum, tapi ngurusi peradaban manusia!
Namun, saya tidak dapat menyalahkan Dewan Kesenian Sumsel. Sebab negara ini memang tidak memandang penting—atau ketakutan—terhadap para pekerja seni dan budaya, sehingga sampai saat ini tidak ada menteri seni-budaya.

Mengapa Dipertahankan?
Dengan fakta di atas, mengapa Dewan Kesenian Sumatra Selatan harus dipertahankan? Menurut saya kalau Dewan Kesenian Sumsel dipertahankan dengan kondisi hari ini; yakni tak ada uang, tak ada kekuatan hukum, sumber daya manusia yang tidak ideal, ya, lebih baik dibubarkan. Sebab sia-sia. Hanya mendatangkan fitnah, kemarahan, dan kesombongan yang aneh pada para pekerja seni. Tetapi, bila Dewan Kesenian Sumsel dibubarkan, itu sama artinya kita memvonis masyarakat Sumsel tidak memiliki kebudayaan. Sungguh membingungkan.
Sekali lagi saya mempertimbangkan diri sebagai manusia yang tidak mau disebut sebagai manusia tanpa peradaban. Jadi, saya setuju Dewan Kesenian Sumsel tetap dipertahankan. Namun, Dewan Kesenian Sumsel ke depan harus memiliki posisi tawar yang bagus dengan pemerintah maupun kekuatan lainnya di masyarakat.
Lalu, apa saja prasyarat Dewan Kesenian Sumsel agar tetap dipertahankan?
Pertama, sebagai lembaga mitra pemerintah dan mengurusi persoalan yang besar yakni seni dan budaya, Dewan Kesenian Sumsel harus memiliki dasar hukumnya di mata pemerintah dan masyarakat, yakni harus ada payung peraturan daerah. Dalam hal ini, pemerintah Sumatra Selatan, jika memandang Dewan Kesenian Sumsel masih diperlukan buat mewujudkan masyarakat Sumsel ke depan cerdas dan sehat—merupakan cita-cita semua agenda kebudayaan—harus mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni-budaya. Sementara itu, jika partai politik, juga mau disebut sebagai partai politik sebenarnya—yang memikirkan negara dan bangsa ini ke depan—tentulah tidak memiliki alasan buat menolak peraturan daerah mengenai seni-budaya yang juga mengakui keberadaan Dewan Kesenian Sumsel.
Jika ini berlangsung, saya percaya para pengurus Dewan Kesenian Sumsel akan mendapatkan gaji, sehingga menjadi sehat dan kian cerdas. Lebih jauhnya, para pekerja seni akan mendapatkan fasilitas dalam batas tertentu, misalnya biaya produksi karya.
Kedua, Dewan Kesenian Sumsel—bila sudah sehat—segera mewujudkan agenda-agenda dari strategi kebudayaan yang diinginkan bersama, seperti melaksanakan program-program pembangunan humaniora.
Selanjutnya, kritik terhadap Dewan Kesenian Sumsel akan benar-benar objektif. Sebab inputnya sudah jelas dan terukur, seperti kita mengkritik para anggota Dewan, senator, gubernur, atau presiden. [*]

Rabu, 19 November 2008

Peduli Soeharto, Bagaimana Nasir?

Oleh T.WIJAYA

AWALNYA Hitler merupakan pahlawan bangsa Jerman. Lalu, dia menjadi penjahat perang, terutama bagi bangsa Yahudi. Kini, ketika Jerman mengalami krisis ekonomi dan sosial, Hitlet kembali menjadi pahlawan buat sebagian rakyat Jerman.

Soekarno, awalnya juga seorang pahlawan. Tak lama kemudian Soekarno buat sebagian rakyat Indonesia merupakan “penjahat”. Selanjutnya Soekarno kembali menjadi pahlawan. Bahkan pada saat Soeharto berkuasa, Kelompok Kampungan, sebuah grup musik dari Yogyakarta pada tahun 1970-an, menuliskan lagu yang sempat dilarang Soeharto itu, berjudul, “Bung Karno”.

Liriknya antara lain, “Memandang Indonesia dari sisi sudut sejarah, teringat pada Bung Karno. Seorang manusia, yang pernah lahir di Indonesia, dan dicatat oleh sejarah. Sejarah merah-putih. Sejarah dunia. Sejarah seorang manusia. Mengenangkan Indonesia, terkenang akan para pahlawan, pejuang kemerdekaan, manusia Indonesia, berkata kepada Indonesia, aku cinta negeri Indonesia. Bung Karno telah pergi dengan segala kekurangan dan kelebihannya...”

Selanjutnya, Soeharto. Awalnya dia merupakan pahlawan. Namun, dia pun dinyatakan sebagai musuh rakyat. Kini, sebagian rakyat menempatkan dirinya sebagai pahlawan. Salahkah? Entahlah. Yang pasti kita boleh membuat lagu berjudul “Pak Harto” yang liriknya mungkin dapat mencaplok lagu “Bung Karno” milik Kelompok Kampungan tersebut.

Saya hanya mengingatkan. Banyak sekali para pejuang Indonesia yang belum diakui atau dinyatakan sebagai pahlawan. Ini sama sekali tidak disentuh oleh pemerintah Soekarno, Soharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY. Mereka itu contohnya Bung Tomo dan Muhammad Nasir.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan kekuatan baru parpol “kanan” di Indonesia. Mereka membangun citra sebagai parpol yang menjaga moral; politikus PKS tidak korup, tidak tertangkap bermain judi atau perempuan, dan dekat dengan rakyat. Meskipun soal melahirkan kebijakan buat publik, tampaknya PKS masih sama dengan parpol lainnya, tapi itu sudah cukup membuat PKS sebagai parpol yang mendapat jutaan pendukungnya.

Tiba-tiba PKS membuat suatu gebrakan yakni memosisikan Soeharto sebagai pahlawan. Sungguh mengejutkan. Semua rakyat Indonesia mendiskusikan sikap PKS ini. Ada yang mendukung, dan ada yang tidak.

Jika Parpol Golkar yang melakukannya mungkin tidak mengejutkan. Jadi, langkah PKS ini sebuah kecerdasan buat mempopuliskan dirinya menjelang Pemilu 2009.
Namun, saya hanya ingin bertanya, kenapa PKS tidak memperjuangkan Muhammad Nasir sebagai pahlawan nasional? Dan, saya pun bertanya, benarkah PKS merupakan parpol yang menampung karakter politisi Islam di masa lalu, yang tersingkirkan di era Soekarno maupun Soeharto? Ya, PKS adalah PKS, seperti karakter politisi mereka di parlemen yang ada saat ini. Soal moral tidak kompromi, soal kebijakan bisa kompromi. [*]

Selasa, 11 November 2008

Art Exhibition Digital and Oil Painting by Suharno Manap





Kamis, 06 November 2008

Catatan Buat Alex Noerdin-Eddy Yusuf

Oleh T. WIJAYA
KEMENANGAN pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf sebagai pemimpin Sumatra Selatan lima tahun ke depan, 2008-2013, merupakan bukti bahwa sebagian besar masyarakat Sumatra Selatan setuju dengan program Sumsel Sehat dan Cerdas. Jadi, apa pun kondisinya, program tersebut harus dijalankan secara optimal.
Lalu, cukupkah program tersebut dijalankan tanpa strategi kebudayaan? Artinya program itu hanya berjalan dalam kacamata proyek, misalnya cukup menyediakan obat-obat dan alat kesehatan serta penyediaan alat pendidikan, tanpa melihat dari kepentingan kebudayaan.
Sebab dalam pengertian dasar, mencerdaskan dan menyehatkan manusia merupakan tujuan utama dari sebuah strategi kebudayaan. Peradaban yang dibangun melalui agama, ilmu pengetahuan, kesenian, tradisi, teknologi, muara idealnya yakni menciptakan manusia yang sehat dan cerdas.
Jadi, program Sumsel Sehat dan Cerdas sebetulnya semacam penegasan kembali atas semua agenda kerja pembangunan yang dijalankan pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah Sumatra Selatan, selama ini. Artinya pula bukan sesuatu yang baru, sebab selama ini setiap pemerintahan di Sumatra Selatan secara tidak langsung bercita-cita mewujudkan masyarakatnya sehat dan cerdas.

Crash Program
Cukupkah menciptakan manusia Sumatra Selatan menjadi cerdas dan sehat hanya melalui agenda kerja sekolah gratis dan berobat gratis? Saya pikir tidak. Sebab pertanyaan selanjutnya mengenai kualitas dari sekolah dan berobat gratis itu. Kalau pendidikan dan berobat gratis itu memiliki kualitas yang rendah, artinya hanya sebatas pemenuhan kebutuhan dasar, target perwujudan Sumsel Sehat dan Cerdas dapat dikatakan sebagai utopia belaka.
Bahkan, bila pemenuhan “gratis” berhenti di tengah jalan tanpa menghasilkan produk yang ideal, dia hanya menjadi semacam penyakit baru bagi masyarakat. Tepatnya mental masyarakat menjadi “peminta”. Analognya, saat sekolah digratiskan para orangtua ramai-ramai menyekolahkan anaknya, tapi ketika program itu berhenti, mereka kembali mengajak anaknya bekerja di kebun, sawah, atau di pasar.
Namun, di sisi lain, melihat kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat serta berbanding dengan kekayaan alam Sumatra Selatan, program tersebut merupakan kebutuhan yang mendesak, crash program.

Pembangunan Humaniora dan Lingkungan Hidup
Program Sumsel Sehat dan Cerdas menurut saya merupakan peluang pemerintah dan masyarakat buat membangun manusia Sumatra Selatan yang ideal atau yang berkualitas di masa mendatang.
Artinya, di tengah fasilitas gratis itu, perlu dilakukan pengisian terhadap dunia pendidikan dan kesehatan, melalui strategi pembangunan yang mumpuni.
Saya memberikan dua saran strategi pembangunan manusia Sumatra Selatan buat mengisi program Sumsel Sehat dan Cerdas tersebut.
Pertama, pembangunan humaniora. Krisis yang melanda Indonesia saat ini, salah satu penyebabnya lemahnya pembangunan humaniora yang dijalankan pemerintah. Pemerintah hanya sebatas melihat pembangunan fisik tanpa melihat isi dari pembangunan tersebut. Misalnya pendidikan yang hanya dilihat dari gedung sekolah, gaji guru, pakaian sekolah, dan penyediaan alat peraga pendidikan, tanpa melihat isi atau muatan yang diterima atau diajarkan dalam dunia pendidikan tersebut. Pendidikan di Indonesia akhirnya hanya melahirkan manusia yang kaku, tidak inspiratif, dan tidak sensitif lingkungan.
Apa saja yang harus diberikan kepada dunia pendidikan kita? Yang pertama yakni perlu diberikan kepada para pelajar, mulai pendidikan dasar hingga menengah atas, yakni pelajaran yang memiliki nilai muatan lokal seperti bahasa lokal, kesenian lokal, ilmu pengetahuan dan teknologi lokal. Misalnya soal bahasa, adat-istiadat, makanan, pakaian, filosofis hidup.
Yang kedua, yakni mata pelajaran mengenai lingkungan hidup. Kearifan menata limbah, lingkungan rumah, mengenal sumber daya alam, serta lainnya.
Merangkum isu-isu di atas, mungkin para pelajar di tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, dapat diberikan pelajaran mengenai bahasa lokal, kesenian lokal, dan Kitab Simbur Cahaya. Kitab Simbur Cahaya yang disusun Ratu Sinuhun lima abad lalu itu, sebagian besar masih aktual pada saat ini, terutama terkait pendidikan mengenai lingkungan hidup, adat-istiadat, dan hubungan sosial pada masyarakat Sumatra Selatan.
Sementara di tingkat perguruan tinggi, perlu dilahirkan perguruan tinggi seni atau filsafat.
Kedua, yakni pendidikan lingkungan hidup terhadap masyarakat seperti memberikan pelatihan dan pembentukan organisasi pencinta tanaman atau pengelolaan limbah keluarga dan industri. Pendidikan ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang konsen dengan persoalan lingkungan hidup.
Adapun dampak dari muatan pendidikan yang diberikan pada program Sumsel Sehat dan Cerdas ini, akan didapatkan beberapa keuntungan:
1. Pelajar mendapatkan kesadaran mengenai tradisi, seni, adat-istiadat, dan kearifan terhadap lingkungan hidup, yang berkarakter lokal. Dampaknya terbangun kesadaran yang luas dan mendalam sebagai manusia Sumatra Selatan, lantaran mengenal diri sendiri, percaya diri, sehingga memiliki rasa cinta terhadap masyarakat dan sumber daya alam Sumatra Selatan.
2. Masyarakat menjadi sehat, sebab mengenal, menjaga, dan melestarikan lingkungan hidup yang bersih, alami, dan indah.
3. Teroptimalnya peranan aktor-aktor humaniora dalam proses pembangunan di Sumsel, yang mana selama ini termarginalkan dalam setiap pembangunan, seperti pekerja seni, aktifis lingkungan hidup, tokoh adat-istiadat.
Sebagai penutup, saya kembali menegaskan Program Sumsel Sehat dan Cerdas jangan sampai sebatas pembagian obat dan alat peraga pendidikan secara gratis, tapi kualitas pelajaran menurun dan lingkungan hidup masyarakat tidak sehat. [*]

Senin, 03 November 2008

Upacara Ma'Panini Adat Bissu


MUNGKIN Prihatin dengan perkembangan negara-bangsa Indonesia saat ini, masyarakat adat Bissu, Sulawesi Selatan, akan menggelar upacara adat Ma'Panini atau tolak bala pada 6-8 November 2008 di kampung komunitas Bissu, Sulawesi Selatan. Upacara ini akan dipimpin Puang Matoa Bissu Saidi. Bagi mereka yang ingin menyaksikan upacara ini, dapat menyaksikannya ke lokasi. *

Minggu, 26 Oktober 2008

Penyair

Oleh T.WIJAYA
PENYAIR itu adalah manusia yang mampu mengendalikan kegilaannya melalui kata-kata. Maka penyair yang berhasil yakni penyair yang sangat gila, tapi juga sangat cerdas mengontrol kegilaannya. Intinya, penyair merupakan perpaduan orang gila dan orang jenius.
Mereka yang bermodalkan kecerdasan tapi tidak gila, yang terjun ke dunia kepenyairan akan gagal menjadi penyair. Mereka cenderung menempatkan dirinya sebagai orang pintar yang berharap mampu menciptakan penyair atau membunuh penyair. Mereka ini biasanya menjadi redaktur media massa, penggiat sastra, atau menjadi pengamat sastra.
Mereka yang gila tapi tidak cerdas, akhirnya juga gagal menjadi penyair. Mereka justru menjadi benalu bagi kepenyairan. Mereka berperilaku seperti penyair, tapi tidak menghasilkan apa pun. Mereka ini mampunya mengatakan dirinya penyair yang besar. Kemampuan mereka turut meramaikan sebuah diskusi atau komunitas. Jika kegilaan tidak terkontrol, mereka benar-benar lepas dari dunia sebenarnya. Setidaknya mereka menjadi pengacau dan merusak citra penyair di tengah masyarakat.

Mengapa Gila?
Gila di sini dimengerti sebagai sesuatu di luar kewajaran imajinasi manusia umumnya. Imajinasi yang liar, yang masuk ke dalam ruang-ruang gelap, menghentak, berputar-putar, bersetubuh dengan sunyi yang dingin, merupakan kanal yang harus dijalani penyair sepanjang waktu. Hanya kelelahan yang membuatnya berhenti. Tapi itu batasnya tidak jelas. Pada akhirnya dia akan menemukan berbagai benturan nilai. Mulai dari ruang Ketuhanan, sejarah benda-benda, ideologi, biografi angin, cinta, air, api, dan akhirnya dia menangis atau marah besar ketika seseorang mengatakan, “Aku mampu membelikanmu pakaian.”
Bagi seorang penyair kalimat seperti itu merupakan penghinaan yang paling dalam. Dia berpikir, orang lain telah menilainya dengan selembar pakaian. Hanya dengan selembar pakaian, dirinya dinilai orang merupakan sosok yang harus ditolong, atau orang yang lemah. Pernyataan itu pun menghancurkan berbagai keyakinan—begitu pun diyakini penyair—bahwa manusia itu sama. Dinilai dari jiwanya bukan dari pakaian yang dikenakannya.
Jadi tidak heran, kegilaan ini membuat banyak orang sulit berkomunikasi dengan penyair. Termasuk di lingkungan keluarga si penyair. Mereka setiap saat mengejutkan, sulit ditebak. Namun, justru sosok penyair seperti itu, yang membuat banyak orang menemukan sesuatu yang unik, baru, sehingga sering memberikan kesenangan atau kebahagiaan tersendiri. Tepatnya, kegilaan yang memberikan jutaan daya tarik.

Mengapa Cerdas?
Kalau tidak cerdas, tentu saja penyair akan gagal sebab dirinya tidak mampu mengelola kata dengan disiplin yang tinggi. Penyair dituntut mampu membaca, menyimak, dan menterjemahkan kata yang menjadi lambang dari penandaan yang dilakukannya atas dunia rupa, bunyi, yang berseliweran begitu cepat di sekitarnya. Dia harus teliti memilih kata, sehingga mampu menjadi pusat dari gambaran yang ingin disampaikan, sehingga puisi atau sajak yang lahir itu benar-benar memberikan ruang yang luas bagi orang menikmatinya; penuh kejutan, indah, benar, dan merangsang.
Dan, hanya kecerdasanlah yang mampu memfasilitasi kerja yang dilakukan penyair tersebut.
Ini artinya menjadi penyair itu sama serius seperti orang menjadi filsuf, dokter, insinyur, pemuka agama, atau profesi lainnya. Dia juga harus melakukan tahapan-tahapan ilmiah; seperti survei, menganalisis dan terus mencoba dengan berbagai hal yang baru. Bahkan, penyair itu kerjanya tampak lebih berat lagi, sebab tahapan ilmiah itu juga harus dikemas dalam keliaran atau kegilaannya dalam berimajinasi.

Hari Ini?
Saya menulis persoalan penyair ini, karena saya membaca hari ini atau kekinian lahirnya penyair tidak banyak yang mengejutkan. Biasa saja. Sama seperti kelahiran adanya polisi baru, pegawai negeri baru, atau sarjana baru. Puisi semata dijadikan formalitas bagi persyaratan atas identitas tersebut. Puisi bukan menjadi tanda dari sebuah karya penyair sebenarnya yakni gila yang jenius. Tidak ada usaha yang sungguh-sungguh, atau tidak ada yang betul-betul berbakat atau memiliki potensi penyair sebenarnya.
Kenapa ini terjadi? Penyair yang lahir lantaran kontradiksi kebudayaan dan sosial, terkalahkan oleh penyair yang lahir dari proyek-proyek kebudayaan yang membosankan atau menjenuhkan. Artinya, puisi yang lahir dari keindahan di Pagaralam, kekumuhan di sepanjang sungai Musi, jauh terbuang dibandingkan oleh puisi-puisi yang lahir dari lomba-lomba penulisan puisi; yang mana puisi yang diikutsertakan mengalami banyak campur tangan ideologi dan rasa, seperti keinginan guru, orangtua, dan terakhir para juri.
Bahayanya, puisi-puisi seperti ini mendapat dukungan jejaringan sosial dan politik yang cukup besar, seperti pemerintah, media massa, penerbit, dan organisasi kebudayaan. Benarkah? Saya hanya memberikan jawaban pada teks-teks puisi yang kita baca di buku-buku, koran, majalah, internet, dan lainnya. Adakah yang mengejutkan? Memberikan ruang buat merenung seluasnya? Masyarakat justru sering terhentak, merenung, dengan kata, rupa, bunyi dari sebuah peristiwa kriminalitas atau dongeng dari televisi, seperti Ryan membantai puluhan pasangan gay-nya.
Jadi, saran saya, jika tidak memiliki kegilaan dan jenius jangan menjadi penyair, sebab akan menjadi persoalan bagi proses kebudayaan Indonesia. Ambilah ruang-ruang lain, yang saya percaya membutuhkan banyak manusia. [*]

Sabtu, 25 Oktober 2008

Kumpulan Sajak AKU DIMARAHI ISTRI


SALAM bahagia kawan-kawan. Dalam waktu dekat ini, saya akan meluncurkan kumpulan sajak terbaru. Judulnya "Aku Dimarahi Istri". Berbeda dari kumpulan sajak sebelumnya, "Krisis di Kamar Mandi" (1995) dan "Dari Pesan Nyonya" (1996), atau novel "Juaro" (2005) dan "Buntung" (2006) dalam bentuk cetakan, kumpulan ini kali dalam bentuk CD, dan ke-10 sajak ditampilkan dalam bentuk video slide foto. Tujuan dari penyebaran sajak dalam bentuk CD sebagai usaha memperluas ruang bagi apresiasi terhadap sajak, khususnya sajak-sajak saya. Sehingga kata dapat berbaur dengan rupa, bunyi, sebab kata itu sendiri rupa dan bunyi, lalu bunyi dan rupa adalah kata. Adapun ke-10 sajak itu Aku Dimarahi Istri, Saya Berhenti Menggergaji Batu, Angka Pancasila, Meninggalkan Surga Sebagai Manusia, Cinta 2011, Aku Mencuci Pakaian Anakku, Aku Sangat Serius Menyintaimu, Oi Melayu. Akulah Sungai Musi., Bapak, Aku Ingin Menjilat Dengkulmu, dan Aku Tetap Menjaga Cinta Itu.
Sebagian sajak itu sudah ditampilkan di blog www.sajakdigital.blogspot.com, tapi kumpulan ini ada sesuatu yang lebih istimewa akan saya berikan kepada Anda. Bagaimana mendapatkan kumpulan sajak ini? Sebagai biaya ganti produksi, dan apresiasi Anda, Anda dapat mengirimkan biaya sebesar Rp15.000 per keping CD di luar biaya ongkos kirim. Bagaimana memesannya? Kontak saya ke e-mail taufikwijaya2002@yahoo.com atau wijayataufik@gmail.com. Demikianlah, semoga kabar ini merupakan kabar baik, dan berguna bagi kehidupan kita. Terima kasih. Salam bahagia.[*]

Kamis, 02 Oktober 2008

Pengemis pun Tak Tahan Panas



SEPEKAN menjelang lebaran kota Palembang diserbu para pengemis. Mereka selain keliling kampung dan perkantoran, juga memenuhi jalan-jalan dan lampu merah di Palembang. Panasnya kota Palembang membuat orang Palembang menjadi kegerahan, tidak terkecuali pengemis yang mangkal di depan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), Jalan Merdeka, Palembang, ini. Meskipun mengemis, payung buat menghalau panas tetap penting.

Sampah dan Masjid Agung







SETIAP kali slat Id di masjid Agung, Palembang, yang paling sibuk adalah pekerja kebersihan kota. Kenapa? Merekalah yang bertugas membersihkan lokasi salat, baik di dalam masjid, halaman masjid, maupun di ruas-ruas jalan, lantaran sampah koran yang digunakan warga buat melapisi sajadah mereka. Dan, saat salat Id tahun 2008, tugas mereka kian berat. Sebab hujan yang mengguyur Palembang saat salat Id dilaksanakan, menyebabkan sampah koran itu menjadi basah. Menjadi bubur kertas. Para petugas kebersihan ini harus ekstra keras membersihkannya.

Lamunan Orang Gila pada Lebaran Pertama




TIDAK semua orang merayakan Idul Fitri, selain orang bukan beragama Islam atau orang gila. Seperti orang gila di simpang Jakabaring, Palembang, ini, saat lebaran Idul Fitri hari pertama (1/10/2008). Pada saat orang sibuk bersilahturahmi ke rumah kerabat dengan pakaian baru dan makanan enak, orang gila ini justru duduk melamun. Matanya menatap jauh ke depan, kosong. Mungkin, seseorang berbisik padanya, "Ayolah pulang, temui keluargamu!"

Selasa, 30 September 2008

Alat Tenun Kain Songket Berusia 100 Tahun






INI adalah anak tenun kain Songket milik keluarga kami di kampung Suro, 30 Ilir, Palembang. Alat tenun ini berusia 100 tahun lebih, dan hingga kini masih digunakan. Alat tenun ini terbuat dari kayu meranti dan bambu. Yang sering rusak atau diganti yang menggunakan bahan bambu, seperti sebagai pemisah benang.

Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (4)







Oleh T. Wijaya
BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.
Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.
Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi.
Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.
Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.
Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.
Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.
Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.
Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.
Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.
Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *

Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (3)







Oleh T. Wijaya
BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.
Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.
Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi.
Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.
Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.
Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.
Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.
Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.
Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.
Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.
Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *

Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (2)







Oleh T. Wijaya
BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.
Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.
Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi.
Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.
Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.
Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.
Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.
Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.
Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.
Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.
Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *