<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541</id><updated>2011-10-28T04:15:45.998-07:00</updated><category term='Teater Garasi'/><category term='JILFest 2008'/><title type='text'>Menggergaji BATU</title><subtitle type='html'>kumpulan esai dan narasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7322347761332221058</id><published>2009-01-17T05:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T05:25:53.558-08:00</updated><title type='text'>Dicintai No, Kemenangan Yes</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJELANG Pemilu 2009, di sejumlah daerah di Indonesia, jutaan orang maju sebagai calon wakil rakyat. Ada yang dikenal maupun tidak dikenal. Pertarungan kian sengit, ketika Pemilu 2009 ini memungkinkan orang menang meskipun nomor urutnya jelek, sebab ditentukan suara terbanyak. Maka dapat dipastikan mereka bertekad memenangkan pertarungan, bukan semata mencari pengalaman. Jadi, tidak mengherankan bila ada calon yang berprinsip seperti ini, "Saya bukan ingin dicintai, melainkan ingin menang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas pernyataan tersebut cukup mengejutkan dan mengherankan. Namun, bila menelisik pemikiran seorang filsuf asal Italia pada abad pertengahan, Niccolo Machiavelli (1469-1527), pemikiran aktor politik itu cukup cerdas dan benar. Melalui buku miliknya, Il Principe (Sang Pangeran), Machiavelli menyimpulkan tidak ada hubungan signifikan antara politik dan moralitas, apalagi terkait dengan soal cinta dan mencintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya, Machiavelli mencampakkan jauh-jauh aspek moral dan etika dalam mencari dan mempertahankan kekuasaan. Meskipun pada 1559, Paus melarang peredaran buku Il Principe, pemikiran itu sangat memengaruhi para penguasa maupun politikus di Eropa saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangannya, seorang penguasa semestinya hanya berorientasi pada kekuasaan, dan hanya mematuhi aturan yang akan membawa kesuksesan politik. Penguasa harus kikir dan kejam dalam menghukum, tanpa belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, lebih baik menjadi penguasa yang ditakuti daripada dicintai. Bahkan, kata Machiavelli, kebaikan bisa mengakibatkan kejatuhan. Inti ajaran politik dari Il Principe adalah penguasa harus tidak segan-segan menipu guna mempertahankan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci kemenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dari prinsip dasar pemikiran Machiavelli tersebut, saya memiliki sejumlah saran kepada para calon kepala daerah untuk memenangkan pertarungan politik itu. Saran-saran ini, seperti diajarkan Machiavelli, tidak boleh dilihat dari sisi moral atau etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, seorang calon harus mengeluarkan berbagai kebohongan sehingga publik menjadi senang atau memiliki mimpi soal kesejahteraan dirinya. Janjikan apa yang terkait dengan penderitaan atau persoalan yang dialami publik. Bila perlu, gunakan jargon-jargon agama sebagai jaminan janji tersebut. Tentunya harus dicari dalil-dalil agama sebagai penguat sehingga janji itu tampak meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bila ada publik, kelompok, atau perorangan, yang mencoba membusuki atau diperkirakan dapat menghambat kemenangan, sebaiknya ditanggapi dengan kekerasan. Misalnya teror, intimidasi, pemukulan, bahkan bila diperlukan ancaman membunuh sehingga kekuatan yang menghambat itu menjadi ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bila si calon memiliki banyak dana--baik hasil simpanan maupun sponsor dari pihak lain--sebaiknya melakukan penyuapan ke berbagai unsur. Agar suap itu efektif, sebaiknya diimbangi dengan teror agar prinsip ambil uangnya soal memilih nanti dulu, tidak terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, bila ada calon yang menjalankan prinsip tersebut ia akan terpilih. Apalagi, saat ini kondisi sebagian masyarakat Indonesia berada dalam 'kebingungan nilai'. Sebuah masyarakat yang setiap hari mengalami kontradiksi; otak memikirkan surga, tapi mulut memakan buntang atau kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus diingat, publik tidak akan pernah puas dengan apa yang diberikan pemimpinnya. Publik selalu akan menilai apa yang belum diberikan, dan menepiskan apa yang telah diberikan. Pemimpin yang selalu memikirkan kepentingan publik atau mengedepankan moral dan etika, secara historis kekuasaannya tidak langgeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang sebaliknya, yang menjalankan prinsip politik seperti dalam Il Principe, ia akan merasakan nikmatnya merebut atau mempertahankan kekuasaan. Simak saja perjalanan sejarah seperti Firaun, Napoleon Bonaparte, Benito Mussolini, Stalin, Hitler, Mao, Polpot, para raja Sriwijaya, Majapahit, atau kerajaan di nusantara pada masa lalu. Atau mungkin juga seperti beberapa nama pemimpin Indonesia masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau seorang calon tidak menggunakan tiga cara itu atau memusuhi pemikiran Machiavelli? Saya pikir mereka akan kalah. Misalnya ia jujur bahwa dirinya sulit mewujudkan lapangan pekerjaan, memberantas korupsi, menggratiskan fasilitas publik, kemudian diam saja ketika namanya dijelekkan lawan politiknya, diam saja ketika spanduk, poster, baliho miliknya dihancurkan lawan politiknya. Atau ia mengharap massa pendukungnya membiayai sendiri saat menghadiri kampanye dirinya, seperti membeli kaos, makanan, transportasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya memang masih ada yang memilih atau memberikan dukungan kepada aktor politik seperti itu. Tapi, kalau ingin menang, saya pikir sulit sekali diwujudkan. Apalagi aktor demokrasi yang ada saat ini, seperti yang disimpulkan para peneliti Demos (LSM Indonesia yang melakukan penelitian soal aktor demokrasi di Indonesia selama 10 tahun terakhir), semuanya dalam keadaan mengambang alias demokrat mengambang, tidak membumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sebagai aktor demokrasi mereka tidak memiliki alat produksi, tidak memiliki massa yang terikat dan tidak memiliki akses ekonomi dan politik yang meluas. Aktor demokrasi yang ada saat ini, masih sebatas aktor 'wacana'. Sehingga seperti yang pernah disinggung Gus Dur, negara ini pun menjadi 'negara wacana'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya? Coba hitung berapa anggota legislatif atau senator dari kalangan aktor demokrasi yang dipilih rakyat dalam Pemilu 2004 lalu. Mereka kalah dari seorang mantan pegawai negeri, mantan pengusaha, mantan preman, bahkan seorang ibu rumah tangga. Bila pun kekalahan itu lebih disebabkan adanya politik uang, itu membuktikan mereka benar-benar mengambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga usulan saya itu akan gugur bila para calon kepala daerah yang bertarung bukan semata buat meraih kekuasaan, melainkan sebagai ajang pendidikan politik bagi masyarakat Indonesia. Sehingga dirinya dicintai rakyat sebagai pemimpin, meskipun tidak duduk sebagai wali kota, bupati, gubernur, maupun presiden.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7322347761332221058?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7322347761332221058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7322347761332221058' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7322347761332221058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7322347761332221058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2009/01/dicintai-no-kemenangan-yes.html' title='Dicintai No, Kemenangan Yes'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5234902681130973665</id><published>2009-01-13T10:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T10:17:27.969-08:00</updated><title type='text'>Pemilu 2009 Dipenuhi "Makhluk Asing"</title><content type='html'>Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MENGHADAPI Pemilu 2009 ini, saya seperti menonton film animasi tentang makhluk-makhluk luar angkasa.&lt;br /&gt;Lo? Sebab dari ribuan calon anggota legislatif atau senator (DPD) yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) saya merasa asing dengan sosok mereka alias tidak mengenalnya. Saya mencoba mencari informasi tentang mereka ke dunia internet,  dan sungguh memilukan, saya hanya menemukan beberapa nama calon saja. Ironinya, sebagian juga informasi tersebut "sepotong".&lt;br /&gt;Tetapi, setiap kali keluar rumah saya mendapatkan ratusan poster, spanduk, baleho, yang menampilkan wajah-wajah mereka yang bertekad menjadi wakil rakyat tersebut. Bahkan anak saya yang di sekolah dasar pun menerima kartu nama seorang calon wakil rakyat, tapi dia tidak tahu siapa sosok dari kartu nama yang dibawanya itu. Saya benar-benar seperti hidup di sebuah kampung atau planet yang asing.&lt;br /&gt;Sementara para mantan wakil rakyat hasil Pemilu 2004, juga malu-malu atau memang tidak ada modal, buat menjelaskan kepada rakyat apa yang telah dan pernah dilakukannya selama menjadi wakil rakyat, terutama terkait dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada rakyat. Mereka pun tampil sebagai makhluk asing.&lt;br /&gt;Jadi, dengan keterasingan ini, saya tidak mungkin melakukan perbandingan track record para calon wakil rakyat tersebut. Misalnya saya akan harus menentukan seorang senator, saya tidak memiliki data buat melakukan perbandingan. Saya hanya disodorkan nama dan nomor urut calon saja.&lt;br /&gt;Dengan kondisi "makhluk asing" dalam Pemilu 2009 ini, saya percaya akan terjadi ledakan suara golongan putih atau tidak memilih. Mereka yang akan menggunakan suaranya dapat dipastikan yang memiliki hubungan persaudaraan dengan para calon wakil rakyat, perkawanan, atau yang menerima sesuatu yang sangat berarti dari para calon wakil rakyat. Sedikit sekali yang memilih berdasarkan track record dari seorang&lt;br /&gt;wakil rakyat.&lt;br /&gt;Asumsi lebih jauhnya, kualitas wakil rakyat hasil Pemilu 2009 akan tampak lebih buruk dari pemilu sebelumnya. Maka, pemilihan presiden akan menurun kualitasnya, dan selanjutnya posisi partai politik benar-benar "terbuang" dari kesadaran politik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bongkar Track Record&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 2009 tinggal beberapa bulan lagi. Dan, saya pribadi percaya masih ada beberapa calon wakil rakyat yang telah ditetapkan KPU memiliki kualitas atau track record yang baik. Oleh karena itu, langkah yang harus diambil guna memberikan "pilihan" rakyat sebelum menentukan suaranya, ada dua hal.&lt;br /&gt;Pertama, partai politik atau tim sukses, harus membongkar track record seluasnya para calon wakil rakyat tersebut. Baik mengenai biografinya, visi dan misinya, juga pembuktian perilakunya di masa lalu "bersih" atau tidak melakukan kejahatan kemanusiaan maupun korupsi.&lt;br /&gt;Kedua, partai politik, organisasi massa , LSM, serta organisasi rakyat lainnya, melakukan berbagai forum yang mana menampilkan para calon wakil rakyat, sehingga rakyat tahu siapa sesungguhnya mereka. Forum tersebut semacam "batu ujian" setiap calon yang maju. Sehingga "makhluk-makhluk asing" yang iseng mencalonkan diri atau yang hanya "berdagang" akan tersingkirkan oleh kecerdasan atau pengetahuan di masyarakat.&lt;br /&gt;Kini, mari kita berburu manusia di antara makhluk asing dari luar angkasa buat mewakili kita dalam Pemilu 2009 nanti. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5234902681130973665?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5234902681130973665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5234902681130973665' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5234902681130973665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5234902681130973665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2009/01/pemilu-2009-dipenuhi-makhluk-asing.html' title='Pemilu 2009 Dipenuhi &quot;Makhluk Asing&quot;'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-1562803009905678051</id><published>2009-01-10T19:50:00.001-08:00</published><updated>2009-01-10T19:51:01.156-08:00</updated><title type='text'>Ikuti Novel Juaro</title><content type='html'>Novel Juaro yang saya tulis tahun 2005 sudah tersebar di masyarakat sebanyak 2.500 buku. Tapi, sebagian kawan atau pembaca mengirim e-mail dan SMS untuk memesan buku ini. Ada pikiran menyebarkan lebih luas novel ini dengan menampilkannya ke dalam sebuah blog, www.noveljuaro.blogspot.com, agar dapat dibaca orang lebih luas lagi. Inilah dasar menampilkan novel Juaro dalam blog ini. Selamat menikmati. Terima kasih. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-1562803009905678051?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/1562803009905678051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=1562803009905678051' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1562803009905678051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1562803009905678051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2009/01/ikuti-novel-juaro.html' title='Ikuti Novel Juaro'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5239978755871049996</id><published>2008-12-31T14:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T14:28:28.187-08:00</updated><title type='text'>Mengaca Demokrasi, Kita Yang Kalah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMOKRASI yang masuk ke dalam kesadaran masyarakat Sumatra Selatan, ceritanya seperti kilat atau petir. Setelah menggantikan fasisme, demokrasi tanpa dialog nasional yang panjang langsung menyentuh wilayah kelokalan di Nusantara, termasuk di Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;Seseorang di Mekakau, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan, yang biasanya penuh ketakutan dan tekanan saat menentukan satu sikap politik, tiba-tiba seperti orang yang baru bangun tidur, langsung diminta menentukan siapa yang akan mewakili dirinya di parlemen atau pemerintahan; apakah tetangganya, saudaranya, atau dirinya sendiri. Panik. Gagap. Tapi penuh emosi.&lt;br /&gt;Jadi, tak heran, demokrasi lokal yang berlangsung di Indonesia, khususnya di Sumatra Selatan, melahirkan fragmen-fragmen yang mengenaskan, aktor-aktor yang mengejutkan. Dapat dikatakan sampai menjelang Pemilu 2009, kepanikan menyerap demokrasi itu masih berlangsung. Pertarungan antara pejuang demokrasi dan pemanfaat isu demokrasi terus berlangsung. Pada akhirnya, rakyat menjadi bingung, marah, pragmatis, hingga irasional.&lt;br /&gt;Dan, yang mengejutkan, aktor atau lembaga yang semasa Soeharto berkuasa tidak pernah mengenal demokrasi secara utuh, justru hingga hari ini berada di depan dalam memanfaatkan demokrasi. Birokrat yang selama ini hidup dalam kepatuhan yang absurd, justru mampu memanfaatkan demokrasi secara baik dalam mengelola politik, ekonomi, dan sosial. Dan, mereka yang selama Soeharto berkuasa sudah sering berteriak demokrasi justru sebagian besar termarginalkan atau terkalahkan.&lt;br /&gt;Salah satu kekuatan itu yakni para pekerja seni. Tepatnya, apa yang didapatkan para pekerja seni selama proses demokrasi yang berlangsung di Sumatra Selatan sejak Soeharto lengser hingga hari ini? Dapat dikatakan jauh dari harapan, apalagi bila dibandingkan dengan dampak revolusi yang berlangsung di Prancis, Amerika Serikat, termasuk di Iran dan sejumlah negara pecahan Uni Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebijakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan para pekerja seni di Sumatra Selatan memaknai demokrasi yakni ketika mereka gagal menguasai Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Mereka dikalahkan oleh sekelompok birokrat, dan pekerja seni yang kebetulan juga menjadi birokrat.&lt;br /&gt;Keinginan mengubah lembaga kesenian itu menjadi sarana perjuangan, sejak 1998 hingga hari ini, menjadi sia-sia. Tak heran, lokasi Taman Budaya Sriwijaya yang berada di Jalan POM IX Palembang justru diambilalih pemilik modal, yang kemudian dijadikan lokasi hotel dan pusat perbelanjaan. Baru setelah ada desakan atau juga sebuah pemanfaatan prasarana, gedung kesenian itu diganti dengan gedung yang berada di Jakabaring, Palembang. Ironisnya, lantaran tidak memiliki dana yang cukup buat melakukan pemeliharaan, Dewan Kesenian Sumatra Selatan melepaskan gedung kesenian tersebut buat dikelola pihak pemerintah.&lt;br /&gt;Kegagalan lainnya, para pekerja seni tidak mampu mendesak Dewan Kesenian Sumatra Selatan melahirkan satu pun kebijakan yang terkait dengan seni dan budaya. Sehingga tak heran, subsidi kesenian nyaris tidak ada. Tidak itu saja, berbagai program pemerintah yang berbau seni dan budaya, hampir semua keputusannya diambil oleh para birokrat. Para pekerja seni—umumnya yang juga birokrat—dilibatkan sebagai pelaksana kegiatan. Buruh kesenian.&lt;br /&gt;Di luar Dewan Kesenian Sumatra Selatan, para pekerja seni juga gagal memaknai demokrasi. Ada beberapa langkah yang cukup cerdas dan memiliki potensi keberhasilan, seperti kongres seniman Sumatra Selatan yang melahirkan Majelis Seniman Sumatra Selatan (MSS). Sayang, sejak 2003, lembaga itu tidak berhasil memperjuangkan satu pun kebijakan atau menyediakan sebuah fasilitas berkesenian yang menjadi amanah konggres. Begitupun ketika sejumlah pekerja seni mampu menguasai Dewan Kesenian Palembang (DKP), yang selama tiga tahun ini, belum berhasil menelorkan satu pun kebijakan yang terkait seni dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keaktoran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan demokrasi, juga dilakukan para pekerja seni Sumatra Selatan secara individu, yakni dengan memanfaatkan dunia politik. Sayangnya, lantaran tidak memiliki dukungan massa, ekonomi, yang kuat, mereka pun kalah dalam pertarungan "liberal". Mereka dikalahkan mantan birokrat, mantan meliter, pengusaha, aktifis organisasi massa, yang sebetulnya baru belajar berdemokrasi sejak Soeharto tumbang.&lt;br /&gt;Yang lebih mengejutkan lagi, para pekerja seni yang dikenal banyak berkarya selama Soeharto berkuasa, justru menghilang. Ada beberapa alasan yang membuat mereka menghilang. Mulai dari memanfaatkan kebebasan akses ekonomi, seperti menjadi pengusaha atau profesional di bidang yang lebih menguntungkan secara finansial, hingga yang menjadi "penghubung" aktor demokrasi, atau terlindas dalam pergaulan sosial dan ekonomi, yang memang agak lebih liberal.&lt;br /&gt;Fakta ini dapat dilihat minimnya frekwensi pementasan teater yang digarap secara serius, seperti yang dilakukan Teater Kembara atau Teater Potlot di masa Orde Baru. Begitupun dengan seni rupa, yang gagal menaikan frekwensi pameran tunggal, meskipun seni rupa merupakan wilayah lebih cepat mendapatkan apresiasi dari publik. Dan, terakhir tari. Saya tidak mendapatkan karya-karya tari semacam garapan Elly Rudi saat Soeharto masih berkuasa dulu.&lt;br /&gt;Mungkin, yang agak berhasil memanfaatkan demokrasi para pekerja sastra dan musik. Para pekerja sastra, misalnya, mereka tidak hanya mengoptimalkan publikasi melalui buku lantaran percetakan yang kian murah—sebagai dampak persaingan bisnis—juga dunia ruang ekspresi lainnya, seperti internet sebagai dampak dari kebebasan media. Sementara musik, tetap mempertahankan kondisinya seperti dulu. &lt;br /&gt;Memang, pemanfaat pekerja sastra dan musik terhadap demokrasi lokal, belum begitu mendalam saat mengeksplorasi kelokalan, meskipun memiliki ruang kebebasan begitu besar.&lt;br /&gt;Di sisi lain, para pekerja sastra dan musik ini juga mampu memainkan dua peran sekaligus dalam proses demokrasi lokal. Artinya, mereka dapat terus berkarya, dan dapat juga memanfaatkan akses ekonomi secara baik. Tidak heran, bila di era Soeharto, kehidupan para pekerja sastra dan musik ini sederhana atau kekurangan, di masa reformasi hidup mereka jauh lebih baik.&lt;br /&gt;Pada 5 atau 10 tahun mendatang, berbeda dengan Revolusi Prancis, para pekerja seni dari sastra dan musik yang akan lebih dahulu memanfaatkan demokrasi, dibandingkan para perupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pilihan Langkah&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pentingnya, bagaimanakah para pekerja seni di Sumatra Selatan dapat memanfaatkan demokrasi secara baik, sehingga mereka tidak tergilas arus kebijakan Bank Dunia?&lt;br /&gt;Menurut saya, ada beberapa langkah yang harus diambil. Pertama, membangun kepercayaan publik atau memperluas pergaulan, sehingga memiliki hubungan yang baik dengan kekuatan lainnya dalam memanfaatkan demokrasi. Dalam hal ini, para pekerja seni di Sumatra Selatan harus terus menunjukkan karyanya, tanpa satu pun alasan menghentikannya, seperti halnya semangat tersebut hadir pada saat Soeharto berkuasa.&lt;br /&gt;Kedua, bila muncul kepercayaan ini, para pekerja seni dapat mendesak atau melobi kekuatan politik untuk melahirkan berbagai kebijakan yang terkait dengan seni dan budaya. Ketiga, setelah mendapatkan dukungan atau kekuatan hukum tersebut, para pekerja seni dapat memanfaatkannya dengan menjalankan berbagai program pembangunan humaniora yang selama Soeharto berkuasa sangat dimimpikan.&lt;br /&gt;Keempat, bila tiga tahapan di atas dilalui secara baik, maka demokrasi yang berlangsung merupakan tangga bagi seni dan budaya menjadi panglima peradaban. Bukan menyerahkannya kepada kekuatan modal, yang jelas-jelas telah menghancurkan kemanusiaan, seperti yang kita biarkan berlangsung saat ini. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5239978755871049996?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5239978755871049996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5239978755871049996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5239978755871049996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5239978755871049996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/mengaca-demokrasi-kita-yang-kalah.html' title='Mengaca Demokrasi, Kita Yang Kalah'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-6258552022469424243</id><published>2008-12-25T17:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T17:35:55.790-08:00</updated><title type='text'>Internet Lebih Penting daripada Koran</title><content type='html'>Oleh Eddi Santosa - detikNews&lt;br /&gt;Washington - Internet merupakan sumber berita penting di Amerika, melampaui koran. Demikian hasil penelitian Pew Research Center, seperti dilaporkan de Volkskrant dari ANP hari ini (25/12/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet dipilih 40% responden sebagai sumber penting berita, padahal 5 tahun lalu baru 20%. Sementara 35% responden memilih koran atau menyusut 15% dibandingkan 5 tahun lalu yang mencapai 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi masih menjadi sumber berita penting, namun popularitasnya menurun tajam di kalangan usia 30 tahun ke bawah. Sebanyak 70% responden masih menyebut layar kaca itu sebagai sumber berita penting nasional maupun internasional.(es/es)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.detiknews.com/read/2008/12/25/193623/1059538/10/internet-lebih-penting-daripada-koran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-6258552022469424243?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/6258552022469424243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=6258552022469424243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6258552022469424243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6258552022469424243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/internet-lebih-penting-daripada-koran.html' title='Internet Lebih Penting daripada Koran'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4495587319329615932</id><published>2008-12-24T09:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T10:03:51.410-08:00</updated><title type='text'>Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rREyaCI/AAAAAAAAA0o/aqS19IjxacI/s1600-h/diskusi3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rREyaCI/AAAAAAAAA0o/aqS19IjxacI/s320/diskusi3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283417997572204578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hendri, salah satu peserta yang dirinya juga terkutip dalam buku Indonesia Dikhianati.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rckCb0I/AAAAAAAAA0g/kndVrt36W3c/s1600-h/diskusi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rckCb0I/AAAAAAAAA0g/kndVrt36W3c/s320/diskusi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283418000656068418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suasana diskusi, yang sebagian besar aktifis dan wartawan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rCyNbOI/AAAAAAAAA0Y/1sb9WIdu8MI/s1600-h/DSC06046.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rCyNbOI/AAAAAAAAA0Y/1sb9WIdu8MI/s320/DSC06046.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283417993736187106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suasana diskusi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rARP5rI/AAAAAAAAA0Q/FzsPMXArbbo/s1600-h/DSC06058.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rARP5rI/AAAAAAAAA0Q/FzsPMXArbbo/s320/DSC06058.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283417993061066418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tarech Rasyid, seorang peserta diskusi, yang aktifitasnya terekam dalam buku Indonesia Dikhianati tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4495587319329615932?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4495587319329615932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4495587319329615932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4495587319329615932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4495587319329615932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/diskusi-buku-indonesia-dikhianati_24.html' title='Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ4rREyaCI/AAAAAAAAA0o/aqS19IjxacI/s72-c/diskusi3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-2399945813959731008</id><published>2008-12-24T09:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T09:56:11.400-08:00</updated><title type='text'>Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fh7_NHI/AAAAAAAAA0I/gDDDCXqqbmk/s1600-h/trisman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fh7_NHI/AAAAAAAAA0I/gDDDCXqqbmk/s320/trisman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283413397893756018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sutrisman Dinah, moderator diskusi terbatas tentang buku Indonesia Dikhianati yang digelar harian Sriwijaya Post, Rabu (24/12/2008), di Horison, Jalan Angkatan 45, Palembang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fS1AgiI/AAAAAAAAA0A/WF3hD8WL2e0/s1600-h/diskusi4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 236px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fS1AgiI/AAAAAAAAA0A/WF3hD8WL2e0/s320/diskusi4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283413393837949474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para peserta diskusi buku Indonesia Dikhianati.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0feUkLxI/AAAAAAAAAz4/HrkktatgZ24/s1600-h/azis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0feUkLxI/AAAAAAAAAz4/HrkktatgZ24/s320/azis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283413396923100946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aziz Kamis, seorang peserta diskusi juga menyatakan hal yang sama seperti Bambang Hariyanto, SH. Dia merasa keberatan dengan pernyatan Collins dalam buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fIBf9YI/AAAAAAAAAzw/Lwe9OBPp3T0/s1600-h/bambang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fIBf9YI/AAAAAAAAAzw/Lwe9OBPp3T0/s320/bambang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283413390937552258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bambang Hariyanto, SH, seorang pengacara, yang ikut diskusi. Saat diskusi Bambang menyatakan keberatan dengan sejumlah data yang disodorkan dalam buku Indonesia Dikhianati, dan dia berencana melakukan upaya hukum.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fBfWiaI/AAAAAAAAAzo/C3o5-LYdXCQ/s1600-h/hadi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fBfWiaI/AAAAAAAAAzo/C3o5-LYdXCQ/s320/hadi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283413389183715746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hadi Prayogo, Pimred Harian Sriwijaya Post, saat membuka diskusi buku Indonesia Dikhianati karya Elizabeth Collins dari Ohio University, Rabu (24/12/2008).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-2399945813959731008?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/2399945813959731008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=2399945813959731008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2399945813959731008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2399945813959731008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/diskusi-buku-indonesia-dikhianati.html' title='Diskusi Buku INDONESIA DIKHIANATI'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SVJ0fh7_NHI/AAAAAAAAA0I/gDDDCXqqbmk/s72-c/trisman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4062903590633865380</id><published>2008-12-24T08:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T08:59:21.944-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='JILFest 2008'/><title type='text'>Cerpen "Pelangi Nusantara" Sigid Widagdo</title><content type='html'>INI cerpen karya Sigid Widagdo yang berjudul "Pelangi Nusantara". Cerpen pemenang ketiga dalam JILFest 2008. Sigid merupakan generasi baru cerpenis di Palembang. Menyimak cerpennya, kita menemukan gaya realis, yang mana sudah kita jarang temukan dari para cerpenis muda saat ini. Inilah cerpen tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelangi Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Sigid Widagdo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tar... ter... tor... ter... dor..., suara petasan bersahut sahut. Ratusan petasan yang diikat memanjang di batang rambutan itu sumbunya mulai terbakar satu persatu, lalu meledak mengeluarkan suara keras bertepatan dengan pecahnya gulungan kertas pembungkus bubuk mesiu, menjadi ribuan serpih yang melayang bertebaran di udara kemudian berserak jatuh ke tanah. Minggu pagi, pada satu perkampungan padat di Bintaro pinggiran Jakarta Selatan, pecah seketika, pertanda pesta pernikahan segera dimulai.&lt;br /&gt;Lamat-lamat bebunyian lain muncul dari ujung jalan.  Suara gendang kayu ditabuh seperti mengiringi pencak silat meliukkan jurusnya. Kenongan seng dipukul layaknya pertunjukan lenong sedang berlangsung. Tekyan yang digesek mengeluarkan suara ratapan gembira gadis negeri tirai bambu. Dan walau tidak ada balatentara kompeni yang berbaris pada upacara kenegaraannya, suara trombon dan terompet yang ditiup juga terdengar. Sebuah kolaborasi musik yang tersajikan instrumental, perpaduan Gambang Kromong dan Tanjidor, dengan dua boneka besar sebagai dirigennya. &lt;br /&gt;Dua boneka besar itu setinggi dua kali tinggi orang Indonesia kebanyakan. Badannya sangat besar, pelukan dua orang dewasa belum sanggup merangkul seluruh lingkar perut boneka itu. Di kepalanya mengenakan kedok, yang satu berwarna merah dengan mata melotot dan kumis tebal, yang satunya lagi berwarna putih matanya lebih sipit dan lentik. Rambutnya dibuat dari ijuk berhias bunga kelapa, tegak-tegak berdiri tak bergeming diterpa angin. Baju dan selendang di bahunya berwarna cerah mencolok. Dan sarung berwarna gelap bermotif batik menutupi bagian bawahnya. Di daerah lain juga terdapat boneka seperti itu. Kami menyebutnya ondel-ondel. Melenggok kiri kanan, menjadi bintang tamu dalam arak-arakan. &lt;br /&gt;Bintang utamanya Sang Pangeran yang ditunggu itu, Tan Liong San,  yang bisa dipanggil A Liong, mengenakan baju koko panjang sampai ke mata kaki berwarna merah dengan hiasan keemasan dan topi bulat merah menutupi kepala. Payung kebesaran, yang memang berukuran besar itu, mencegah sinar matahari menyentuh tubuhnya. Matanya yang sipit serta melihat perawakan, penampilan, apalagi namanya itu, semua orang  tahu Sang Pangeran adalah orang Tionghoa. Ia berjalan pelahan di tengah arak-arakan dengan puluhan orang mendampinginya. &lt;br /&gt;Pertunjukan ini jadi tontonan langka yang takkan terlupakan untuk orang kampung metropolitan. Banyak juga yang baru pertama kali menyaksikan. Anak-anak berjingkrakan lari-lari kecil menggoda ondel-ondel. &lt;br /&gt;Cing Nawi sudah siap sedari tadi di halaman rumahnya menunggu arak-arakan besan datang. Ia tampak sederhana, seperti seorang pendekar tobat dan menjadi wali. Busana serba putih dengan kopiah haji, dan sandal tertutup penuh pada bagian depan yang juga berwarna putih. Ia tidak seram seperti biasanya. Kumis tebalnya tertata rapi. Kaos putih, celana tiga perempat berwarna hitam, dan ikat pinggang besar berwarna hijau, yang menjadi seragam sehari-hari,  tersimpan rapi dalam kamar, bersama golok kesayangannya. &lt;br /&gt;Anak ketiga Cing Nawi, Minah, tak sabar lagi menunggu Sang Pangeran datang. Dalam baju kurung berwarna merah, wajah tertutup rumbai cadar dengan rambut tersanggul berhias kembang. Dan terpenting, di dahi Minah terlukis bulan sabit merah, tanda kesucian Sang Permaisuri. Kalaupun bulan sabit ini menjadi simbol hiasan adat semata, cukuplah Sang Pangeran yang tahu.&lt;br /&gt;“Assalamualaikum.” Bapak A Liong memberi salam lalu menyalami Cing Nawi.&lt;br /&gt;“Waalaikumsalam.” Cing Nawi bergegas mengucap salam seraya mempersilakan rombongan masuk.&lt;br /&gt;A Liong segera mempertemukan kedua belah telapak tangannya, menjulurkan kepada Cing Nawi sambil membungkukkan badan dan menundukkan kepala. Sang Pangeran siap dinobatkan sebagai raja sehari dengan penyematan tahtanya, Ratu Minah, oleh Cing Nawi yang berwenang.&lt;br /&gt;Kesunguhan cinta A Liong dan Minah meruntuhkan perbedaan etnis dan agama. Apalagi sekedar gunjingan orang. Kedua manusia dimabuk cinta ini malah mempersatukannya dengan indah. Prosesi dilakukan seadanya, tidak serumit pakemnya. Raja dan ratu sehari sudah duduk disinggasana. &lt;br /&gt;Teras dan halaman rumah yang dipenuhi bangku dengan penutup tenda mulai terisi. Cing Nawi masih sibuk menyambut tamu undangan. Banyak juga saudara kandungnya yang sudah jadi orang udik datang dari luar kota. Para tetangga pun kondangan. Mas Paijo mengenakan batik dengan belangkon di kepala datang lebih dulu. &lt;br /&gt;“Ora bawa keris, Mas ?” canda Cing Nawi menyalami Mas Paijo dengan tangan kiri merangkul ke pinggang belakang.&lt;br /&gt;“Lupa Bang. Loh … golok Abang mana?” Balas Mas Paijo dengan logat Jawa totok sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;Badaruddin datang menggandeng istrinya yang mengenakan baju kurung dengan sarung bertenun songket. Situmorang tampak mengenakan selendang ulos. Beberapa tamu lainnya mengunakan baju adat masing-masing. Ada juga yang menggunakan baju muslim dan jas tanpa dasi. Anak-anak muda banyak juga yang menggunakan kemeja dan celana jin. Tidak sedikit yang datang seperti pendekar Betawi, tentu tanpa golok. Juga datang Koh Tao mengenakan baju koko berwarna merah terang dengan topi bulat yang juga berwana merah. &lt;br /&gt;“Haya... lu undang orang dari seluruh Indonesia,” sapa Koh Tao menyalami Cing Nawi melihat tamu undangan yang mengenakan pakaian adat beragam yang memenuhi bangku di bawah tenda itu.&lt;br /&gt;“Pan dari Cina juga aye undang. Sebentar lagi dateng juga saudara aye yang pake seragam kompeni,” canda Cing Nawi bersemangat merasa himbauan yang disebar bersama undangan, harap tidak membawa bingkisan dan mengenakan pakaian adat masing-masing, ternyata berhasil.&lt;br /&gt;Cing Nawi memang dikenal sebagai pencinta budaya Betawi. Ondel-ondel dan perangkat alat musik yang meramaikan pesta adalah miliknya. Kebanyakan ia buat sendiri. Sering kali mulutnya nyerocos marah kepada anak-anaknya yang tidak perduli kepada budaya sendiri. Jadinya kebanyakan pemain musik bukan orang Betawi asli. Dan orang di dalam ondel-ondel itu, ia temukan di pasar sedang memanggul karung, yang tidak tahu dirinya beretnis apa. Orang Indonesia, katanya.&lt;br /&gt;Raja dan ratu sehari sudah mulai pegal duduk berdampingan di singgasananya. Satu persatu undangan pamit menyalami Cing Nawi. Seseorang lelaki berjas hitam dengan kemeja putih lengan panjang di dalamnya menyalaminya sambil berbisik, “Kalau tanah bapak mau dijual, hubungi saya,” lelaki itu lalu pergi meninggalkan sebuah amplop di tangan Cing Nawi. Bisikan itu langsung bersemayam di benak Cing Nawi. Di tengah pesta ini, risau Cing Nawi yang lama tersimpan kembali terusik. &lt;br /&gt;Saat Minah masih sekolah dasar. Kebun rambutan milik Cing Nawi dijual. Batang rambutan dibabat dan didirikan perumahan. Rumah setengah gedek bambu yang berada di tengah kebun itu pun dibongkar. Sebagai gantinya, Cing Nawi membangun rumah yang lebih besar tanpa gedek bambu sedikitpun di atas tanah yang dibelinya di pinggiran kota. &lt;br /&gt;Dan setelah rumah Cing Nawi selesai dibangun, ia berniat kawin lagi. Cekcok besar dengan istrinya, Munah, terjadi. Dua anaknya yang paling besar malah mengeruhkan suasana, minta ini dan itu serasa harta hasil menjual kebun rambutan tidak akan pernah habis. Cekcok besar ditinggalnya pergi, Cing Nawi mengajak Munah menunaikan ibadah ke tanah suci. Sepulang naik haji, Cing Nawi membangun kontrakan dua pintu di sisa halaman rumahnya. &lt;br /&gt;Dan pesta perkawinan anaknya yang ketiga ini diharapkan memperpanjang nafas dari tetes terakhir sisa harta hasil jual kebun rambutan yang dijadikan komplek perumahan itu. Banyak anak banyak rejeki, kiranya Cing Nawi mulai goyang kepedeannya dengan semboyan lama itu. Mungkin lebih tepatnya kali ini, banyak undangan banyak rejeki.&lt;br /&gt;Walau tak sedikitpun terbersit di wajah, apalagi saat pesta pernikahan ini, Cing Nawi mulai risau memikirkan empat adik Minah yang masih sekolah, berikut kebutuhan tiga cucunya yang kadang masih disponsorinya. &lt;br /&gt;Ia menyadari. Tidak hanya kebun rambutannya yang kini menjadi komplek perumahan. Daerah yang dulu dipenuhi kebun jeruk telah menjelma menjadi hutan beton bertingkat, kumpulan menara pencakar langit. Jembatan bukan hanya untuk menyebrang sungai, berangsur kota ini membuat jembatan yang melintas diatas jalan, bahkan diatasnya lagi, dan lagi.&lt;br /&gt;Hutan-hutan kayu, jati, aren, dan lainnya, tinggalah menjadi sebuah nama daerah yang biasa diteriakkan kernet bis kota. Kota ini tidak pernah tidur, sibuk memperbesar diri, mempercantik, atau lebih tepatnya mempertahankan diri dari serbuan orang yang sedari dulu berdatangan menggapai mimpi. &lt;br /&gt;Kebun rambutan dan hasil tanaman lain yang dulu menjadi andalan penghidupan tinggal kenangan. Kalaupun mau bertanam lagi, paling sebatas hobi. Jurus terobosan baru dengan membangun kontrakan tidak juga ampuh, semenjak anak pertama dan keduanya berkeluarga dan menempatinya. Orang bilang, ondel-ondel sudah tidak zamannya lagi. Jawara seperti Si Pitung pun bisa nganggur di kota ini. &lt;br /&gt;Sudah banyak saudara-saudara sekandungnya terpental ke luar Kota Jakarta. Lantaran menjual tanah atau ada juga yang tergusur proyek pembangunan, dan kembali membeli tanah yang lebih murah di luar kota untuk menetap, lalu menjualnya lagi, dan pindah lagi. Tidak hanya sampai pingiran kota. Bahkan ada yang terpental sampai pinggiran kota lain, tetangga kota ini. &lt;br /&gt;Kerisauaan Cing Nawi tidak membuat gengsinya menciut. Pernikahan anaknya yang banyak mengundang protes itu malah di buat semeriah mungkin. Jauh dari bayangan keluarga besan sekalipun. Tidak cukup banyak undangan banyak rejeki, penting juga agar tidak kehilangan gengsi, sekalian promosi ondel-ondel agar tidak mati.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ancur Minah. Baru enam bulan berlalu setelah pernikahan itu, perut  Minah sudah besar menunggu hitungan menit mungkin jam untuk melahirkan. Saat mentari baru saja menutup mata, Minah yang tinggal di rumah utama babehnya serasa tak sanggup menahan bayi dalam kandungan. &lt;br /&gt;Bidan terdekat dipanggil. Munah tidak meninggalkan anaknya barang sedetikpun. Munah tidak perduli kata orang, usia kandungan anaknya lebih tua dari masa pernikahan. A Liong mondar mandir di teras rumah. Dua orang Abang Minah berikut keluarga dan adik-adiknya ikut heboh. Dua orang tukang dukung ondel-ondel yang tinggal tidak jauh dari rumah Cing Nawi tidak ketinggalan, nongkrong di teras siap membantu jika diperlukan.&lt;br /&gt;“Dasar anak kota,” Cing Nawi tampak kesal geleng-geleng kepala berjalan menuju teras, “Sini loe semuanye !” lalu duduk di kursi bambu. &lt;br /&gt;Anak-anak, mantu, dan juga cucu-cucunya berkumpul di teras. Siapa yang berani menolak panggilan murka mantan jawara Betawi. Tinggalah Bidan, Munah, dan Minah yang sedang mengerang kesakitan, bersama bayi dalam kandungan, yang tidak ikut konvensi dadakan di teras depan. Tukang dukung ondel-ondel memang sudah sedari tadi nongkrong di situ, otomatis jadi peserta konvensi.&lt;br /&gt;“Pan gua udah omongin dari dulu, Lu pade kagak mau dengerin omongan gue.” &lt;br /&gt;Kerisauaan Cing Nawi yang sudah lama mengendap dalam otaknya berkecamuk tidak terkendali. Soal kebun rambutan yang sudah terjual, soal anak-anak yang tidak menghargai budayanya sendiri, dan orang Betawi lainnya yang terlempar jauh ke luar kota, dan sekarang cucu keempatnya akan lahir melangkahi moral waktu yang telah terbentuk lama oleh leluhurnya. Bulan sabit merah di dahi Minah saat menikah hanya menjadi budaya sandiwara, kebohongan semata. Semua soal dalam benak Cing Nawi terangkai tak beraturan menjadi satu, kecamuk itu sedang puncaknya, meminta jawab. &lt;br /&gt;“Ini memang Jakarta bukan Betawi lagi. Tapi lu-lu pade kudu menghargai budaye.” Cing Nawi mengawali orasinya tanpa sanggah sedikitpun. Hingga hampir seperti berbicara sendiri. Seperti ini kiranya : &lt;br /&gt;Budaya itu pegangan hidup agar tidak mudah tersesat, agar kita tidak tergelincir dari moral dan etika serta indahnya ajaran agama. Betawi boleh berubah, kebun dan hutan telah menemui ajalnya, langit-langit Jakarta boleh saja koyak tercakar tingginya manara, tapi budaya tidak boleh mati. &lt;br /&gt;“Jangan lu pikir budaye hanya manggul ondel-ondel. Mau lu, gua masukin museum ?” Mata Cing Nawi melotot dengan tangan menujuk kepada seluruh anak-anak dan mantunya. &lt;br /&gt;Tukang panggul ondel-ondel yang tidak kena tunjuk malah terkejut. Tidak terlalu mengikuti orasi Cing Nawi, kok tahu-tahu ingin dimasukkan ke museum. Mendengar Cing Nawi sering menyebut ondel-ondel, tukang panggul ondel-ondel mulai konsentrasi. Cing Nawi semakin tidak terbendung melanjutkan:&lt;br /&gt; Ondel-ondel boleh saja berlenggok di istana menyambut tamu kehormatan atau berlenggok sesuka hati saat ulang tahun Jakarta. Bahkan kalau disimpan di seluruh museum yang ada di kota ini juga tidak apa. Namun jangan sampai sejarah, nilai moral dan etika yang terkadung didalamnnya ikut tersimpan di museum. Jadilah kota ini tempat ondel-ondel bisa bergaul dengan wayang kulit, golek, dan orang. Boleh juga bercengkrama dengan barongsai, bahkan dengan sincan dan donal bebek sekalipun. &lt;br /&gt;“Kalo sampe semuanye tinggal di museum, Jakarta bakal ancur.”&lt;br /&gt;Cing Nawi belum selesai : Jika tidak ada lagi moral dan etika yang tersisa dari budaya, Jakarta akan menjadi hutan belantara. Tidak cukup hutan beton menara, jalan melintang-lintang di atas jalan, bahkan seluruh lampu di kota ini yang telah mengalahkan pesona bintang di waktu malam, belum cukup kuat mempertahankan keberadaan kota tanpa budaya leluhur. &lt;br /&gt;Tangis bayi menginterupsi orasi Cing Nawi. Peserta konvensi bubar seketika. A Liong lari lebih dulu masuk ke kamar Minah. Cing Nawi masih duduk di bangku bambu di teras rumahnya.&lt;br /&gt;A Liong kembali ke teras mengabari, “Syukur, Beh. Ganteng kaya Engkongnya.” Lalu menyalami mertuanya, dengan hormat persis saat ia menjadi Sang Pangeran yang memohon restu kepada Cing Nawi agar dinobatkan menjadi raja sehari. &lt;br /&gt;“Nah, lu kayaknya udah mulai ngerti yang gua omongin tadi.”&lt;br /&gt;A Liong dengan wajah penuh syukur masih berdiri disebelah Cing Nawi.&lt;br /&gt;“Gua kasih nama anak loe, Nursan.” &lt;br /&gt;Risau Cing Nawi yang memuncak kecamuknya mulai redam bersama tangis Nursan. Cing Nawi menutup orasinya, yang lebih mirip seperti doa penuh kebaikan : Nursan artinya cahaya nusantara. Agar semua anak tidak melupakan budaya leluhurnya saat dewasa. Ingat akan cahaya asalnya, berbaur dengan cahaya lainnya, melahirkan warna yang membias mewarna-warni, menjadi pelangi. Dan pelangi nusantara itu adalah Jakarta. &lt;br /&gt;Biarkan pelangi itu menunjukan keindahan warna-warninya. Jangan sampai hilang barang satu warna. Kalau sampai Jakarta ini hilang warna-warninya. Ia akan lupa dirinya sendiri. Lalu membias sampai seluruh nusantara, yang juga akan lupa akan jati dirinya. Seketika itu, ia akan hancur. Namun tidak hari ini, juga berabad lagi. Jakarta tetap menjadi pelangi nusantara.&lt;br /&gt;Tengah malam menjelang, tangis Nursan masih terdengar, membawa harapan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Palembang, awal November 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4062903590633865380?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4062903590633865380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4062903590633865380' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4062903590633865380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4062903590633865380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/cerpen-pelangi-nusantara-sigid-widagdo.html' title='Cerpen &quot;Pelangi Nusantara&quot; Sigid Widagdo'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-3537218526882261255</id><published>2008-12-12T12:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T12:20:27.977-08:00</updated><title type='text'>Sekilas Puisi Menandai Internet</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh T.WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA akan mengatakan, meskipun dunia dipenuhi makanan instan, politikus busuk, peperangan, penyakit mematikan, orang-orang yang bunuh diri, beragam bentuk sepatu, jutaan aroma parfum, menumpuknya utang negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, miliaran manusia menikah sesama jenis atau berlainan jenis, triliunan mobil dan sepeda motor dibuat, atau jutaan buruh dipecat dan jutaan petani kehilangan lahan, puisi tetap hidup. Puisi tetap lahir, hadir, walaupun kita tidak tahu di mana sebenarnya puisi-puisi itu diciptakan. Apakah lahir dari keliaran hati dan pikiran seorang penyair, atau dia memang ada sebelum manusia ada? Dia tumbuh di daun, berdiam di dalam batu, menggeliat di dalam air, menari di bungkus mi instan, batuk-batuk di bungkus rokok, bersenandung di alkitab, membelai dan menghentak bersama angin, membakar bersama matahari. Entahlah. Mungkin, kira-kira puisi selalu bersuara bersama bayangan Tuhan, yang saya percayai.&lt;br /&gt;Mengapa saya mengatakan kalimat-kalimat yang mungkin terkesan meledak itu? Tak lain lantaran saya mengarungi sebuah lautan puisi di dunia internet. Saya geger budaya. Ya, memasuki wilayah atau negara baru yang 20 tahun lalu tidak terbayangkan. Berkenalan dengan banyak puisi bersama wajah, suara, bahasa, dari manusia yang menyampaikannya.&lt;br /&gt;Website youtube atau dengan alamat www.youtube.com, memberikan suatu rumah yang begitu luas. Begitu juga halnya blog dengan alamat www.blogger.com, facebook atau www.facebook, multiply atau www.multiply.com, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Siapa pun penyair atau penikmat puisi dapat membuat kamarnya. Berekspresi sebebasnya, meskipun ada batasan etika, misalnya, jangan bersikap rasis atau mengundang dan mengajak berbuat kejahatan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Nah, di dunia internet itu miliaran puisi bertaburan. Mereka melintasi benua, berseliweran di kabel telepon, menembus badai, gempa bumi, seakan bersaing dengan mimpi-mimpi dan keinginan manusia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Puisi Digital&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SETAHUN belakangan ini, saya banyak memberikan waktu buat mengarungi youtube. Saya menyukai website ini lantaran dia menghadirkan puisi secara visual. Saya sebut puisi digital. Baik berupa video kreatif, live pembacaan puisi di panggung, di kamar, di jalan, di pasar, hingga animasi.&lt;br /&gt;Berdasarkan data channel puisi di youtube yang saya temukan—mungkin akurasinya tidak lemah dan bisa bertambah atau berkurang saat ini—terdapat lebih kurang 421 channel puisi!&lt;br /&gt;Channel puisi ini baik dikelola seorang penyair, organisasi, atau seorang remaja yang senang menulis puisi. Mulai dari www.youtube.com/user/badboypoet hingga www.youtube.com/user/ashaj45.&lt;br /&gt;Menariknya, channel-channel tersebut saling berkomunikasi dan berbagi karya. Mereka berteman begitu saja dengan latar belakang budaya dan wilayah yang ribuan mil jauhnya. Pertemanan mereka tidak dibatasi agama, etnis, apalagi ideology. &lt;br /&gt;Apa yang menarik dari puisi-puisi pada channel mereka? Tentu saja semua puisi ditampilkan dalam bentuk video, sebab youtube merupakan negara video terbesar dan terpopuler saat ini.&lt;br /&gt;Di youtube, tampaknya seorang penyair tidak hanya dituntut pandai menulis, dia juga harus mampu memvisualkan karyanya—sekreatif mungkin—dalam sebuah video. Dampaknya setiap saat youtube menjadi ruang pertunjukkan puisi yang dapat dinikmati siapa pun di dunia ini. Mereka menyaksikannya secara gratis, di mana pun tempat, dan waktunya dapat ditentukan sendiri. &lt;br /&gt;Anda akan menemukan puisi Four Quartets karyaT.S. Eliot yang dibacakan seorang nenek  menyebutkan dirinya Ida (80) di channel www.youtube.com/user/Idlinfarm, lalu para penyair yang sekian abad lalu sudah mati, seperti Edgar Allan Poe, Gerard Manley, Alfred Lord, Walt Whitman, Ezra Pound, Zinaida Gippius, Dante Gabriel Rosseti, James Weldon, di youtube kembali hidup lalu membacakan puisinya di channel  www.youtube.com/user/poetryanimations, puisi-puisi yang dalam film animasi pada www.youtube.com/user/akatashii, mendengarkan aktor Robert Gray menyenandungkan “Swarthy as oilcloth and as squat. as Sancho Panza. wearing a beret's little stalk. the pear…” atau artinya saya terjemahkan bebas menjadi: “Berkulit hitam sama taplak berlapis minyak dan seperti, berjongkok, seperti Sancho Panza,  memakai suatu stalk kabaret yang kecil , buah per…” dari puisinya berjudul A Bowl of Pears di www.youtube.com/user/poetryinternational, hingga kita dapat mendengarkan puisi yang di-Rap-kan dalam banyak channel, contohnya channel www.youtube.com/user/PoeM1988. Sedikit promosi, jika Anda buat mencarinya di internet, Anda cukup mengklik blog saya www.sajakdigital.blogspot.com. Di sana Anda menemukan 113 channel puisi yang ada di youtube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masih Asing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, yang mengejutkan, ternyata sulit sekali menemukan puisi digital atau video puisi para penyair Indonesia. Baik yang sudah meninggal dunia maupun yang masih hidup. Saya beruntung menemukan puisi Aku dan Tuhanku karya Sutan Takdir Alisjahbana yang dibacakan Dian Sastrowardoyo dalam acara 100 tahun STA. Untungnya juga penyair seperti Chairil Anwar, Sutardji Calsoum Bahri atau WS Rendra banyak ditemukan.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu kenapa hal ini terjadi. Padahal bila ditelisik dari perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, penyair selalu di depan. Katakanlah, pada saat masyarakat Indonesia butuh hurup latin, penyairlah yang lebih dulu pandai membaca dan menulis, begitupun soal tradisi mencetak buku.&lt;br /&gt;Memang, saya nyaris menemukan para penyair di Indonesia dalam sebuah blog. Tetapi, saya merasakan itu semacam pemindahan ruang baca, dari media cetak, buku, ke dunia internet. Artinya, dapat dikatakan para penyair di Indonesia masih percaya puisi adalah bahasa tulis, bukan bagian dari sebuah proses penandaan dengan menggunakan berbagai bahasa lain, seperti bunyi dan rupa.&lt;br /&gt;Terlepas soal perdebatan mengenai media puisi, saya melihat fenomena puisi digital yang mulai membooming sejak 2006 atau 2007 lalu di berbagai belahan dunia, merupakan media yang cukup efektif dan artistic dalam membangun komunikasi dengan mayarakat pecinta puisi di dunia.&lt;br /&gt;Apalagi saat ini, dunia video bukan merupakan sesuatu yang mahal atau mewah. Tiap computer kini memiliki program pengolahan video, alat perekam gambar bukan hanya tergantung pada kamera yang harganya jutaan rupiah seperti dimiliki stasion televisi, sebab sebuah handphone yang harganya ratusan ribu kini sudah dapat memotret dan merekam gambar. Lalu, ribuan jaringan internet, baik di warung internet atau di rumah, siap dikunjungi.&lt;br /&gt;Jelasnya, saya merasakan penyair hari ini dituntut seperti di awal abad masehi, yang mampu menampilkan puisi dalam beragam penandaan, atau seperti kita mendengarkan senandung puisi di sebuah dusun di kaki Bukitbarisan.&lt;br /&gt;Namun, ada satu hal yang harus diingat sebelum menggunakan internet. Dunia internet juga memiliki etikanya. Semangat internet adalah semangat berbagi sebagai sikap kritis atas dominasi informasi yang selama ini dimainkan pemerintah, humanis, individualistic, dan tidak rasis. Pengguna internet yang baik yakni memberikan ruang bagi banyak orang. Bila egois, niscaya dia akan kesepian dalamt pergaulan, tak ada yang mau ke rumah kita seandainya tamu yang sedikit atau cenderung memilih. &lt;br /&gt;Selain itu, saya ulangi lagi, etika tetap dijaga. Yang cukup mengejutkan saya—kecuali blog atau situs khusus porno—di dunia barat yang selama ini dipercaya sangat “bebas” ternyata mereka sangat menjunjung etika. Gambar-gambar yang ditampilkan jauh lebih sopan, atau tidak mengekspos pornografi atau “seks” dalam pengertian pribadi. Bila ada yang berbau porno, itu semata berkarakter natural, sebab ditampilkan sangat hati-hati. Bagaimana tidak, bila itu dilanggar alamat mereka akan dihapus—terutama yang gratisan—dan akan diasingkan para pengguna internet lainnya.&lt;br /&gt;Jadi, mempertegas pernyataan saya di awal tulisan ini, sebenarnya tak ada kuburan bagi puisi. Ketika penyair kehilangan pena dan kertas, media cetak, gedung kesenian, mesin cetak, kebebasan berekspresi, internet menjadi kebun bunga, lapangan sepakbola, atau negara yang lebih luas dan bebas. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-3537218526882261255?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/3537218526882261255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=3537218526882261255' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3537218526882261255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3537218526882261255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/sekilas-puisi-menandai-internet.html' title='Sekilas Puisi Menandai Internet'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4149412562140046358</id><published>2008-12-07T01:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-07T01:22:24.387-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teater Garasi'/><title type='text'>Inside Your Shoes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STuVbJAVDDI/AAAAAAAAAzU/hDxAh1u-voA/s1600-h/music.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 286px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STuVbJAVDDI/AAAAAAAAAzU/hDxAh1u-voA/s400/music.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276975681900973106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4149412562140046358?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4149412562140046358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4149412562140046358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4149412562140046358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4149412562140046358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/inside-your-shoes.html' title='Inside Your Shoes'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STuVbJAVDDI/AAAAAAAAAzU/hDxAh1u-voA/s72-c/music.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-6099241191547140804</id><published>2008-12-05T07:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T07:21:24.655-08:00</updated><title type='text'>DKSS Persiapan Renstra Pembangunan Humaniora</title><content type='html'>GUNA mewujudkan manusia Sumatra Selatan ke depan yang lebih sehat dan cerdas, menurut Dewan Kesenian Sumatra Selatan, dibutuhkan strategi pembangunan humaniora. Bukan semata pembangunan fisik atau sarana dan prasarana.&lt;br /&gt;“Kami telah menyusun sebuah renstra yang akan digunakan dalam kepengurusan DKSS periode 2009-2014 mendatang,” kata Z.A. Narasinga, sesuai rapat persiapan musyawarah seniman Sumsel pada akhir Januari 2009, di sekretariat Dewan Kesenian Sumsel, Jalan Amri Yahya Palembang, Jumat (05/12/2008).&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlFloeID6I/AAAAAAAAAy8/g1oqVMeYiAI/s1600-h/dkss1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 271px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlFloeID6I/AAAAAAAAAy8/g1oqVMeYiAI/s400/dkss1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276324951262498722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Supriyadi, Z.A. Narasinga, Didik Kamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Narasinga, selama kepengurusan DKSS selama lima tahun itu, ditargetkan berdirinya sebuah perguruan tinggi seni di Sumatra Selatan. Selain itu, lahirnya sebuah landasan hukum dalam pembangunan seni dan budaya di Sumsel dalam bentuk peraturan daerah. “Kita juga berharap adanya penambahan fasilitas seni dan budaya, serta penguatan sumber daya manusia seni dan budaya seperti dalam bentuk pelatihan dan bea siswa pendidikan,” katanya.&lt;br /&gt;Pernyataan Narasinga ini dipertegas oleh pekerja seni Didik Kamil. “Kita sudah terlambat sekian puluhan tahun dari daerah lain di Indonesia. Sekian abad dari negara-negara luar. Kini saatnya kita memperbaiki atau menyempurnakan semua kebijakan pemerintah. Program Sumsel sehat dan cerdas merupakan peluang guna melaksanakan pembangunan humaniora,” kata Didik.&lt;br /&gt;Sedangkan Supriyadi, seorang dosen dari Universitas Sriwijaya mengatakan DKSS ke depan juga akan mendorong perguruan tinggi di Sumatra Selatan untuk meningkatkan pemberian pendidikan di bidang kebudayaan. “Misalnya Unsri sudah sepantasnya membuka fakultas sastra atau fakultas kebudayaan,” katanya.&lt;br /&gt;Lalu, di tingkat pendidikan dasar, kurikulum sudah harus dimasuki dengan muatan budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlF-bdFhLI/AAAAAAAAAzM/zAjiz4ML06w/s1600-h/dkss5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 394px; height: 336px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlF-bdFhLI/AAAAAAAAAzM/zAjiz4ML06w/s400/dkss5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276325377265206450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Z.A.Narasinga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlF-XnI1ZI/AAAAAAAAAzE/wlrwnKfenaU/s1600-h/dkss4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 397px; height: 336px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlF-XnI1ZI/AAAAAAAAAzE/wlrwnKfenaU/s400/dkss4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276325376233624978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Didik Kamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Musyawarah Budayawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir Januari 2008, selain digelar pesta seni, kemah seniman, musyawarah seniman, juga dilangsungkan musyawarah budayawan. “Semua menampung semua pekerja seni dan budaya di Sumsel. Mulai dari pekerja seni, pekerja budaya, dan aktifis seni dan budaya. Dari pentas seni, pameran, hingga berdiskusi, dan merumuskan berbagai rekomendasi pembangunan kebudayaan Sumsel ke depan,” kata Narasinga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-6099241191547140804?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/6099241191547140804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=6099241191547140804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6099241191547140804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6099241191547140804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/dkss-persiapan-renstra-pembangunan.html' title='DKSS Persiapan Renstra Pembangunan Humaniora'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STlFloeID6I/AAAAAAAAAy8/g1oqVMeYiAI/s72-c/dkss1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4210525389095241689</id><published>2008-12-02T11:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T12:11:35.015-08:00</updated><title type='text'>Boy Legend From Musi River</title><content type='html'>Oleh T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA zaman dahulu. Abad 20 Masehi. Hiduplah seorang lelaki, berhidung mancung, beralis tebal, berkumis dan berjanggut tipis, tubuh agak tambun, berambut ikal panjang sebahu, dan paling senang makan masakan pindang. Dari pindang tulang sapi hingga pindang kepala ikan patin. Dia bukan anak seorang raja, bukan pula anak seorang petani. Dia anak seorang pegawai sebuah perusahaan pengolahan minyak bumi di Plaju, Palembang. &lt;br /&gt;Sore itu, dia bercerita; puluhan tahun lalu, saat dia masih kanak-kanak, tiap sore atau malam setelah mengaji dan belajar, buyutnya banyak bercerita tentang legenda-legenda yang berkembang di masyarakat Palembang, khususnya di sepanjang tepian sungai Musi.&lt;br /&gt;Dia juga bercerita saat itu mudah sekali mencari ikan di sungai Musi. “Kita biso mancing iwak selontok dari cela-cela papan lantai rumah,” katanya. Sementara sekarang, lanjutnya, mancing semalaman, sulit sekali mendapatkan ikan juaro seberat 1 kilogram. Saya manggut-manggut; setuju. “Padahal kotoran manusia yang dibuang ke sungi Musi, kian hari kian bertambah. Logikanya iwak juaro seharusnya cepet beranak dan cepet besak, ,” kata saya. Dia tertawa. &lt;br /&gt;“Awak pecak tau nian iwak juaro senang makan itu...?” &lt;br /&gt;“Aku nih jugo wong plembang. Lahir di tepi sungi Musi,” jawab saya dengan membusungkan dada.&lt;br /&gt;“Awak pacak manjat?”&lt;br /&gt;“Idak.”&lt;br /&gt;“Pacak berenang?”&lt;br /&gt;“Idak jugo.”&lt;br /&gt;“Dak jelas awak nih. Kalu wong sungi pasti pacak berenang, kalau wong darat pasti pacak manjat pohon. Awak nih dak jelas nian. Lahir di sungi tapi dak pacak berenang.”&lt;br /&gt;Saya terdiam. Dia cengar-cengir.&lt;br /&gt;Sekian detik kemudian ujung bibirnya menurun. “Aku kangen dengan masa kecilku. Aku juga kangen dengan dongeng, legenda, yang diceritakan buyutku. Aku pengen nulisnyo,” katanya. &lt;br /&gt;Saya terus diam, sebab masa kecil saya dipenuhi kisah petualangan Batman, Superman, atau Bobo. Kalau saya kangen dengan masa kecil, saya cukup membuka buku-buku cerita milik anak saya.&lt;br /&gt;“Pecak mano kalu cerito-cerito buyut awak tuh diterbitkan dalam buku. Rasonya belum ado buku kumpulan cerito pecak itu. Sementara wong tuo sudah sedikit yang seneng bercerito pecak buyut awak tu,” kata saya.&lt;br /&gt;“Setuju nian aku. Bagus nian ide awak tu.”&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWUNBZZ4UI/AAAAAAAAAx0/zbbejc6UUnM/s1600-h/XXIII.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWUNBZZ4UI/AAAAAAAAAx0/zbbejc6UUnM/s400/XXIII.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275285489968603458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;19 tahun lalu. Lelaki itu selalu berpenampilan seperti seorang bule dari Texas, Amerika Serikat. Bercelana blue jeans. Rambut disisir rapi ke belakang, bergaya Elvis Presley. Mengenakan sepatu dan tali pinggang dari kulit buaya. Berkaos ketat. Mengenakan jaket, juga dari kulit, berwarna hitam atau coklat susu. Pokoknya dia selalu tampil necis bila berkumpul dengan teman-teman pekerja seni.&lt;br /&gt;“Oi borjuis! Jangan awak sering ngumpul di sini,” kata saya.&lt;br /&gt;Dia bergegas mendekati saya. “Yo, kalu awak ploletar.”&lt;br /&gt;“Indonesia sekarang nih miskin. Jadi jangan awak banyak gaya.”&lt;br /&gt;“Apo wong miskin dan susah tidak boleh bergaya?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Yo. Sebab itu tidak mencerminkan jiwo perlawanan.”&lt;br /&gt;Dia pergi, “Dasar gilo.”&lt;br /&gt;12 tahun kemudian. Dia tetap tampil penuh gaya. Bedanya, rambutnya panjang. Tapi, mungkin karena ikal dan sedikit botak, rambutnya sering disisir ke belakang dan diikat ujungnya.&lt;br /&gt;“Bagus nian jaket awak, nih,” katanya, mengomentari jaket hitam yang sangat kenakan.&lt;br /&gt;“Apo wong miskin dak boleh bergaya?”&lt;br /&gt;Kami tertawa. Kami wong miskin yang sadar dengan gaya.&lt;br /&gt;“Kalu di surga kagek Allah pasti mewajibkan kito tampil penuh gaya, dan aroma tubuh wangi. Sebab mano ado bidadari di surga seneng dengan kito kalu tampil kayak Chairil Anwar. Kurus, kumel, dan bau.” Saya membuat kesimpulan. Dia tersenyum. Dipegangnya buku novel saya yang baru diterbitkan saat itu, Juaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Desember 2008, dia datang ke rumah saya. Dia memberikan saya sebuah buku yang baru ditulisnya, dan diproduksi oleh Dinas Pendidikan Sumatra Selatan. Judulnya Legenda Tepian Musi. Buku ini berisi 7 cerita legenda yang berkembang pada masyarakat di tepian sungai Musi. Baik yang berkembang pada masyarakat di Palembang maupun di daerah pedalaman.&lt;br /&gt;“Buku ini katek yang salah. 100 persen bener. Menjawab kegalauanku pada novel Juaro dan Buntung. Ngapo? Sebab buku awak nih ngidupke buyut kito yang pinter dan arif.”&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Tak lama kemudian bersama seorang teman dia keluar rumah.  Setengah jam kemudian dia muncul. Dia baru saja difoto.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWUohnVzfI/AAAAAAAAAx8/w0F1EZ2r9U0/s1600-h/XXII.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 332px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWUohnVzfI/AAAAAAAAAx8/w0F1EZ2r9U0/s400/XXII.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275285962473459186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah foto memberi satu fakta yang membuat saya terkejut. Foto dia tengah manjat pohon kelapa. Ternyata, sebagai seorang manusia yang dilahirkan di tepi sungai Musi, dia dapat manjat pohon kelapa. Tapi, pohon yang paling sering dipanjatnya saat kanak-kanak ternyata pohon nangka.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWVALAUUjI/AAAAAAAAAyE/IvDcisaXOV8/s1600-h/VII.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 341px; height: 336px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWVALAUUjI/AAAAAAAAAyE/IvDcisaXOV8/s400/VII.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275286368721064498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PADA zaman sekarang. Abad 21. Lelaki itu terus hidup. Namanya Yudhy Syarofie. Dia terus menulis dan berkisah kepada kita. Maka, baca dan bersenanglah kita dengan buku Legenda Tepian Musi ini agar kita dapat manjat pohon dan berenang, meskipun di buku ini tidak ada legenda tentang lelaki yang tidak dapat berenang dan manjat pohon seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWWBFL7WbI/AAAAAAAAAyM/TWbZ__n7cak/s1600-h/XXVIII.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 399px; height: 336px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWWBFL7WbI/AAAAAAAAAyM/TWbZ__n7cak/s400/XXVIII.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275287483850643890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4210525389095241689?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4210525389095241689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4210525389095241689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4210525389095241689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4210525389095241689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/12/boy-legend-from-musi-river.html' title='Boy Legend From Musi River'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/STWUNBZZ4UI/AAAAAAAAAx0/zbbejc6UUnM/s72-c/XXIII.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8443933130371333795</id><published>2008-11-27T23:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T23:52:01.699-08:00</updated><title type='text'>Novel Perahu karya Conie Sema</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SS-jCcNNyZI/AAAAAAAAAxs/65g67lZ6WhY/s1600-h/coniiii.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 119px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SS-jCcNNyZI/AAAAAAAAAxs/65g67lZ6WhY/s400/coniiii.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273612951000828306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MULAI Jumat (21/11/2008) lalu, dapat dinikmati novel Perahu karya Conie Sema di www.novelperahu.blogspot.com. Novel ini bersetting masyarakat pesisir Lampung. Sebelumnya Conie Sema banyak bekerja di dunia teater bersama Teater Potlot. Novel ini ditulis di tengah kesibukan Conie Sema menjadi jurnalis. "Saya menulis novel, karena saya ingin menulis. Dan saya merasa lucu sehingga saya menulis novel," kata Conie.&lt;br /&gt;Berikut kutipan dari novel Perahu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari pengeras suara terdengar teriakan parau; “kawan-kawan! Satu rekan kita mati! Mereka menembak Rizal!  Jangan mundur! Lawan! Maju… maju!”  Mahasiswa kembali keluar dari kampus UBL. Mereka tumpah ruah ke jalan raya ZA Pagaralam, di depan kampus UBL.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapa Conie Sema? Inilah biodatanya:&lt;br /&gt;CONIE SEMA, anak laki-laki, nomor urut lima dari sembilan bersaudara lahir di Kota Palembang. Bapaknya Sema’i (Alm), mengabdi jadi pegawai negeri sipil. Sampai pensiun berpangkat rendah,  karena menolak dipaksa mencoblos Golkar, partainya ORBA. Selain bersastra juga berkesenian di Teater Potlot Palembang (1984-1996). Sehari-hari bekerja sebagai koresponden RCTI di Lampung. &lt;br /&gt;Karya-karya drama yang ditulis dan sempat dipentaskan antara lain, Sari (drama tivi) produksi TVRI Palembang (1989), Bonseras (Boneka Setengah Waras), pentas tiga kota, Jambi, Lampung, dan Palembang (1992-1993). Sebungkus Deterjen Hari Ini di Palembang dan Jakarta (1993). Tahun 1994 hijrah ke Lampung, menggarap Orang-Orang Barunta pentas 6 Kabupaten dan Kota di Lampung (1999), Hutan Geribik Roadshow 50 desa di Lampung (2000). &lt;br /&gt;Karya drama panggung lainnya yang belum sempat dipentaskan antara lain, Denting-Denting Piano (1989, drama tivi), Kereta Tanpa Rel (1996), Kondominium Bocor (1995), Monolog: Gergaji (2000), dan Rekonstruksi Angin (2001). Juga menulis esai-esai sastra dan budaya di Majalah Kebudayaan Dinamika, Sumatera Ekpres, Sriwijaya Post, Suara Rakyat Semesta, Media Indonesia, Lampung Post, Tabloid Sumber, Suara Lampung, dan lain-lain. Novel “Perahu”  (2004-2006), adalah karya pertamanya menulis cerita panjang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama   : Conie Sema&lt;br /&gt;Lahir  : Palembang, 24 April 1965 &lt;br /&gt;Kelamin         : laki-laki&lt;br /&gt;Alamat  : Jalan Imam Bonjol, Gang Randu 13 B, Kemiling, Bandarlampung&lt;br /&gt;Pekerjaan : Jurnalis Televisi (Koresponden RCTI di Lampung)&lt;br /&gt;Nama Isteri : Bisri Merduani&lt;br /&gt;Nama Anak : 1. Sema Milenia&lt;br /&gt;    2. Sema Giga Ramadan&lt;br /&gt;    3. Sema Epik Revolka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8443933130371333795?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8443933130371333795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8443933130371333795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8443933130371333795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8443933130371333795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/novel-perahu-karya-conie-sema.html' title='Novel Perahu karya Conie Sema'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SS-jCcNNyZI/AAAAAAAAAxs/65g67lZ6WhY/s72-c/coniiii.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8549071884974328131</id><published>2008-11-26T05:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T05:06:31.824-08:00</updated><title type='text'>Kapan Pengurus Dewan Kesenian Sumsel Menerima Gaji?</title><content type='html'>Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA orang boleh kecewa dan marah terhadap Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Kemudian menyalahkan orang lain. Menempatkan diri sebagai orang yang paling benar, bermoral, dan cerdas. Atau juga, mengakui diri sebagai orang yang paling bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Lalu, apa salah Dewan Kesenian Sumatra Selatan? Jawabannya semua sudah tahu. Dewan Kesenian Sumatra Selatan dinilai gagal mengurusi seni-budaya di Sumatra Selatan, khususnya mengurusi pribadi-pribadi para pekerja seni.&lt;br /&gt;Saya sepakat. Tapi kegagalan yang saya lihat yakni Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum mampu mewujudkan sebuah perguruan tinggi seni di Sumatra Selatan. Sebab sebagai salah satu daerah tertua di Indonesia dan memiliki sejarah dan peradaban tinggi, Sumatra Selatan belum memiliki perguruan tinggi seni, seperti halnya di Bali, Sumatra Utara, Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;Kegagalan kedua, Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum dapat mendorong lahirnya sebuah peraturan daerah mengenai seni dan budaya.&lt;br /&gt;Kegagalan ketiga, mungkin naif, Dewan Kesenian Sumatra Selatan belum pernah memberikan saya biaya buat berkesenian, apalagi buat biaya makan dan minum saya sehari-hari sebagai pekerja seni.&lt;br /&gt;Nah, ada dua sikap menyikapi kegagalan tersebut. Pertama, menghukum para pengurus Dewan Kesenian Sumsel dengan menggantungnya hidup-hidup di atas jembatan Ampera, atau kedua, mengkoreksi kegagalannya dan menyusun sebuah strategi baru mengoptimalkan peranan Dewan Kesenian Sumsel.&lt;br /&gt;Saya tidak akan memilih langkah pertama. Sebab saya bukan manusia barbar, yang senang menyiksa atau membunuh orang lain. Maka, saya akan memilih sikap yang kedua.&lt;br /&gt;Berdasarkan sikap yang kedua, penyebab kegagalan pertama Dewan Kesenian Sumsel yaitu mendirikan perguruan tinggi seni—saya berasumsi—lantaran secara sistematis ada kekuatan dari pusat atau luar yang tidak menginginkan Sumatra Selatan memiliki sebuah perguruan tinggi seni. Sebab jika di Sumatra Selatan lahir sebuah perguruan tinggi seni, akan terungkap semua kebesaran sejarah masa lalu nusantara yang beranjak dari Sumatra Selatan, sehingga memengaruhi berbagai kebijakan strategi kebudayaan di nusantara yang tengah berjalan. Artinya, bila Sumatra Selatan memiliki perguruan tinggi seni sejak 30-40 tahun lalu, mungkin konsep otonomi daerah yang dipakai kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam, sudah lama dijalankan pemerintahan di Indonesia.&lt;br /&gt;Sementara kegagalan kedua yaitu mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni dan budaya lantaran Dewan Kesenian Sumsel tidak memiliki sumber daya manusia yang mampu bekerja secara fokus dan konsisten dalam mewujudkan peraturan daerah tersebut. Saya mengetahui keinginan Dewan Kesenian Sumsel mewujudkan peraturan daerah itu sudah berjalan sejak tiga tahun lalu, tapi sampai saat ini saya belum pernah melihat daft soal peraturan daerah tentang seni dan budaya versi Dewan Kesenian Sumsel.&lt;br /&gt;Memang, mewujudkan peraturan daerah ini dibutuhkan kerja keras. Bahkan, kelompok seniman di luar kepengurusan Dewan Kesenian Sumsel, seperti Majelis Seniman Sumsel (MSS) dengan presidennya yang belum diganti—meskipun masa kerjanya sudah melewati batas waktu 2 tahun—yakni Nurhayat Arief Permana, belum berhasil selama 5 tahun ini mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni-budaya.&lt;br /&gt;Lalu, kegagalan ketiga yakni membantu biaya kreatif bagi pekerja seni, lantaran Dewan Kesenian Sumsel memang “bokek”. Dana yang didapatnya hanya berdasarkan “niat baik” pihak pemerintah, baik melalui kantor gubernur Sumsel atau dinas-dinas yang terkait dengan isu seni dan budaya.&lt;br /&gt;Bahkan, ironinya, para pengurus Dewan Kesenian Sumsel sendiri tidak memiliki gaji. Mereka diminta sukarela buat mengurusi kesenian di Sumsel. Sungguh mengharukan.  &lt;br /&gt;Sudah miskin, tak dapat gaji, lalu dimarahi para pekerja seni!&lt;br /&gt;Jadi, berdasarkan penglihatan saya di atas, posisi Dewan Kesenian Sumsel sangat lemah. Posisi tawar lembaga ini jauh lebih lemah dari sebuah organisasi pemuda, klub sepakbola, bahkan lembaga swadaya masyarakat. Istilah gaulnya, Dewan Kesenian Sumsel itu pakaiannya kecil tapi badannya besar.  Jelasnya, uangnya kecil, tanpa kekuatan hukum, tapi ngurusi peradaban manusia!&lt;br /&gt;Namun, saya tidak dapat menyalahkan Dewan Kesenian Sumsel. Sebab negara ini memang tidak memandang penting—atau ketakutan—terhadap para pekerja seni dan budaya, sehingga sampai saat ini tidak ada menteri seni-budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Dipertahankan?&lt;br /&gt;Dengan fakta di atas, mengapa Dewan Kesenian Sumatra Selatan harus dipertahankan? Menurut saya kalau Dewan Kesenian Sumsel dipertahankan dengan kondisi hari ini; yakni tak ada uang, tak ada kekuatan hukum, sumber daya manusia yang tidak ideal, ya, lebih baik dibubarkan. Sebab sia-sia. Hanya mendatangkan fitnah, kemarahan, dan kesombongan yang aneh pada para pekerja seni. Tetapi, bila Dewan Kesenian Sumsel dibubarkan, itu sama artinya kita memvonis masyarakat Sumsel tidak memiliki kebudayaan. Sungguh membingungkan.&lt;br /&gt;Sekali lagi saya mempertimbangkan diri sebagai manusia yang tidak mau disebut sebagai manusia tanpa peradaban. Jadi, saya setuju Dewan Kesenian Sumsel tetap dipertahankan. Namun, Dewan Kesenian Sumsel ke depan harus memiliki posisi tawar yang bagus dengan pemerintah maupun kekuatan lainnya di masyarakat.&lt;br /&gt;Lalu, apa saja prasyarat Dewan Kesenian Sumsel agar tetap dipertahankan?&lt;br /&gt;Pertama, sebagai lembaga mitra pemerintah dan mengurusi persoalan yang besar yakni seni dan budaya, Dewan Kesenian Sumsel harus memiliki dasar hukumnya di mata pemerintah dan masyarakat, yakni harus ada payung peraturan daerah. Dalam hal ini, pemerintah Sumatra Selatan, jika memandang Dewan Kesenian Sumsel masih diperlukan buat mewujudkan masyarakat Sumsel ke depan cerdas dan sehat—merupakan cita-cita semua agenda kebudayaan—harus mendorong lahirnya peraturan daerah mengenai seni-budaya. Sementara itu, jika partai politik, juga mau disebut sebagai partai politik sebenarnya—yang memikirkan negara dan bangsa ini ke depan—tentulah tidak memiliki alasan buat menolak peraturan daerah mengenai seni-budaya yang juga mengakui keberadaan Dewan Kesenian Sumsel.&lt;br /&gt;Jika ini berlangsung, saya percaya para pengurus Dewan Kesenian Sumsel akan mendapatkan gaji, sehingga menjadi sehat dan kian cerdas. Lebih jauhnya, para pekerja seni akan mendapatkan fasilitas dalam batas tertentu, misalnya biaya produksi karya.&lt;br /&gt;Kedua, Dewan Kesenian Sumsel—bila sudah sehat—segera mewujudkan agenda-agenda dari strategi kebudayaan yang diinginkan bersama, seperti melaksanakan program-program pembangunan humaniora.&lt;br /&gt;Selanjutnya, kritik terhadap Dewan Kesenian Sumsel akan benar-benar objektif. Sebab inputnya sudah jelas dan terukur, seperti kita mengkritik para anggota Dewan, senator, gubernur, atau presiden. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8549071884974328131?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8549071884974328131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8549071884974328131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8549071884974328131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8549071884974328131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/kapan-pengurus-dewan-kesenian-sumsel.html' title='Kapan Pengurus Dewan Kesenian Sumsel Menerima Gaji?'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4427713739906788044</id><published>2008-11-19T02:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T02:51:52.635-08:00</updated><title type='text'>Peduli Soeharto, Bagaimana Nasir?</title><content type='html'>Oleh T.WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWALNYA Hitler merupakan pahlawan bangsa Jerman. Lalu, dia menjadi penjahat perang, terutama bagi bangsa Yahudi. Kini, ketika Jerman mengalami krisis ekonomi dan sosial, Hitlet kembali menjadi pahlawan buat sebagian rakyat Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno, awalnya juga seorang pahlawan. Tak lama kemudian Soekarno buat sebagian rakyat Indonesia merupakan “penjahat”. Selanjutnya Soekarno kembali menjadi pahlawan. Bahkan pada saat Soeharto berkuasa, Kelompok Kampungan, sebuah grup musik dari Yogyakarta pada tahun 1970-an, menuliskan lagu yang sempat dilarang Soeharto itu, berjudul, “Bung Karno”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liriknya antara lain, “Memandang Indonesia dari sisi sudut sejarah, teringat pada Bung Karno. Seorang manusia, yang pernah lahir di Indonesia, dan dicatat oleh sejarah. Sejarah merah-putih. Sejarah dunia. Sejarah seorang manusia. Mengenangkan Indonesia, terkenang akan para pahlawan, pejuang kemerdekaan, manusia Indonesia, berkata kepada Indonesia, aku cinta negeri Indonesia. Bung Karno telah pergi dengan segala kekurangan dan kelebihannya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Soeharto. Awalnya dia merupakan pahlawan. Namun, dia pun dinyatakan sebagai musuh rakyat. Kini, sebagian rakyat menempatkan dirinya sebagai pahlawan. Salahkah? Entahlah. Yang pasti kita boleh membuat lagu berjudul “Pak Harto” yang liriknya mungkin dapat mencaplok lagu “Bung Karno” milik Kelompok Kampungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mengingatkan. Banyak sekali para pejuang Indonesia yang belum diakui atau dinyatakan sebagai pahlawan. Ini sama sekali tidak disentuh oleh pemerintah Soekarno, Soharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY. Mereka itu contohnya Bung Tomo dan Muhammad Nasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan kekuatan baru parpol “kanan” di Indonesia. Mereka membangun citra sebagai parpol yang menjaga moral; politikus PKS tidak korup, tidak tertangkap bermain judi atau perempuan, dan dekat dengan rakyat. Meskipun soal melahirkan kebijakan buat publik, tampaknya PKS masih sama dengan parpol lainnya, tapi itu sudah cukup membuat PKS sebagai parpol yang mendapat jutaan pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba PKS membuat suatu gebrakan yakni memosisikan Soeharto sebagai pahlawan. Sungguh mengejutkan. Semua rakyat Indonesia mendiskusikan sikap PKS ini. Ada yang mendukung, dan ada yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Parpol Golkar yang melakukannya mungkin tidak mengejutkan. Jadi, langkah PKS ini sebuah kecerdasan buat mempopuliskan dirinya menjelang Pemilu 2009.&lt;br /&gt;Namun, saya hanya ingin bertanya, kenapa PKS tidak memperjuangkan Muhammad Nasir sebagai pahlawan nasional? Dan, saya pun bertanya, benarkah PKS merupakan parpol yang menampung karakter politisi Islam di masa lalu, yang tersingkirkan di era Soekarno maupun Soeharto? Ya, PKS adalah PKS, seperti karakter politisi mereka di parlemen yang ada saat ini. Soal moral tidak kompromi, soal kebijakan bisa kompromi. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4427713739906788044?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4427713739906788044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4427713739906788044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4427713739906788044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4427713739906788044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/peduli-soeharto-bagaimana-nasir.html' title='Peduli Soeharto, Bagaimana Nasir?'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-1480651847304975988</id><published>2008-11-11T10:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T10:44:15.964-08:00</updated><title type='text'>Art Exhibition Digital and Oil Painting by Suharno Manap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSMLzGHCI/AAAAAAAAAxk/MRze6E1Vzag/s1600-h/harno2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 305px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSMLzGHCI/AAAAAAAAAxk/MRze6E1Vzag/s400/harno2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267472345953868834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSL-keRHI/AAAAAAAAAxc/CoyjTanAzBU/s1600-h/harno7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 325px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSL-keRHI/AAAAAAAAAxc/CoyjTanAzBU/s400/harno7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267472342402876530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSL_WDDOI/AAAAAAAAAxU/5UugXh2xtSk/s1600-h/harno6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 377px; height: 336px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSL_WDDOI/AAAAAAAAAxU/5UugXh2xtSk/s400/harno6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267472342610808034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSLRxc3DI/AAAAAAAAAxM/_cx_x29BBQE/s1600-h/harn05.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 309px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSLRxc3DI/AAAAAAAAAxM/_cx_x29BBQE/s400/harn05.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267472330377714738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSK34ry0I/AAAAAAAAAxE/Grw7Vke86UM/s1600-h/harno3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 294px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSK34ry0I/AAAAAAAAAxE/Grw7Vke86UM/s400/harno3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267472323428731714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-1480651847304975988?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/1480651847304975988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=1480651847304975988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1480651847304975988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1480651847304975988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/art-exhibition-digital-and-oil-painting.html' title='Art Exhibition Digital and Oil Painting by Suharno Manap'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SRnSMLzGHCI/AAAAAAAAAxk/MRze6E1Vzag/s72-c/harno2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-3763261828473300909</id><published>2008-11-06T00:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T00:25:37.763-08:00</updated><title type='text'>Catatan Buat Alex Noerdin-Eddy Yusuf</title><content type='html'>Oleh T. WIJAYA&lt;br /&gt;KEMENANGAN pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf sebagai pemimpin Sumatra Selatan lima tahun ke depan, 2008-2013, merupakan bukti bahwa sebagian besar masyarakat Sumatra Selatan setuju dengan program Sumsel Sehat dan Cerdas. Jadi, apa pun kondisinya, program tersebut harus dijalankan secara optimal.&lt;br /&gt;Lalu, cukupkah program tersebut dijalankan tanpa strategi kebudayaan? Artinya program itu hanya berjalan dalam kacamata proyek, misalnya cukup menyediakan obat-obat dan alat kesehatan serta penyediaan alat pendidikan, tanpa melihat dari kepentingan kebudayaan.&lt;br /&gt;Sebab dalam pengertian dasar, mencerdaskan dan menyehatkan manusia merupakan tujuan utama dari sebuah strategi kebudayaan. Peradaban yang dibangun melalui agama, ilmu pengetahuan, kesenian, tradisi, teknologi, muara idealnya yakni menciptakan manusia yang sehat dan cerdas.&lt;br /&gt;Jadi, program Sumsel Sehat dan Cerdas sebetulnya semacam penegasan kembali atas semua agenda kerja pembangunan yang dijalankan pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah Sumatra Selatan, selama ini. Artinya pula bukan sesuatu yang baru, sebab selama ini setiap pemerintahan di Sumatra Selatan secara tidak langsung bercita-cita mewujudkan masyarakatnya sehat dan cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Crash Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cukupkah menciptakan manusia Sumatra Selatan menjadi cerdas dan sehat hanya melalui agenda kerja sekolah gratis dan berobat gratis? Saya pikir tidak. Sebab pertanyaan selanjutnya mengenai kualitas dari sekolah dan berobat gratis itu. Kalau pendidikan dan berobat gratis itu memiliki kualitas yang rendah, artinya hanya sebatas pemenuhan kebutuhan dasar, target perwujudan Sumsel Sehat dan Cerdas dapat dikatakan sebagai utopia belaka.&lt;br /&gt;Bahkan, bila pemenuhan “gratis” berhenti di tengah jalan tanpa menghasilkan produk yang ideal, dia hanya menjadi semacam penyakit baru bagi masyarakat. Tepatnya mental masyarakat menjadi “peminta”. Analognya, saat sekolah digratiskan para orangtua ramai-ramai menyekolahkan anaknya, tapi ketika program itu berhenti, mereka kembali mengajak anaknya bekerja di kebun, sawah, atau di pasar.&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, melihat kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat serta berbanding dengan kekayaan alam Sumatra Selatan, program tersebut merupakan kebutuhan yang mendesak, crash program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembangunan Humaniora dan Lingkungan Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Program Sumsel Sehat dan Cerdas menurut saya merupakan peluang pemerintah dan masyarakat buat membangun manusia Sumatra Selatan yang ideal atau yang berkualitas di masa mendatang.&lt;br /&gt;Artinya, di tengah fasilitas gratis itu, perlu dilakukan pengisian terhadap dunia pendidikan dan kesehatan, melalui strategi pembangunan yang mumpuni.&lt;br /&gt;Saya memberikan dua saran strategi pembangunan manusia Sumatra Selatan buat mengisi program Sumsel Sehat dan Cerdas tersebut.&lt;br /&gt;Pertama, pembangunan humaniora. Krisis yang melanda Indonesia saat ini, salah satu penyebabnya lemahnya pembangunan humaniora yang dijalankan pemerintah. Pemerintah hanya sebatas melihat pembangunan fisik tanpa melihat isi dari pembangunan tersebut. Misalnya pendidikan yang hanya dilihat dari gedung sekolah, gaji guru, pakaian sekolah, dan penyediaan alat peraga pendidikan, tanpa melihat isi atau muatan yang diterima atau diajarkan dalam dunia pendidikan tersebut. Pendidikan di Indonesia akhirnya hanya melahirkan manusia yang kaku, tidak inspiratif, dan tidak sensitif lingkungan.&lt;br /&gt;Apa saja yang harus diberikan kepada dunia pendidikan kita? Yang pertama yakni perlu diberikan kepada para pelajar, mulai pendidikan dasar hingga menengah atas, yakni pelajaran yang memiliki nilai muatan lokal seperti bahasa lokal, kesenian lokal, ilmu pengetahuan dan teknologi lokal. Misalnya soal bahasa, adat-istiadat, makanan, pakaian, filosofis hidup.&lt;br /&gt;Yang kedua, yakni mata pelajaran mengenai lingkungan hidup. Kearifan menata limbah, lingkungan rumah, mengenal sumber daya alam, serta lainnya.&lt;br /&gt;Merangkum isu-isu di atas, mungkin para pelajar di tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, dapat diberikan pelajaran mengenai bahasa lokal, kesenian lokal, dan Kitab Simbur Cahaya. Kitab Simbur Cahaya yang disusun Ratu Sinuhun lima abad lalu itu, sebagian besar masih aktual pada saat ini, terutama terkait pendidikan mengenai lingkungan hidup, adat-istiadat, dan hubungan sosial pada masyarakat Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;Sementara di tingkat perguruan tinggi, perlu dilahirkan perguruan tinggi seni atau filsafat.&lt;br /&gt;Kedua, yakni pendidikan lingkungan hidup terhadap masyarakat seperti memberikan pelatihan dan pembentukan organisasi pencinta tanaman atau pengelolaan limbah keluarga dan industri. Pendidikan ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang konsen dengan persoalan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Adapun dampak dari muatan pendidikan yang diberikan pada program Sumsel Sehat dan Cerdas ini, akan didapatkan beberapa keuntungan:&lt;br /&gt;1. Pelajar mendapatkan kesadaran mengenai tradisi, seni, adat-istiadat, dan kearifan terhadap lingkungan hidup,  yang berkarakter lokal. Dampaknya terbangun kesadaran yang luas dan mendalam sebagai manusia Sumatra Selatan, lantaran mengenal diri sendiri, percaya diri, sehingga memiliki rasa cinta terhadap masyarakat dan sumber daya alam Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;2. Masyarakat menjadi sehat, sebab mengenal, menjaga, dan melestarikan lingkungan hidup yang bersih, alami, dan indah.&lt;br /&gt;3. Teroptimalnya peranan aktor-aktor humaniora dalam proses pembangunan di Sumsel, yang mana selama ini termarginalkan dalam setiap pembangunan, seperti pekerja seni, aktifis lingkungan hidup, tokoh adat-istiadat.&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya kembali menegaskan Program Sumsel Sehat dan Cerdas jangan sampai sebatas pembagian obat dan alat peraga pendidikan secara gratis, tapi kualitas pelajaran menurun dan lingkungan hidup masyarakat tidak sehat. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-3763261828473300909?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/3763261828473300909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=3763261828473300909' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3763261828473300909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3763261828473300909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/catatan-buat-alex-noerdin-eddy-yusuf.html' title='Catatan Buat Alex Noerdin-Eddy Yusuf'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7564876463430563527</id><published>2008-11-03T08:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T08:39:43.288-08:00</updated><title type='text'>Upacara Ma'Panini Adat Bissu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQ8o92ZhIGI/AAAAAAAAAw8/Keiltq0YI4o/s1600-h/tolak12.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 279px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQ8o92ZhIGI/AAAAAAAAAw8/Keiltq0YI4o/s400/tolak12.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264471532459073634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MUNGKIN Prihatin dengan perkembangan negara-bangsa Indonesia saat ini, masyarakat adat Bissu, Sulawesi Selatan, akan menggelar upacara adat Ma'Panini atau tolak bala pada 6-8 November 2008 di kampung komunitas Bissu, Sulawesi Selatan. Upacara ini akan dipimpin Puang Matoa Bissu Saidi. Bagi mereka yang ingin menyaksikan upacara ini, dapat menyaksikannya ke lokasi. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7564876463430563527?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7564876463430563527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7564876463430563527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7564876463430563527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7564876463430563527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/11/upacara-mapanini-adat-bissu.html' title='Upacara Ma&apos;Panini Adat Bissu'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQ8o92ZhIGI/AAAAAAAAAw8/Keiltq0YI4o/s72-c/tolak12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-532213024543063785</id><published>2008-10-26T10:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T10:08:40.262-07:00</updated><title type='text'>Penyair</title><content type='html'>Oleh T.WIJAYA&lt;br /&gt;PENYAIR itu adalah manusia yang mampu mengendalikan kegilaannya melalui kata-kata. Maka penyair yang berhasil yakni penyair yang sangat gila, tapi juga sangat cerdas mengontrol kegilaannya. Intinya, penyair merupakan perpaduan orang gila dan orang jenius.&lt;br /&gt;Mereka yang bermodalkan kecerdasan tapi tidak gila, yang terjun ke dunia kepenyairan akan gagal menjadi penyair. Mereka cenderung menempatkan dirinya sebagai orang pintar yang berharap mampu menciptakan penyair atau membunuh penyair. Mereka ini biasanya menjadi redaktur media massa, penggiat sastra, atau menjadi pengamat sastra.&lt;br /&gt;Mereka yang gila tapi tidak cerdas, akhirnya juga gagal menjadi penyair. Mereka justru menjadi benalu bagi kepenyairan. Mereka berperilaku seperti penyair, tapi tidak menghasilkan apa pun. Mereka ini mampunya mengatakan dirinya penyair yang besar. Kemampuan mereka turut meramaikan sebuah diskusi atau komunitas. Jika kegilaan tidak terkontrol, mereka benar-benar lepas dari dunia sebenarnya. Setidaknya mereka menjadi pengacau dan merusak citra penyair di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Gila?&lt;br /&gt;Gila di sini dimengerti sebagai sesuatu di luar kewajaran imajinasi manusia umumnya. Imajinasi yang liar, yang masuk ke dalam ruang-ruang gelap, menghentak, berputar-putar, bersetubuh dengan sunyi yang dingin, merupakan kanal yang harus dijalani penyair sepanjang waktu. Hanya kelelahan yang membuatnya berhenti. Tapi itu batasnya tidak jelas. Pada akhirnya dia akan menemukan berbagai benturan nilai. Mulai dari ruang Ketuhanan, sejarah benda-benda, ideologi, biografi angin, cinta, air, api, dan akhirnya dia menangis atau marah besar ketika seseorang mengatakan, “Aku mampu membelikanmu pakaian.”&lt;br /&gt;Bagi seorang penyair kalimat seperti itu merupakan penghinaan yang paling dalam. Dia berpikir, orang lain telah menilainya dengan selembar pakaian. Hanya dengan selembar pakaian, dirinya dinilai orang merupakan sosok yang harus ditolong, atau orang yang lemah. Pernyataan itu pun menghancurkan berbagai keyakinan—begitu pun diyakini penyair—bahwa manusia itu sama. Dinilai dari jiwanya bukan dari pakaian yang dikenakannya.&lt;br /&gt;Jadi tidak heran, kegilaan ini membuat banyak orang sulit berkomunikasi dengan penyair. Termasuk di lingkungan keluarga si penyair. Mereka setiap saat mengejutkan, sulit ditebak. Namun, justru sosok penyair seperti itu, yang membuat banyak orang menemukan sesuatu yang unik, baru, sehingga sering memberikan kesenangan atau kebahagiaan tersendiri. Tepatnya, kegilaan yang memberikan jutaan daya tarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Cerdas?&lt;br /&gt;Kalau tidak cerdas, tentu saja penyair akan gagal sebab dirinya tidak mampu mengelola kata dengan disiplin yang tinggi. Penyair dituntut mampu membaca, menyimak, dan menterjemahkan kata yang menjadi lambang dari penandaan yang dilakukannya atas dunia rupa, bunyi, yang berseliweran begitu cepat di sekitarnya. Dia harus teliti memilih kata, sehingga mampu menjadi pusat dari gambaran yang ingin disampaikan, sehingga puisi atau sajak yang lahir itu benar-benar memberikan ruang yang luas bagi orang menikmatinya; penuh kejutan, indah, benar, dan merangsang.&lt;br /&gt;Dan, hanya kecerdasanlah yang mampu memfasilitasi kerja yang dilakukan penyair tersebut.&lt;br /&gt;Ini artinya menjadi penyair itu sama serius seperti orang menjadi filsuf, dokter, insinyur, pemuka agama, atau profesi lainnya. Dia juga harus melakukan tahapan-tahapan ilmiah; seperti survei, menganalisis dan terus mencoba dengan berbagai hal yang baru. Bahkan, penyair itu kerjanya tampak lebih berat lagi, sebab tahapan ilmiah itu juga harus dikemas dalam keliaran atau kegilaannya dalam berimajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ini?&lt;br /&gt;Saya menulis persoalan penyair ini, karena saya membaca hari ini atau kekinian lahirnya penyair tidak banyak yang mengejutkan. Biasa saja. Sama seperti kelahiran adanya polisi baru, pegawai negeri baru, atau sarjana baru. Puisi semata dijadikan formalitas bagi persyaratan atas identitas tersebut. Puisi bukan menjadi tanda dari sebuah karya penyair sebenarnya yakni gila yang jenius. Tidak ada usaha yang sungguh-sungguh, atau tidak ada yang betul-betul berbakat atau memiliki potensi penyair sebenarnya.&lt;br /&gt;Kenapa ini terjadi? Penyair yang lahir lantaran kontradiksi kebudayaan dan sosial, terkalahkan oleh penyair yang lahir dari proyek-proyek kebudayaan yang membosankan atau menjenuhkan. Artinya, puisi yang lahir dari keindahan di Pagaralam, kekumuhan di sepanjang sungai Musi, jauh terbuang dibandingkan oleh puisi-puisi yang lahir dari lomba-lomba penulisan puisi; yang mana puisi yang diikutsertakan mengalami banyak campur tangan ideologi dan rasa, seperti keinginan guru, orangtua, dan terakhir para juri.&lt;br /&gt;Bahayanya, puisi-puisi seperti ini mendapat dukungan jejaringan sosial dan politik yang cukup besar, seperti pemerintah, media massa, penerbit, dan organisasi kebudayaan. Benarkah? Saya hanya memberikan jawaban pada teks-teks puisi yang kita baca di buku-buku, koran, majalah, internet, dan lainnya. Adakah yang mengejutkan? Memberikan ruang buat merenung seluasnya? Masyarakat justru sering terhentak, merenung, dengan kata, rupa, bunyi dari sebuah peristiwa kriminalitas atau dongeng dari televisi, seperti Ryan membantai puluhan pasangan gay-nya.&lt;br /&gt;Jadi, saran saya, jika tidak memiliki kegilaan dan jenius jangan menjadi penyair, sebab akan menjadi persoalan bagi proses kebudayaan Indonesia. Ambilah ruang-ruang lain, yang saya percaya membutuhkan banyak manusia. [*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-532213024543063785?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/532213024543063785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=532213024543063785' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/532213024543063785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/532213024543063785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/10/penyair.html' title='Penyair'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8933431422098189907</id><published>2008-10-25T09:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-25T09:42:15.933-07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Sajak AKU DIMARAHI ISTRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQNFRJkgJxI/AAAAAAAAAwc/KgreMaAgyDc/s1600-h/blog1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQNFRJkgJxI/AAAAAAAAAwc/KgreMaAgyDc/s400/blog1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261124950627985170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SALAM bahagia kawan-kawan. Dalam waktu dekat ini, saya akan meluncurkan kumpulan sajak terbaru. Judulnya "Aku Dimarahi Istri". Berbeda dari kumpulan sajak sebelumnya, "Krisis di Kamar Mandi" (1995) dan "Dari Pesan Nyonya" (1996), atau novel "Juaro" (2005) dan "Buntung" (2006) dalam bentuk cetakan, kumpulan ini kali dalam bentuk CD, dan ke-10 sajak ditampilkan dalam bentuk video slide foto. Tujuan dari penyebaran sajak dalam bentuk CD sebagai usaha memperluas ruang bagi apresiasi terhadap sajak, khususnya sajak-sajak saya. Sehingga kata dapat berbaur dengan rupa, bunyi, sebab kata itu sendiri rupa dan bunyi, lalu bunyi dan rupa adalah kata. Adapun ke-10 sajak itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Dimarahi Istri&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya Berhenti Menggergaji Batu&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Angka Pancasila&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meninggalkan Surga Sebagai Manusia&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cinta 2011&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Mencuci Pakaian Anakku&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Sangat Serius Menyintaimu&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oi Melayu. Akulah Sungai Musi.&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bapak, Aku Ingin Menjilat Dengkulmu&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Tetap Menjaga Cinta Itu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Sebagian sajak itu sudah ditampilkan di blog www.sajakdigital.blogspot.com, tapi kumpulan ini ada sesuatu yang lebih istimewa akan saya berikan kepada Anda. Bagaimana mendapatkan kumpulan sajak ini? Sebagai biaya ganti produksi, dan apresiasi Anda, Anda dapat mengirimkan biaya sebesar Rp15.000 per keping CD di luar biaya ongkos kirim. Bagaimana memesannya? Kontak saya ke e-mail taufikwijaya2002@yahoo.com atau wijayataufik@gmail.com. Demikianlah, semoga kabar ini merupakan kabar baik, dan berguna bagi kehidupan kita. Terima kasih. Salam bahagia.[*]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8933431422098189907?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8933431422098189907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8933431422098189907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8933431422098189907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8933431422098189907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/10/kumpulan-sajak-aku-dimarahi-istri.html' title='Kumpulan Sajak AKU DIMARAHI ISTRI'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SQNFRJkgJxI/AAAAAAAAAwc/KgreMaAgyDc/s72-c/blog1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7741972806625132750</id><published>2008-10-02T09:48:00.000-07:00</published><updated>2008-10-02T09:52:28.619-07:00</updated><title type='text'>Pengemis pun Tak Tahan Panas</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT7jiKwrII/AAAAAAAAAec/S_IvFZimENU/s1600-h/ngemis1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT7jiKwrII/AAAAAAAAAec/S_IvFZimENU/s400/ngemis1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252599653306772610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPEKAN menjelang lebaran kota Palembang diserbu para pengemis. Mereka selain keliling kampung dan perkantoran, juga memenuhi jalan-jalan dan lampu merah di Palembang. Panasnya kota Palembang membuat orang Palembang menjadi kegerahan, tidak terkecuali pengemis yang mangkal di depan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), Jalan Merdeka, Palembang, ini. Meskipun mengemis, payung buat menghalau panas tetap penting.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7741972806625132750?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7741972806625132750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7741972806625132750' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7741972806625132750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7741972806625132750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/10/pengemis-pun-tak-tahan-panas.html' title='Pengemis pun Tak Tahan Panas'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT7jiKwrII/AAAAAAAAAec/S_IvFZimENU/s72-c/ngemis1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8458006911071361069</id><published>2008-10-02T09:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-02T09:47:36.312-07:00</updated><title type='text'>Sampah dan Masjid Agung</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CJuxzFI/AAAAAAAAAd0/mN4COsrIhgM/s1600-h/samjid1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CJuxzFI/AAAAAAAAAd0/mN4COsrIhgM/s400/samjid1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252597980299643986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CQh6HdI/AAAAAAAAAd8/mqb96f8IzdI/s1600-h/samjid2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CQh6HdI/AAAAAAAAAd8/mqb96f8IzdI/s400/samjid2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252597982124711378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CfhPxFI/AAAAAAAAAeE/K2FJW-rN8uY/s1600-h/samjid3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CfhPxFI/AAAAAAAAAeE/K2FJW-rN8uY/s400/samjid3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252597986148467794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CSt2DRI/AAAAAAAAAeM/TaH6-i-73og/s1600-h/sampah1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CSt2DRI/AAAAAAAAAeM/TaH6-i-73og/s400/sampah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252597982711647506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CpmOK5I/AAAAAAAAAeU/s3G5Jwk70fI/s1600-h/sampah5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CpmOK5I/AAAAAAAAAeU/s3G5Jwk70fI/s400/sampah5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252597988853689234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP kali slat Id di masjid Agung, Palembang, yang paling sibuk adalah pekerja kebersihan kota. Kenapa? Merekalah yang bertugas membersihkan lokasi salat, baik di dalam masjid, halaman masjid, maupun di ruas-ruas jalan, lantaran sampah koran yang digunakan warga buat melapisi sajadah mereka. Dan, saat salat Id tahun 2008, tugas mereka kian berat. Sebab hujan yang mengguyur Palembang saat salat Id dilaksanakan, menyebabkan sampah koran itu menjadi basah. Menjadi bubur kertas. Para petugas kebersihan ini harus ekstra keras membersihkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8458006911071361069?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8458006911071361069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8458006911071361069' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8458006911071361069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8458006911071361069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/10/sampah-dan-masjid-agung.html' title='Sampah dan Masjid Agung'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT6CJuxzFI/AAAAAAAAAd0/mN4COsrIhgM/s72-c/samjid1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8121889977199679734</id><published>2008-10-02T09:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-02T09:39:59.918-07:00</updated><title type='text'>Lamunan Orang Gila pada Lebaran Pertama</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT4SYkLS8I/AAAAAAAAAdk/XDW4GFhCTes/s1600-h/gila.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT4SYkLS8I/AAAAAAAAAdk/XDW4GFhCTes/s400/gila.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252596060136360898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT4ScXrsjI/AAAAAAAAAds/dbdJPpEGEd0/s1600-h/gilo2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT4ScXrsjI/AAAAAAAAAds/dbdJPpEGEd0/s400/gilo2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5252596061157700146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK semua orang merayakan Idul Fitri, selain orang bukan beragama Islam atau orang gila. Seperti orang gila di simpang Jakabaring, Palembang, ini, saat lebaran Idul Fitri hari pertama (1/10/2008). Pada saat orang sibuk bersilahturahmi ke rumah kerabat dengan pakaian baru dan makanan enak, orang gila ini justru duduk melamun. Matanya menatap jauh ke depan, kosong. Mungkin, seseorang berbisik padanya, "Ayolah pulang, temui keluargamu!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8121889977199679734?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8121889977199679734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8121889977199679734' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8121889977199679734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8121889977199679734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/10/lamunan-orang-gila-pada-lebaran-pertama.html' title='Lamunan Orang Gila pada Lebaran Pertama'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOT4SYkLS8I/AAAAAAAAAdk/XDW4GFhCTes/s72-c/gila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8476028873360809194</id><published>2008-09-30T00:42:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T00:49:25.684-07:00</updated><title type='text'>Alat Tenun Kain Songket Berusia 100 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnGYTXsI/AAAAAAAAAdE/qKOthcA8FIU/s1600-h/songket1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnGYTXsI/AAAAAAAAAdE/qKOthcA8FIU/s400/songket1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251716806729752258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnF5Ja1I/AAAAAAAAAdM/78WwWktJPzI/s1600-h/songket2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnF5Ja1I/AAAAAAAAAdM/78WwWktJPzI/s400/songket2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251716806599076690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYndwDjxI/AAAAAAAAAdU/9wYnwiVFr2c/s1600-h/songket3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYndwDjxI/AAAAAAAAAdU/9wYnwiVFr2c/s400/songket3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251716813003394834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnXXdybI/AAAAAAAAAdc/fWfGYJSiZWU/s1600-h/songket4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnXXdybI/AAAAAAAAAdc/fWfGYJSiZWU/s400/songket4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251716811289643442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI adalah anak tenun kain Songket milik keluarga kami di kampung Suro, 30 Ilir, Palembang. Alat tenun ini berusia 100 tahun lebih, dan hingga kini masih digunakan. Alat tenun ini terbuat dari kayu meranti dan bambu. Yang sering rusak atau diganti yang menggunakan bahan bambu, seperti sebagai pemisah benang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8476028873360809194?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8476028873360809194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8476028873360809194' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8476028873360809194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8476028873360809194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/alat-tenun-kain-songket.html' title='Alat Tenun Kain Songket Berusia 100 Tahun'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHYnGYTXsI/AAAAAAAAAdE/qKOthcA8FIU/s72-c/songket1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8144795807952533184</id><published>2008-09-30T00:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T00:41:38.455-07:00</updated><title type='text'>Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (4)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtkur-UI/AAAAAAAAAcc/vliCltvxTa0/s1600-h/16.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtkur-UI/AAAAAAAAAcc/vliCltvxTa0/s400/16.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251715818444290370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtoiMkpI/AAAAAAAAAck/GBsQWFLFW_g/s1600-h/17.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtoiMkpI/AAAAAAAAAck/GBsQWFLFW_g/s400/17.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251715819465642642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXt738MzI/AAAAAAAAAcs/8uhF64hIgYw/s1600-h/18.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXt738MzI/AAAAAAAAAcs/8uhF64hIgYw/s400/18.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251715824657118002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtxNfqgI/AAAAAAAAAc0/ITVR93tFbtE/s1600-h/19.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtxNfqgI/AAAAAAAAAc0/ITVR93tFbtE/s400/19.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251715821794732546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXt9glWfI/AAAAAAAAAc8/vP_e4FizIIo/s1600-h/20.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXt9glWfI/AAAAAAAAAc8/vP_e4FizIIo/s400/20.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251715825096022514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt;BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.&lt;br /&gt;Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.&lt;br /&gt;Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi. &lt;br /&gt;Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.&lt;br /&gt;Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.&lt;br /&gt;Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.&lt;br /&gt;Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.&lt;br /&gt;Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.&lt;br /&gt;Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.&lt;br /&gt;Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.&lt;br /&gt;Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8144795807952533184?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8144795807952533184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8144795807952533184' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8144795807952533184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8144795807952533184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/narasi-foto-berkunjung-ke-rumah-limas_7143.html' title='Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (4)'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHXtkur-UI/AAAAAAAAAcc/vliCltvxTa0/s72-c/16.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4168906665997930374</id><published>2008-09-30T00:30:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T00:37:36.586-07:00</updated><title type='text'>Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (3)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0kn10_I/AAAAAAAAAb0/nh_FFPr4PiY/s1600-h/11.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0kn10_I/AAAAAAAAAb0/nh_FFPr4PiY/s400/11.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251713739651404786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0h6lyTI/AAAAAAAAAb8/Ze55zkExRjY/s1600-h/12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0h6lyTI/AAAAAAAAAb8/Ze55zkExRjY/s400/12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251713738924738866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0lyCq7I/AAAAAAAAAcE/taBNIX9n0Y0/s1600-h/13.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0lyCq7I/AAAAAAAAAcE/taBNIX9n0Y0/s400/13.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251713739962624946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0z4_6tI/AAAAAAAAAcM/_sosYORg_Bw/s1600-h/14.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0z4_6tI/AAAAAAAAAcM/_sosYORg_Bw/s400/14.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251713743749901010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV1BWX3XI/AAAAAAAAAcU/f_OIyGrUBsM/s1600-h/15.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV1BWX3XI/AAAAAAAAAcU/f_OIyGrUBsM/s400/15.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251713747362766194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt;BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.&lt;br /&gt;Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.&lt;br /&gt;Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi. &lt;br /&gt;Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.&lt;br /&gt;Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.&lt;br /&gt;Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.&lt;br /&gt;Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.&lt;br /&gt;Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.&lt;br /&gt;Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.&lt;br /&gt;Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.&lt;br /&gt;Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4168906665997930374?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4168906665997930374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4168906665997930374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4168906665997930374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4168906665997930374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/narasi-foto-berkunjung-ke-rumah-limas_4859.html' title='Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (3)'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHV0kn10_I/AAAAAAAAAb0/nh_FFPr4PiY/s72-c/11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-3394097310838877371</id><published>2008-09-30T00:24:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T00:29:17.429-07:00</updated><title type='text'>Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqEw7JBI/AAAAAAAAAbM/QlKzpWwMJL4/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqEw7JBI/AAAAAAAAAbM/QlKzpWwMJL4/s400/6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251712459789247506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqNhVhqI/AAAAAAAAAbU/VIuutvPpRFs/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqNhVhqI/AAAAAAAAAbU/VIuutvPpRFs/s400/7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251712462139786914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqErHluI/AAAAAAAAAbc/36Z3CsGJsDw/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqErHluI/AAAAAAAAAbc/36Z3CsGJsDw/s400/8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251712459764897506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqFYBcXI/AAAAAAAAAbk/BPsVqHur3JI/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqFYBcXI/AAAAAAAAAbk/BPsVqHur3JI/s400/9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251712459953238386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqS5IR8I/AAAAAAAAAbs/V-tcpB7dSEs/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqS5IR8I/AAAAAAAAAbs/V-tcpB7dSEs/s400/10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251712463581759426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt;BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.&lt;br /&gt;Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.&lt;br /&gt;Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi. &lt;br /&gt;Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.&lt;br /&gt;Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.&lt;br /&gt;Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.&lt;br /&gt;Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.&lt;br /&gt;Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.&lt;br /&gt;Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.&lt;br /&gt;Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.&lt;br /&gt;Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-3394097310838877371?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/3394097310838877371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=3394097310838877371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3394097310838877371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3394097310838877371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/narasi-foto-berkunjung-ke-rumah-limas_30.html' title='Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (2)'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHUqEw7JBI/AAAAAAAAAbM/QlKzpWwMJL4/s72-c/6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-840736715750234077</id><published>2008-09-30T00:14:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T00:19:11.237-07:00</updated><title type='text'>Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSh6Pj9-I/AAAAAAAAAak/3iAjOoKUUSk/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSh6Pj9-I/AAAAAAAAAak/3iAjOoKUUSk/s400/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251710120502753250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiN3cBZI/AAAAAAAAAas/fW7_8xdE3pE/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiN3cBZI/AAAAAAAAAas/fW7_8xdE3pE/s400/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251710125770278290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiB0F2qI/AAAAAAAAAa0/lZLv26AW5fs/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiB0F2qI/AAAAAAAAAa0/lZLv26AW5fs/s400/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251710122535017122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiDdAFyI/AAAAAAAAAa8/jUqnuhZcJ10/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiDdAFyI/AAAAAAAAAa8/jUqnuhZcJ10/s400/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251710122975041314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiqlp6EI/AAAAAAAAAbE/7Ag_w76v_TI/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSiqlp6EI/AAAAAAAAAbE/7Ag_w76v_TI/s400/5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251710133480319042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh T. Wijaya&lt;br /&gt;BERKUNJUNG ke rumah limas yang dibangun buyutku, Kemas Muhammad Bachtiar, tahun 1905, yang berada di kampung 30 Ilir, Palembang, dapat dilalui dari jalan darat maupun sungai.&lt;br /&gt;Berbeda dengan rumah Limas yang berada di tepian sungai Musi bagian Palembang Ilir, yang mana terasnya menghadap ke darat, rumah yang dibangun buyutku mirip rumah Limas di bagian Palembang Ulu yakni terasnya menghadap sungai Musi.&lt;br /&gt;Rumah buyutku ini memiliki halaman. Halaman ini berupa susunan papan yang dibangun di atas tepian sungai Musi. &lt;br /&gt;Dari sungai Musi, yang ingin ke halaman ini, harus naik tangga kayu. Kalau musim penghujan, tinggi tangga berkisar 1-2 meter, tapi di musim kemarau tinggi tangga mencapai 3-4 meter. Tangga itu sendiri setinggi 10 meter hingga ke dasar tepian sungai.&lt;br /&gt;Dari sungai Musi, rumah Limas ini sangat menonjol sebab dindingnya dicat kuning dengan lis warna merah.&lt;br /&gt;Memasuki rumah Limas ini kita lebih dahulu memasuki teras yang warnanya dominan hitam. Sebuah jendela yang diberi kerang-kerang kayu.&lt;br /&gt;Lalu kita naik ke kijing dua, ruang tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah kursi tamu, hiasan, kursi goyang buyutku, almari beserta isi perabot antik, hiasan dinding, serta sebuah meja marmer kuno dari Italia. Warna dominan di sini adalah warna kuning emas dan merah.&lt;br /&gt;Naik lagi kita ke kijing ketiga, ruang keluarga. Di sini terdapat amben-amben dan kamar tidur utama. Lalu ke belakang kita masuk ke ruang makan, kamar anak-anak, serta dapur dan kamar mandi.&lt;br /&gt;Sementara di kolong rumah, terdapat gudang, kamar mandi, dan ruang kerja buat perempuan membuat kain songket. Rumah Limas ini dibangun dari kayu unglen dan meranti.&lt;br /&gt;Yang mengalami perbaikan adalah gentingnya, sebab gentingnya mengalami kerusakan sehingga kalau hujan air masuk ke dalam rumah, lainnya tetap dipertahakan, termasuk kayu jendela yang bekas terkena peluru tentara Belanda saat perang mempertahakan kemerdekaan Indonesia di Palembang.&lt;br /&gt;Akibat perang itu sebuah rumah dan gudang yang berada di samping kiri rumah Limas ini atau mendekati ujung lorong Tanggo Tana, menjadi rusak, dan kemudian dibongkar, bersamaan dengan mundurnya bisnis karet di Palembang, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Rumah Limas yang dibangun buyutku ini, merupakan satu-satunya rumah Limas yang dibangun awal abad ke-20, yang masih bertahan di kampung Suro. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-840736715750234077?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/840736715750234077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=840736715750234077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/840736715750234077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/840736715750234077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/narasi-foto-berkunjung-ke-rumah-limas.html' title='Narasi Foto: Berkunjung ke Rumah Limas Buyutku (1)'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOHSh6Pj9-I/AAAAAAAAAak/3iAjOoKUUSk/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4830625056196876791</id><published>2008-09-29T12:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-29T12:29:55.871-07:00</updated><title type='text'>Persetan Kebebasan!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOEqh-iIkKI/AAAAAAAAAac/jjwM1rLdwgk/s1600-h/bebastewe.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOEqh-iIkKI/AAAAAAAAAac/jjwM1rLdwgk/s400/bebastewe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251525403700924578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;Persetan Kebebasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT berusia 15 tahun, saya baru dapat meninggalkan Palembang. Menikmati suasana kota Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Padahal keinginan untuk meninggalkan Palembang sudah muncul sejak usia 9 tahun.&lt;br /&gt;Tidak mudah meninggalkan Palembang itu. Saya harus melawan kemarahan orangtua, meninggalkan bangku sekolah, dan kecemasan-kecemasan dari orang yang saya kenal. Sepanjang perjalanan itu, setiap hari saya harus memberikan waktu buat memikirkan tiga hal tersebut. Kebebasan berupa migrasi itu benar-benar mahal dan melelahkan.&lt;br /&gt;Saat berkesenian, yang dipercaya sebagai wilayah paling bebas, saya mendapatkan banyak hambatan yang kian banyak. Tidak mendukungnya orangtua, macetnya akses publikasi di lokal maupun nasional, tidak mendukungnya pemerintah daerah, kecemasan ekonomi dari orang-orang yang saya kenal, teror opini dari penjaga moral, hingga keterbatasan ruang dan modal untuk mengekspresikan diri. Saya betul-betul merasa di penjara dalam dunia kesenian tersebut.&lt;br /&gt;Saya mencoba melebarkan ruang yang dikatakan penuh kebebasan, yakni wilayah jurnalisme. Ternyata bukan kebebasan yang saya dapatkan, justru saya mendapatkan penjara baru. Mulai dari kebijakan redaksi, teror dari subjek penulisan, teror kebijakan pemerintah, teror penjaga moral, hingga penjara akses komunikasi dengan dunia luar—selain Indonesia—baik terkait kebijakan pemerintah maupun kemampuan berbahasa asing.&lt;br /&gt;Dus, saya mencoba melompat ke wilayah perkawinan. Mimpi saya; saya akan mendapatkan dunia baru, yang akan memberikan ruang buat mengekspresikan kebebasan diri dalam titik radikal sebagai manusia. Eh, lagi-lagi, itu hanya mimpi. Penjara dalam sebuah keluarga ternyata lebih banyak lagi. Mulai dari memenuhi standard atau profesionalisme dalam berkeluarga, etika berkomunikasi dengan keluarga, tetangga, penguasa kampung, hingga norma-norma yang absurd dalam berhubungan seksual termasuk membangun komunikasi seksualnya.&lt;br /&gt;Mendapatkan anak—yang merupakan bagian dari gen saya—saya pun tidak berdaya. Begitu banyak orangtua yang turut campur terhadap anak saya. Mulai dari orangtua kandung saya, mertua, tetangga, dokter, bidan, penguasa kampung, penjaga moral, polisi, aparat pemerintah, hingga lembaga pendidikan. Terhadap anak, saya sebagai pelaksana teknis; penuh batasan yang membuat kebebasan saya kian mengecil.&lt;br /&gt;Bila pun ada yang mengatakan, beberapa karya seni saya banyak yang mempertanyakan, menggugat, atau melawan Tuhan, sebenarnya itu tidak benar. Sebab jangankan untuk melawan Tuhan, ruang buat untuk bersiap-siap melawan saja tidak ada. Dari pagi hingga pagi, misalnya, saya harus mengurusi penjara ekonomi, komunikasi, kesehatan, dan keamanan.&lt;br /&gt;Maka, hari ini, izinkan saya untuk mengatakan: Persetan kebebasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA yang saya lakukan setiap hari, tidak lebih dari seorang fasis. Orang yang sibuk mengurusi subjek lain buat patuh pada aturan. Di jalan raya, saya marah kalau ada orang yang membawa kendaraan tidak mematuhi aturan di jalan raya. Di rumah saya marah dengan anak dan istri saya, bila mereka bertindak tidak sesuai dengan aturan atau kehendak saya. Di masjid, saya memperhatikan orang-orang yang tampak lain aturannya dengan saya, lalu membahasnya dengan mereka yang sama dengan saya. Sementara kantor tempat saya bekerja menginstruksikan saya menghasilkan produk yang intinya memonitoring orang-orang yang tidak patuh dengan aturan. Bahkan, setiap kali bertemu dengan teman-teman, tetangga, keluarga, yang kami bahas mengenai siapa saja hari ini yang telah melanggar aturan, dan mereka yang tampak bebas mengekspresikan dirinya.&lt;br /&gt;Jadi, apakah bekerja memperhatikan, mengatur, menindak, sebuah aturan merupakan kebebasan diri seorang manusia? Jika ya, apakah bedanya saya dengan polisi, presiden, tentara, ulama, hansip, satpam, ketua RT, guru, ketua dewan kesenian, dan preman? Saya tidak mau menjawabnya. Sebab persetan kebebasan!&lt;br /&gt;Kini, saya hanya memikirkan; apakah hingga meninggaldunia nanti, saya hanya disibukan mencari nafkah, mengurusi anak, mengumpulkan harta, membangun komunikasi dengan keluarga, tetangga, dan banyak orang, lalu membiarkan keinginan saya pergi ke pergunungan Alpen, mengunjungi banyak tempat di Nusantara, menyususri tanah Tiongkok hingga ke tanah Mesir hanya sebuah catatan atas keinginan untuk bebas? Seperti biasa, saya pun menjawab entahlah bagi jiwa saya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4830625056196876791?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4830625056196876791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4830625056196876791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4830625056196876791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4830625056196876791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/persetan-kebebasan.html' title='Persetan Kebebasan!'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SOEqh-iIkKI/AAAAAAAAAac/jjwM1rLdwgk/s72-c/bebastewe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7270555192246713933</id><published>2008-09-21T09:26:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T09:28:26.116-07:00</updated><title type='text'>Mengaku Bersalah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SNZ1xM1zCpI/AAAAAAAAAZ8/p1MSA7YNarE/s1600-h/DSC01911.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SNZ1xM1zCpI/AAAAAAAAAZ8/p1MSA7YNarE/s400/DSC01911.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248511903867800210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;Mengaku Bersalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEWASNYA puluhan orang saat antri zakat beberapa waktu lalu, mengejutkan banyak pihak. Termasuk para pimpinan negara ini. Mereka pun berteriak, dan mencari pihak yang bersalah. Semuanya menangkis, dan menjawab bukan sebagai pihak yang bersalah.&lt;br /&gt;Saya tidak terkejut. Sungguh, saya tidak terkejut. Sebab setiap hari kemiskinan di Indonesia melahirkan pertunjukkan teater yang benar-benar mengejutkan, dan sulit dijangkau dengan akal moral. Kemiskinan membuat banyak janda menjadi pelacur, membuat orangtua menjual anaknya, menjadi jongos di negeri orang, merampok, mencuri, membunuh secara berantai, dukun penipu, ulama penipu, pedagang penipu, pejabat korupsi, politikus pemeras, hingga aktifis proyek kemanusiaan dan lingkungan.&lt;br /&gt;Saya justru terkejut jika masih ada orang yang menjaga harga dirinya meskipun miskin atau serba kekurangan. Anehnya, orang-orang seperti ini akhirnya dikatakan naif, bodoh, tolol, atau sok suci.&lt;br /&gt;Lalu, fakta tersebut kemudian dilihat dari sisi moralnya, yang mengatakan pelacur berdosa, membunuh berdosa, mencuri berdosa, korupsi berdosa, menipu berdosa. Cara memandang persoalan dari sisi moral ini terlihat dari sikap pemerintah yang banyak “menghimbau”, pemerintah daerah berlomba membuat peraturan tentang pornografi, termasuk pemerintah pusat yang ingin menggolkan UU Pornografi. Benarkah? Yang terjadi justru peraturan moral ini merusak tatanan nilai moral yang sudah terbangun di masyarakat selama puluhan abad. Berbagai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di nusantara, terutama kawasan timur Indonesia, secara perlahan akan dimakan oleh peraturan berbasis moral ini.&lt;br /&gt;Saya menolak peraturan berbasis moral itu, sebab saya menemukan fakta bahwa setiap warga Indonesia tidak bercita-cita atau berkeinginan menjadi seorang pelacur, perampok, pencuri, maupun penipu. Apalagi, sejak dahulu, para leluhur bangsa ini berdoa dan membangun kebudayaan yang mulia dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana mengatasi persoalan dampak dari kemiskinan tersebut? Bagi saya, satu-satunya cara yakni menemukan dan kemudian menghancurkan penyebab kemiskinan. &lt;br /&gt;Dan, sudah sering disebutkan oleh kita, penyebab kemiskinan global, termasuk di Indonesia, yakni adanya kolonialisasi oleh kekuatan modal, yang kini bukan hanya berada di negara-negara Barat, juga di negara Timur.&lt;br /&gt;Melawan kekuatan modal ini tentunya dengan kekuatan modal juga. Indonesia kaya, dan modal kita banyak. Tapi pengelolaan yang salah, menyebabkan kekayaan itu terbang ke kas kekuatan modal asing. &lt;br /&gt;Sayangnya, di tengah kesadaran melawan kekuatan modal ini, para pemodal asing ini justru sudah melakukan investasi terhadap calon pemimpin di Indonesia, termasuk di daerah. Mereka memodali sejumlah elemen kekuatan demokrasi, seperti media, partai politik, organisasi massa, akademisi, dan perusahaan nasional. Jika mereka menginginkan si “A” menjadi pemimpin, semua kekuatan itu pun bergerak, ditunjang rakyat yang miskin gampang diberi janji yang enak, dan suka yang instan.&lt;br /&gt;Kini, harapan justru kembali kepada kita. Maukah kita terus dijajah, dan melawan para penjajah modal itu? Biarkan hidup kita susah dan miskin pada hari ini, tapi pada masa mendatang semuanya akan jauh lebih baik.&lt;br /&gt;Bukankah ini juga persoalan moral? Ya, tapi ini bukan sebatas pornografi, ini sudah menyeluruh. Bagi saya yang muslim, saya melakukan kesalahan dari semua ajaran Allah yang terdapat pada Alquran. Oleh karena itu, solusinya saya harus masuk Islam lagi, dan belajar Islam secara baik. Mungkin begitu juga dengan mereka yang menyakini berbagai ajaran atau kepercayaan. Modalnya, kita secara bersama mengaku bersalah.&lt;br /&gt;Saya percaya, tidak satu pun ajaran dari Tuhan, baik yang diturunkanNya di Papua, Kalimantan, Sumatra, Jawa, Timur Tengah, Tiongkok, mengenai kesalahan atau kesesatan.&lt;br /&gt;Hanya, yang menyakitkan, musuh kita saat ini terlalu dekat dengan kita, yakni para agen modal asing, yang kulit, wajah, rambut, dan kepercayaannya, sama dengan kita. Marilah terus membaca, mungkin jalan pertamanya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7270555192246713933?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7270555192246713933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7270555192246713933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7270555192246713933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7270555192246713933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/09/mengaku-bersalah.html' title='Mengaku Bersalah'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SNZ1xM1zCpI/AAAAAAAAAZ8/p1MSA7YNarE/s72-c/DSC01911.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7880361323285940159</id><published>2008-08-27T03:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T03:10:46.702-07:00</updated><title type='text'>Kampanye Hitam, Krisis Pemimpin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh T. WIJAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kampanye Hitam, Krisis Pemimpin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;MENJELANG pemilihan kepala daerah Sumatra Selatan periode 2008-2013, kampanye hitam, begitu orang menyebutnya, marak beredarnya di tangan masyarakat. Bentuknya berupa fotocopy atau cetakan pamplet yang berisi informasi atau seruan negatif atas lawan politiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Misalnya serangan buat Syahrial Oesman berupa pernyataan Syahrial Oesman sebentar lagi dipenjara terkait kasus pelabuhan Tanjung Api-Api, sementara serangan buat Alex Noerdin berupa seruan jangan memilih calon dari parpol yang selama ini menaikkan harga BBM dan menyensarakan rakyat. Dampaknya, kedua pihak melaporkan masing-masing selebaran kampanye hitam tersebut ke Panwaslu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kampanye hitam atau black campaign bukan hanya terjadi di media massa, selebaran, juga di dunia maya. Perang kampanye hitam berlangsung di milis, blog, dan kanal video youtube.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebetulnya perang selebaran maupun pemberitaan di media massa, jauh sebelumnya telah berlangsung di dunia internet. Misalnya video soal perjudian yang dituduhkan kepada Syahrial Oesman sudah beredar di &lt;a href="http://www.youtube.com/"&gt;www.youtube.com&lt;/a&gt; dengan judul “&lt;/span&gt;BUKTI NYATA!! (SKANDAL CAGUB SUMSEL SYAHRIAL OESMAN BERJUDI)” atau dengan alamat &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=t4iZ0N-ViZM"&gt;www.youtube.com/watch?v=t4iZ0N-ViZM&lt;/a&gt; sejak 8 JUli 2008 melalui channel happynutie.&lt;br /&gt;Menjelang memasuki masa kampanye, Roy Suryo menjelaskan kepada pers bahwa gambar dalam video itu benar, yang kemudian hamper semua media nasional membuatnya menjadi berita, termasuk meminta keterangan dari Syahrial Oesman dan pihak-pihak lain.&lt;br /&gt;Video yang menyerang Syahrial Oesman di youtube lainnya adalah “kejahatan syahrial oesman” atau &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=wTl4PZ0EiQA"&gt;www.youtube.com/watch?v=wTl4PZ0EiQA&lt;/a&gt; yang dimuat pada 21 Juni 2008 melalui channel azwirdhijakarta. Dan, sejumlah video lainnya.&lt;br /&gt;Serangan terhadap Alex Noerdin juga terjadi. Mulai dari persoalan dugaan selingkuh dirinya dengan mantan istri Azwirdhi dengan judul “Alex Noerdin vs Andria Sisca (Skandal Sekayu Muba Sumsel)” dengan alamat &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=OZwDwaXdd5c"&gt;www.youtube.com/watch?v=OZwDwaXdd5c&lt;/a&gt; yang dimuat youtube melalui channel alexsiscasexayu pada 21 April 2008. Kemudian sejumlah video dari warga Musi Banyuasin yang menilai kinerja Alex Noerdin buruk di daerah itu, seperti video “Alex Noerdin Ngotaki” atau &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=XpKVXhHRGYg"&gt;www.youtube.com/watch?v=XpKVXhHRGYg&lt;/a&gt; yang dimuat channel topengmuba pada 23 Agustus 2008, serta kutipan pidato Alex Noerdin dalam video “Orasi Politik Alex Noerdin Calon Gubernur Sumsel” atau &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=ju21n6gBcyY"&gt;www.youtube.com/watch?v=ju21n6gBcyY&lt;/a&gt; yang dimuat oleh channel dekkenade di &lt;a href="http://www.youtube.com/"&gt;www.youtube.com&lt;/a&gt;, serta beberapa video lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Krisis Pemimpin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Terlepas dari boleh atau tidaknya berkampanye hitam, saya melihat bahwa saat ini, khususnya Sumatra Selatan mengalami krisis kepemimpinan atau calon kepala daerah. Gambaran ideal masyarakat soal sosok pemimpin, dari sisi moral, tampaknya sulit didapatkan. Soal benar atau tidak kampanye hitam yang disodorkan sejumlah pihak itu membuktikan bahwa ada persoalan besar yang berlangsung pada aktor politik maupun pemimpin di Indonesia. Istilahnya, masyarakat seakan memilih sesuatu yang baik dari yang buruk.&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sejumlah pemikir politik menawarkan solusi harus muncul pemimpin muda, yang mungkin secara moral jauh lebih baik dari pemimpin sebelumnya. Namun kasus yang menimpa politikus muda macam Al Amin Nasution membuat masyarakat menjadi pesimistis. Akibatnya banyak yang mengambil sikap menjadi golput alias tidak menggunakan hak suara dalam menentukan seorang kepala daerah.&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Saya sendiri mungkin tidak sepakat dengan sikap golput. Menurut saya, ada dua pilihan dalam menyikapi kondisi ini. Pertama, terus menawarkan calon pemimpin muda dengan harapan akan ada yang muncul dengan karakter kepemimpinan yang diinginkan rakyat. Asumsinya politikus muda terus lahir, dan politikus tua kian berguguran. Kedua, memilih yang baik dari yang buruk dengan memilah standard dosa yang termaafkan dan tidak termaafkan, kemudian menghitung prestasi, program, maupun sikapnya dalam keberpihakan terhadap rakyat untuk hari ini dan masa mendatang, tentunya dengan fakta-fakta yang terukur. [*]&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7880361323285940159?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7880361323285940159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7880361323285940159' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7880361323285940159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7880361323285940159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/08/kampanye-hitam-krisis-pemimpin.html' title='Kampanye Hitam, Krisis Pemimpin'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-1113177346513638946</id><published>2008-08-05T09:21:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:33.342-08:00</updated><title type='text'>Workshop Cara Gampang Membuat Film</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SJh-taN3TeI/AAAAAAAAAZk/pOaKXtZMRJk/s1600-h/DSC00519.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SJh-taN3TeI/AAAAAAAAAZk/pOaKXtZMRJk/s400/DSC00519.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231070285787516386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:13;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Film merupakan karya seni yang paling banyak penggemarnya di dunia ini. Hampir setiap hari, masyarakat dunia menikmati film, baik melalui layar lebar, layar kaca, maupun media online. Kenapa demikian? Sebab film merupakan karya seni yang memadukan berbagai karya seni dan disiplin ilmu pengetahuan, sehingga setiap umur maupun kalangan dengan gampang menikmati sebuah film. Jadi, tak heran, bila sebagian berpendapat jika sebuah bangsa atau negara menguasai industri film maka dia akan menguasai dunia secara budaya, seperti halnya Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, atau India.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dulu, sebuah produksi film membutuhkan cost yang tinggi. Selain harus ditunjang teks karya lain yang mumpuni, seperti sastra dan teater, juga membutuhkan teknologi dan para profesional yang dibutuhkan, seperti antropologi, olahragawan, musicus, hingga penulis yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kini, bahwa sebuah film itu mahal beransur mengalami pergeseran. Fenomena pembuatan film alternatif yang menggunakan biaya murah—alternatif penulis, peralatan, dan pemain—kian mendominasi masyarakat dunia. Bahkan, sebagian remaja di dunia, termasuk beberapa daerah di Indonesia, telah mampu memproduksi film alternatif atau yang lebih dikenal sebagai film pendek. Artinya, saat ini sebuah film itu murah. Biayanya mungkin sama seperti dengan kita membuat sebuah dokument pernikahan atau pesta perkawinan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Persoalannya, mungkin ada dua hal yang membuat seseorang mampu membuat sebuah film; yakni ilmu pengetahuan umum (teknis) proses pembuatan film, dan yang terpenting bagaimana mengelola sebuah gagasan menjadi sebuah cerita film yang cerdas dan menarik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Tujuan dari kegiatan ini yakni mewujudkan fenomena tersebut di masyarakat Sumatra Selatan, serta turut menyukseskan program Visit Musi 2008.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Beranjak dari pemikiran di atas, kami dari majalah kebudayaan &lt;i style=""&gt;Musi Terus Megalir&lt;/i&gt; akan mengadakan FESTIVAL FILM ANAK MUSI dengan tema MUSI MENURUT SAYA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kegiatan ini melibatkan para anak muda di Sumatra Selatan yang berusia 17-25 tahun dengan cara melakukan pendaftaran ke panitia pelaksana dengan alamat d.a Harian &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1217952974_0"&gt;Sriwijaya Post&lt;/span&gt;, Jalan Jenderal Basuki Rachmat No.1608B-D Palembang. Telp 0711-310088. Fax 0711-312888. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pendaftaran dibuka dari tanggal 5-21 Agustus 2008, sementara workshop dan penayangan publik karya serta diskusi pada 22-30 Agustus 2008. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Adapun persyaratan peserta:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perseorangan, usia 17-25 tahun yang dibuktikan dari kartu identitas diri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Berdomisili di Sumatra Selatan yang dibuktikan dari kartu identitas diri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Membayar biaya workshop sebesar Rp75.000 per orang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pas foto 4 x 6, warna. (3 lembar).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengisi form CV dan kontrak workshop.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Membawa peralatan sendiri kebutuhan workshop seperti kamera (jenis apa saja) serta laptop atau komputer, dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tidak menggunakan miras atau narkoba, serta menjaga ketenangan dan keamanan selama mengikuti workshop.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Sementara fasilitas yang didapatkan peserta:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tempat pelatihan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1217952974_1"&gt;Makan&lt;/span&gt; dan minum selama pelatihan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sertifikat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Adapun tahapan kegiatan yang akan diikuti peserta:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Workshop&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:13;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;II.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penyajian ke publik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;III.          Diskusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terimakasih. Palembang, 04 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. Wijaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Koordinator Panpel&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-1113177346513638946?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/1113177346513638946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=1113177346513638946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1113177346513638946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1113177346513638946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/08/workshop-cara-gampang-membuat-film.html' title='Workshop Cara Gampang Membuat Film'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SJh-taN3TeI/AAAAAAAAAZk/pOaKXtZMRJk/s72-c/DSC00519.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-3472317518946848656</id><published>2008-07-22T06:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:33.553-08:00</updated><title type='text'>Black Campaign dan Black Magic Woman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SIXiIW-TbkI/AAAAAAAAAXs/0VtqXrpaV3Y/s1600-h/DSC01001.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SIXiIW-TbkI/AAAAAAAAAXs/0VtqXrpaV3Y/s400/DSC01001.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225831575867059778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;T. WIJAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Black Campaign dan Black Magic Woman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;SAYA tergelitik membaca artikel milik seorang kawan di koran terbitan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, mengenai adanya kampanye hitam atau black campaign di dunia internet, terutama di situs video &lt;a href="http://www.youtube.com/"&gt;www.youtube.com&lt;/a&gt;, selama proses Pemilukada Sumsel 2008-2013.&lt;br /&gt;Menurut saya, teman itu cukup benar, dan tentu saja yang membacanya tidak harus mendengarkan &lt;em&gt;Black Magic Woman&lt;/em&gt; punya The Offspring buat mencari kebenaran dari pemikirannya.&lt;br /&gt;Namun, saya ingin memberikan sedikit pemikiran, yakni apa yang dimaksud dengan black campaign? Dan, apa perbedaannya dengan pembongkaran track record yang memang dibutuhkan public buat menilai seorang calon pemimpin?&lt;br /&gt;Saya ingin menyodorkan persoalan, apakah ketika anak Soeharto yakni Mbak Tutut mau maju sebagai calon presiden, tiba-tiba media massa atau lawan politiknya membongkar semua persoalan yang menyangkut perilaku politik atau ekonominya di masa lalu, disebut sebagai tindakan black campaign?&lt;br /&gt;Saya katakan itu bukan black campaign, tapi sebuah usaha membongkar masa lalu seorang calon pemimpin. Track record seorang calon pemimpin sangatlah penting buat dibongkar, sebab perilaku masa lalu seseorang jelas akan memengaruhi karakternya ke depan. Pemilihan presiden Amerika Serikat, misalnya, selalu melahirkan “pelacak” buat membongkar sekecil apa pun perilaku calon pemimpinnya yang dinilai negative.&lt;br /&gt;Oleh karena ketatnya “pelacakan” ini, di Amerika Serikat seorang calon pemimpin sudah disiapkan sejak remaja. Segala perilakunya dijaga. Bukan di Indonesia, seorang penjahat dapat dilupakan begitu saja kejahatannya.&lt;br /&gt;Tapi, bagaimana kalau informasi yang diungkap tidak ada kebenarannya? Maka, itu yang dimaksud dengan black campaign atau dalam bahasa moralnya disebut fitnah, dan di muka hukum dapat diproses sanksinya.&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya black campaign itu adalah sebuah pengungkapan negative tentang seseorang tanpa ada bukti atau tidak mendasar. Misalnya saya dikabarkan menerima sebuah mobil dari seorang calon kepala daerah sebagai sogokan. Kalau itu benar, itu merupakan catatan buruk saya seandainya mau maju sebagai calon anggota dewan. Saya jangan dipilih. Berdasarkan fakta itu saya adalah sosok yang gampang disogok. Skeptisnya, kalau saya sudah menjadi anggota dewan, pasti setiap ada kesempatan saya akan menerima sogokan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Tameng Politisi Busuk &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat setuju dengan himbauan banyak pihak agar para calon tidak menggunakan cara-cara yang buruk dalam bersaing, termasuk melakukan black campaign. Sebab jangan dalam berebut kursi kekuasaan, dalam kehidupan sehari-hari saja kita dilarang—berdosa dan sanksi hukum—bila melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;Namun, saya sangat mengkhawatirkan, jargon black campaign ini justru digunakan para penjahat atau politisi busuk buat menutupi boroknya di masa lalu. Misalnya iklan Wiranto beberapa waktu lalu yang memiliki dasarnya, dinilai sebagai black campaign. Atau, seorang juaro yang mau maju sebagai kepala daerah, identitasnya terjaga lantaran dilindungi jargon black campaign.&lt;br /&gt;Misalnya saya dapat saja menuduh seseorang melakukan black campaign lantaran mengungkapkan perilaku saya di masa lalu yang memiliki banyak pacar, terhadap calon istri saya, meskipun itu benar adanya. “Itu tidak benar. Itu black campaign. Itu pembunuhan karakter,” kata saya kepada calon istri itu. “Saya ini wong populer, jadi banyak yang tidak senang dengan saya,” tambah saya.&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya, di era kebebasan informasi ini, berseliwerannya banyak informasi merupakan hal yang wajar. Biarkan public yang menilai; mana informasi yang benar dan yang tidak. Jika memang ada informasi yang buruk, tapi tidak mendasar, sebaiknya diproses secara hukum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Akses Informasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Justru yang berbahaya pada proses Pemilukada Sumsel ini yakni soal akses informasi yang macet. Setiap pihak menutupi atau menghalangi informasi yang dibutuhkan public.&lt;br /&gt;Kalau akses informasi ini macet, maka public akan mendapatkan semua data atau informasi yang tidak benar atau tidak lengkap. Data atau informasi yang masuk akan dipenuhi dengan kebohongan atau ketimpangan. Dampaknya public akan salah menilai seorang calon kepala daerah. Nah, kalau ada sesuatu yang lain pada pemimpin ini, public pun akan kecewa dan menyesal.&lt;br /&gt;Contoh ini mungkin dapat kita temukan pada actor politik yang menjadi anggota dewan. Saya percaya saat memilih mereka, public tidak mengetahui lebih banyak dan luas mengenai sosok mereka. Ya, seperti kata orang itu, membeli kucing dalam karung. Nah, sekarang mari kita nikmati &lt;em&gt;Black Magic Woman&lt;/em&gt; yang ditembangkan The Offspring, yang tidak ada hubungannya dengan black campaign. (*)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-3472317518946848656?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/3472317518946848656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=3472317518946848656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3472317518946848656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3472317518946848656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/07/black-campaign-dan-black-magic-woman.html' title='Black Campaign dan Black Magic Woman'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SIXiIW-TbkI/AAAAAAAAAXs/0VtqXrpaV3Y/s72-c/DSC01001.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7535438508189670118</id><published>2008-07-17T05:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:33.652-08:00</updated><title type='text'>Helmy Yahya Hadir, Golput Berpikir Ulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SH9BMnvtZlI/AAAAAAAAAXc/-9825P4vr3g/s1600-h/DSC00400.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SH9BMnvtZlI/AAAAAAAAAXc/-9825P4vr3g/s400/DSC00400.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223965777856390738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;Helmy Yahya Hadir, Golput Berpikir Ulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;DARI sejumlah pemilihan kepala daerah di Sumatra Selatan dalam tahun 2008 ini, angka golongan putih alias golput yakni orang-orang yang tidak menggunakan hak suaranya cukup tinggi. Rata-rata 30 persen. Bahkan, saat pemilihan kepala daerah Palembang periode 2008-2013, yang dimenangkan Eddy Santana Putra-Romi Harton, suara golput nyaris mencapai 40 persen. Maka, tidak heran, pemilihan gubernur Sumatra Selatan periode 2008-2013 jauh-jauh hari diprediksi sejumlah kalangan akan dipenuhi suara golput.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Namun, prediksi besarnya suara golput mungkin akan mengalami penurunan. Sebab kehadiran Helmy Yahya sebagai calon wakil gubernur Sumatra Selatan yang diusung PDI Perjuangan, PKS, PPP, dan sejumlah koalisi parpol kecil, membuat para golput berpikir ulang dengan sikapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;“Terus-terang, saya ini mau mengambil sikap golput dalam pemilihan gubernur Sumsel nanti, seperti saat pemilihan walikota Palembang kemarin. Tapi, setelah tahu Helmy Yahya maju, serta mendengar sejumlah pemikirannya melalui beberapa seminar dan talkshow di kampus, radio, dan tv, saya mungkin akan memilih dia,” kata Zulkarnain, seorang pelaku bisnis IT di Palembang, dalam sebuah perbincangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Menurut Zulkarnain, Helmy Yahya yang sebelumnya dikenal sebagai selebritis ternyata memiliki visi dan misi pembaharuan dalam karakter pemerintahan di Sumatra Selatan. Misinya dalam memperbaiki sumber daya manusia Sumatra Selatan, khususnya kaum muda, membuatnya tergugah. “Dia sangat tepat mengatakan bahwa selain ilmu pengetahuan, anak muda sekarang harus memiliki mental yang bagus. Sebab tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” kata Zulkarnain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Sementara Vera Kurniawan, seorang pegawai sebuah perusahaan jasa komunikasi seluler, mengatakan dia tertarik dengan Helmy Yahya lantaran dia orang muda. “Saya melihat pada sosok Helmy ada keinginan perubahaan. Karier dan karya-karyanya menunjukkan hal itu. Bukan tidak mungkin kemampuannya dalam manejemen dan promosi dapat ditularkan saat dia mengelola birokrat nanti,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Baik Zulkarnain maupun Vera, menilai tiga nama lainnya sebagai calon pemimpin Sumatra Selatan yakni Syahrial Oesman yang akan didampingi Helmy Yahya, maupun pasangan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf, bukan sosok yang memberikan “harapan”. Kenapa? “Mereka itu kan birokrat sejati, orang lama, jadi sulitlah mereka diharapkan mau melakukan perubahan, apalagi mengerti keinginan orang muda,” kata Zulkarnain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Bukankah Helmy Yahya berpasangan dengan Syahrial Oesman? “Ya, memang demikian. Tapi, nanti kan ada pembagian tugas. Harapan saya, Helmy dapat memengaruhi pemikiran Syahrial Oesman dalam memimpin Sumsel bila mereka terpilih,” kata Zulkarnain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anak Muda dan Ibu-Ibu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Selain kelompok golput, yang diperkirakan adalah kelompok kelas menengah, kehadiran Helmy Yahya yang merupakan anak orang miskin—bapaknya seorang ustad dan pedagang kaki lima di Pasar 16 Ilir—yang sukses mengembangkan dirinya sebagai seorang pengusaha dunia hiburan di Jakarta, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Berdasarkan beberapa kali kunjungan Helmy Yahya di sejumlah daerah, seperti di pasar dan kampung, Helmy Yahya banyak dikurumi anak-anak muda dan para ibu atau perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, layaknya selebriti, ada sejumlah ibu-ibu yang nekad mencari kediaman Helmy Yahya di kawasan Jakabaring, Seberang Ulu, Palembang, hanya untuk berfoto bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Helmy persis anak aku yang tertua, sekarang merantau ke Batam. Aku mimpi nian anak aku itu bisa sukses seperti Helmy. Kami ini juga keluarga miskin, seperti orangtua Helmy. Ya, mana tahu kami dapat berkahnya,” kata Sri Sulastri (58), warga Kertapati, yang akhirnya berhasil menemui Helmy Yahya di kediamannya di Jakabaring buat berfoto bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua warga Palembang optimistis dengan kehadiran Helmy Yahya, sejumlah kalangan praktisi politik dan akademisi, menilai Helmy Yahya diragukan mampu memimpin Sumsel. “Dia kan seorang pengusaha dunia hiburan. Manajemen pemerintahan dan dunia hiburan itu berbeda. Saya ragu dengan kemampuannya dalam memimpin Sumsel,” kata seorang dosen dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang, yang tidak mau namanya disebutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menurut dosen pendidikan ini, masyarakat Sumsel harus jeli dan hati-hati menilai calon pemimpinnya ke depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;Terhadap kritik ini, dalam sebuah wawancara dengan sebuah radio swasta di Palembang, Sonora FM, beberapa hari lalu, Helmy mengatakan dirinya memang belum berpengalaman menjadi pemimpin sebuah instansi pemerintah, meskipun dirinya pernah tercatat sebagai pegawai negeri di Jakarta. “Tapi, dengan modal niat saya buat kepentingan publik, mungkin saya akan dengan cepat mengerti manejemen sebuah pemerintahan,” kata selebriti yang mendapatkan beasiswa pendidikan dari sekolah dasar hingga menyelesaikan S2-nya di Amerika Serikat, serta menjadi pelajar teladan tingkat Sumatra Selatan maupun nasional itu. &lt;o:p&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Foto: Helmy Yahya dikurumi ibu-ibu pengajian dalam sebuah kunjungannya ke kampung kelahiran orangtuanya, Ogan Ilir, Sumatra Selatan (Foto: Istimewa)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7535438508189670118?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7535438508189670118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7535438508189670118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7535438508189670118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7535438508189670118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/07/helmy-yahya-hadir-golput-berpikir-ulang.html' title='Helmy Yahya Hadir, Golput Berpikir Ulang'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SH9BMnvtZlI/AAAAAAAAAXc/-9825P4vr3g/s72-c/DSC00400.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-721138153729772712</id><published>2008-07-14T07:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:33.818-08:00</updated><title type='text'>Sekilas Kerukunan Agama di Palembang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHth2Kz8A3I/AAAAAAAAAXU/SOtA64ADiwc/s1600-h/Masjid+10+Ulu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHth2Kz8A3I/AAAAAAAAAXU/SOtA64ADiwc/s400/Masjid+10+Ulu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222875776109249394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;        &lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;T. WIJAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekilas Kerukunan Agama di Palembang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;SELAIN Aceh, Palembang merupakan daerah awal penyebaran Islam di nusantara. Buktinya, Raden Fatah atau Raden Hasan, merupakan pemimpin besar Islam pada masanya yang berasal dari Palembang. Selain itu, pada abad ke-18, Palembang menjadi pusat pendidikan sastra Islam di Nusantara dengan tokohnya Abdul Somad Al-Valembani. Bahkan, Palembang pernah dikuasai oleh kesultanan Palembang memilih ideologi Islam sebagai tuntunan hukumnya yakni di masa Kesultanan Palembang Darussalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Nah, apakah selama hukum Islam berkuasa di Palembang, para pemeluk keyakinan lain dilarang atau dimusnahkan dari Palembang? Pertanyaan ini memang tidak gampang menjawabnya. Tetapi, berdasarkan catatan sejarah belum pernah ada aksi kekerasan oleh kaum muslim terhadap kelompok nonmuslim, seperti halnya yang kita rasakan di sejumlah daerah selama ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, para petinggi VOC, yang kebanyakan nonmuslim atau gelombang pelarian warga Tiongkok di awal abad 20, hadir dengan keyakinannya tanpa pernah diganggu kaum muslim di Palembang. Semuanya berjalan damai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bukti keselarasan antarumat beragama ini, misalnya dapat kita temukan hingga hari ini di berbagai keluarga maupun kampung di Palembang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                          &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;10 Ulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kampung 10 Ulu merupakan kampung yang berada di tepi sungai Musi. Sebelum dibangun jembatan Ampera yang mulai beroperasi tahun 1965, 10 ulu merupakan kampung yang harus dilalui warga dari utara Sumatra bila ingin menyeberang ke pulau Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal kampung ini ketika saya bersahabat dengan almarhum Koko Bae, seorang perupa yang juga penyair.Rumah Koko Bae berada persis di depan Klenteng Kwan Im, yang selalu ramai dikunjungi para penganutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, di rumah milik Koko Bae yang panjangnya sekitar 40 meter itu hidup dengan damai sejumlah keluarga dari berbagai keyakinan agama. Koko Bae dan keluarganya memeluk agama Islam, keluarga adiknya memeluk agama Katolik, sementara orangtuanya beragama Budha. Mereka tidak memiliki persoalan dalam melaksanakan ritual atau melakukan komunikasi. Selalu rukun dan damai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bila Natal, rumah itu dipenuhi warga yang merayakan Natal. Idul Fitri, rumah itu dipenuhi orang yang merayakannya. Bahkan, selama bulan puasa, tidak jarang adik Koko Bae yang beragama Katolik membangunkan saur atau sebaliknya, saat berbuka puasa, dia memberikan makanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kehidupan rukun beragama dalam satu rumah ini, bukan hanya pada keluarga Koko Bae. Sejumlah keluarga lainnya di 10 Ulu juga berlangsung hal yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Klenteng Kwan Im yang berada di muka rumah Koko Bae, juga banyak dikunjungi warga muslim. Kenapa? Sebab di belakang klenteng itu terdapat makam seorang pemuka agama muslim, yang mana sering diziarahi kaum muslim maupun yang memeluk agama Budha. Tidak di situ saja, sebuah langgar atau masjid kecil yang berada di tepi sungai Musi, masih di 10 Ulu, pembangunannya dibiayai oleh pihak klenteng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Di Palembang hubungan harmonis antarpemeluk agama ini bukan hanya di 10 Ulu, di kampung lain pun hal itu berlangsung. Banyak keluarga muslim bertetangga dengan keluarga nonmuslim. Mereka hidup harmonis. Tidak sedikit di antara mereka menjalin hubungan keluarga yang lebih jauh, seperti pernikahan atau membangun usaha bisnis secara bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hubungan harmonis antarpemeluk agama di Palembang memang sudah terbangun berabad-abad lalu. Prinsip mereka, antarpemeluk agama tidak saling mengganggu. Mereka berjalan dengan aktifis ritualnya masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Apakah keharmonisan ini akan kita hancurkan? Saya pikir Tuhan menciptakan manusia bukan untuk saling membunuh, justru untuk saling melindungi, dan mengasihi. Dan, saya percaya kondisi yang sama sebetulnya berlangsung di daerah lain di Indonesia. (*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Foto: Langgar atau masjid 10 Ulu yang terletak di dermaga 10 Ulu, dibangun atas sumbangan pengurus Klenteng Kwan Im (Foto: Zanial Mazalisa)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-721138153729772712?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/721138153729772712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=721138153729772712' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/721138153729772712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/721138153729772712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/07/sekilas-kerukunan-agama-di-palembang.html' title='Sekilas Kerukunan Agama di Palembang'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHth2Kz8A3I/AAAAAAAAAXU/SOtA64ADiwc/s72-c/Masjid+10+Ulu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-375280731111846862</id><published>2008-07-12T23:10:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:34.106-08:00</updated><title type='text'>Menjaga Alam, Mengabdi Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHmdI1xs_pI/AAAAAAAAAXM/jLC7kqjiA4c/s1600-h/DSC00742.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHmdI1xs_pI/AAAAAAAAAXM/jLC7kqjiA4c/s400/DSC00742.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222378018112863890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHmczY6tGzI/AAAAAAAAAXE/ujhb_7I7QDg/s1600-h/DSC00756.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHmczY6tGzI/AAAAAAAAAXE/ujhb_7I7QDg/s400/DSC00756.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222377649588738866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;T.WIJAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjaga Alam, Mengabdi Tuhan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Setiap yang kami lakukan semata untuk Tuhan Yang Maha Esa. Kami menjaga ikan-ikan di laut, menjaga karang-karang di laut, menjaga persaudaraan kami, semata untuk Tuhan,” kata Sandhy Mamalanggo dari komunitas adat Musi, Sulawesi Utara, saat menjelaskan komunitasnya di hadapan 18 perwakilan komunitas adat lainnya, ketika mengikuti workshop di Villa Eden, Kaliurang, Yogyakarta, yang diselenggarakan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1-7 Juli 2008 lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Kami juga demikian. Hampir setiap perilaku kami adalah ritual untuk Tuhan Yang Maha Esa. Mulai dari kelahiran, berladang, hingga kematian,” jelas Mosom dari komunitas adat Dayak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Seperti gayung bersambut, perwakilan komunitas adat lainnya juga mengakui hal yang sama. “Alam adalah sebuah keseimbangan, perlu dijaga. Manusia harus berperan menjaga keseimbangan itu. Itulah tujuan Tuhan menciptakan manusia,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Emanuel Un Bria dari Lembaga Adat Liuvai Timor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hanya, persoalan mulai muncul ketika para investor mulai memasuki tanah adat mereka. “Pada wilayah kami, kini banyak sekali orang asing yang masuk. Mereka mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Dalilnya buat melakukan penelitian, tapi masyarakat resah sebab kondisi laut mulai tidak stabil,” kata Sandhy Mamalanggo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sementara Mosom sangat khawatir dengan langkah para investor di Kalimantan, seperti pertambangan dan perkebunan, akan memusnahkan keberadaan komunitas adat Dayak. “Terus-terang kehidupan kami sudah hancur. Kami tidak antipendatang, tapi mereka sudah menghabisi kami. Kami kini mencoba bertahan dengan apa yang tersisa,” kata Mosom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan Marah&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mengenai keberadaan Indonesia yang kian terpuruk, para perwakilan komunitas adat itu menilai lantaran pemerintah tidak pernah mendengar suara dari komunitas adat. Misalnya pemerintah terus memberikan ruang yang besar bagi para investor buat mengeksploitasi sumber daya alam di Indonesia, tanpa mempertimbangkan kearifan lokal yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Coba kalau pemerintah mendengar apa yang disuarakan komunitas adat, mungkin Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang ini,” kata Melvin Katoppo dari komunitas agama Walesung, Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang harus didengar pemerintah dari komunitas adat, kata Melvin, yakni kepercayaan atau sistem komunitas adat dalam mengelola sumber daya alam, serta menghargai sistem atau cara mereka mengabdi Tuhan. “Jangan dirusak dengan cara lain, sehingga kami marah, begitupun alam,” kata Melvin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Melvin pun mencemaskan adanya sejumlah politikus yang mencoba menyeragamkan budaya dan kepercayaan pada masyarakat Indonesia. Menurutnya, jika ini terus diupayakan para politikus itu, bukan tidak mungkin Indonesia akan bubar. “Tuhan marah,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Maka, ke depan, kata Muharam Puang Lolo dari komunitas adat Bissu, Sulawesi Selatan, pemerintah Indonesia harus lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Menghormati bagaimana mereka memperlakukan alam, dan membangun sistem sosialnya. Jangan mengambil kebijakan yang membuat komunitas adat menjadi rusak atau musnah. Sebab komunitas adat-lah yang masih menjaga keseimbangan alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikasi Budaya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kecewa, para perwakilan komunitas adat itu masih mempercayai dan mendukung keberadaan Republik Indonesia. Hanya, mereka menginginkan pemerintah Indonesia harus menata ulang konsep pembangunannya. Konsep pembangunan yang berpihak pada kebhinekaan, yang selama berabad-abad telah membentuk kebudayaan nusantara ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Indonesia ini dilahirkan komunitas adat. Komunitas adat lahir jauh sebelum Indonesia lahir. Jadi, kalau pemerintah terus melakukan berbagai kebijakan yang menghancurkan komunitas adat, maka yang hancur adalah negara ini,” kata Hemmy Koapaha dari komunitas adat Minahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, menariknya, sambil menunggu perubahan karakter pembangunan yang dijalankan pemerintah Indonesia, ke-19 perwakilan komunitas adat itu sepakat melakukan komunikasi budaya sebagai strategi menyelamatkan keberagaman budaya Indonesia. Bentuk komunikasi budaya yang akan diambil yakni dengan cara mengaktualkan komunitas adat melalui penulisan, foto, dan film, menggunakan media massa maupun internet. Menariknya, penulis maupun pembuat film dilakukan oleh komunitas adat itu sendiri. “Selama ini sudah banyak pihak yang mengaktualkan diri kami, tapi posisi kami hanya sebagai objek. Banyak hal yang belum terungkap seutuhnya,” kata Ikah Kartika dari komunitas adat Karuhun Urang Cigugur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Jangan heran dalam beberapa bulan ke depan, meskipun keberadaan kami jauh dari kota, semua orang dapat menyaksikan keberadaan kami melalui internet,” kata Lefmanut dari komunitas adat Tanimbar Kei, Maluku, yang selama sepekan bersama teman-temannya mengikuti workshop penulisan, pembuatan film, serta budaya, guna mewujudkan mimpi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Tuhan telah memberi jalan bagi komunitas adat buat menjaga dirinya, dan menyelamatkan Indonesia. [*]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-375280731111846862?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/375280731111846862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=375280731111846862' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/375280731111846862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/375280731111846862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/07/menjaga-alam-mengabdi-tuhan.html' title='Menjaga Alam, Mengabdi Tuhan'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHmdI1xs_pI/AAAAAAAAAXM/jLC7kqjiA4c/s72-c/DSC00742.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5430254981860715669</id><published>2008-07-12T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:34.660-08:00</updated><title type='text'>Jangan Seragamkan Kami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm0SjCiLI/AAAAAAAAAVU/T2fGo3huOtg/s1600-h/DSC00534.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm0SjCiLI/AAAAAAAAAVU/T2fGo3huOtg/s400/DSC00534.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222036816454125746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm04mxTJI/AAAAAAAAAVc/FUs1OEg9jkQ/s1600-h/DSC00636.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm04mxTJI/AAAAAAAAAVc/FUs1OEg9jkQ/s400/DSC00636.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222036826670320786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm1hyfm_I/AAAAAAAAAVk/ef0Fkzb_s7U/s1600-h/DSC00742.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm1hyfm_I/AAAAAAAAAVk/ef0Fkzb_s7U/s400/DSC00742.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222036837725346802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm16xRVFI/AAAAAAAAAVs/UiuGhP3qA5c/s1600-h/DSC00635.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm16xRVFI/AAAAAAAAAVs/UiuGhP3qA5c/s400/DSC00635.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222036844431103058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;T. WIJAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jangan Seragamkan Kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...KOMUNITAS adat ada sebelum &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region style="font-style: italic;" st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lahir, jadi jangan bunuh keberagaman bangsa &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-style: italic;" st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang dibangun oleh keberagaman komunitas adat. Komunitas adat yang melahirkan &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region style="font-style: italic;" st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Demikian pernyataan19 perwakilan komunitas adat yang melakukan serangkaian kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) 1-7 Juli 2008 lalu, di Jakarta dan Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tersebut diambil mereka lantaran melihat ada kecenderungan pemerintah maupun kekuatan politik tertentu di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, melakukan penyeragaman budaya maupun kepercayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Contohnya RUU Pornografi dan Pornoaksi itu. Jelas, jika pemerintah mensahkan UU tersebut, keberadaan masyarakat adat akan tergusur. Sebab kami tidak boleh lagi mengenakan simbol kebudayaan lokal lantaran dinilai berbau porno,” kata Calvin Mansoben, perwakilan dewan pembina adat dari Papua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, UU tersebut juga akan membuka peluang bagi para investor buat mengeksploitasi sumber daya alam yang selama ini dijaga komunitas adat. Artinya, jika komunitas adat hilang, investor akan mudah masuk. Selama ini perlawanan investor yang mengeksploitasi sumber daya alam adalah komunitas adat,” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sementara Hemmy Koapaha, perwakilan komunitas adat Minahasa, menambahkan kehancuran juga akan terjadi pada keberagaman agama tradisional yang sudah tumbuh selama ratusan tahun di Indonesia. “Agama-agama yang belum diakui pemerintah &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sebelum datangnya agama dari luar seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen, Konghocu. Jadi, kami mohon nian pemerintah membatalkan rencana pembuatan UU tersebut,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan kecemasan sebagian masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan fenomena pornografi yang tengah tumbuh di masyarakat? “Itu merupakan kegagalan negara. Sebab selama rezim Orde Baru, ada upaya penyeragaman. Akibatnya, ketika ada arus budaya luar yang masuk, masyarakat tidak memiliki pilihan. Saat mau pulang ke budaya asal, mereka tidak tahu. Ya, terima saja yang masuk,” kata Ina Soselisa, pendamping komunitas adat Maluku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya banyak kearifan lokal yang tumbuh dari komunitas adat yang mampu menjaga masyarakat dari pengaruh luar, tapi kenapa justru menggunakan budaya luar buat menjaga pengaruh budaya luar yang lain, kemudian membuat peraturan yang justru mengancam keberadaan komunitas adat. Menurut kami, masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus kembali mengangkat akar budayanya, yang lahir dan tumbuh dari komunitas adat,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Gerakan Budaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Adapun komunitas adat yang mengikuti kegiatan bertajuk Advokasi dan Peningkatan Kapasitas Komunitas-Komunitas Adat adalah Dayak Siang (Kalimantan), Dayak Ma’Anyan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Kalimantan), Kejawen/Kebudayaan Jawa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Yogyakarta), Cirendeu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Jawa Barat), Cigugur (Kuningan-Jawa Barat), Kajang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Sulawesi Selatan), Talotang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Sulawesi Selatan), Bissu (Sulawesi Selatan), Musi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Sulawesi Utara), Malesung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Sulawesi Utara), Talaud (Sulawesi Utara), Sonafnaineno&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(NTT), Lopo Timor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(NTT), As Manulea&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(NTT), Tanimbar Kei&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Tual-Maluku), Naulu-Seram&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(P. Seram-Maluku), Sawang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Belitung), Dewan Adat Papua (Sorong, Wamena, Jaya Pura), serta Anak Rimba (Jambi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mereka sepakat guna mempertahankan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang berdiri atas keberagaman budaya dan kepercayaan ini, hanya melalui gerakan kebudayaan. “Kita menolak segala bentuk kekerasan. Biarkan orang lain menggunakan kekerasan, kita pilih cara yang damai, seperti yang diajarkan para leluhur kita dulu,” kata Emanuel Un Bria dari Lembaga Adat Liuvai Timor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Adapun gerakan kebudayaan yang disepakati ke-19 komunitas adat itu antara lain yakni memperkenalkan kembali identitas mereka ke masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan dunia. Caranya melalui tulisan, foto, dan film. “Bedanya dari yang sebelumnya, kali ini kami sendiri yang menulis, membuat foto, dan membuat filmnya,” kata Gumirat Barna Alam dari komunitas adat Karuhun Urang, Cigugur, Jawa Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengikuti workshop penulisan, kebudayaan, dan film, di Kaliurang, Yogyakarta, para perwakilan komunitas adat ini menyempatkan diri menyampaikan aspirasi penolakan mereka terhadap RUU Pornografi ke anggota DPD, serta DPR RI, yakni Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi Golkar, di Jakarta. Di sini, para perwakilan komunitas adat sempat mengancam memisahkan diri dengan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; apabila RUU Pornografi disahkan sebagai UU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya mereka berdialog dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas di Kaliurang. Setelah acara, mereka mengunjungi komunitas adat Sedulur Sikep atau yang dikenal sebagai komunitas Samin di Pati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menurut Erwan Suryanegara, salah satu fasilitator workshop kebudayaan, keberagaman budaya di nusantara ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Berdasarkan penelitiannya, kebudayaan Pasemah yang berada di sepanjang Bukitbarisan merupakan bukti nusantara ini memiliki kebudayaan yang beragam, egaliter. “Meskipun sama-sama mengakui keberadaan Tuhan, tapi cara mengungkapkannya berbeda-beda. Artinya, sama tapi berbeda. Jadi, sangat penting jika saat ini mempertahankan keberagaman yang membentuk karakter budaya &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,” katanya. (*)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5430254981860715669?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5430254981860715669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5430254981860715669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5430254981860715669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5430254981860715669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/07/jangan-seragamkan-kami.html' title='Jangan Seragamkan Kami'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SHhm0SjCiLI/AAAAAAAAAVU/T2fGo3huOtg/s72-c/DSC00534.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4326442018604146039</id><published>2008-06-27T19:10:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:34.832-08:00</updated><title type='text'>Mari Mencari Ibu dan Bapak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SGWef3SBZDI/AAAAAAAAAU8/eNbBgHRPM7I/s1600-h/DSC02690.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216750013631259698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SGWef3SBZDI/AAAAAAAAAU8/eNbBgHRPM7I/s400/DSC02690.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. Wijaya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mari Mencari Ibu dan Bapak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;SAYA menulis ini bukan lantaran saya tahu banyak, tapi karena saya memimpikan; di masa mendatang, setiap pekan kita jalan-jalan ke luar angkasa, tapi kita tetap ada dengan keyakini dan identitas kita. Atau, kita terus bercinta di tengah bisingnya kota. Tanpa ada yang mengganggu.Tenang.&lt;br /&gt;Membayangkan kondisi  yang indah itu, tidaklah mudah atau gampang. Kita perlu perjuangan. Apalagi realitas hari ini, kekerasan menjadi alat utama berbagai kelompok buat menjadi kekuatan yang mendominasi. Berebut menjadi pemenang. Bukan hanya di gelanggang olahraga, politik, juga merambah ke wilayah kepercayaan maupun keyakinan.&lt;br /&gt;Di Indonesia, setelah jatuhnya rezim Soeharto, banyak yang berebut menggantikan posisi “Soeharto”. Meliter bukan lagi sebagai kekuatan utama yang ingin menguasai, sipil bersenjata yang mengatasnamakan keyakinan tertentu juga ingin menjadi pemenang, termasuk para pemilik modal.&lt;br /&gt;Berebut kursi “raja” ini bukan hanya lahir atau muncul dari kekuatan di dalam, tetapi juga didorong dari kekuatan luar. Mengutip pemikiran Cak Nun alias Emha Ainun Nadjib dalam sebuah sajaknya, “Ibuku Satu, Bapakku Satu, Orangtuaku Seribu”, saya mengibaratkan kita yang hari ini hidup sebenarnya memiliki ibu dan bapak satu, tapi memiliki sejuta orangtua. Macam-macam permintaan dan nasehatnya.&lt;br /&gt;Kasarnya, kita hari ini diobok-obok para orangtua dari berbagai negeri yang jauh, baik dari Eropa, Amerika, Arab, India, Jepang, atau Tiongkok. Ada yang mengajari menari, baca puisi, berdagang, merampok, membuat film, menjadi jurnalis, menjadi politikus, hingga cara menjadi pelaku bom bunuh diri.&lt;br /&gt;Lalu, di mana ibu dan bapak kita? Entahlah. Hanya kita yang dapat menjawabnya. Jadi, dari diskusi yang sederhana ini, mari kita mencari ibu dan bapak kita yang berabad-abad telah mengajari kita bagaimana hidup dengan damai, sejahtera, dan bersemangat. Sehingga para orangtua dari negeri asing itu angkat kaki, atau menjadi bagian dari kita yang selalu menikmati “pelangi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Kampung Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan bapak, seperti halnya hewan, tidak akan meninggalkan anaknya begitu saja, kecuali ada hal yang sangat penting. Tetapi, sejauh-jauhnya ibu dan bapak pergi, dia akan kembali juga. Jadi, kemungkinan besar ibu dan bapak kita tidak berada di New York, Tokyo, Hongkong, Madinah, London, Paris, atau Moscow. Ibu dan bapak kita masih berada di dekat kita, di kampung kita.&lt;br /&gt;Memang, yang menjadi persoalan, kita tidak mampu melihat ibu dan bapak itu. Kalaupun terlihat, cenderung samar-samar. Penyebabnya, ruang buat bertemu telah digusur oleh pabrik, pasar swalayan, rumah toko, atau pusat-pusat hiburan.&lt;br /&gt;Tidak itu saja, ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan para orangtua lain, telah memfitnah, merendahkan, bahkan menghilangkan eksistensi ibu dan bapak kita. Macam-macam penyebutannya, seperti primitive, kuno, feudal, terbelakang, kampungan, atau bodoh.&lt;br /&gt;Di sisi lain, bila pun di antara kita masih memiliki ibu dan bapak, para orangtua dari luar akan memanfaatkan kita buat menghabisinya dengan berbagai stigma di atas itu. Bila masih bertahan, kekerasan menjadi pilihannya. Baik yang mengeluarkan suara “dor” maupun kata “amankan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersatu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sapu lidi, kita harus bersatu. Bersatu mencari dan menemukan ibu dan bapak kita. Bersatu tapi kita tetap dengan jati diri kita. Bukan seperti butiran biji besi yang dileburkan menjadi satu. Tanpa ingin bersatu, kita dengan mudahnya dipatahkan atau disingkirkan. Dan, saya percaya keinginan mencari dan menemukan ibu dan bapak, membuat kita bersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersedekah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, sejak 150.000 - 80.000 tahun Sebelum Masehi atau awal migrasi besar manusia dari Afrika ke berbagai penjuru bumi, berbagi atau bersedekah merupakan sikap baik yang sudah tumbuh pada manusia. Jadi, selain kita mampu bersatu, kita juga harus mampu berbagi. Berbagi ini bukan hanya sebatas harta juga ilmu pengetahuan. Penelitian kita yang dikerjakan bertahun-tahun, dengan biaya yang besar, mungkin tidak kita simpan rapat-rapat di perpustakaan atau di inti otak. Bagikan kepada siapa saja. Termasuk kepada saudara-saudara kita yang tidak atau belum sempat menguasai ilmu pengetahuan seperti kita. Logikanya, semakin banyak orang yang seperti kita—katakanlah berpengetahuan—kian gampanglah mencari ibu dan bapak kita.&lt;br /&gt;Percayalah, bila kita memberi satu, kita akan menerima dua, seperti halnya kita di Toraja. Atau, seperti Tuhan berjanji dalam Alquran, berilah satu akan diberi 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Informasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mencari ibu dan bapak kita, sebaiknya kita mengetahui kekuatan para orangtua yang telah mengobok-obok kesadaran kita. Menurut saya, kehebatan mereka, yakni mampu menguasai informasi. Ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, yang mereka miliki, mereka kemas dalam sebuah jaringan informasi, sehingga menjadi sebuah mitos yang membuat mata kita tak mampu melihat ibu dan bapak kita.&lt;br /&gt;Jelasnya, mereka mampu menulis dan membaca kita setiap hari, tapi kita sendiri gagal membaca dan menulis mereka. Kita hanya menjadi penikmat, pengagum, dan akhirnya kita gagal menjelaskan diri sendiri, lantaran kita termakan dengan mitos mereka.  Dampaknya, ibu dan bapak kita pun hilang.&lt;br /&gt;Memang, sebagian kita dengan kemampuan ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, juga mampu menulis dan membaca mereka. Namun, kebanyakan, segala item pada tubuh dan kesadaran kita justru bermigrasi ke mereka. Istilah saya, minum coca-cola sambil makan ikan asin dengan tubuh dililit bom, saat makan malam bersama istri dan anak. Parahnya, bahkan tanpa ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, yang mumpuni, di dalam pondok tanpa lampu, kita melakukan migrasi ke New York, menjadi Batman atau Superman. Terus-terang, saya sendiri mengalami hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menulis Diri Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seperti diyakini kawan Nasrani, saya ini seorang pendosa. Saya ini kotor. Atau, seperti diyakini kawan penyair Afrizal Malna, dirinya telah kehilangan “Minangkabau”, dirinya tanpa ibu dan bapak. Dirinya menjadi massa. Tak lebih dari susunan angka di kalkulator seorang pegawai kantor kelurahan atau pengusaha makanan instant.&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan, apakah ibu dan bapak mau menemui kita yang kotor ini? Tentu saja mau. Tak ada orangtua yang membenci anaknya, seperti halnya harimau dan tikus. Tetapi, mungkin ada syaratnya, kita harus menjadi diri kita. Kita harus kembali menjadi anak yang tahu asal rahimnya, Toraja jadilah Kailise, Sigiese, Poso, atau Luwuk. Dayak jadilah Kajan, Bahau, atau Punan. Minangkabau jadilah Koto, Piliang, Bodi, atau Chaniago. Nias jadilah Nias. Kei jadilah Kei. Aceh jadilah Aceh. Palembang jadilah Palembang. Sasak jadilah Sasak. Kubu jadilah Pinggir. Mentawai jadilah Melayu. Jawa jadilah Jawa. Sunda jadilah Sunda. Badui jadilah Urang Kanekes atau Urang Rawajan.&lt;br /&gt;Nah, dengan kesadaran ini, kita pun akan mampu menuliskan diri sendiri. Kita bukan ditulis dan dicatat oleh orang lain atau oleh kita yang menjadi “orang lain”.  Kita akan menjadi media informasi sebenarnya. Tanpa sensor, tanpa kebencian, tanpa matematika saat menuliskan kasih dan sayang kita.&lt;br /&gt;Saya percaya dengan cara seperti ini, kita akan bebas dari kata primitive, kuno, feodal, terbelakang, kampungan, atau bodoh. Fakta yang kita tulis, yang kemudian menjadi ilmu pengetahuan milik dunia, merupakan fakta bukan penilaian atau opini.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan para pendatang? Ya, jadilah diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi kita. Sebab sejak berabad lalu, para puyang atau nenek moyang di nusantara ini tidak pernah menolak kehadiran pendatang, seperti kedatangan puyang saya beberapa abad lalu, dan akhirnya menjadi bagian dari keberagaman yang mengagumkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bertemu Ibu dan Bapak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, bila kita telah menuliskan diri kita, ibu dan bapak akan terus mendampingi kehidupan kita. Kita akan tahu bagaimana menghargai orang lain, berbakti pada Tuhan, seperti yang disampaikan dari pikiran dan hati mereka. Kita pun menjadi Toraja bukan menjadi Batman, Superman, atau Ali Baba, meskipun ilmu dan teknologi membuat kita setiap pekan dapat jalan-jalan ke luar angkasa, misalnya pada tahun 2030 nanti.&lt;br /&gt;Kenapa? Sebab ibu dan bapak akan melindungi kita dari ancaman para orangtua yang memiliki keinginan “menguasai dunia” layaknya para pemuja fasisme. Ibu dan bapak kita dilahirkan Tuhan untuk memerangi pemikiran Benito Mussolini yang tahun 1932 menulis, “…Peranglah satu-satunya yang akan membawa seluruh energi manusia ke tingkatnya yang tertinggi dan membubuhkan cap kebangsawanan kepada orang-orang yang berani menghadapinya…” [*]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4326442018604146039?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4326442018604146039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4326442018604146039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4326442018604146039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4326442018604146039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/mari-mencari-ibu-dan-bapak.html' title='Mari Mencari Ibu dan Bapak'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SGWef3SBZDI/AAAAAAAAAU8/eNbBgHRPM7I/s72-c/DSC02690.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5886299058475654581</id><published>2008-06-22T02:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:34.941-08:00</updated><title type='text'>Memburu Kekalahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SF4ZhFyaWNI/AAAAAAAAAT4/2id2vZfOLsQ/s1600-h/kapal3.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214633474821609682" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SF4ZhFyaWNI/AAAAAAAAAT4/2id2vZfOLsQ/s400/kapal3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memburu Kekalahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIM sepakbola yang kalah dalam Piala Eropa 2008 yang digelar di Swiss-Austria adalah kesedihan. Kedukaan. Taufik Hidayat dan kawan-kawan takluk di tangan Korea Selatan dalam Piala Thomas Cup beberapa waktu lalu juga sebuah kesedihan. Lalu, merupakan kesedihan pula pasangan yang diusung Partai Golkar dan PAN kalah dalam pemilihan walikota Palembang periode 2008-2013.&lt;br /&gt;Kekalahan sering juga dimengerti sebagai sebuah kemaluan. Aib. Dan, dampaknya membuat seseorang atau masyarakat menjadi frustasi. Marah. Bahkan bunuh diri.&lt;br /&gt;Sebaliknya, kemenangan merupakan sebuah kebanggaan. Kejayaan. Luar biasa. Menganggumkan. Pokoknya, ada sejuta ungkapan yang membuat pihak yang menang untuk meninggikan bahunya atau menaikkan dagunya.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, adakah orang atau kelompok yang mau kalah? Jawabannya, hampir dipastikan, tidak ada. Hanya orang tidak waras yang mau kalah. Begitu pun hari ini, dari anak-anak yang ikut lomba mewarnai hingga mantan pejabat yang kaya ikut suksesi politik, tidak yang mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEINGINAN untuk selalu menang merupakan karakter purba manusia. Sejak peradaban batu hingga peradaban mesin ini, manusia selalu menciptakan berbagai permainan atau ruang buat berkompetisi. Permainan dan ruang kompetisi ini tentunya buat melahirkan subjek-subjek atau kelompok yang dinilai unggul. Pemenang. Mulai dari fisik, ilmu pengetahuan, keterampilan, hingga keindahan tubuh atau berakting.&lt;br /&gt;Kesadaran purba manusia ini diperkuat oleh pemikiran eksistensial yang berkembang pesat di awal abad 20. Tiap manusia didorong untuk menjadi manusia yang paling unggul. Mereka yang lemah, bodoh, merupakan subjek yang harus dimusnahkan atau disingkirkan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH Soeharto tumbang, saya melihat ada fenomena yang sangat menonjol dalam masyarakat Indonesia. Yakni tiap orang ingin menjadi pemenang. Ingin meraih kemenangan. Tekanan kekalahan yang diterapkan Soeharto benar-benar menjadi tsunami luar biasa pada kesadaran eksistensial manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Di dalam ruang politik, misalnya, mulai dari penambal ban, pegawai negeri, ahli agama, mantan pejabat, pengusaha, akademisi, ibu rumah tangga, pekerja seni, guru, preman, aktifis LSM, bersama para aktifis partai politik, bersaing buat menjadi anggota dewan, kepala daerah, atau sebuah organisasi.&lt;br /&gt;Lalu, anak-anak dan remaja didorong para orangtuanya menjadi yang terbaik dalam berbagai lomba terkait dunia hiburan, seperti menjadi penyanyi, artis, atau model.&lt;br /&gt;Di bidang ilmu pengetahuan juga seperti itu. Lomba matematika, fisika, kimia, menjadi ajang yang sering diselenggarakan buat para pelajar atau mahasiswa. Bahkan, seni pun turut dilombakan, seperti lomba penulisan puisi, penulisan novel, teater, film, akting, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Dan, bagi mereka yang tidak dapat menunjukkan prestasinya seperti disebutkan tadi, membuka ruang sendiri, misalnya menjadi juara ngebut motor di jalan, jagoan berkelahi di sekolah atau kampus, atau jagoan berkelahi di kampung.&lt;br /&gt;Seperti yang banyak dikatakan orang, bila keinginan untuk menang sudah tertanam ke dasar hati seseorang atau kelompok, berbagai cara dilakukan. Mulai dari lobi dengan sogokan uang atau perempuan, teror, fitnah, hingga menggunakan cara-cara gaib atau dunia perdukunan. Dampaknya pun dapat kita perkirakan, yakni kekerasan. Baik kekerasan secara fisik maupun moral. Hari ini, setiap hari, kita membaca berita, mendengar, merasakan, dan menonton berita mengenai berbagai kekerasan yang sumbernya sebetulnya akibat persaingan untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalah Itu Nikmat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, saya ingin mengatakan bahwa sebuah kekalahan itu merupakan kenikmatan. Buktinya, manusia yang mengakui dirinya kalah dari Tuhan, dia akan masuk surga. Meskipun ini sifatnya berupa keyakinan moral.&lt;br /&gt;Namun, manusia yang merasa dirinya kalah dapat dipastikan menjadi penakut dan lemah, sehingga dia tidak mau berbuat sesuatu yang membuat dirinya kian terkalahkan. Katakanlah, tindakannya selalu baik, sopan, menghindari konflik. Dia memilih bersikap damai dan adil.&lt;br /&gt;Memang, ada juga orang yang kalah tapi tidak dapat menerima kekalahan sehingga berbuat jahat. Tetapi, sebenarnya orang seperti ini memiliki kesadaran dirinya tidak kalah, justru sebaliknya dia yakin dirinya telah menang. Lantaran sesuatu hal kemenangan dirinya telah dirampas.&lt;br /&gt;Mereka yang kalah, tidak akan pernah gelisah bagaimana mempertahankan sebuah kemenangan. Dan, sebaliknya mereka yang menang cenderung merasakan kesepian dan cemas bagaimana mempertahankan sebuah kemenangan. Logikanya, sebuah perlombaan, pertandingan, yang diikuti banyak orang selalu melahirkan satu orang pemenang. Bukankah dia sendirian?&lt;br /&gt;Jadi, maukah kita menjadi orang-orang yang kalah? Maukah kita memburu kekalahan? Sekali lagi, saya percaya, tidak seorang pun yang mau kalah. Sebab kekalahan itu membuat kita merasa menjadi miskin, tertindas, dan tidak dapat menyampaikan keinginan atau ide. Meskipun kondisi paling kalah, akan dialami setiap manusia, ketika memasuki realitas kematian.&lt;br /&gt;Jika begitu, jangan kita salahkan kondisi manusia Indonesia hari ini. Sebab kita tidak mau menjadi orang yang kalah. Minoritas ingin menang, mayoritas ingin selalu menang! Bersaing hingga tanah dan langit penuh fitnah, darah, dan sumpah. [*] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5886299058475654581?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5886299058475654581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5886299058475654581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5886299058475654581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5886299058475654581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/memburu-kekalahan.html' title='Memburu Kekalahan'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SF4ZhFyaWNI/AAAAAAAAAT4/2id2vZfOLsQ/s72-c/kapal3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4228278149969609207</id><published>2008-06-16T23:49:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.166-08:00</updated><title type='text'>Lomba Bidar, Tradisi Sungai Musi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SFdfVAeZN4I/AAAAAAAAAR0/19PXB3VKen4/s1600-h/Lomba+Bidar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212739908214011778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SFdfVAeZN4I/AAAAAAAAAR0/19PXB3VKen4/s320/Lomba+Bidar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SFdfVG0JUkI/AAAAAAAAAR8/mhixLjcwpB4/s1600-h/Perahu+Hias2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212739909915857474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SFdfVG0JUkI/AAAAAAAAAR8/mhixLjcwpB4/s320/Perahu+Hias2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. Wijaya&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lomba Bidar, Tradisi Sungai Musi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;SETIAP tahun masyarakat Palembang disuguhi lomba mendayung perahu pancalang di sungai Musi, yang disebut lomba perahu Bidar. Sayangnya, tidak ada catatan resmi mengenai sejak kapan lomba perahu Bidar dilangsungkan, serta apa artinya “Bidar”.&lt;br /&gt;Yang jelas, berdasarkan penuturan sejumlah orangtua yang hidup sebelum kelahiran Republik Indonesia, lomba perahu Bidar sudah ada pada saat kolonial Belanda menguasai Palembang. Saat itu, lomba perahu Bidar digelar setiap kali kolonial Belanda memperingati hari ulang ratunya, atau adanya pesta yang digelar para pejabat pemerintahan Belanda.&lt;br /&gt;Setelah Republik Indonesia berdiri, seperti halnya lomba panjat pinang, lomba perahu Bidar digelar setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Namun, sejak digelarnya Festival Sriwijaya yang kini memasuki tahun ke-17, lomba perahu Bidar juga digelar. Pada Festival Sriwijaya tahun ini, lomba perahu Bidar dilangsungkan pada hari ini, 17 Juni 2008, di sungai Musi. Pada saat yang sama digelar lomba Perahu Hias.&lt;br /&gt;Sejumlah sejarawan berasumsi lomba perahu Bidar sudah berlangsung sejak masa kerajaan Sriwijaya atau masa Kesultanan Palembang Darussalam. Sebab ada legenda dari Muaraenim, yakni legenda Putri Dayang Merindu, disebutkan ada sejumlah pangeran yang memperebutkan Putri Dayang Merindu, melakukan lomba mendayung perahu, setelah lomba bela diri tidak ada yang kalah.&lt;br /&gt;Di sisi lain, cukuplah logis bila masyarakat yang akrab dengan perahu, seperti di Palembang, muncul keinginan untuk melakukan suatu lomba mendayung perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perahu Pancalang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang diketahui dari lomba perahu Bidar, hanya perahu yang digunakan. Yakni perahu Pancalang. Dalam bahasa Melayu, Pancalang artinya “lepas menghilang”. Jelasnya Panca berarti “lepas”, dan Lang berarti “hilang”. Pancalang ini panjangnya berkisar 10-20 meter, dan lebar 1,5-3 meter, bermuatan sampai 50 orang, dikayuh oleh 8–30 orang.&lt;br /&gt;Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, pada saat perang maupun damai, perahu Pancalang digunakan raja dan sultan untuk pesiar atau angkutan kurir menyampaikan perintah raja ke daerah-daerah kekuasaannya.&lt;br /&gt;Dalam Ensiklopedia Indonesia terbitan W. Van Hoeve Bandung Graven Hage dituliskan: Perahu Pancalang ini adalah perahu tidak beruas, terdapat di sekitar Sumatra Selatan untuk mengangkut penumpang dan menjajakan dagangannya di sungai, beratap kajang kemudinya berbentuk dayung dan didayung dengan galah bambu. Perahu Pancalang inilah di kenal sebagai asal muasal “Perahu Bidar” sekarang ini. [*] &lt;em&gt;Foto: Zanial Mazalisa, www.kotapalembang.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4228278149969609207?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4228278149969609207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4228278149969609207' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4228278149969609207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4228278149969609207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/lomba-bidar-tradisi-sungai-musi.html' title='Lomba Bidar, Tradisi Sungai Musi'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SFdfVAeZN4I/AAAAAAAAAR0/19PXB3VKen4/s72-c/Lomba+Bidar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-6856099547904881323</id><published>2008-06-09T02:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.286-08:00</updated><title type='text'>Esai Dongeng Gebi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEz9BNj3dpI/AAAAAAAAAOc/XX1vVpjtgXU/s1600-h/Eceng3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209817066222614162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEz9BNj3dpI/AAAAAAAAAOc/XX1vVpjtgXU/s400/Eceng3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Dongeng Gebi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernah ada rasa cinta&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Antara kita kini tinggal kenangan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ingin kulupakan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Semua tentang dirimu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Reff :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jauh kau pergi meninggalkan diriku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Disini aku merindukan dirimu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kini ku coba mencari penggantimu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;SETELAH mendendangkan lagu di atas, yang berjudul ”Tinggal Kenangan”, Gebi Caramel bunuh diri. Lagu itu sendiri ditulisnya lantaran kekasihnya, lebih dulu meninggal dunia lantaran bunuh diri. Tragis dan menyedihkan. Begitu omongan para remaja dari berbagai belahan dunia tentang Gebi Caramel.&lt;br /&gt;Siapa Gebi Caramel? Tidak ada yang tahu. Misteri. Hanya informasi yang beredar gadis cantik—dibayangkan dari suaranya—berasal dari Bali. Mungkin lantaran misteri dan kisahnya tragis ini, membuat para remaja menyukainya.&lt;br /&gt;Saya sendiri mengetahui lagu ini setelah anak saya yang tertua mendendangkannya.&lt;br /&gt;”Bagus benar, lagu siapa itu?” tanya saya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, berceritalah anak kelas 5 sekolah dasar itu. Saya tertarik. Saya cari di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.google.com/"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;www.google.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;www.youtube.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;. Ada ratusan file mengenai lagu ini. Termasuk MP3-nya. Berbagai komentar muncul; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan bahkan ada yang cemas.&lt;br /&gt;Ternyata lagu itu merupakan milik Pay alias Rifai Ilyas (24), gitaris kelompok band Caramel di Makasar, Sulawesi Selatan. Begitu sebuah pengakuan Pay dengan detikcom. Tidak ada kisah tragis mengenai si penulis dan penyanyi lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Romantis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari lirik dan senandungnya, lagu “Tinggal Kenangan” merupakan lagu yang romantis. Melankolis. Lagu ini sebenarnya tidak istimewa, sama seperti lagu-lagu melankolis yang dinyanyikan grub band yang ada di Indonesia, seperti lagu-lagu milik Letto, Dewa, Ada, atau lagu-lagu milik Melly Goeslaw dan Ari Lasso.&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya, meledaknya lagu ini, yang juga banyak dinyayikan para pengamen, lantaran ada cerita alias dongeng tragis dan misteri yang melatari lagu ini.&lt;br /&gt;Kisah lagu ini mungkin sama dengan lagu “Love Story”, yang mengikuti ledakan film dan novel “Love Story”. Atau, di Indonesia, seperti melegendanya lagu “Badai Pasti Berlalu” milik Erros Djarot yang digemari para remaja saat itu—sebagian saat ini—bersamaan dengan filmnya.&lt;br /&gt;Yang membedakannya, “Tinggal Kenangan” dibangun dengan kisah romantis yang dibangun melalui “kebohongan” di dunia internet, sementara “Love Story” dan “Badai Pasti Berlalu” dari kisah romantis dari sebuah cerita fiksi alias kebohongan yang legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kecemasan Orangtua &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terus-terang, saat ini saya begitu cemas dengan meningkatnya aksi bunuh diri para remaja di Indonesia. Alasan bunuh diri ini mulai dari permintaan si anak yang tidak dipenuhi orangtuanya, hingga persoalan cinta seperti dongeng pada lagu “Tinggal Kenangan”.&lt;br /&gt;Tentunya, kecemasan ini sangat wajar. Sebab pada masa sekarang, seorang anak bukan hanya berguru dan bertanya dengan orangtuanya. Anak seorang petani, misalnya, ketika mau tahu persoalan agama, bukan hanya bertanya dengan orangtuanya, juga bertanya dengan gurunya, tokoh agama, atau bertanya dengan seseorang beridentitas ”nama” di dunia maya alias internet. Kondisi ini, seperti yang dicemaskan Emha Ainun Nadjib 20 tahun lalu melalui puisinya, ”Ibuku satu, bapakku satu, tapi orangtuaku seribu...”&lt;br /&gt;Persoalan anak ini, seperti yang kita rasakan dulu, bukan hanya persoalan ilmu pengetahuan, tapi juga persoalan batin. Mulai dari persoalan Tuhan, hingga asmara. Dan, bila mereka menghadapi persoalan tersebut, mereka bukan hanya bertanya dengan bapak dan ibunya, juga bertanya dengan orangtua yang lain.&lt;br /&gt;Lalu, seandainya pertanyaan itu menghadapi benturan atau tidak memuaskan si anak, apa yang terjadi? Kaum agama mungkin menyebutnya, si anak menjadi sesat. Tapi realitas yang saya tangkap adalah sikap frustasi, marah, sehingga melahirkan aksi yang paling menakutkan kita yakni bunuh diri.&lt;br /&gt;Mungkin banyak orang akan mengatakan persoalan ini muncul lantaran lemahnya peranan orangtua menjadi ”kawan komunikasi” anak-anaknya. Jika orangtua mengambil peranan yang optimal dan baik, mungkin anak-anak mereka akan selamat.&lt;br /&gt;Tetapi, banyak orangtua—terutama yang miskin—memberikan alasan, waktu mereka lebih banyak untuk mengatasi perut. Alasan ini cukup wajar. Jika seseorang tidak bekerja keras, ancaman kelaparan cukup terbuka lebar di Indonesia. Bahkan, banyak orangtua yang sudah bekerja keras, keluarga mereka tetap hidup miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ruang Publik &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat, ruang komunikasi para remaja Indonesia menjadi macet lantaran hilang dan menyempitnya ruang publik bagi para remaja. Pembangunan di berbagai kota besar, lebih melayani kebutuhan orang dewasa. Taman, gelanggang remaja, sarana olahraga, kian terpinggirkan, dan tergantikan dengan plasa, rumah toko, maupun tempat hiburan orang dewasa.&lt;br /&gt;Para remaja kemudian lari ke dunia maya alias internet. Nah, menurut saya, ruang ini terlalu liberal, sehingga seseorang dapat mengekspresikan dirinya sedemikian rupa. Di dunia internet, seseorang dapat menjadi apa saja. Jadi, termasuk membangun dongeng Gebi Caramel di dunia maya tersebut.&lt;br /&gt;Namun, perlukah kita membatasi dunia internet? Saya pikir tidak. Sebab liberalisasi yang diciptakan dunia internet itu juga membawa perubahan positif bagi para penggunanya. Seperti dalam menambah ilmu pengetahuan dan sahabat.&lt;br /&gt;Saya masih percaya, kegagalan ruang publik yang dibangun pemerintah yang membuat para remaja kita kehilangan ruang buat mengekspresikan diri, sehingga kemacetan itu melahirkan aksi bunuh diri atau aksi lain seperti kebohongan yang membuat kita tercengang. *** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-6856099547904881323?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/6856099547904881323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=6856099547904881323' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6856099547904881323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6856099547904881323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-dongeng-gebi.html' title='Esai Dongeng Gebi'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEz9BNj3dpI/AAAAAAAAAOc/XX1vVpjtgXU/s72-c/Eceng3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8133724378144876547</id><published>2008-06-08T22:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.405-08:00</updated><title type='text'>Esai Bola Menggelinding 7.000 Tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEzBwaBLg-I/AAAAAAAAAOM/HP4ZFlZJC1U/s1600-h/SFC1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209751906322973666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEzBwaBLg-I/AAAAAAAAAOM/HP4ZFlZJC1U/s400/SFC1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bola Menggelinding 7.000 Tahun ke Sriwijaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WONG Palembang lebih dulu mengenal sepakbola dibandingkan orang Inggris. Tapi, lantaran tidak ada tanah kering yang luas, baru 12 abad sejak ibu kota kerajaan Sriwijaya ini berdiri sepakbola dimainkan wong Palembang.&lt;br /&gt;Pernyataan bernada humor ini saya sampaikan kepada seorang kawan, yang menyatakan wong Palembang baru mengenal sepakbola, bila dibandingkan dengan masyarakat lain di Indonesia, seperti Medan, Surabaya, Makasar, maupun Jakarta. Dalilnya, tidak banyak pemain sepakbola buat tim nasional Indonesia yang berasal dari Palembang.&lt;br /&gt;Fakta minimnya pemain sepakbola tim nasional Indonesia dari Palembang, dapat dibenarkan. Tetapi, soal masyarakat Palembang baru mengenal olahraga ini, saya tidak setuju. Bahkan, saya berasumsi puyang atau nenek moyang wong Palembang lebih dulu mengenal sepakbola dibandingkan orang Inggris. Lo?&lt;br /&gt;Dasar asumsi ini lantaran hubungan masyarakat Palembang dengan bangsa Tiongkok, jauh lebih dahulu dibandingkan dengan orang Inggris. Hubungan bangsa Tiongkok dengan masyarakat Palembang—bahkan sebagian berasal dari Tiongkok—sejak berdiri kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.&lt;br /&gt;Lalu, apa hubungannya sepakbola dengan bangsa Tiongkok?&lt;br /&gt;Menurut seorang kawan, tanpa identitas, yang menulis sejarah sepakbola, yang mana artikelnya itu gentayangan selama dua tahun ini di dunia maya alias internet, sepakbola berasal dari Tiongkok. Bukan dari Inggris atau India, seperti yang diyakini selama ini.&lt;br /&gt;Setelah melakukan verifikasi dengan data dari sumber lain, saya mempercayai penelusurannya itu. Jadi, sangatlah tidak benar bila sporter Inggris, saat Piala Eropa 1996 lalu, menulis pada sebuah spanduk besar: Sepakbola kembali ke tanah luluhurnya. Sporter Inggris tampaknya mengukur sejarah sepakbola dari berdirinya Asosiasi Sepakbola (FA) Inggris yang baru berusia dua abad, yang merupakan organisasi sepakbola tertua di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA tanggal 20 Mei 2004, saat merayakan ulangtahunnya ke-100, organisasi sepakbola international (FIFA), secara resmi mengakui sepakbola berasal dari Tiongkok, bukan dari Inggris atau India yang selama ini diyakini banyak orang.&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian sejarah, sepakbola berkembang atau telah dimainkan bangsa Tiongkok, lebih kurang 7.000 tahun lalu. Buktinya, sebuah manuskrip dari masa Dinasti Tsin (255-206 sebelum Masehi) menceritakan soal sepakbola. Diceritakan sepakbola adalah permainan rakyat dan bangsawan, sejak 5.000 tahun sebelumnya. Pada masa Tsin sendiri, permainan yang disebut Tsu chu yang berarti “menendang bola”, digunakan buat melatih fisik para prajurit kerajaan.&lt;br /&gt;Menurut penulis Tiongkok, Li You (55-135), Tsu chu dimainkan 12 orang, atau setiap tim terdiri 6 orang. Mereka berlomba memasukkan bola ke lubang jaring yang diameternya berkisar 40 centimeter. Jaring itu diletakan di atas tiang setinggi 10,5 meter di tengah lapangan. Lapangan itu sendiri dikelilingi tembok. Bola terbuat dari kulit binatang berisi rambut atau bulu. Dalam bermain Tsu chu, para pemain menggunakan ilmu bela diri kung fu. Aturannya, bola tidak boleh disentuh dengan tangan, dan pemenangnya adalah tim yang banyak memasukkan bola ke jaring. Saat itu sudah ada yang berfungsi sebagai wasit, yang mengatur permainan dan mencatat skor.&lt;br /&gt;Filosofis Tsu chu; bola menyimbolkan bulan yang bernilai sakral, tim yang bertanding melambangkan Yin dan Yan, dan, angka 12 menunjukkan jumlah bulan dalam penanggalan Tiongkok. Pada 1465-1509, Tsu chu juga dimainkan para perempuan.&lt;br /&gt;Berdasarkan legenda di masyarakat Tiongkok yang berkembang hingga hari ini, para raja atau kaisar selain membuat lapangan Tsu chu, memerintahkan sekolah atau lembaga pendidikan diwajibkan mengajarkan olahraga ini. Bahkan pada masa Dinasti Han (206 sebelum Masehi hingga 200 setelah Masehi) ada pertandingan antara tim Tsu chu Tiongkok melawan tim Jepang di Kyoto. Orang Jepang sendiri mengenal olahraga ini setelah dibawa para pedagang atau siswa yang belajar ke Tiongkok. Bedanya, di Jepang olahraga ini disebut Kemari. Pemainnya minimal 2 orang dan maksimal 12 orang. Gawangnya berupa jaring yang diletakkan pada dua tiang. Artinya, tiap tim menjaga jaringnya. Tapi, sama seperti Tsu chu, para pemain dilarang bersikap kasar atau melukai lawan.&lt;br /&gt;Dari Jepang dan Tiongkok ini diperkirakan Marcopolo mengenal olahraga tersebut, dan kemudian membawa atau memperkenalkannya ke Eropa. Meskipun sebagian peneliti meragukan perkiraan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPAKBOLA tradisional di Eropa berkembang sebagai olahraga barbar. Ini berbeda yang berkembang di Tiongkok dan Jepang.&lt;br /&gt;Bangsa Eropa mengenal permainan bola pada 800 tahun sebelum Masehi. Tepatnya bermula di Yunani, yang disebut Episkyro dan Harpastron. Bangsa Romawi yang menyerang Yunani tahun 146 sebelum Masehi, diperkirakan membawa permainan tersebut ke negerinya. Kebetulan, Kaisar Romawi saat itu Julius Caesar sangat menyukai Harpastron. Sama seperti di Tiongkok, mereka menggunakannya sebagai olahraga melatih fisik para prajurit atau tentara. Pemainnya ratusan orang. Dan, bentrok fisik sering berlangsung, sehingga tampak seperti kerusuhan massal. Tidaklah heran, pemikir Romawi saat itu, Horatius Flaccus dan Virgilius Maro, menyebut Harpastron sebagai olahraga biadab. Selanjutnya, olahraga ini dilarang di Romawi. Pelarangan terus berlangsung di Romawi dan daratan Eropa lainnya.&lt;br /&gt;Hal yang sama berlangsung di Inggris, yang mengenal permainan bola sejak abad ke-8 Masehi. Permainan ini dilakukan di lapangan luas, atau sebuah jalan yang panjangnya mencapai 4 kilometer. Pemainnya ratusan orang. Bolanya adalah tengkorak kepala manusia. Caranya berebut bola tanpa aturan atau dengan segala cara. Akibatnya, setiap kali pertandingan digelar, puluhan hingga ratusan orang tewas. Yang selamat, dipastikan mengalami cidera atau luka-luka.&lt;br /&gt;Dampaknya, raja Inggris, Edward II pada tahun 1344 Masehi, mengeluarkan titah yang isinya melarang rakyatnya bermain olahraga itu, terkhusus bagi kalangan keluarga istana atau bangsawan. Menurut Edward II, sepakbola adalah permainan setan yang dibenci Tuhan. Siapa saja yang kedapatan bermain sepakbola akan dihukum mati atau kurungan. Larangan ini berlangsung hingga Ratu Elizabeth I (1533-1608) berkuasa.&lt;br /&gt;Gereja-gereja di Inggris turut terpengaruh dengan sikap para raja ini. Mereka turut mengutuk atau mengkampanyekan pelarangan sepakbola. Seorang pemikir dan puritan di Inggris, Philip Stubbes, merupakan tokoh yang paling getol mengkampanyekan pelarangan sepakbola. Tahun 1583, dia menulis buku The Anatomie of Abuses, dan menuliskan, “Ratusan orang mati dalam satu pertandingan ini (sepakbola).”&lt;br /&gt;Sejarah yang sama berlangsung di Prancis. Permainan yang disebut Soule itu akhirnya dilarang Raja Felipe V pada 1319 Masehi, dan dilanjutkan para raja sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMENTARA di Amerika Tengah, permainan bola telah dikenal suku Indian sejak ratusan tahun lalu. Pada suku Astek, permainan bola merupakan gabungan dari permainan basket, voli, dan sepakbola.&lt;br /&gt;Pada suku Indian, sepakbola lebih tepat disebut sebagai perang antarsuku, yang digelar di lapangan sangat luas, dalam waktu berhari-hari, jika skor terus imbang. Artinya, setiap pertandingan, harus ada pemenang. Setiap tim, pemainnya mencapai 500 orang. Dan, dapat dibayangkan, setiap akhir pertandingan, banyak pemain yang mengalami cidera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGENAI sepakbola modern, kita harus mengakui Eropa. Permainan sepakbola modern dan tertib yang dikembangkan Eropa, kini berkembang di pelosok dunia, atau yang resmi disebut sepakbola. Meskipun awalnya, di Tiongkok, olahraga ini tertib dan damai, tidak seperti di Eropa yang biadab.&lt;br /&gt;Adalah Giovani Bardi dari Italia, yang menulis mengenai aturan permainan sepakbola yang di Italia disebut Calcio pada tahun 1580. Setahun kemudian, 1581, Richard Mulcaster di Inggris melakukan hal yang sama. Pendidik atau kepala sekolah Merchant Taylor’s dan St. Paul ini menyerukan adanya pembatasan pemain dan wasit dalam sepakbola. Dia pun menolak unsur kekerasan dalam sepakbola. Dia menyarankan sepakbola dimainkan perempuan dan anak-anak. Semua seruannya itu termuat dalam buku miliknya yang berjudul Position Where in Those Primitive Circumstones be Examined.&lt;br /&gt;Seruan kedua tokoh ini tidak mendapat sambutan yang luas. Baru, dua abad kemudian, Joseph Strutt, melalui bukunya The Sports and Pastimes of The People England, menyarankan sepakbola dimainkan oleh dua tim yang jumlahnya sama. Lalu, kedua tim harus berebut bola untuk memasukkannya ke gawang lawan yang terpisah, dengan jarak lapangan berkisar 70-90 meter.&lt;br /&gt;Dalam World Soccer (1992), Guy Oliver menulis peraturan dan permainan Tsu Chu maupun Kemari merupakan sumber ilham sepakbola modern. Sementara Mulcaster dijuluki sebagai “pembela sepakbola paling gigih dari abad 16”. Konsep Strutt dijadikan pijakan peraturan sepakbola modern. Pijakan ini mendasari lahirnya Football Association (FA) di Inggris pada 26 Oktober 1863, yang merupakan organisasi sepakbola tertua di dunia. Awalnya FA mengatur pemain sepakbola setiap tim sebanyak 15-21 orang. Tahun 1870, mereka memutuskan dengan 11 pemain setiap tim. Sepuluh tahun kemudian, 1880, diciptakan seorang penjaga gawang.&lt;br /&gt;FA juga memutuskan adanya wasit dalam setiap pertandingan, dan mematok luas lapangan, serta bola terbuat dari kulit binatang yang diisi angin.&lt;br /&gt;Istilah Soccer dari lahir dari FA. Charles Wreford Brown, mahasiswa Universitas Oxford, tidak sengaja menyebut “Soccer” ketika menjawab pertanyaan apakah dia seorang pemain rugby (rugger). “No, I’am soccer,” katanya.&lt;br /&gt;Sedangkan kata football, lahir dari kebencian atas permainan tersebut. Para raja di Inggris pada abad ke-17, menyebut permainan tersebut sebagai fute-ball. Lalu, sastrawan Inggris, William Shakespeare, mempopulerkan istilah ini buat mengejek seseorang dalam naskah dramanya.&lt;br /&gt;Drama King Lear, seorang tokoh mengejek tokoh lain yang dinilainya dungu dengan kalimat, “Foorball player.” Begitupun dalam naskah Comedy and Errors yang ditulis Shakespeare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI hasil dari kebudayaan massal, banyak intelektual atau pemikir membahas sepakbola. Misalnya Vicktor Matheson dari Departemen Ekonomi William College, Inggris, tahun 2003, menyebutkan, klub-klub sepakbola di Eropa dan Amerika Latin, telah menyumbangkan pertumbuhan ekonomi pada negaranya. Setiap klub, berputar uang triliun rupiah, dan setidaknya memberikan pekerjaan buat 3.000 orang.&lt;br /&gt;Filsuf sekelas Albert Camus, yang pernah menjadi kiper, berkata, dirinya berutang banyak pada sepakbola karena olahraga ini mempertontonkan soal moral dan tanggungjawab. Filsuf lainnya, seperti Claude Levi-Strauss dan Gramsci juga menulis kajian filsafat mengenai sepakbola.&lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia, pemikir yang sering menulis sepakbola adalah Abdurachman Wahid atau Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden Indonesia. Bahkan, kabarnya, dengan kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, dia masih menyempatkan diri mengikuti pertandingan sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;MELALUI sejarah panjang di atas, tidaklah heran pada dasawarsa 20 tahun terakhir, sepakbola memiliki peranan penting dalam perjalanan kebudayaan dunia. Sepakbola bukan menjadi simbol kebiadaban, tetapi kembali menjadi tanda kesehatan dan kedamaian seperti kelahirannya di Tiongkok.&lt;br /&gt;Pemain, pelatih, maupun pemilik, merasakan dampak positif dari sepakbola. Bahkan, sepakbola dapat memengaruhi eksistensi sebuah negara dalam pergaulan international. Tidak heran, bila banyak pemikir dunia meletakkan sepakbola sebagai ideologi baru, yang mampu menyatukan berbagai etnis maupun bangsa, dengan perbedaan latar belakang sosialnya.&lt;br /&gt;Negara-negara yang sudah merasakan dampak politik dan ekonomi dari sepakbola, selain negara-negara di Eropa, seperti Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, atau Prancis, juga negara-negara miskin di Afrika maupun Amerika Latin. Menjadi pemain sepakbola professional, merupakan peluang yang realitis bagi anak-anak Afrika atau Amerika Latin yang miskin buat memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Sementara pemerintah, memanfaatkannya buat mempromosikan sumber daya alam atau kekayaan negaranya buat menarik wisatawan maupun investor.&lt;br /&gt;Mungkin kita tidak akan tahu keberadaan negara seperti Pantai Gading atau Ghana, bila kita tidak mengenal pemain seperti Didier Drogba atau Michel Essien.&lt;br /&gt;Di Eropa, seorang politikus atau pebisnis yang memiliki kedekatan dengan sebuah klub sepakbola yang prestasinya menonjol, baik sebagai pemilik maupun pendukung, lebih gampang melejitkan karier politik atau bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBETULNYA perkembangan sepakbola modern di Indonesia, tidak terlalu jauh dengan perkembangannya di Eropa dan Amerika. Bila dibandingkan dengan sejumlah negara di Afrika atau Asia, mungkin jauh lebih tua. Buktinya, organisasi sepakbola Indonesia yakni Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Organisasi yang didirikan dengan semangat politik, sebagai alat membangun rasa nasionalisme bagi pemuda Indonesia, didirikan seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo.&lt;br /&gt;PSSI menjadi anggota FIFA pada 1 November 1952 pada saat kongres FIFA di Helsinki, Finlandia. Lalu, tahun itu pula PSSI menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation). Selanjutnya menjadi pelopor pembentukan AFF (Asean Football Federation).&lt;br /&gt;Menariknya, PSSI adalah satu – satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara setelah 8 tahun negara Indonesia berdiri. Yakni berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, No 18.&lt;br /&gt;Prestasi terbaik sepakbola Indonesia, justru pada saat PSSI berada saat Indonesia belum berdiri. Meskipun tidak disetujui Soeratin, sebanyak 9 pemain binaan PSSI dikirim mengikuti Piala Dunia 1938 atas nama Dutch East Indies, pemain lainnya adalah orang Belanda di Indonesia. Soeratin tidak setuju lantaran menolak mengibarkan bendera Belanda.&lt;br /&gt;Di era 1960-an, sepakbola Indonesia cukup disegani di tingkat international. Timnas Uni Soviet ditahan 0-0 saat bertanding di Stadion Gelora Bung Karno. Era kejayaan Indonesia di masa Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro, dan terakhir era Ronny Pattinasarani.&lt;br /&gt;Kini, prestasi sepakbola Indonesia seperti terjun bebas. Indonesia yang sebelumnya mampu menghempaskan Jepang, Korea, Arab Saudi, akhirnya tak berdaya dengan tim nasional dari negara-negara tersebut, yang kemudian menjadi langganan Piala Dunia. Bahkan, Indonesia cukup sulit mengalahkan tim nasional sekelas Vietnam, Thailand, maupun Malaysia.&lt;br /&gt;Di tengah prestasi sepakbola nasional yang anjlok, di Indonesia pupolaritas sepakbola justru naik dibandingkan olahraga lainnya. Globalisasi siaran liga sepakbola yang digelar negara-negara di Eropa, seperti Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, membuat para pemain sepakbola, dari era Klismann, Platini, Bechkam, Ronaldo, Kaka, hingga Ronney, mendapatkan fans-nya di Indonesia.&lt;br /&gt;Banyak orang bermimpi Indonesia memiliki tim nasional yang tangguh, dan dapat berbicara di level international. Liga sepakbola pun disemarakkan, termasuk berbagai turnamen, yang melibatkan banyak klub di Indonesia. Agar dapat merangsang kemampuan para pemain nasional, didatangkan para pemain asing, yang kualitasnya di atas rata-rata pemain Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di tengah euphoria sepakbola ini, sangatlah wajar apabila sejumlah pemerintah daerah menciptakan sebuah tim sepakbola. Harapan mereka, tentunya tim yang mereka bentuk dapat merangsang prestasi tim nasional, selain itu memberikan kebanggaan bagi masyarakatnya, sehingga lahir semangat juang untuk mendorong pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;Pemerintah Sumatra Selatan di bawah kepemimpinan Syahrial Oesman, tampaknya peduli dengan persoalan ini. Tahun 2004, Syahrial Oesman, mengakusisi sebuah klub yang prestasinya menurun di Liga Indonesia dan mengalami krisis keuangan, yakni Persijatim Solo. Pemerintah Sumatra Selatan membelinya sebesar Rp6 miliar. Tahun 2005, Persijatim Sriwijaya FC, nyaris melorot dari divisi utama. Tapi, tahun 2006, setelah namanya menjadi Sriwijaya FC, prestasinya menjanjikan, masuk 10 besar. Lalu, memasuki tahun ketiga, 2007, Sriwijaya FC langsung melejit, yakni meraih juara Piala Copa Dji Sam Soe dan Liga Indonesia. Sebuah prestasi yang belum pernah diraih semua tim yang ada di Indonesia!&lt;br /&gt;Prestasi Sriwijaya FC tersebut merupakan prestasi yang kali pertama dirasakan masyarakat Sumatra Selatan dalam sepakbola. Sebelumnya di Palembang pernah bercongkol klub Kramayudha Tiga Berlian. Tapi, mungkin klub ini saat pindah markas ke Palembang, prestasinya sudah menonjol, sehingga antusias masyarakat tidak sebesar terhadap Sriwijaya FC. Tepatnya, proses prestasi Sriwijaya berjalan bersama masyarakat Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;Lalu, banyak orang mencibir prestasi Sriwijaya FC. Misalnya menyebut Sriwijaya FC tidak akan berprestasi sehebat itu kalau tidak ada pemain asing. Cibiran ini menurut saya tidak muncul, bila mereka mengenal sejarah klub-klub besar di dunia, khususnya di Eropa. Para pemain asing dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia, kini betaburan di klub-klub besar di Eropa, seperti Liverpool, AC Milan, Bayern Munchen, Real Madrid, atau Arsenal.&lt;br /&gt;Belum lagi kalau melihat sejarah, bangsa Indonesia ini merupakan kumpulan berbagai etnis atau bangsa yang ada di Asia maupun belahan dunia lainnya. Tidak ada yang asli Indonesia. Mungkin, yang dimaksud para pengkritik itu adalah para pemain yang ber-KTP (Kartu Tanda Penduduk) Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;Di sisi lain, saat ini berbagai bangsa di dunia, seakan sepakat sepakbola merupakan wadah komunikasi antarbangsa. Sehingga sepakbola yang sebelumnya merupakan olahraga barbar menjadi olahraga pemersatu, penyebar persaudaraan dan perdamaian. Kalau terus dihembuskan pemain asing dan nonasing, saya khawatir sepakbola di Sumatra Selatan akan menghidupkan kelompok ultranasionalis seperti Neo-Nazi yang menyusupi sporter sepakbola di Jerman. Memang, sebuah klub harus melahirkan para pemain lokal yang andal, sebagai kebutuhan daerah maupun nasional. Namun, tampaknya tuntutan terhadap Sriwijaya FC masih terlalu dini. Bila klub ini telah berusia 5 tahun, mungkin tuntutan itu sudah pantas diajukan.&lt;br /&gt;Terakhir, meskipun belum ditemukannya catatan mengenai olahraga Tsu chu yang dimainkan masyarakat Palembang, saya berspekulasi bangsa Tiongkok telah memperkenalkan olahraga tersebut pada masyarakat Palembang, ketika kerajaan Sriwijaya menjadi tujuan utama bangsa Tiongkok ke kawasan selatan Asia. Bila permainan sepak takraw dijadikan cikal sepakbola, tampaknya masyarakat Palembang—baca Melayu—telah mengenal lama sepakbola.&lt;br /&gt;DI balik uraian di atas, saya mendapatkan sesuatu yang unik dari prestasi Sriwijaya FC. Yang mana, semua prestasinya memberikan tanda angka 3.&lt;br /&gt;Memasuki usia 3 tahun atau 63 tahun berdirinya Republik Indonesia, Sriwijaya FC meraih Piala Copa Dji Sam Soe ke-3. Lalu, Ketua Umum Sriwijaya FC yakni Syahrial Oesman merupakan gubernur Sumatra Selatan ke-13, sementara Sriwijaya FC meraih juara Liga Indonesia ke-13. Syahrial Oesman sendiri berumur 53 tahun.&lt;br /&gt;Keberhasilan Sriwijaya FC meraih Piala Liga Indonesia dan Piala Copa Dji Sam Soe melahirkan 3 kejutan. Pertama, Sriwijaya FC merupakan klub pertama yang mampu menggabungkan dua piala bergengsi di Indonesia itu. Kedua, pelatih Rahmad Darmawan, merupakan pelatih pertama yang merasakan nikmatnya Piala Liga Indonesia dari klub yang berbeda, yakni Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC. Ketiga, Zah Rahan menjadi pemain asing pertama yang menerima penghargaan sebagai pemain terbaik Liga Indonesia.&lt;br /&gt;Dan, saat mengikuti Liga Indonesia tahun 2005, di Sumatra Selatan masih terdiri 13 kabupaten dan kota. Lebih jauhnya, prestasi Sriwijaya FC menandai umur peradaban dunia yang memasuki milenia ke-3 atau 13 abad setelah kelahiran kerajaan Sriwijaya.&lt;br /&gt;Misteri angka 3 itu, menurut saya sebuah pertanda baik bagi masyarakat Sumatra Selatan. Sama seperti bangsa Eropa yang kali pertama memasuki era kebangkitan, yakni masa revolusi industri, sejalan dengan perkembangan dan prestasi sepakbolanya.&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin, Sriwijaya FC mendorong sepakbola sebagai peyumbang pertumbuhan ekonomi bagi Sumatra Selatan, seperti halnya klub-klub sepakbola di Eropa dan Amerika Latin. Selain itu, sebagai penanda semangat dan kepercayaan diri masyarakat Sumatra Selatan dalam membangun daerah yang kaya dengan sumber energi dan pangan ini. Target utamanya, menjadikan Sumatra Selatan sebagai lumbung pesepakbola andal. [*] &lt;em&gt;Dimuat majalah kebudayaan Musi Terus Mengalir, edisi April 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8133724378144876547?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8133724378144876547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8133724378144876547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8133724378144876547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8133724378144876547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-bola-menggelinding-7000-tahun.html' title='Esai Bola Menggelinding 7.000 Tahun'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEzBwaBLg-I/AAAAAAAAAOM/HP4ZFlZJC1U/s72-c/SFC1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-2576594821276165640</id><published>2008-06-08T08:45:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.542-08:00</updated><title type='text'>Narasi Manipulasi Tanah Lahat</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEv_LchKLAI/AAAAAAAAANw/ONz253qmfJ4/s1600-h/Lahat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209537966083025922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEv_LchKLAI/AAAAAAAAANw/ONz253qmfJ4/s400/Lahat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Sambil Latihan Tempur, Yon Zipur Pun Menggusur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;PERUSAHAN perkebunan kelapa sawit PT Artha Prigel (PT AP)termasuk salah satu perusahaan yang menyebabkan sedikitnya munculnya 140kasus pertanahan di Sumatera Selatan (Sumsel). Setidaknya itu yang ada dalamdata Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang.&lt;br /&gt;Bermodalkan dua surat dari Gubernur Sumsel Ramli Hasan Basri (dua periode:1988-1993 dan 1993-1998), bertanggal 2 Juni 1993 tentang izin pencadanganlahan dan 24 Juni 1993 tentang izin lokasi, perusahaan yang termasuk dalamResat Salim Aceh Group itu mendapatkan lahan seluas 5 ribu hektare.Akibatnya, lahan seluas 1.735 hektare milik 700 kepala keluarga (KK) di DesaTalangakar, Karangendah, Pagarbatu, Talang Sejemput, Padanglengkuas, dan Pulaupinang--semuanya ada di Kabupaten Lahat--digusur begitu saja tanpaterlebih dahulu bermusyawarah dengan para petani.&lt;br /&gt;Padahal, berdasarkan surat dari Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Sumsel Djulkif Siregar, 20 September 1993, penggusuran itu hanya diperbolehkanuntuk tanah negara dan berupa alang-alang dan semak belukar. Bila ada lahanpetani di lokasi konsesi, harus dilakukan inclave jika mereka menolakdigusur. Penggusuran yang dilakukan sejak awal Desember 1994 itu tentu sajamendapat reaksi dari para petani. Mereka melakukan, misalnya, penghadangandatangnya buldoser ke lahan mereka. Namun, usaha mereka sia-sia lantaranratusan anggota ABRI dari Batalyon Zeni Tempur 12 Komando Daerah Militer(Yon Zipur 12 Kodam) II Sriwijaya melakukan latihan militer di lokasi lahanyang akan digusur. Selain itu, buldoser-buldoser merobohkan ribuan pohonkaret, kopi, dan tanaman produktifnya lainnya, dan itu dilakukan pada malamhari, pada saat petani beristirahat di rumah.&lt;br /&gt;Karena tidak tahu harus mengadu ke mana, para petani akhirnya diam saja. Duabulan kemudian, saat buldoser-buldoser itu turut menggusur makam puyang(nenek moyang), para petani di enam desa tersebut tak dapat lagi menahanemosi. Mereka protes dan menghadang lajunya buldoser-buldoser. Mereka jugamenduduki base camp perusahaan dan berhadapan dengan ratusan aparat militerdan polisi.&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah (Pemda) Lahat akhirnya turun tangan. Bupati Lahat Solichin Daud (1993-1998) mengeluarkan surat kepada Artha Prigel, yang isinyamemerintahkan agar pihak perusahaan itu meng-inclave areal persawahan,menginventerasisasi tanam tumbuh, dan meng-inclave makam atau perkuburanpuyang.&lt;br /&gt;Surat itu memang kemudian mampu meredam emosi para petani. Hanya sebatasitu. Nyatanya, hingga saat ini perusahaan tersebut tidak mengindahkan satupun dari tiga perintah Bupati. Sayangnya, Bupati Daud pun tidak bereaksihingga masa jabatannya habis, November 1998.&lt;br /&gt;Kecuali tuntutan petani agak mereda, setelah turun surat itu, perusahaanbersangkutan hanya memberikan uang yang disebutkan sebagai ganti rugi kepadapara petani dengan perhitungan setiap hektare lahan dihargai Rp75 ribu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Isu Kristenisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keadaan itu tak berlangsung lama. Para petani kembali menuntut agarlahan adat yang telah mereka kelola selama puluhan tahun itu dikembalikanlagi. "Tanah adat itu tidak dapat dinilai dengan uang sebesar apa pun. Kamihanya ingin tanah itu dikembalikan," kata Kepala Desa (Kades) Padanglengkuas, Achmad Rifai Ya'cub, 28 Desember 1998.&lt;br /&gt;Pada 15 Desember, ratusan warga menduduki base camp PT AP. Massa yang sudahmembawa berbagai senjata tajam itu kembali dihadapkan dengan ratusan aparatmiliter dan polisi yang menjaga infrastruktur perusahaan.&lt;br /&gt;Keputusan pun diambil. Mereka berunding dengan pihak perusahaan, disaksikanBupati Lahat (yang baru) Harunata, 21 Desember 1998, di Pemda Lahat. PT APyang dipimpin Uuh Subhi Sidiek itu tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Tuntutan para petani agar lahan mereka dikembalikan dijawab oleh EstateManager (EM) PT AP, Kiswan Prihanto, dengan tiga jawaban, yakni pertama,perusahaan tidak mungkin menambah ganti rugi; kedua, para petani akandijadikan plasma apabila lahan yang masih mereka miliki diserahkan kepadaperusahaan; dan ketiga, lahan yang sudah ditanami kelapa sawit tidak mungkindiberikan kepada petani karena sudah menjadi kebun inti.&lt;br /&gt;Selain Bupati Lahat, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lahat,Muhammad Sohid, dan Kepala Badan Pertanahan Negara (BPN) Lahat, Tajuddin,dan para petani tetap kecewa. Sekian jam setelah pertemuan itu, ratusanwarga lantas mendatangi base camp perusahaan. Mereka lalu membakar meskaryawan berpintu tujuh dan merusak ratusan bibit kelapa sawit yang siapditanam. Sekian jam kemudian karyawan dan para pimpinan lapangan perusahaanminggat ke Jambi. Sepekan kemudian, kuasa hukum perusahaan Amin Kias, S.H.,dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lahat--tak ada kaitannya dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)--mengumumkan kerugian perusahaan sebesar Rp250 juta.&lt;br /&gt;Aksi yang dikatakan oleh Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Lahat Letkol(Pol) Tamanihe Pontolumiu sebagai aksi spontan ini justru dikatakan olehKades Padanglengkuas, Achmad Rifai Ya'cub, sebagai aksi yang terkesandirekayasa oleh pihak tertentu. "Ada orang-orang yang memprovokasi warga.Apalagi, sebelum peristiwa para karyawan telah mengemasi barang-barangnya dibase camp," kata Ya’cub yang tidak dapat mengindentifikasi orang yangmemprovokasi aksi pembakaran itu.&lt;br /&gt;Sebab, setelah peristiwa itu, tanda positif perundingan warga denganperusahaan malah kian menjauh. Bupati Lahat saat dihubungi hanya menjawabakan membuat tim untuk melakukan penelitian soal ini. "Kami akan membentuktim yang akan turun ke lapangan," katanya pada 31 Desember 1998. Sedangkankuasa hukum Kias akan melakukan tuntutan hukum terhadap para petani atasperistiwa tersebut. "Setelah saya bertemu dengan Pak Uuh, diputuskan PTArtha Prigel akan menuntut mereka yang telah membakar dan merusak basecamp," katanya.&lt;br /&gt;Pernyataan kuasa hukum perusahaan itu ditanggapi LBH Palembang. "Itupernyataan ngaco. Sebelum mereka menuntut rakyat, terlebih dahulu merekadibawa ke muka hukum karena pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukanterhadap petani," kata Nurkholis, S.H., dari LBH Palembang. "Kami akanmendampingi para petani dari ancaman itu," sambungnya.&lt;br /&gt;Kini, penghasilan para petani itu anjlok atau sama sekali hilang.Penghasilan puluhan juta setiap tahun dari berkebun kopi, karet, sertatanaman produktif lainnya seperti durian, jengkol, cempedak, jadi lenyap.Yang diberikan perusahaan kepada mereka kemudian adalah pekerjaan sebagaiburuh di perkebunan kelapa sawitnya dengan gaji Rp5.800 per hari, tanpamakan dan ongkos.&lt;br /&gt;Selain itu, akibat pihak perusahaan menabur racun babi di lokasi perkebunandan tidak memasang pagar sebagai batas kebun, puluhan ekor sapi peliharaanpara petani mati keracunan. "Saat kami laporkan kematian sapi-sapi itu,pihak perusahaan diam saja," kata Zainal Abidin, warga Pagarbatu.&lt;br /&gt;Saat memberikan ganti rugi terhadap para petani pun mereka memalsu tandatangan petani. "Masa warga saya yang buta huruf dapat membuat dua tandatangan?" tanya Ya’cub. Dan jumlah petani yanag diganti rugi pun terhitungfiktif. "Bahkan ada karyawan perusahaan yang disebutkan sebagai warga desakami. Makanya, saya menolak menandatangani laporan mereka," kata Ya’cublagi. Kias kembali membantah. Menurutnya, keterangan kades itu mengada-ada.&lt;br /&gt;Nasib Nurdiana, S.H., warga Lahat yang ditunjuk sejumlah petani untukmemperjuangkan haknya, sangat tragis. Perempuan ini menjadi korban darikonflik yang kemudian muncul di antara sesama petani. Nurdiana, yangberagama Nasrani, agama minoritas di Lahat, diisukan akan melakukankritenisasi terhadap para petani yang haknya ia perjuangkan. Akibatnya,beberapa petani yang termakan isu tersebut, pada pertengahan 1996,mengeroyok Nurdiana. Mereka memukulinya hingga tulang pinggangnya retak.&lt;br /&gt;Ada yang menduga, pengeroyokan terhadap Nurdiana ini adalah bagian darirekayasa perusahaan. "Saya juga diisukan memotong uang yang diberikanperusahaan kepada warga," kata Ya’cub lagi. Kias membantah bahwa isutersebut sengaja diciptakan perusahaan. "Dia itu tidak normal. Agama sajatidak jelas. Jangan dipercayalah omongan dia," tukasnya.&lt;br /&gt;Langkah Nurdiana lainnya adalah juga mengirim surat pengaduan ke berbagaipihak, termasuk mengajak warga mengirim surat kepada Panglima ABRI (saatitu) Jenderal Feisal Tandjung. Akibatnya, ia dan Ya’cub sering menerimateror melalui telepon. "Jangan lagi mengirim surat ke Pangab kalau tidak maumenerima akibatnya," katanya menirukan ancaman itu. ***&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Palembang, 7 Januari 1999. Narasi ini saya tulis ketika menjadi wartawan Lampung Post, dan peserta Workshop Liputan Politik LP3Y&lt;/em&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-2576594821276165640?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/2576594821276165640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=2576594821276165640' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2576594821276165640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2576594821276165640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/narasi-manipulasi-tanah-lahat_08.html' title='Narasi Manipulasi Tanah Lahat'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEv_LchKLAI/AAAAAAAAANw/ONz253qmfJ4/s72-c/Lahat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7674994144353318391</id><published>2008-06-06T17:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.654-08:00</updated><title type='text'>Esai Gus Dur vs Munarman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEnUwKWG_sI/AAAAAAAAAM8/1bWCZ88q8Lo/s1600-h/dur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208928367906586306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEnUwKWG_sI/AAAAAAAAAM8/1bWCZ88q8Lo/s400/dur.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Leluhur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gus Dur &amp;amp; Munarman Sama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ABDURACHMAN Wahid atau Gus Dur adalah seorang ulama, cendikiawan muslim, dan politikus. Munarman adalah seorang mahasiswa yang kemudian menjadi aktifis organisasi nonpemerintah, lantas menjadi aktifis Islam fundamentalis. Sejarah yang berbeda. Tetapi, keduanya terlibat perdebatan mengenai Ahmadiyah. Yang satu membela, yang satunya mengecam. Tahukah Anda, keduanya sama-sama keturunan Putri Campa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pernyataan Gus Dur masih merupakan keturunan Putri Campa, disampaikan mantan presiden Indonesia itu beberapa waktu lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Siapa Putri Campa? Kisahnya bermula dari adipati Majapahit yang menjadi pemimpin Palembang—Palembang Lamo—yakni Ario Damar. Ario Damar mendirikan kerajaan Palembang. Adipati Ario Damar berkuasa antara tahun 1455-1486. Lantaran banyak rakyat beragama Islam, Adipati Ario Damar memeluk agama Islam. Namanya berubah menjadi Ario Abdilah atau Ario Dillah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suatu hari, Ario Dillah mendapat hadiah perempuan dari Prabu Kertabumi Brawijaya V yakni ayahnya sendiri. Perempuan itu bernama Putri Champa, muslim dan beretnis Tionghoa-Melayu, yang sebelumnya menetap di Palembang. Putri Campa diceraikan Prabu Kertabumi Brawijaya V, lantaran keluarga besar kerajaan Majapahit tidak mau ada yang beragama Islam di lingkungan kerajaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat dibawa kembali ke Palembang, Putri Champa tengah mengandung. Setelah Putri Champa melahirkan anaknya, baru Ario Dillah menjadikannya istri. Anak yang dilahirkan Putri Champa dari suaminya Prabu Kertabumi Brawijaya V adalah Raden Hasan, yang nantinya menjadi ulama dan pemimpin terkenal bernama Raden Fatah. Lalu, Putri Champa dan Ario Damar memiliki anak bernama Raden Husin atau yang dikenal sebagai Raden Kusen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Raden Hasan dan Raden Husin dibesarkan Ario Dillah dan Puteri Champa di istananya di Palembang Lamo yang dinamakan Candi Ing Laras, dengan pendidikan Islam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah Ario Dillah wafat, Palembang tidak memiliki pemimpin hingga tahun 1486. Lalu, keluarga Ario Dillah, termasuk Raden Hasan dan Raden Husin hijrah ke Jawa. Mereka ditampung Raden Rahmad atau Sunan Ampel. Di sana mereka memperdalam ajaran Islam. Sunan Ampel sendiri masih sepupu dari Cheng Ho, laksamana dari Tiongkok yang mampu membersihkan Palembang dari perompak di awal abad ke-15. Selanjutnya di Jawa, Raden Hasan menjadi ulama terkenal. Dia kemudian menjadi mantu dari Sunan Ampel, dan diberi gelar Raden Fatah oleh Sunan Ampel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada tahun 1481, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak. Dia didukung kekuatan dari berbagai daerah di Jawa, yang sebelumnya dikuasai Majapahit, seperti Tuban, Gresik, dan Jepara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada masanya, Kerajaan Demak menjadi pusat niaga di Jawa pada abad ke-15. Gelar Raden Fatah setelah memimpin Demak adalah Senapati Jimbun Ngabdu‘r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata‘Gama. Tahun 1518 Raden Fatah wafat, dan digantikan Pati-Unus atau Pangeran Sabrang Lor, putranya.Tahun 1521, Pati-Unus wafat. Tahta kekuasaan diserahkan kepada Pangeran Trenggono, adik Pati-Unus. Dia meninggal tahun 1546.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nah, setelah itu, Kerajaan Demak goyang, sebab sejumlah saudara Pangeran Trenggono dan Pati-Unus ingin berkuasa, seperti Pangeran Seda ing Lepen. Keinginan tersebut ditentang Pangeran Prawata, anak Pangeran Trenggono. Terjadi perebutan kekuasaan hingga terjadi pertumpahan darah antarkeluarga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pangeran Seda ing Lepen dibunuh Pangeran Prawata. Selanjutnya Pangeran Prawata beserta keluarganya dibunuh anak Pangeran Seda ing Lepen yang bernama Arya Penangsang atau Arya Jipang. Lalu, menantu Raden Trenggono, bernama Pangeran Kalinyamat dari Jepara juga dibunuh. Pertumpahan darah terus berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tahun 1549, Arya Penangsang dibunuh Adiwijaya atau Jaka Tingkir, menantu Pangeran Trenggono, yang saat itu sebagai Adipati Kerajaan Pajang. Selanjutnya, Jaka Tingkir memindahkan Keraton Demak ke Pajang. Berakhirlah Kerajaan Demak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sewaktu Kerajaan Pajang menyerang Demak, sekitar 24 keluarga Raden Fatah lari ke daerah Timur pulau Jawa.Nah, sebagian keluarga Raden Fatah ini bertahan di Jawa. Keluarga yang bertahan ini yang kemudian melahirkan leluhur Gus Dur. Sementara yang lari ke Palembang, dipimpin Ki Gede Sedo ing Lautan, merupakan leluhur Munarman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;adi, sebenarnya dasar ilmu ke-Islam-an yang dimiliki Gus Dur dan Munarman sebenarnya sama. Sama-sama dari satu puyang—nenek moyang--yakni Raden Fatah. Lalu, mengapa mereka berbeda dalam memandang Ahmadiyah? Mungkin terlalu naif mempertanyakan ini dengan kesamaan luluhur itu. Tetapi, kesamaan ini bisa saja menjadi awal sebuah dialog sehingga konflik mengenai Ahmadiyah ini tidak memicu perpecahan pada umat Islam. ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7674994144353318391?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7674994144353318391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7674994144353318391' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7674994144353318391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7674994144353318391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-gus-dur-vs-munarman_7337.html' title='Esai Gus Dur vs Munarman'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEnUwKWG_sI/AAAAAAAAAM8/1bWCZ88q8Lo/s72-c/dur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5591340020810972098</id><published>2008-06-05T19:36:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:35.853-08:00</updated><title type='text'>Esai Mencari Sahabat Rasul</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEij6Qn9cjI/AAAAAAAAAKY/nIinNhhvLms/s1600-h/Picture+Acara+Prasasti+018.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208593190344290866" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEij6Qn9cjI/AAAAAAAAAKY/nIinNhhvLms/s400/Picture+Acara+Prasasti+018.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mencari Sahabat Rasul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapa berani berkata Sukarno tidak pernah bersalah?&lt;br /&gt;Siapa berani berkata Gandhi tidak pernah bersalah?&lt;br /&gt;Siapa berani berkata Mao Tje Tung tidak pernah bersalah?&lt;br /&gt;Pernah bersalah...&lt;br /&gt;Tapi, Nabi, Rasul tidak pernah bersalah....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian potongan pidato Bung Karno mengenai sosok Muhammad saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di awal 1960-an. Muhammad adalah sosok manusia sempurna. Manusia pilihan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengapa hari ini waktu kita lebih banyak dihabiskan membicarakan Pemilu 2009 atau calon presiden, bukan merenungkan eksistensi maupun pesan dari Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada politikus muslim berani menjawabnya. Semuanya menangis di malam Maulid Nabi. Menyesali diri. Lalu, mulut mereka sibuk memuji nama Allah dan Muhammad. Tubuh mereka melayang. Terbang. Kedua kaki yang sebelumnya “semutan” terasa lepas dari tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul-betul malam yang mengharukan. Kematian terasa begitu dekat. Harta begitu tak berarti. Korupsi begitu memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seperti mengamini pernyataan Bung Karno, 44 tahun lalu, yang mengatakan Bung Karno pernah bersalah, Gandhi pernah bersalah, sebab mereka manusia biasa. Tidak seperti Muhammad, yang merupakan manusia pilihan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI ini, seharusnya kesadaran itu terus bertahan. Seharusnya. Ternyata, para politikus itu kembali membicarakan soal Pemilu 2009 dan calon presiden. Mereka membicarakan siapa calon presiden yang cocok, dan partai politik apa yang akan menjadi lawan yang tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya apa kaitan calon presiden Indonesia dengan nabi Muhammad? Mereka menjawab “kita butuh presiden seperti sahabat rasul”. Sahabat rasul yang jujur seperti Abubakar, yang cerdas seperti Syaidina Ali, yang memakmurkan seperti Usman, yang membangun karakter seperti Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Ada yang pernah bilang, Indonesia sudah pernah dipimpin mereka yang mirip para sahabat Muhammad. Soekarno itu mirip Umar, BJ. Habibie itu mirip Syaidina Ali, Soeharto itu mirip Usman. Jadi, kita sekarang membutuhkan pemimpin seperti Abubakar. Pemimpin yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, siapakah calon presiden Indonesia yang jujur seperti Abubakar? Yang berani mengatakan Indonesia ini miskin, yang berani mengatakan dirinya pernah melakukan kesalahan, yang berani mengakui dirinya manusia biasa. Entahlah. Sebab semuanya mengatakan dirinya paling bersih, paling benar, dan paling jujur, seperti Muhammad, meskipun rasul itu selalu merasa hina di hadapan Allah. * &lt;em&gt;Dimuat Deticom, Maret 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5591340020810972098?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5591340020810972098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5591340020810972098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5591340020810972098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5591340020810972098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-mencari-sahabat-rasul.html' title='Esai Mencari Sahabat Rasul'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEij6Qn9cjI/AAAAAAAAAKY/nIinNhhvLms/s72-c/Picture+Acara+Prasasti+018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4814022113411372237</id><published>2008-06-05T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.032-08:00</updated><title type='text'>Esai Sumbu Pendek</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEfOxwn9cgI/AAAAAAAAAKA/l1y8LQhR0jI/s1600-h/DSC02318.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208358848338686466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEfOxwn9cgI/AAAAAAAAAKA/l1y8LQhR0jI/s400/DSC02318.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumbu Pendek&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SEJAK tujuh tahun lalu saya mendengar istilah ”sumbu pendek” dari sejumlah kawan-kawan di Jakarta. Artinya, gampang marah, gampang emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat memimpin Kontras di Jakarta, oleh sejumlah aktifis di Jakarta, Munarman dinilai sebagai orang yang ”bersumbu pendek” alias gampang emosi atau marah. Jadi, pernyataan itu memberi kesan bahwa Munarman adalah orang yang gampang emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munarman yang kini selaku Panglima Komando Laskar Islam, menjadi tersangka dalam kasus bentrokan di Monas, Jakarta, 1 Juni 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, jika kita mengenal watak atau karakter orang Sumatra Selatan, karakter Munarman itu biasa saja, atau karakter umumnya wong Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, saya maupun kawan-kawan Palembang lainnya, sempat dinilai kawan-kawan di Jakarta sebagai orang ”bersumbu pendek”. Lebih jauhnya, sejumlah aktor politik seperti Taufiq Kiemas pun dinilai sebagai orang ”bersumbu pendek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa gampang marah? Menurut saya, bicara dengan nada tinggi dan penuh tekanan merupakan karakter orang Sumsel dalam mengungkapkan sesuatu yang diyakininya. Hampir setiap hari, di Sumsel kita akan menemukan orang Sumsel bicara seperti itu dalam mengungkapkan sebuah keyakinan. Tidak berbisik-bisik atau mengekspresikan wajah tidak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jarang sekali ditemukan tindak kekerasan saat mereka berdebat soal keyakinan. Namun, sebagian muslim di Sumatra Selatan, akan marah besar jika Tuhan atau nabi mereka dibilang dengan kata-kata kotor. Kalaupun ditemukan tindak kekerasan dari sebuah perdebatan, sifatnya hanya satu-dua kasus. Ini sama seperti yang terjadi di bagian lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jika karakter ini dikaitkan dengan tindak kekerasan, saya pikir menjadi sebuah perdebatan yang panjang. Kita akan bingung bila banyak bapak atau ibu di Sumatra Selatan, berteriak keras-keras dan mengeluarkan kata-kata kotor terhadap anaknya yang minta dibelikan sepatu baru. Lalu, beberapa menit kemudian, si orangtua akan memberikan sejumlah uang kepada si anak yang baru dimarahi. Besoknya, kejadian itu terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sikap Munarman seperti yang tergambar dalam foto saat bentrokan di Monas? Saya pikir, bisa saja itu sikap kepedulian Munarman pada lelaki bekaos hitam itu. Kalau betul-betul marah, lelaki itu mungkin langsung dipukul Munarman, bukan ditarik kaosnya. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sejak kejadian di Monas itu, telepon genggam saya tak henti dikontak maupun dikirim SMS dari sejumlah kawan dari beberapa daerah di Indonesia. Sebagian mengomentari soal karakter Munarman yang “sumbu pendek” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, benar kata orang bijak itu, sesuatu yang baik kalau disampaikan dengan cara yang emosial mungkin ditangkap buruk. Begitupun sebaliknya. Yang jelas, karakter wong Sumsel ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia ini memang tidak satu karakter, bhinneka karakternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diketahui, meskipun watak wong Sumatra Selatan yang “sumbu pendek” itu, tapi sejak puluhan abad tidak pernah terjadi kerusuhan antaretnis atau keyakinan. Berbagai agama atau kepercayaan tumbuh dan berkembang secara damai di Sumatra Selatan. Asal mereka saling menghargai. Bila tidak, seperti meletusnya perang kolonial Belanda dengan Kesultanan Palembang Darussalam beberapa abad lalu, akibat sejumlah tentara kolonial Belanda masuk masjid Agung menggunakan sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaiamana dengan kejadian Monas? Jelas saja tindak kekerasan dalam bentuk apa pun adalah salah. Munarman selaku pimpinan massa harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Akan tetapi, perlu juga dikritisi dasar dari kekerasan itu, yakni adanya semacam pembiaran dari pemerintah adanya bentuk kekerasan tersebut. Sebab Munarman dan kawan-kawan mempesoalkan sikap pemerintah mengenai keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4814022113411372237?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4814022113411372237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4814022113411372237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4814022113411372237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4814022113411372237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-sumbu-pendek_05.html' title='Esai Sumbu Pendek'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEfOxwn9cgI/AAAAAAAAAKA/l1y8LQhR0jI/s72-c/DSC02318.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-640151474438626914</id><published>2008-06-04T07:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.210-08:00</updated><title type='text'>Esai Migrasi dari Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEai7gn9cWI/AAAAAAAAAIw/Jla0YxSouWU/s1600-h/john+lenon[1].jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208029162354078050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEai7gn9cWI/AAAAAAAAAIw/Jla0YxSouWU/s400/john%2Blenon%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Migrasi Pikiran dari Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati&lt;br /&gt;Air matanya berlinang, bak intan yang kau kenang&lt;br /&gt;Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan&lt;br /&gt;Kini, ibu sedang lara, merintih dan berdoa…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;MENGAPA kita masih bertahan di Indonesia sampai hari ini, meskipun hidup di Indonesia tidaklah bahagia. Selain miskin, penuh kecemasan, juga nyaris tidak punya jaminan masa depan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seekor binatang, apa pun jenisnya, jika tempat hidupnya tidak layak lagi, misalnya tidak tersedianya makanan yang cukup, akan melakukan migrasi atau mencari tempat baru. Saat pergi, tanpa tangis dan kesedihan di wajah mereka. Tempat yang dicari adalah tempat yang menjanjikan bagi kemakmuran hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Itulah bedanya manusia dengan binatang. Binatang hanya mengandalkan insting, sementara manusia punya emosi, akal, dan punya keyakinan terhadap Tuhan,” kata seseorang kepada saya malam ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi, bukankah beranjak dari emosi, akal, dan kepercayaan terhadap Tuhan, hidup di Indonesia justru merugikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Secara emosi, misalnya soal rasa cinta, Indonesia yang telah kita cintai sejak lahir, tidak pernah membalasnya dengan baik. Kita selalu disodorkan dengan berbagai persoalan. Mulai dari bencana alam, korupsi, kemiskinan, tindak kekerasan, hingga kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Secara akal, dengan kondisi yang ada saat ini, kira-kira apa yang akan kita dapatkan bagi diri kita untuk hari esok atau masa depan? Ketidakpastian. Dan, ironinya, kita justru terus melakukan reproduksi manusia untuk hidup di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, berdasarkan kepercayaan terhadap Tuhan, bukankah kita telah menyiksa diri sebagai makhluk. Kita membiarkan diri kita bodoh, miskin, dan terpancing untuk melakukan tindakan berdosa seperti mencuri, merampok, korupsi, menipu, melacur, dan melakukan kekerasan terhadap orang lain, istri, bahkan anak. Apakah Tuhan rela dan maklum dengan pilihan kita ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULUHAN abad lalu, nenek moyang saya tidak mampu bertahan hidup di Tiongkok dan India . Para rajanya kejam. Akibatnya nenek moyang saya lari, dan menetap di tepi sungai Musi. Di tepi sungai Musi, dia membangun rumah, mencari makan, berkeluarga, hingga meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari ini, James Taylor dari London , meninggalkan Inggris dan menjadi warga negara Indonesia . Dia tidak tahan hidup di Inggris, yang menurutnya, sudah sangat individualistik. Berbeda dengan di Indonesia yang masih menjunjung sikap kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebelumnya, Deco, seorang pemain sepakbola asal Brasil, menjadi warga negara Portugal lantaran hanya ingin bermain di tim nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUNGKINKAH kita bertahan di Indonesia ini lantaran sikap nasionalisme? Jika itu benar, makhluk apa itu nasionalisme?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Secara umum, nasionalisme itu dimengerti sebagai sikap cinta terhadap tanah air. Rasa cinta ini diwujudkan dengan sikap membela, menjaga, dan membangun bangsa dan tanah air.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Abah saya dan teman-temannya berperang melawan Jepang dan Belanda di tahun 1940-an, merupakan wujud dari rasa cintanya terhadap tanah air. Mereka tidak takut mati. Mereka korbankan harta benda. Lalu, setelah negara Republik Indonesia berdiri, dan setelah sejumlah temannya menjadi pejabat negara atau pengusaha sukses, mereka mengeluh. Bukan bersyukur. Saya menjadi ragu sikap nasionalisme yang mereka teriakan. Saya curiga, jangan-jangan mereka berperang bukan untuk kepentingan bangsa dan tanah air, tapi semata untuk meraih sesuatu yang besar seperti menjadi pejabat atau pengusaha, yang sebelumnya dirampas Jepang dan Belanda. Ini juga sama dengan mereka yang menjadi pejabat dan pengusaha, yang lupa dengan rekan-rekan seperjuangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maaf, mungkin mereka dapat diibaratkan segerombolan ikan juaro, berebut makanan bersama, tapi tidak berbagi dengan yang lain bila mendapatkan makanan. Entahlah. Saya tetap hormat dan berterimakasih dengan mereka yang mampu mengusir penjajah Jepang dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari ini, seorang teman saya, siang dan malam mencari rezeki atau berbisnis di Indonesia . Tapi, anaknya disekolahkan ke luar negeri dengan biaya yang mahal. Lalu, setiap tahun, dia dan keluarganya berlibur dengan menghamburkan uang ratusan juta rupiah di luar negeri, yang merupakan hasil bernisnis di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Kau harus bangga sebagai bangsa Indonesia . Tanah air kita ini kaya dengan sumber alamnya. Apa pun bisa ditanam, seperti kata Koes Plus itu,” kata teman saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN-JANGAN kita bertahan di Indonesia ini, lantaran kita penasaran belum mendapat giliran menjadi raja, penguasa, pengusaha, atau kita melanjutkan dendam nenek moyang kita yang pernah berjaya tapi kemudian jatuh. Sekali lagi, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Asumsi itu muncul karena hampir setiap saat kita mengeluh. Jika kita benar-benar cinta Indonesia , seharusnya kita tetap bangga dengan kemiskinan yang ada, bangga dengan kekurangan yang ada, bangga dengan ketidakpastian, bangga dengan kekacauan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Asumsi lainnya, sebenarnya kita melakukan migrasi atau pelarian. Tapi migrasi itu baru sebatas pikiran, tidak bersama jasadnya. Yang miskin dan menderita seperti saya, melakukan migrasi pikiran ke masa nenek moyangnya yang pernah hidup makmur dan jaya, atau migrasi pikiran ke negara-negara maju dan makmur seperti Eropa, Amerika, dan Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Migrasi pikiran juga dialami mereka yang sukses sebagai warga negara Indonesia . Seperti yakin lembaga pendidikan terbaik berada di Amerika Serikat, souvenir terbaik buatan Tiongkok, mobil terbaik buatan Jerman, pakaian terindah dari Italia, keju terenak dari Prancis, ulama yang baik dari Arab Saudi, pastur yang hebat dari Italia, hingga pelatih sepakbola terbaik dari negara-negara Eropa dan Amerika Latin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, saya meragukan semua rakyat Indonesia masih memiliki rasa nasionalisme. Guna membuktikannya, mari kita buat penawaran bagi rakyat Indonesia untuk memilih untuk tetap menjadi warga negara Indonesia atau tidak? Lalu, bagi yang miskin, akan diberi biaya transportasi dan biaya hidup sekian bulan di negara pilihannya, bila memutuskan pindah dari Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika itu dilakukan, kita akan mendapatkan rakyat Indonesia yang benar-benar menyintai Indonesia . Lalu, guna mendapatkan sumber daya manusia yang unggul, kita membuka peluang bagi orang Eropa, Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat, menjadi warga negara Indonesia. Bagaimana? Entahlah. [*] &lt;em&gt;Dimuat Sriwijaya Post, Berita Pagi, dan Detikcom, April 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-640151474438626914?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/640151474438626914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=640151474438626914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/640151474438626914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/640151474438626914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-migrasi-dari-indonesia.html' title='Esai Migrasi dari Indonesia'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEai7gn9cWI/AAAAAAAAAIw/Jla0YxSouWU/s72-c/john%2Blenon%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-367000553289519568</id><published>2008-06-04T06:01:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.305-08:00</updated><title type='text'>Esai Pindahkan Ibukota Palembang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaUown9cUI/AAAAAAAAAIg/X_taYbYf578/s1600-h/DSC00411.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208013447068741954" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaUown9cUI/AAAAAAAAAIg/X_taYbYf578/s400/DSC00411.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Pindahkan Ibukota ke Palembang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;BENCANA banjir yang sering melanda DKI Jakarta, yang berdampak lumpuhnya transportasi sehingga menyebabkan aktifitas pemerintahan dan bisnis terhenti atau terganggu, serta ancaman amblasnya tanah kota tersebut, membuktikan DKI Jakarta sudah tidak pantas menjadi ibukota Indonesia, sehingga ibukota negara ini harus pindah ke daerah lain. Jika sepakat, kira-kira ke mana ibukota itu dipindahkan? Saya menyarankan ke Palembang. Lo?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beberapa waktu lalu, saya menulis dalam sebuah artikel mengapa ibukota Indonesia sebaiknya pindah ke Palembang . Namun, alasan saya itu tidak menggubris para politisi yang memiliki gagasan memindahkan ibukota Indonesia ke Bogor atau ke Kalimantan , seperti di Palangkarya atau Kutai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Palembang merupakan kota tertua di Indonesia . Dia memiliki sejarah panjang dalam sejarah nusantara, yang merupakan wilayah kekuasaan Republik Indonesia . Sebagai kota tua, berumur berkisar 13 abad, Palembang telah membuktikan diri sebagai kawasan yang layak dijadikan pusat kekuasaan. Selama 8 abad, sebelum VOC dan kolonial Belanda menciptakan Jakarta, Palembang membuktikan diri sebagai kota yang paling ramai dan tersibuk di nusantara, dampak dijadikannya Palembang sebagai ibukota kerajaan Sriwijaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berdasarkan catatan sejarah, di Palembang belum pernah terjadi bencana alam yang menyebabkan kota Palembang hancur, seperti gempa bumi, gunung meletus, atau bencana banjir seperti dialami DKI Jakarta. Itu tebukti sejak kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Islam Palembang, Kesultanan Palembang Darussalam, hingga saat ini. Meskipun banjir mulai melanda Palembang dalam 10 tahun terakhir, tapi itu tidak separah yang dialami Jakarta . Banjir ini sebagai akibat dari pembangunan yang tidak memperhatikan daerah resapan air, atau terjadi penimbunan anak sungai Musi, yang dilakukan sejak kolonial Belanda pada awal abad 20.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi, yang sangat penting, sumber daya alam yang berada di sekitar Palembang sangat mendukung, baik sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan energi. Selain di wilayah Sumatra Selatan yang kaya dengan sumber energi seperti gas, minyak bumi, batubara, juga hasil hutan, perkebunan, juga melimpah. Belum lagi sumber ini didukung oleh wilayah lain yang sangat dekat Sumatra Selatan, seperti Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka-Belitung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di sisi lain, sejarah membuktikan di Palembang pembauran suku-bangsa di nusantara maupun dunia, berlangsung sejak kota itu didirikan. Bahkan, belum pernah terjadi konflik antaretnis atau suku yang cukup luas di Palembang . Banyak sekali ditemukan di Palembang , seseorang memiliki garis keturunan yang merupakan pembauran suku-bangsa. Misalnya saya yang memiliki puyang atau nenek moyang dari Tiongkok, Arab, Jawa, dan Melayu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bahkan, di daerah pinggiran Palembang, terdapat banyak dusun atau kampung yang warganya merupakan keturunan etnis dari berbagai daerah di nusantara, seperti Jawa, Bugis, Melayu, Minangkabau, hingga India, Arab, dan Tionghoa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di sisi lain, sampai saat ini berbagai komunitas kepercayaan, seperti Islam, Katolik, Hindu, Budha, Protestan, dan lainnya, hidup tenang dan damai. Tidak pernah terjadi pertentangan yang menjurus kekerasan. Gereja, pura, klenteng, masjid, berdiri dengan tenangnya, tanpa harus cemas diteror bom atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalaupun ada yang mencatat terjadinya kerusuhan massa pada Mei 1998 lalu, sebenarnya bukan konflik antaretnis, tapi reaksi kemarahan masyarakat miskin terhadap kelompok orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, mengenai penilaian Palembang merupakan daerah tidak aman atau banyak terjadi tindak kriminalitas, itu pun merupakan ekses dari posisinya sebagai kota besar di Indonesia . Artinya Palembang tidak berbeda dengan DKI Jakarta, Medan , Bandung , Surabaya , atau Makasar, yang tingkat kriminalitasnya tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG, secara geografis Palembang tidak terlalu strategis dibandingkan Palangkarya atau Kutai. Tapi, itu mungkin menjadi pertimbangan berikutnya, jika di daerah lain tidak se-pluralitas dan aman dari bencana alam seperti Palembang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya khawatir, jika ibukota dipindahkan ke Bogor , persoalan yang dihadapi DKI Jakarta, mengenai lingkungan hidup, akan kembali terjadi. Sementara di Kalimantan, yang saya cemaskan adalah proses pembauran suku-bangsa. Seperti konflik antara pendatang [Madura] dengan penduduk asli [Dayak], yang masih kuat dalam ingatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECARA infrastruktur Palembang memang tidak selengkap DKI Jakarta. Tapi, itu mungkin tinggal disentuh sedikit lagi. Palembang telah memiliki bandara international Sultan Mahmud Badaruddin II, memiliki [cikal] pelabuhan international Tanjung Api-Api, serta fasilitas publik maupun bisnis yang cukup baik, seperti hotel, sarana olahraga, pusat perbelanjaan, rumah ibadah, lembaga pendidikan, maupun wilayah atau lahan yang dapat dijadikan kawasan pengembangan kota, baik yang masuk wilayah Palembang, atau dari kabupaten terdekat seperti Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Ilir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Khusus transportasi, Palembang selain memiliki fasilitas darat, udara, laut, juga sungai. Sungai Musi, sejak ratusan tahun lalu hingga hari ini, masih digunakan secara baik oleh masyarakat maupun pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Artinya, persiapan Palembang sebagai ibukota Indonesia tinggal memoles, bukan membangun dari nol. Hanya, yang harus diperhatikan, pengembangan kota yang harus memperhatikan lingkungan hidup. Kawasan resapan air seperti rawa dan sungai, jangan lagi dijadikan lokasi pembangunan. Lokasi pembangunan betul-betul dikembangkan pada wilayah kering, atau tidak melakukan penimbunan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bila Palembang dijadikan ibukota Indonesia , sebenarnya bukan suatu yang mengejutkan. Sejak dahulu, sebelum Indonesia berdiri, bangsa Tiongkok, Arab, Afrika, maupun Eropa, telah mengenal Palembang . Dampak dari hubungan politik dan ekonomi, yang dijalankan kerajaan Sriwijaya, kerajaan Islam Palembang, maupun Kesultanan Palembang Darussalam. Sehingga tidak heran, sebagian warga Malaysia , Thailand selatan, Filipina selatan, Srilangka, maupun di Afrika timur, mengaku berasal dari Palembang . [*]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-367000553289519568?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/367000553289519568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=367000553289519568' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/367000553289519568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/367000553289519568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-pindahkan-ibukota-palembang.html' title='Esai Pindahkan Ibukota Palembang'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaUown9cUI/AAAAAAAAAIg/X_taYbYf578/s72-c/DSC00411.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-5326743820480720743</id><published>2008-06-04T05:55:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.568-08:00</updated><title type='text'>Esai Dendam Parameswara</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaRdAn9cTI/AAAAAAAAAIY/1lqvWmdo400/s1600-h/Parameswara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208009946670395698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaRdAn9cTI/AAAAAAAAAIY/1lqvWmdo400/s400/Parameswara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dendam Parameswara&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SEJAK 5 abad lalu, Parameswara, seorang pangeran, terusir dari Palembang. Dia tersusir lantaran Palembang diserbu para perompak dari Kanton, Tiongkok, yang didukung Majapahit. Tentunya, saat itu hati Parameswara sangat dongkol. Mungkinkah kedongkolan itu terus menyala di dada keturunannya yang kini membangun Malaysia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, setelah berlari dari Palembang, Parameswara menetap di pulau Tumasik. Dia membangun sebuah perkampungan di sana . Tak lama kemudian dia menyeberang ke Malaka, yang sebelumnya telah dikuasai kerajaan Samudera Pasai dari tangan Sriwijaya pada abad ke-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, di Malaka dia membangun kekuatan dan menjadikan dirinya seorang raja. Selanjutnya Malaka kembali berkembang menjadi pusat perdagangan terpenting di Asia Tenggara, seperti di masa kerajaan Fukian dan kerajaan Sriwijaya. Lantaran cemas diserang kekuatan Islam yang mulai berkembang pesat di nusantara, dia pun memeluk agama Islam kemudian menikahi perempuan ningrat dari Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi pusat perdagangan, Malaka berkembang menjadi pusat pertemuan para penyiar Islam di nusantara. Baik yang berasal Persia , Turki, Arab, Tiongkok, maupun Gujarat . Ini terbukti ketika Raden Fatah diminta Sunan Ampel untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islam ke Malaka selain ke Palembang, sebelum membangun kerajaan Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan Malaka yang pesat, baik sebagai pusat perdagangan dan pendidikan Islam, plus ditambah konflik kekuasaan di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, yang terus berlangsung, Malaka menjadi tempat pelarian yang menjanjikan. Orang-orang Minangkabau, Palembang, Jawa, Bugis, Aceh, yang berlari ke Malaka kemudian membangun masyarakatnya sendiri. Mereka berkembang bersama budaya, tradisi, adat-istiadat, yang dibawa, yang kini melahirkan masyarakat Negeri Sembilan, Johor, Selangor, Kucing, atau Serawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saat itu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kebudayaan yang berkembang di Malaka dengan daerah lain di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi . Bahkan, apa yang berkembang di Palembang, misalnya, juga berkembang di Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pada abad ke-16, ketika Malaka diserang Portugis, bala tentara dari Palembang, Jambi, Jawa, dan Sulawesi, turut membantu perlawanan. Tapi, ketika para penjajah dari Eropa menguasai nusantara, kondisi Malaka dengan saudaranya, mulai berjarak. Ini lantaran Malaka dan sebagian Kalimantan dikuasai Inggris, sementara Sumatra, Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa, Bali, dikuasai Belanda. Ketika terjadi perlawanan kemerdekaan terhadap para penjajah, misi perjuangan merucut menjadi pembentukan dua negara, lantaran perbedaan bangsa yang menjajah tersebut. Maka, ketika terbentuk negara Republik Indonesia , Malaka tidak bergabung lantaran dijajah Inggris. Mereka kemudian membentuk negara sendiri yakni Malaysia . Sejak itu pula, Malaysia dan Indonesia membangun sendiri nasionalismenya, meskipun mereka lahir dari kebudayaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ribut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;DALAM beberapa bulan ini, terjadi keributan antara Malaysia dengan Indonesia . Pemicunya lantaran Malaysia mengklaim sejumlah karya seni yang diyakini berasal atau milik Indonesia, seperti lagu Rasa Sayange, Reok, Wayang, Songket, dan sebagainya. Gelombang protes bermunculan di sejumlah daerah di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan Malaysia sebagai pencuri menjadi pemberitaan semua media massa , dan perbincangan sehari-hari. Tapi, benarkah Malaysia telah mencuri? Menurut saya Malaysia tidak mencuri. Mereka benar-benar mengakui karya seni yang berkembang di Malaysia . Persoalannya, mungkin, karya seni itu bukan lahir dan muncul di Malaysia , melainkan di sejumlah daerah di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, karya seni itu, dalam pengertian wilayah negara, lahir di Indonesia tapi turut berkembang di Malaysia . Dan , Malaysia menandai karya seni itu dalam wilayah perkembangan dan pengaruhnya, bukan wilayah kelahirannya. Selain itu, bukankah berdasarkan sejarah, seperti yang saya gambarkan di atas, produk budaya itu dibawa orang Indonesia ke Malaysia , dan kemudian dikembangkan menjadi kebudayaan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya curiga, protes sebagian rakyat Indonesia itu sebenarnya dipicu oleh peristiwa politik dan sosial sebelumnya. Sekian tahun sebelum saya lahir, tepatnya ketika Soekarno menjadi pemimpin Indonesia , awal tahun 1960-an, hubungan Indonesia-Malaysia memanas lantaran pemerintah Indonesia menuduh Malaysia sebagai antek Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Soekarno menyatakan, "Ganyang Malaysia !" Perkembangan selanjutnya, mulai tahun 1990-an, ketika sebagian besar rakyat Indonesia miskin, pilihan menjadi tenaga kerja di Malaysia merupakan jawaban atas kemiskinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ini menimbulkan persoalan, lantaran hingga hari ini, begitu banyak kasus kekerasan yang menimpa tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Di sisi lain, masyarakat Malaysia pun kesal, lantaran begitu banyaknya orang Indonesia di Malaysia yang menjadi pelaku kriminal, meskipun sebagian besar berasal dari Palembang yang diyakini sebagai tanah air puyang atau nenek moyang mereka. Lalu, perebutan sejumlah pulau di Laut Cina Selatan juga menjadi pemicu ketegangan antara Indonesia-Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengaruh Luar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;APAKAH betul produk kebudayaan yang berkembang di nusantara, baik di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, murni hasil dari pengolahan atau kreatifitas masyarakat setempat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meragukannya. Sebab menurut bacaan sejarah saya, mulai dari etnis, tradisi, agama, yang berkembang di nusantara, merupakan pendatang atau kiriman dari kebudayaan luar, seperti dari Persia , Arab , India , dan Tiongkok. Meskipun selanjutnya produk kebudayaan itu mengalami perubahan lantaran adanya pembauran dengan kebudayaan yang lebih dahulu berkembang di nusantara. Misalnya kesenian Wayang, yang sebelumnya sudah berkembang di India dan Tiongkok. Musik keroncong yang sebelumnya sudah berkembang di Portugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, yang lebih gampang dilihat adalah produk makanan dan arsitektur. Makanan rendang, yang menjadi khas Minangkabau, sebetulnya dari tata cara memasak dan komposisi bumbunya, lebih mendekati masakan masyarakat Gujarat atau India. Pempek yang menjadi icon Palembang , juga dilihat dari cara memasak dan komposisi bumbunya lebih mendekati tradisi makanan di Tiongkok. Dari sisi arsitektur, begitu banyak bangunan, ukiran, ragam hias, yang ada di Indonesia memadukan berbagai kebudayaan luar, baik dari Persia, Arab, India, Tiongkok atau Eropa. Contohnya rumah Limas di Palembang, atau produk kain di Minangkabau, Lampung, dan Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, contoh di atas, tidak memiliki dalil yang kuat. Tapi, jika dilihat dari perkembangan agama, hampir semua agama yang berkembang di nusantara hingga hari ini berasal dari luar, seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Lalu, bangsa Arab pemeluk pertama agama Islam, misalnya, tidak memersoalkan Islam dijadikan agama resmi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modern, pengaruh produk budaya luar juga sangat dirasakan, seperti sepakbola, musik rock, musik pop, musik jazz, musik blues, gaya pakaian, lukisan, sastra, ilmu pengetahuan moden, ajaran terorisme, hingga makanan fast food. Dan, sekian abad nanti, kita mungkin akan mengklaim ayam goreng peniru ayam goreng dijual KFC yang dijajakan di jalanan, merupakan produk makanan khas Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencuri&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;SEBAGAI wilayah persinggahan bisnis atau perdagangan, terutama di kawasan selat Malaka, tradisi mencuri di nusantara ini sudah berjalan sejak berabad-abad lalu. Dulu, sebagian bangsa di nusantara menjadi perompak di laut, kini menjadi pembajak produk dari luar negeri, seperti di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sebagian orang Indonesia menjadi perampok harta saudaranya sendiri. Maka, jika dimengerti sebagai pencurian, tindakan Malaysia itu merupakan cerminan bersama, sebagai bangsa nusantara. Apalagi , Malaysia itu sebenarnya miniatur Indonesia, seperti yang tergambar dalam perjalanan sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila kita melihat dari sisi positifnya, tindakan Malaysia itu dapat dimengerti sebagai penyelamatan produk kebudayaan nusantara, sebelum dirampas bangsa lain, seperti kasus makanan tempe yang telah dipatenkan Jepang dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran lainnya, Indonesia yang tidak memiliki Menteri Kebudayaan, ini sudah seharusnya menjaga produk kebudayaan dari sisi hukum, dan jangan terlalu sibuk memperdebatkan, menunggu, mencari seorang "raja" yang mampu menjamin sandang dan pangan secara gratis atau murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, nasib yang dialami Indonesia ini, dalam istilah kunonya, mungkin kualat dengan puyang atau nenek moyang lantaran memakan daging saudaranya, atau mengkhianati sumpah di Bukit Siguntang—yang sangat ditakuti wong Malaysia —bahwa raja yang lalim akan ditinggalkan dan dilawan rakyatnya, atau sebaliknya rakyat yang tidak patuh dengan hukum dan norma yang ditegakkan raja akan dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Terakhir, saya berharap tindakan bangsa Malaysia itu bukan mewujudkan dendam Parameswara yang sakit hati dengan Majapahit, yang terusir dari Palembang . Entahlah.[*] &lt;em&gt;Dimuat harian Berita Pagi, Desember 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-5326743820480720743?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/5326743820480720743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=5326743820480720743' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5326743820480720743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/5326743820480720743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-dendam-parameswara.html' title='Esai Dendam Parameswara'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaRdAn9cTI/AAAAAAAAAIY/1lqvWmdo400/s72-c/Parameswara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7526078286409980092</id><published>2008-06-04T05:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.665-08:00</updated><title type='text'>Narasi 500 Tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaQQwn9cSI/AAAAAAAAAIQ/UmKeyaqymsg/s1600-h/Sultan+Yogyakarta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208008636705370402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaQQwn9cSI/AAAAAAAAAIQ/UmKeyaqymsg/s400/Sultan+Yogyakarta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Setelah 500 Tahun&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU sore awal November 2007 lalu, udara cukup cerah. Di bawah tenda, di halaman belakang kediaman gubernur Sumatra Selatan Syahrial Oesman, Griya Agung, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, berkumpul ratusan warga Sumatra Selatan, mengenakan pakaian tradisional dari berbagai etnis di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 16.10, Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, beranjak dari tempat duduknya yang diapit Syahrial Oesman, dan sejumlah pengurus Dewan Pembinaan Adat Istiadat Sumatra Selatan, seperti Mahyuddin dan Djohan Hanafiah.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang mengenakan baju kurung warna kuning gading, sedikit menundukkan kepalanya. Sekitar tiga detik, Mahyudin, selaku ketua Dewan Pembinaan Adat Istiadat Sumatra Selatan, memasangkan tanjak warna emas di kepalanya. Lalu, Djohan Hanafiah memasangkan selendang warna kuning dengan lis merah, di pundak sang sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 16.15, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi Datuk Pengayom Seri Wanua.&lt;br /&gt;SEJAK Sriwijaya dipimpin wangsa Syailendra, sekitar abad ke-8, dengan raja terkenalnya Balaputra Dewa, hubungan masyarakat melayu Palembang dengan masyarakat Mataram tidak begitu harmonis. Mereka selalu terlibat dalam berbagai konflik politik, yang berakhir dengan peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap peperangan, mereka saling mengalahkan. Sriwijaya pernah mengalahkan Mataram Hindu. Lalu, Mataram Hindu yang membangun Majapahit balik mengalahkan Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan perdamaian sempat muncul, ketika lahir tokoh penyiar Islam, Raden Fatah, berdarah Mataram-Tionghoa-Melayu, kelahiran Palembang, yang membangun kerajaan Demak di tanah Jawa, sebuah kerajaan Islam yang sangat disegani pada masanya di nusantara. Sayang, setelah Raden Fatah wafat, konflik itu berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah konflik tersebut diketahui Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Tapi, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang sore itu mengenakan pakaian kesultanan warna biru, dihiasi warna merah dan kuning, menyerahkan sebuah keris Sangkelat Luk 13 kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Keris Sangkelat Luk 13 memadukan budaya Melayu dan Mataram. Warangkah dan kerisnya asli Palembang, dan hulu keris berbentuk naga Mataram Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keris itu kemudian dikenakan Sri Sultan Hamengku Buwono X di pinggang kanan bagian depan, layaknya orang Melayu. Tidak seperti tradisi di Yogyakarta yang mengenakan keris di bagian belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kita bersatu guna membangun Indonesia," kata Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin kepada saya, seusai penganugerahan gelar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Sri Sultan Hamengku Buwono X, berkata di hadapan warga Palembang yang hadir, "Guna membangun masa depan, mari kita lupakan yang buruknya, dan kita junjung yang baiknya, seperti mempertahankan negara ini dengan melestarikan adat-istiadat yang ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK Indonesia merdeka, tahun 1945, gagasan pertemuan antara pemimpin adat Palembang dan Yogyakarta sulit dilakukan. Salah satu penghalangnya, pemerintah Indonesia tidak mengakui dan memfasilitasi adanya Kesultanan Palembang Darussalam, seperti halnya Kesultanan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan kenapa Kesultanan Palembang Darussalam tidak difasilitasi keberadaannya, lantaran kesultanan tersebut telah dibubarkan kolonial Belanda tahun 1825, setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang tengah dibuang di Ternate menolak tawaran Belanda untuk menghidupkan kembali Kesultanan Palembang Darussalam.&lt;br /&gt;Setelah menunggu dua abad lebih, sebagian masyarakat Palembang menyadari perlunya membangkitkan kembali Keraton Kesultanan Palembang Darussalam, yang banyak meninggalkan kekayaan budaya, maupun ilmu pengetahuan di Sumatra Selatan dan di nusantara, yang beranjak dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para zuriat Kesultanan Palembang Darussalam kemudian berunding dan berdiskusi dalam sebuah organisasi bernama Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam. Selanjutnya mereka mengukuhkan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin sebagai Sultan Palembang pada November 2006 lalu. Pengukuhan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin bertujuan untuk menjaga dan melestarikan peninggalan budaya Kesultanan Palembang Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dikukuhkan, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, melakukan sejumlah agenda kerja yang diamanatkan para zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, termasuk mendukung pengikatan kembali persaudaraan dengan zuriat dari Raden Fatah, yang tersebar di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Kesultanan Palembang Darussalam belum dihidupkan lagi, mungkin peristiwa pemberian gelar Datuk Pengayom Seri Wanua kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X sulit dilangsungkan," kata Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin? Berdasarkan silsilah sultan-sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin adalah keturunan dari dua sultan yang pernah berkuasa di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dari Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago. Sultan ini memiliki anak laki-laki atau putra mahkota bernama Pangeran Ratu Purboyo. Pada malam sebelum penobatannya sebagai sultan Palembang, Pangeran Ratu Purboyo tewas diracun. Pangeran Ratu Purboyo memiliki anak bernama Pangeran Nato Dirajo atau Raden Lumbuk, yang meneruskan keturunannya hingga ke Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin juga memiliki garis keturunan dari Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Sebab Pangeran Nato Dirajo, anak Pangeran Ratu Purboyo, menikah dengan anak Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wirokramo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuhan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin sebagai sultan Palembang, juga direstui zuriat dari sultan yang terakhir memimpin Kesultanan Palembang Darussalam, yakni Raden Muhammad Yusuf Prabu Tenaya yang merupakan zuriat dari Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu bin Sultan Mahmud Badaruddin II, serta Raden Muhammad Syarifuddin Prabu Anom dari zuriat Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu dan Ahmad Najamuddin Prabu Anom adalah sultan terakhir yang berkuasa di Keraton Kesultanan Palembang Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA abad ke-13, Sriwijaya dikuasai Majapahit dan sejumlah perompak dari Kanton, Tiongkok, yang terdesak oleh kekuatan dinasti Ming. Awalnya, selama 200 tahun, Majapahit tidak dapat berbuat apa-apa dengan Palembang, meskipun diklaim sebagai wilayah kekuasaannya. Selama itu Palembang dikuasai para perompak dan pedagang dari Tiongkok yang menyebut Palembang sebagai Ku-kang yang berarti pelabuhan lama. Salah seorang pemimpin para perompak dan pedagang Tionghoa saat itu Liang Tau Ming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang tidak nyaman itu, membuat seorang pangeran Palembang yang bernama Parameswara, meninggalkan Palembang pada tahun 1397. Tak lama kemudian dia menjadi sultan di Melaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tahun kemudian Majapahit berhasil menempatkan adipatinya di Palembang, yang saat itu sebagian warganya sudah beragama Islam, yang diperkirakan disyiarkan para pedagang dari berbagai bangsa, khususnya Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang adipati Majapahit yang menjadi pemimpin Palembang—Palembang Lamo—adalah Ario Damar, sekitar abad ke-15. Ario Damar kemudian mendirikan kerajaan Palembang. Adipati Ario Damar berkuasa antara tahun 1455-1486. Lantaran banyak rakyat beragama Islam, Adipati Ario Damar memeluk agama Islam. Namanya berubah menjadi Ario Abdilah atau Ario Dillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Ario Dillah mendapat hadiah perempuan dari Prabu Kertabumi Brawijaya V. Perempuan itu bernama Puteri Champa, muslim dan beretnis Tionghoa-Melayu. Puteri Champa sebenarnya berasal dari Palembang kemudian dijadikan selir oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V. Tapi, lantaran muslim, keluarga besar kerajaan Majapahit memintanya untuk menceraikan atau mengusir Puteri Campa dari Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dibawa kembali ke Palembang, Puteri Champa tengah mengandung. Jadi, setelah Puteri Champa melahirkan anaknya, baru Ario Damar menjadikannya istri. Anak yang dilahirkan Puteri Champa dari suaminya Prabu Kertabumi Brawijaya V adalah Raden Hasan, yang nantinya menjadi ulama dan pemimpin terkenal bernama Raden Fatah. Lalu, Puteri Champa dan Ario Damar memiliki anak bernama Raden Husin atau yang dikenal sebagai Raden Kusen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raden Hasan dan Raden Husin dibesarkan Ario Damar dan Puteri Champa di istananya di Palembang Lamo yang dinamakan Candi Ing Laras, dengan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Setelah Ario Damar wafat, Palembang tidak memiliki pemimpin hingga tahun 1486. Lalu, keluarga Ario Damar, termasuk Raden Hasan dan Raden Husin hijrah ke Jawa. Mereka ditampung Raden Rahmad atau Sunan Ampel. Di sana mereka memperdalam ajaran Islam. Sunan Ampel sendiri masih sepupu dari Cheng Ho, laksamana dari Tiongkok yang mampu membersihkan Palembang dari perompak di awal abad ke-15. Selanjutnya di Jawa, Raden Hasan menjadi ulama terkenal. Dia kemudian menjadi mantu dari Sunan Ampel, dan disebut sebagai Raden Fatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1481, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak. Dia didukung kekuatan dari berbagai daerah di Jawa, yang sebelumnya dikuasai Majapahit, seperti Tuban, Gresik, dan Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masanya, Kerajaan Demak menjadi pusat niaga di Jawa pada abad ke-15. Gelar Raden Fatah setelah memimpin Demak adalah Senapati Jimbun Ngabdu‘r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata‘Gama. Tahun 1518 Raden Fatah wafat, dan digantikan Pati-Unus atau Pangeran Sabrang Lor, putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1521, Pati-Unus wafat. Tahta kekuasaan diserahkan kepada Pangeran Trenggono, adik Pati-Unus. Dia meninggal tahun 1546.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah itu, Kerajaan Demak goyang, sebab sejumlah saudara Pangeran Trenggono dan Pati-Unus ingin berkuasa, seperti Pangeran Seda ing Lepen. Keinginan tersebut ditentang Pangeran Prawata, anak Pangeran Trenggono. Terjadi perebutan kekuasaan hingga terjadi pertumpahan darah antarkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Seda ing Lepen dibunuh Pangeran Prawata. Selanjutnya Pangeran Prawata beserta keluarganya dibunuh anak Pangeran Seda ing Lepen yang bernama Arya Penangsang atau Arya Jipang. Lalu, menantu Raden Trenggono, bernama Pangeran Kalinyamat dari Jepara juga dibunuh. Pertumpahan darah terus berlanjut.&lt;br /&gt;Tahun 1549, Arya Penangsang dibunuh Adiwijaya atau Jaka Tingkir, menantu Pangeran Trenggono, yang saat itu sebagai Adipati Kerajaan Pajang. Selanjutnya, Jaka Tingkir memindahkan Keraton Demak ke Pajang. Berakhirlah Kerajaan Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Kerajaan Pajang menyerang Demak, sekitar 24 keluarga Raden Fatah lari ke Surabaya dipimpin Ki Gede Sedo ing Lautan, lalu hijrah ke Palembang. Tahun 1547, Ki Gede Sedo Ing Lautan menjadi raja ke-2 Kerajaan Palembang yang telah lama vakum. Keratonnya disebut Kuto Gawang. Dia berkuasa hingga tahun 1552. Lalu diganti Ki Gede Sedo Ing Lautan sebagai raja ke-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah hijrah, keluarga Kerajaan Palembang, masih memiliki ikatan ideologis dengan Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Jaka Tingkir wafat, Kerajaan Pajang dipimpin Arya Pangiri. Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Pajang diserang kekuatan massal yang terdiri dari Pangeran Benowo, putra Jaka Tingkir, dan kekuatan Mataram yang dipimpin Panembahan Senapati atau Senapati Mataram, putra Kyai Ageng Pemanahan atau Kyai Gede Mataram. Arya Pangiri dikalahkan Senapati Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Keraton Pajang dipindahkan ke Mataram pada tahun 1587. Tahun ini dikenal sebagai awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Mataram merupakan keturunan dari Raden Fatah dan Raden Trenggono. Adanya pertalian darah ini yang membuat Kerajaan Palembang dan Kerajaan Mataram tejalin erat. Hubungan baik itu berlanjut hingga Palembang dipimpin Amangkurat I (raja ke-4). Hubungan baik ini berlangsung hingga tahun 1677.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1610, Kerajaan Palembang melakukan kontak dengan VOC. Awalnya, VOC tidak mau berhubungan dengan Kerajaan Palembang. Tapi, pada masa Palembang dipimpin Pangeran Sideng Kenayan, dibuka Kantor Perwakilan Dagang VOC (Factorij), melalui perantara Gubernur Jendral di Batavia, Jacob Specx (1629-1632). Tetapi, pada tahun 1659, Keraton Kuto Gawang beserta benteng-bentengnya hancur diserbu VOC. Diperkirakan, penyerangan dan kemenangan VOC diraih karena adanya konflik kekuasaan di Kerajaan Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya di Palembang berdiri Kesultanan Palembang Darussalam, yang coraknya berbeda dengan Kerajaan Palembang. Misalnya memutuskan hubungan dengan Mataram. Pendirinya adalah Sultan Jamaluddin atau dikenal dengan sebutan Sultan Ratu Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Iman, yang pada masa akhir hayatnya bergelar Sunan Cinde Walang. [*]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7526078286409980092?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7526078286409980092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7526078286409980092' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7526078286409980092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7526078286409980092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/narasi-500-tahun_04.html' title='Narasi 500 Tahun'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaQQwn9cSI/AAAAAAAAAIQ/UmKeyaqymsg/s72-c/Sultan+Yogyakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7936205848342910274</id><published>2008-06-04T05:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:36.894-08:00</updated><title type='text'>Esai Sekolah Gratis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaNign9cQI/AAAAAAAAAIA/JVAhpY0C4HI/s1600-h/anak+sekolah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208005643113165058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaNign9cQI/AAAAAAAAAIA/JVAhpY0C4HI/s320/anak+sekolah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekolah Gratis di Tengah Perut Lapar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA jargon gratis dalam sejumlah pemilihan kepala daerah di Indonesia, saat ini menghiasi tiang listrik, dinding bangunan, pagar rumah, maupun banner atau iklan di sejumlah media massa lokal. Jargon gratis ini terutama terkait dengan program pendidikan dan kesehatan atau pengobatan. Sangkin ramainya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun gerah dengan jargon tersebut. Dia khawatir, janji para politisi itu menjadi bumerang pemerintah pusat, bila tidak terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jargon pendidikan dan kesehatan gratis juga melanda Sumatra Selatan. Hampir semua calon kepala daerah di 9 kabupaten dan kota, serta gubernur Sumatra Selatan, meneriakkan jargon tersebut. Bahkan, ada calon yang mengklaim dirinya sebagai pelopor sekolah dan berobat gratis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pertanyaan pentingnya, benarkah program gratis itu mendidik rakyat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA masyarakat pedusunan di Sumatra Selatan, termasuk daerah lain di Indonesia, jika ada anak yang berprestasi dalam pendidikan dan mengalami kesulitan biaya, seluruh warga, terutama kerabat dekat, melakukan pumpunan dana buat membantunya. Begitu pun terhadap mereka yang sakit, dan kesulitan biaya pengobatan. Kearifan lokal ini, yang kemudian menjadi dalil kebudayaan Indonesia adalah gotong-royong.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di Indonesia, sulit ditemukan suatu ajaran yang menuntut atau menerima sesuatu secara gratis. Baik dalam memenuhi kebutuhan dasar, maupun kebutuhan lainnya. Bila seseorang menerima sesuatu secara gratis, dinilai telah menurunkan harga dirinya. Tepatnya, gratis hanya diperuntukkan bagi mereka yang miskin, dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan usahanya, seperti cacat fisik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, tak heran, ada keyakinan pada masyarakat Sumatra Selatan, misalnya, yakni lebih baik menjadi penjahat dari pada menjadi pengemis atau peminta-minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAPITALISME yang telah masuk ke seluruh sendi peradaban dunia, pada akhirnya secara perlahan membunuh kearifan lokal yang ada di Sumatra Selatan. Tradisi pumpunan mulai ditinggalkan. Sikap individualistik atau yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga, lebih menonjol dibandingkan kepentingan banyak orang. Tepatnya, secara moral, banyak orang menjadi tamak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tidak sedikit kita menemukkan para pemimpin agama memiliki sikap tamak, begitupun para aktifis NGO yang selalu berteriak prorakyat ternyata tidak mau membantu tetangga atau kawannya yang mengalami kesulitan, serta para politisi yang justru menjual kesulitan rakyat dan kawannya buat kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Buktinya, banyak rumah ibadah yang tiap pekan mengumpulkan sumbangan umat, tidak mampu mengelola keuangan bagi kepentingan masyarakat di sekitarnya, yang mengalami kesulitan biaya pendidikan, pengobatan, atau makan. Tidak sedikit pengurus rumah ibadah lebih mementingkan pembangunan fisik tempat ritual keagamaan tersebut, dibandingkan menyelamatkan persoalan ekonomi yang melilit umat di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Organisasi sosial yang dikelola aktifis NGO, justru mencari dan memburu dana bantuan luar negeri secara gratis, alias minta sumbangan. Naifnya, mereka pun “numpang” makan dari dana sumbangan tersebut, dengan dalil profesionalitas. Sementara persoalan-persoalan mendasar itu diatasi dengan memberikan kesadaran bagi kaum miskin untuk mendesak pemerintah agar memberi tunjangan, dengan dalil sebagai tanggungjawab negara terhadap rakyat. Bukan memberikan kesadaran bagi kaum miskin untuk mandiri atau menguasai alat produksi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Misalnya, sebuah lembaga swadaya masyarakat memberikan dampingan terhadap para petani di kawasan pesisir Sumatra Selatan, yang difasilitasi lembaga donor luar negeri. Pembahasan programnya menghabiskan dana ratusan juta rupiah di sebuah hotel. Lalu, pimpinan programnya bergaji puluhan juta per bulan. Para pendamping diberi uang jutaan rupiah. Kerjanya mendampingi para petani, yang hanya diberi bantuan berupa poster, kalender, dan setiap petani yang berjumlah puluhan itu diberi uang transport sebesar Rp25 ribu!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sementara para politisi “berdagang” diri kepada para investor atau kelompok pemodal untuk menjalankan kerja politiknya. Mereka pun berjanji akan memuluskan semua proyek para pemodal tersebut, tanpa pernah mempertimbangkan proyek itu merusak atau merampas kekayaan rakyat, atau bahkan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENURUT saya, sebagian besar pengurus rakyat, secara tidak sadar menyebarkan atau membiarkan virus tamak, dan membangun kesadaran meminta atau gratis. Penyebabnya, tentu saja kehadiran virus kapitalisme yang masuk melalui kebudayaan asing, baik produk Amerika, Eropa, Jepang, yang menyusup ke semua ruang masyarakat Sumatra Selatan, mulai dari ruang tidur, ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi, hingga ruang-ruang publik dan ibadah. Contoh virus itu, seperti tercermin dalam iklan, ”Beli satu, dapat dua”. Maksudnya, bila seseorang membeli satu produk, dia akan mendapatkan satu produk gratis. Padahal, jika kita hitung biaya produksinya, uang yang telah dikeluarkan seorang konsumen lebih dari cukup buat memproduksi dua produk yang diterimanya. Iklan gratis itu telah membunuh kesadaran bahwa tidak ada pedagang yang mau rugi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di negara-negara maju, gratis merupakan kewajiban dari pemerintah yang didukung para pemilik modal atau penguasa ekonomi, terhadap subjek atau kelompok masyarakat yang miskin atau tidak menguasai modal. Sebab mereka ini bagian dari masyarakat yang tidak mampu bersaing. Maka, di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, para penganggur atau orang-orang cacat diberi tunjangan sosial. Orang-orang yang masih mampu bersaing menolak diberi gratis atau menjadi tanggungan negara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gratis juga sering digunakan para raja atau kaisar di masa lalu. Para raja memberikan sesuatu yang gratis terhadap rakyat, gunanya menarik simpatik hati rakyat. Pola ini juga dilakukan para imperialisme Eropa saat menguasai suku bangsa di Asia dan Afrika yang sumber daya alamnya melimpah. Suku Maori di Selandia Baru, misalnya, kini menjadi suku yang tidak mampu bersaing dalam pemerintahan Selandia Baru, sebab selama beratus tahun biaya hidup mereka ditanggung para imperialis yang mengeruk sumber daya alamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kolonial Belanda juga melemahkan sejumlah masyarakat di Sumatra Selatan dengan budaya gratis itu. Mereka yang berpotensi menjadi musuh besarnya, yakni kaum priyayi, diberi gaji atau jatah hidup oleh pemerintah Belanda tanpa harus melakukan suatu pekerjaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Akibatnya, ketika pemerintah Belanda menghentikan tunjangan hidup, sebagai akibat gelombang gerakan kemerdekaan, masyarakat atau kelompok priyayi tersebut menjadi kelompok yang tidak mampu mengatasi kebutuhan hidupnya atau kalah bersaing dalam mendapatkan akses ekonomi. Sederhananya, seperti seekor kera yang sejak kecil dipelihara manusia; diberi makan dan dijaga kesehatannya, setelah dewasa dilepas di hutan. Dipastikan kera itu akan stres, dan tidak mampu bertahan hidup di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI, guna mengatasi persoalan masyarakat Indonesia, seperti di Sumatra Selatan, menurut saya bukan dengan cara memberikan kebutuhan sekolah dan berobat secara gratis. Para calon kepala daerah itu seharusnya menawarkan program yang menjadikan masyarakat mandiri, dan pada akhirnya mampu bersedekah atau berbagi dengan yang lainnya. Sederhananya, program yang menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran setiap masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut saya, seperti asumsi selama ini, sumber daya alam yang ada di Indonesia jika dimanfaatkan secara optimal lebih dari cukup buat menghidupi rakyatnya. Tapi, persoalannya, pemerintah gagal mengelolanya secara optimal. Para investor yang dilibatkan, lebih dominan dalam mengeruk keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kondisi ini juga berlangsung di setiap kabupaten dan kota di Sumatra Selatan. Sumber daya alam seperti minyak bumi, gas, batubara, puluhan tahun dieksploitasi para investor luar negeri maupun nasional. Tapi, hasilnya tidak begitu besar dirasakan masyarakat Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dengan kondisi ini, seharusnya para politisi berpikir bagaimana caranya mengoptimalkan sumber daya alam itu berguna bagi masyarakat Sumatra Selatan, bukan memberikan sesuatu yang praktis. Seperti program gratis itu. Itu sama seperti ekstasi yang hanya memberi kenikmatan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Para politisi tersebut tampaknya perlu mempertimbangkan ujaran seorang nelayan di Sungsang, Banyuasin, Sumatra Selatan, yang mengatakan percuma saja pemerintah melaksanakan program sekolah dan berobat gratis seandainya mereka masih kesulitan makan. “Anak-anak kami butuh makan biar dapat belajar. Percuma baju gratis, buku gratis, kalau perutnya kelaparan. Perut lapar susah belajar. Tidak masalah biaya pendidikan mahal, kalau uang kami banyak. Kalau sehat, juga penyakit tidak ada,” kata Muhaimin, si nelayan.&lt;br /&gt;“Tidak mungkinlah kami dapat menyimpan uang dengan adanya program gratis itu. Sebab biaya makan kian mahal bae. Pemerintah harus berpikir bagaimana pendapatan kami meningkat. Itu yang kami harapkan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINGKASNYA, saya menilai program gratis itu semacam pengalihan kesadaran kritis masyarakat. Masyarakat yang seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana mengembalikan dan mengelola sumber daya alam, seperti migas dan batubara, yang selama puluh tahun dirampas pihak asing, justru disadarkan dengan tuntutan atas kebutuhan dasar secara gratis. Analog, sebuah masyarakat di sekitar pengeboran minyak bumi didorong menuntut pembiayaan sekolah dan berobat dari perusahaan asing yang mengelolanya, bukan diajarkan bagaimana mengambilalih pengelolaan minyak bumi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dapat dibayangkan, dari jutaan barel minyak bumi yang disedot perusahaan asing itu, masyarakat hanya menikmati sekolah dan berobat gratis. Mungkin, lain halnya, jika perusahaan tersebut membagikan sahamnya kepada masyarakat. Jadi, harapan saya, para calon kepala daerah tersebut harus berpikir ulang jargon gratis tersebut. Apalagi jargon tersebut merupakan tawaran isu dari sebuah lembaga survey atau public relation yang dididik dan dibiayai investor asing. [*] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7936205848342910274?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7936205848342910274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7936205848342910274' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7936205848342910274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7936205848342910274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-sekolah-gratis.html' title='Esai Sekolah Gratis'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaNign9cQI/AAAAAAAAAIA/JVAhpY0C4HI/s72-c/anak+sekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7166737518107173418</id><published>2008-06-04T05:21:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.162-08:00</updated><title type='text'>Esai Keluarga Mi Instan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaJuAn9cPI/AAAAAAAAAH4/BIm9Jiu3_AQ/s1600-h/DSC02308.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208001442635149554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaJuAn9cPI/AAAAAAAAAH4/BIm9Jiu3_AQ/s320/DSC02308.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Para Keluarga Mi Instan 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;INI cerita usang, yang ingin saya ceritakan lagi. Tidak hanya sebuah keluarga dengan satu rumah di antara jutaan keluarga lainnya, menyukai mi instan. Setiap pagi, banyak bapak, ibu, dan anak sarapan mi instan. Menjelang siang, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, bahkan di dalam bus kota, banyak keluarga makan mi instan. Dan, pada malam hari, mereka juga makan mi instan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hasan, anak tertua, dan Husin, anak paling kecil, mengaku menyukai mi instan karena menurut para sahabatnya, Syamsul, Devi, Mahmud, Revi, Anton, Yeyen, mi instan selain gampang dibeli juga gampang dimasak, serta membantu pendapatan para buruh yang bekerja di pabrik mi instan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Coba kalian renungkan. Kalau kita tidak membeli mie instant, bagaimana nasib para buruh itu? Mereka pasti tidak menerima gaji," kata Syamsul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Makan mi instan selain mengeyangkan perut, juga membuat Hasan dan Husin pandai berhitung. Satu tambah satu sama dengan dua. Dua tambah dua sama dengan empat. Dua kali satu, ya, sama dengan dua. Cuma, kata Hasan, kalau makan sebungkus mi instan maka di dalam perut jumlahnya bertambah dan membesar. Ini akibat pengelolaan yang sistematis yang dilakukan usus besar, usus kecil, dan lambung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Apalagi kalau sehabis makan mi instan banyak meneguk air putih,” kata Husin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Walaupun menyukai mie instant, banyak keluarga ini tidak memandang Tuhan secara instan. Mereka terkadang merumit-rumitkan bahasa dan petunjuk Tuhan melalui para nabi atau pemuka agama. Misalnya mengenai haram atau tidaknya mi instan yang dibuat pabrik yang tidak pernah melakukan ritual pemujaan kepada Tuhan. Mereka terkadang mencoba menghubungkan bentuk, warna bungkusnya, tulisan, serta aroma setiap mi instan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama. Tetapi kerumitan itu selalu berhenti setiap kali pemilik pabrik mi instan melakukan pembelaan atau menuliskan kata “halal” dan menyebut mi instan dengan nama para nabi, nama Tuhan, atau orang-orang suci. Yakin, dan tidak kritis seperti membahas sabda nabi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Kami memang tidak menggunakan nama Tuhan dalam membuat mi instan ini. Kami hanya menekan tombol dan memerintahkan beberapa orang bekerja secara baik. Tapi kami percaya pekerjaan ini direstui Tuhan dan halal. Sebab niat kami membuat mi ini sangat baik, bukan untuk menyusahkan orang lain. Buktinya produk kami ini bernama Alhamdulillah. Kalau tidak percaya, tanyakan sama Tuhan," kata si pemilik pabrik mi instan kepada seorang wartawan yang kemudian meminta ongkos pulang karena biaya transportasi dari kantornya tidak mencukupi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Saya akan menulis mi instan produksi pabrik bapak atas nama Tuhan," kata si wartawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hasan dan Husin termenung saat menelan mi instan goreng, siang ini. Dia bertanya apakah di Kutub Utara ada manusia yang makan mi instant? Baginya pertanyaan itu sangat penting. Sebab seandainya tidak ada manusia yang makan mi instan di Kutub Utara, berarti kesadaran membantu para buruh pabrik mi instan belum berjalan secara baik. Tepatnya kampanye pembelaan kaum buruh oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum optimal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beranjak dari keraguan itu, Hasan dan Husin kemudian memiliki gagasan membentuk lembaga advokasi mi instan. Tujuannya cuma satu: mengajak semua manusia makan mi instan sehingga derajat kesejahteraan kaum buruh pabrik mi instant menjadi lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Besoknya bersama Syamsul dan Imron, Hasan membentuk sebuah yayasan yang bernama Komite Mi Instan untuk Keadilan Buruh. Wilayah kerjanya mengadvokasi semua yang berhubungan dengan mi instan. Yayasan ini kemudian mendapat dukungan banyak pihak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Terutama dari donatur negara-negara Barat, yang memang mencanangkan peradaban manusia harus memasuki era instan. Segala ritual makan selama ini, yang dikondisikan tradisi feodalisme, sangat tidak efisien sehingga dapat mengurangi semangat berpikir yang cepat dan taktis. Pada tahun pertama bekerja yayasan ini menerima sumbangan sebesar 500 ribu dolar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Program kerja yang dilakukan antara lain mengadakan pesta mi instan di setiap komunitas miskin kota, parlemen, serta aparat keamanan dan pertahanan, secara gratis. Tanpa dipungut bayaran Kemudian menjelaskan kepada publik bagaimana penting dan bergunanya mi instan bagi kehidupan manusia. Apabila ada pelarangan makan mi instan di dalam keluarga dengan alasan apa pun, yayasan tersebut mengadvokasinya sebagai tindak kekerasan atas hak asasi dalam menentukan selera. *** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;SERATUS enam puluh tahun kemudian, banyak keluarga mi instan memenangkan lomba mewarnai bungkus mi instan. Saat itu jenderal-jenderal sangat tertarik dengan kompetisi mewarnai mi. Sebab menurut mereka, secara ideologis, mewarnai mi itu memberikan semacam kesadaran untuk bersatu, menjunjung keadilan, disiplin, dan berpihak pada rakyat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Marilah kita mensyukuri nikmatnya mi instan. Kalau tidak ada mi instan, mungkin biaya perang negara ini sangat tinggi. Berkat mi instan setiap prajurit selalu siap di medan tempur, tanpa menuntut bekal makanan yang mahal-mahal. Sudah sepantasnya kita mengucapkan terima kasih kepada pabrik-pabrik mi instan yang bekerja selama ini. Dan, tak lupa juga kepada para buruhnya," kata seorang jenderal seusai perlombaan mewarnai bungkus mi instant di Kalidoni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak jauh dari itu lokasi lomba itu, banyak keluarga yang selalu diburu-buru ideologi pasar, berusaha dengan sekuat tenaga mengumpulkan ratusan cacing tanah. Cacing-cacing itu mau mereka buat menjadi tiruan mi instan. Mereka tidak mampu membeli mi instant, meskipun sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah. Harapan mereka setelah makan cacing-cacing itu mereka sama seperti makan mi instant, sehingga dapat menerima ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cacing-cacing itu mereka masukan ke dalam panci. Ditutup rapat. Kemudian ditanam di dalam hutan yang rimbun dan lembab. Mengharapkan menjadi dingin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pada suhu -15 derajat celcius, para ibu membuat bumbunya. Sementara para ayah menonton sepakbola yang disponsori sebuah perusahaan mi instan. Tiga anak yang kecerdasannya mengalami penurunan akibat trauma akan pasar, merangkak dan mengintip kedinginan cacing-cacing melalui cela-cela tanah yang menutupi panci. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Hei! Kalian jangan terlalu dekat. Mereka memiliki kamera yang akan merekam napas dan pikiran kalian. Cepat pergi," kata para ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ketiga anak itu kembali ke kamar. Menghitung jumlah iklan dan mengkoleksi dada dan paha indah dalam imajinasi. Para ibu berteriak: “Makan!” Para ayah dan ketiga anak itu melompat ke meja makan. Para ibu dengan kelenturan tubuhnya menari-nari sambil membawa mi instan. Giginya yang kuning akibat terlalu banyak merokok terlalu lama dilihatkan. "Mari makan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak ada yang menggemparkan.Tiba-tiba waktu bergerak mundur. Seratus enam puluh tahun, delapan bulan dua hari, tiga jam, dua menit, lima belas detik : Saya melahap sepiring mi instan. Indonesia berkibar sebagai KTP dalam perjalanan pulang ke kamar tidur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Maafkan aku Ibu Pertiwi, aku simpankan KTP ke dalam asbak rokok."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak ada yang mengaku merdeka. Tukang koran sahabatku cuma berteriak bahwa dua puluh tahun ke depan koran tidak dijual, koran dibagi secara gratis, dan mi instan tetap dijual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya terkenang: Dulu, saat saya masih ikut pramuka, mi instan merupakan barang haram. Sebab mi instant membuat anggota pramuka yang malas memasak. Kini, saat saya membenci pramuka, gubernur menyumbang mi instan buat para pramuka yang mengadakan perkemahan, atau korban banjir, gempa bumi, kelaparan, atau yang ikut kampanye pemilihan kepala daerah. Dan, dulu maupun kini, buruh pabrik mi instan tetap sebagai baut yang sewaktu-waktu dibuang sebagai gadis tanpa suami, pekerja seks, maupun janda yang membuka warung rokok di terminal, atau sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatra. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;BANYAK keluarga dengan satu rumah, satu televisi, satu komputer plus internet, sangat menyukai mi instan. Ayah, ibu, dan anak setiap hari makan mi instan. Tapi yang dibuang pun relatif sama. Seragam. Perbedaan cuma tercermin dari komposisi warna. Sebab untuk beberapa hal, para ayah, para ibu, dan tiga anak ini juga memiliki selera khusus saat mengonsumsi minuman instan. Para ayah suka pepsi, para ibu suka coca-cola, dan tiga anak suka mencampur pepsi dengan vodka. Tak ada yang mereka takutkan. Kecuali adanya kebijakan pemerintah menghentikan pabrik-pabrik mi instant berproduksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di luar angin membelit awan. Yayasan Komite Mi Instan untuk Keadilan Buruh masih bergerak di jalan-jalan. Mereka berharap ada wartawan yang terlibat sehingga dana kampanye bisa dioptimalkan. Tahun ini, lembaga donor dari Amerika Serikat maupun Eropa menginginkan peningkatan kampanye mi instan. Para aman. Para amin. [*]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7166737518107173418?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7166737518107173418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7166737518107173418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7166737518107173418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7166737518107173418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-keluarga-mi-instan_04.html' title='Esai Keluarga Mi Instan'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEaJuAn9cPI/AAAAAAAAAH4/BIm9Jiu3_AQ/s72-c/DSC02308.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8339072546429625292</id><published>2008-06-03T14:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.348-08:00</updated><title type='text'>Esai Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEW7dAn9cOI/AAAAAAAAAHw/zBb15rQshRg/s1600-h/DSC01795.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207774651182051554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEW7dAn9cOI/AAAAAAAAAHw/zBb15rQshRg/s320/DSC01795.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Saya Jatuh Cinta Lagi &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;CINTA merupakan persoalan klasik manusia. Cinta dapat membuat seseorang menjadi pahlawan, penjahat, gila, petualang, atau penipu. Cinta dapat mendatangkan malapetaka, tapi cinta dapat melahirkan kebahagiaan. Seperti kita yang selalu mengaku menemukan Yuliet, para nabi, Hitler, Chairil Anwar, Musolini, Cheng Ho, atau Batman, pada saat cinta membangunkan ribuan tahun kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sejak setahun lalu, saya jatuh cinta lagi. Siang dan malam, saya membicarakan dia. Saya memikirkannya. Saya memimpikannya. Saya berjuta kali menyebut namanya. Bahkan, saya terkadang merasa kehilangan Tuhan, lantaran sosok dia yang begitu memesona dan menggoda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebenarnya saya tidak suka dengan dia. Sebab dia selalu mendatangkan persoalan. Dia selalu memancing saya untuk memfitnah, dan mengumpat. Tapi, saya seperti John Lenon yang bersenandung, I don’t like you, but I love you…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Istri dan anak-anak saya cemburu dan marah dengan dia. Persoalannya, selain uang saya habis, juga saya tidak punya waktu bersama mereka. Bahkan, jadwal bercumbu saya dengan istri mengalami penurunan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Kamu ini gila! Dia itu bukan mendatangkan uang buat kita, justru biaya makan buat kami habis,” protes istriku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Inilah resiko. Negara ini perlu diselamatkan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Selamatkan dulu keluarga, baru selamatkan negara.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;YA, setahun ini, saya jatuh cinta dengan seorang calon gubernur. Saya jatuh cinta dengan gubernur yang mampu menyelamatkan perut dan otak manusia Sumatra Selatan. Saya jatuh cinta dengan sosok gubernur yang mampu membuat tiap manusia Sumatra Selatan memiliki rumah, menikmati air bersih, dan tidak melahirkan berbagai kecemasan seperti banjir, penyakit, dan kehilangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Mana mungkin ada manusia seperti itu. Ini zaman juaro, bukan seperti pada masa para rasul dikirim Tuhan,” kata istri saya, yang sudah sebelas tahun tidak memiliki giwang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Benar, ini zaman juaro, tapi saya percaya pergolakan sesuatu yang buruk akan melahirkan sesuatu yang baik. Sejarah membuktikan itu. Para nabi dilahirkan pada masyarakat yang kacau, penerima novel muncul di bangsa yang barbar, layaknya puisi yang lahir di saat orang patah hati, cemas, takut, atau kelaparan,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Coba sebutkan nama calon gubernur yang sesuai harapanmu?”&lt;br /&gt;Saya diam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Coba sebutkan nama-nama gubernur sebelumnya yang berhasil menyelamatkan kita?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya tetap diam. Diam. Dalam hati, saya berharap Tuhan membuka mata hati istri saya. Saya berharap istri saya mengerti bahwa untuk menemukan seorang gubernur yang baik itu perlu perjuangan. Bukan seperti menggoreng pisang. Dan, sikap pesimistis itu merupakan santapan empuk bagi para kapitalis. Sebab jika orang sudah tidak percaya dengan negara, maka pintu sangat terbuka bagi mereka buat menempatkan diri sebagai lembaga penyelamat, meskipun akhirnya orang itu akan dimakan benda-benda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Jangan Awak jadi antinegara seperti itu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;SEORANG teman saya berulangkali jatuh cinta. Namanya Herdi Gunawan. Sejak kami sama-sama membicarakan Soeharto yang kejam, ketika duduk di sekolah menengah atas, dia tidak percaya dengan negara. Saat itu, dia jatuh cinta dengan uang dan kebebasan. Sebagai etnis Tionghoa, kelompok minoritas di Indonesia , dia merasa uang dan kebebasan merupakan langkah untuk menemukan kebahagiaan. Negara, bagi dia, tidak mungkin menjamin hal tersebut. Negara hanya menuntut pengorbanan. Dan, pengorbanan itu bukan untuk kepentingan rakyatnya, tapi buat segelintir orang yang berkuasa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Lihatlah nanti, setelah Soeharto jatuh, akan muncul penindas baru. Begitulah sebuah negara melindungi dan membentuk kekuasaan,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya tidak percaya. Saat itu, saya jatuh cinta dengan sosok Soekarno, dan berharap ada pemimpin yang muncul mirip dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;25 tahun berlalu. Herdi Gunawan banyak mengunjungi berbagai negara. Yang sering dikunjunginya adalah Tiongkok. Sehabis dia menunaikan ibadah haji, kami bertemu. Kami tidak mendiskusikan bangsa Arab, sebab mereka telah dibantu Tuhan dengan kekayaan minyak buminya. Kami justru mendiskusikan bangsa Tiongkok, yang tiba-tiba menjadi bangsa yang mencengangkan di awal abad 21 ini. Katanya, tiap warga Tiongkok dalam sehari bekerja 20 jam. Mereka bekerja keras. Kerja merupakan bagian dari eksistensi. Mereka sangat menyintai pekerjaan. Mampukah kita seperti mereka? Tanyanya. Saya tidak mampu menjawabnya, sebab kerja keras seperti itu merupakan sesuatu yang memalukan dalam memori saya. Para penjajah pernah menjadikan leluhur kita bekerja keras seperti itu. Itu merupakan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Kerja keras mereka yang membuat ruang tamu kita, kamar tidur kita, dapur kita, kamar mandi kita, dipasok benda-benda dari Tiongkok yang jaraknya beribu kilometer dari sini,” katanya. 25 DESEMBER 2007 kemarin, dia menelepon saya dari Taiwan . Dia menyampaikan cintanya yang baru. Dia kini menyintai sebidang tanah yang luas. Tanah itu dikelilingi sungai atau kanal. “Di tanah itu aku akan menanam sayuran, menanam padi, memelihara bebek, ayam, ikan, dan setiap orang mengunjungi rumah panggung saya harus menggunakan perahu. Saya akan menjual hasil pertanian saya dengan harga lebih murah dari pasaran,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya pergi ke kamar setelah pembicaraan kami berhenti. Tiduran. Saya bertanya, apakah sosok gubernur yang saya cintai itu, mampu mewujudkan kebahagian teman saya tersebut. Sehingga Herdi Gunawan, meninggalkan apartemennya di Taiwan, menanggalkan jas, celana panjang, jam tangan, sepatu, mematahkan kartu kredit, di bandara Sultan Mahmud Badaruddin, lalu dengan celana pendek, berkaos oblong, telanjang kaki, pergi ke sebuah tanah di daerah rawa-rawa di pesisir timur Sumatra Selatan, buat mencangkul dan menanam sayuran. Entahlah. Istri saya muncul dengan persoalannya, “Coba minta dengan calon gubernurmu itu sekilo beras. Beras kita habis.” Saya patah hati, mungkin. [*] &lt;em&gt;Dimuat di Berita Pagi dan Tabloid Desa, Maret 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-8339072546429625292?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/8339072546429625292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=8339072546429625292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8339072546429625292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/8339072546429625292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-cinta.html' title='Esai Cinta'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEW7dAn9cOI/AAAAAAAAAHw/zBb15rQshRg/s72-c/DSC01795.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-3005948020287394529</id><published>2008-06-03T14:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.474-08:00</updated><title type='text'>Esai Rasis</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWyuwn9cMI/AAAAAAAAAHg/p9rdqJvOfMU/s1600-h/menikah.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207765060520079554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWyuwn9cMI/AAAAAAAAAHg/p9rdqJvOfMU/s320/menikah.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Rasis Tapi Menikah &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;BANYAK teman dari luar negeri menilai saya adalah orang yang ramah. Sebagian teman Indonesia mengatakan saya wong Palembang yang tidak gampang emosi. Tetapi, sejujurnya saya ini orang yang rasis. Sering memperolok atau mengejek etnis lain. Jika saya tidak suka atau kecewa dengan seseorang yang beretnis Jawa, maka saya akan mengatakan, "Dasar wong Jawa baru dapat bersepatu!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maksudnya, orang Jawa itu bila sudah dapat mengenakan sepatu, sifatnya berubah menjadi sombong. Lupa dengan masa lalunya yang sulit, susah, atau miskin. Lupa dengan pertolongan orang lain terhadap dirinya di masa lalu. Jika saya tidak suka atau kecewa dengan seseorang yang beretnis Batak, maka saya akan mengatakan, "Dasar Batak, apa pun dimakan." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ini maksudnya orang Batak itu tidak pandang bulu dalam mendapatkan rezeki, meskipun milik temannya atau tetangganya. Apa pun diambil. Istilahnya, halal, haram, hantam. Lalu, seandainya saya kecewa dengan wong Palembang—Sumatra Selatan—saya akan mengatakan, "Wong Palembang memang besar kelakar!" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Artinya, orang Palembang itu hanya mampu berbicara dibandingkan bekerja, atau banyak bohongnya dibandingkan fakta atau kenyataannya. Orang Arab dan Tionghoa (Cina) juga menjadi olok-olok saya. Jika kecewa dengan orang Arab, saya akan mengatakan, "Dasar tipu Arab!", lalu kecewa dengan Tionghoa saya akan maki, "Dasar Cina kulup (tidak sunat)." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Begitulah sikap rasis saya selama 20 tahun lebih. Tetapi, menariknya, antara saya dengan orang Jawa, Batak, atau Palembang, sampai hari ini tetap berkawan, bekerjasama, baik di pasar, di toko, di kantor pemerintahan, di perpustakaan, di rumah ibadah, di sekolah, di rumah sakit, di perguruan tinggi, maupun di markas meliter. Kami tidak pernah berkelahi apalagi berperang. Bahkan, ketika ada orang asing, kami sama-sama tersenyum dan mengaku sebagai bangsa Indonesia. "Betul mister, kami orang Indonesia." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ADA cerita yang beberapa kali saya dengar. Ceritanya seperti ini: Suatu sore, ada orang Jawa jalan-jalan di tengah kota. Lalu, dia melihat ada orang Batak yang bertubuh kekar dan besar memukul-mukul tembok yang tebal dan berlumut, tapi tidak hancur. Orang Batak itu juga berulangkali memanjat tembok, dan selalu jatuh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Orang Jawa itu menghentikannya langkahnya. Dia berpikir, bila ada orang Batak senekat itu pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik tembok itu. Dia pun memanjat pohon yang agak jauh dari tembok. Dan benar, ternyata di balik tembok ada setumpuk emas batangan. Orang Jawa menjadi berminat untuk mendapatkan tumpukan emas tersebut. Tetapi, dia bingung harus melakukan apa, sebab selain tidak ada pohon di dekat tembok, juga pikirnya orang Batak yang kekar dan besar saja tidak mampu melewati tembok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Satu-satunya cara aku harus minta bantuan kekuatan spritual. Aku harus terbang melewati tembok ini," pikirnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak lama kemudian orang Jawa melakukan semedi, persis di muka tembok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selang beberapa menit, muncul orang Padang. Melihat ada orang Batak yang keletihan, dan ada orang Jawa yang tengah bersemedi, langkahnya terhenti. Ini pasti ada sesuatu yang luar biasa, pikirnya. Sama seperti orang Jawa, dia naik ke pohon untuk melihat sesuatu di balik tembok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tahu ada tumpukan batangan emas di balik tembok, si Padang tidak perlu berpikir panjang bagaimana melompati tembok tersebut. Dia pun buru-buru mendekati tubuh orang Jawa yang tengah bersemedi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, dia injak bahu dan kepala orang Jawa itu sebagai tumpuan buat melompati pagar! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cerita bernuansa rasis ini, menunjukkan bagaimana hebatnya orang Padang dibandingkan orang Batak dan Jawa, atau sebaliknya menunjukkan bahwa orang Padang itu licik. Dan, cerita ini berkembang dari mulut ke mulut. Menjadi bahan guyonan di masyarakat selama bertahun-tahun. Dan, menariknya, meskipun guyonan bernuasa rasis ini berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa, Minang, Batak, tapi sekali lagi mereka tidak pernah berperang atau saling menyerang secara fisik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;BERANJAK fakta sederhana itu, saya menilai bahwa hubungan antaretnis di Indonesia lebih dewasa dibandingkan daerah-daerah lain di dunia ini, seperti di Afrika, India, Eropa Timur, Arab, yang sampai saat ini terus berperang lantaran adanya perbedaan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Padahal sebelumnya, konflik fisik antaretnis sudah berlangsung cukup keras selama puluhan abad di nusantara. Dua etnis yang berkonflik panjang itu, seperti etnis Melayu dengan Jawa. Kedua etnis ini saling mengalahkan. Pada masa dipimpin Sriwijaya, Melayu menaklukan Mataram Hindu. Kemudian ketika Jawa dipimpin Majapahit, Melayu dikalahkan. Dilanjutkan muslim Melayu—baca Palembang—membangun Demak di tanah Jawa lalu menaklukan Mataram, sampai akhirnya kedua etnis ini memiliki musuh bersama yang bernama Belanda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mereka sama-sama takluk dan terpecah. Dan, mereka pun membangun bersama sebuah negara yang disebut Republik Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, sebenarnya bertahannya Republik Indonesia selama 62 tahun merupakan keberhasilan luar biasa. Meskipun sebagian rakyatnya miskin, tapi di Indonesia belum terjadi pemusnahan suatu etnis oleh etnis lain, meskipun adanya kecenderungan atau dominasi etnis tertentu dalam wilayah ekonomi, politik, meliter, dan pemerintahan di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bila pun ada bentrokan fisik di sejumlah daerah, seperti di Aceh, Kalimantan, dan Papua, menurut saya, itu lebih disebabkan faktor ekonomi atau keadilan, bukan lantaran konflik etnis. Memang, ketika perut lapar dan rumah tidak ada, biasanya yang akan diserang adalah orang lain, bukan keluarga sendiri. Tetapi, bila tidak ada orang lain yang diserang, keluarga sendiri pun akan diserang bila kelaparan menyerang. Seperti kata Rendra, kelaparan itu burung gagak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maka, rasisme di Indonesia itu hadir sehari-hari, tapi dia tidak menimbulkan peperangan. Justru, pemerintah terus mencatat begitu banyak wong Jawa menikah dengan wong Palembang, orang Cina, orang Batak, atau orang Arab menikahi wong Jawa, wong Palembang, orang Batak, dan orang Cina. [*] &lt;em&gt;Dimuat di Berita Pagi dan Detikcom, Desember 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-3005948020287394529?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/3005948020287394529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=3005948020287394529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3005948020287394529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/3005948020287394529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-rasis.html' title='Esai Rasis'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWyuwn9cMI/AAAAAAAAAHg/p9rdqJvOfMU/s72-c/menikah.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-1036199230990966041</id><published>2008-06-03T13:49:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.660-08:00</updated><title type='text'>Esai Wong Sumsel</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWw2Qn9cLI/AAAAAAAAAHY/lSOuGEixG0E/s1600-h/betok.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207762990345842866" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWw2Qn9cLI/AAAAAAAAAHY/lSOuGEixG0E/s400/betok.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Wong Sumsel dan Cara Makan Ikan&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;KEHADIRAN sungai Musi di Sumatra Selatan belum diketahui secara pasti sejak kapan, tapi kemungkinan besar sekian ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan diperkirakan sungai Musi lebih dahulu dibandingkan manusia yang menetap di Sumatra Selatan. Namun nama Musi pada sungai yang kini panjangnya sekitar 460 kilometer—dari Barat ke Timur—itu tidak tahu sejak kapan digunakan, dan begitu pun artinya atau maknanya. Ada yang memperkirakan nama Musi berasal dari India, sebab ada nama Musi di pusat peradaban Hindu tersebut. Terakhir, ada yang menyebutkan nama Musi berasal dari bahasa Melayu yang berarti ikut atau aliran, seperti yang masih digunakan masyarakat Kayuagung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sungai Musi memiliki ratusan anak. Dari sekian ratus anaknya, terdapat delapan yang disebut sebagai sungai besar. Yakni sungai Komering, sungai Ogan, sungai Lematang, sungai Kelingi, sungai Lakitan, sungai Semangus Rawas, dan sungai Batang Hari Leko. Keberadaan sungai Musi bersama delapan anaknya itu yang akhirnya suatu masa Sumatra Selatan disebut sebagai negeri "Batanghari Sembilan".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keberadaan sungai Musi ini, yang menyebabkan daerah Sumatra Selatan sejak ratusan abad lalu menjadi daerah yang hidup. Dia menjadi sumber kehidupan hewan, tumbuhan, hingga manusia. Jadi, tidaklah heran, di sekitar gunung Dempo, tepatnya di sekitar anak-anak sungai Musi, pernah hidup manusia dengan peradaban yang cukup maju pada waktu itu, yang kini terlihat melalui artefak berupa patung-patung prasejarah. Lainnya, di Sumatra Selatan banyak ditemukan sumber daya alam berupa minyak bumi, batubara, dan gas bumi, yang membuktikan daerah ini pernah hidup tumbuhan dan hewan sejak jutaan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain sebagai sumber kehidupan, saya percaya sungai Musi digunakan manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan. Mereka mengadopsi karakter atau perilaku sungai Musi, termasuk perilaku makhluk yang lebih dahulu hidup. Buktinya, rupa hewan banyak diadopsi sebagai simbolisasi karakter atau fungsi manusia seperti ditemukan pada patung-patung prasejarah. Bukti lainnya, identitas diri manusia melalui ilmu kebatinan atau bela diri melalui hewan-hewan yang dinilai perkasa, seperti harimau atau gajah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dan, menurut saya, transformasi karakter hewan atau binatang kepada manusia, sampai sekarang masih berlangsung, terutama makhluk hidup yang berada di sungai Musi, seperti ikan. Beranjak dari keyakinan ini, saya mencoba membaca karakter manusia di Sumatra Selatan berdasarkan karakter ikan, terutama terkait soal cara memakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tentunya pembacaan ini memiliki sejumlah kelemahan, dan akan banyak mendatangkan kritik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Cara Makan Ikan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;IKAN Semah (Tor douronensis) yang hidup di sungai Musi bagian Ulu, tepatnya di sekitar gunung Dempo, merupakan ikan yang memiliki tubuh yang indah. Warnanya sisik yang putih atau merah keemasan, sangat enak dipandang. Mereka yang cenderung bertubuh besar ini, memang suka berkelompok, tapi dalam jumlah yang tidak besar. Ikan ini memakan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, agak kehilir, kita akan menemukan ikan purba nan buas seperti ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes). Ikan yang hidup di sungai, rawa, danau, sawah, hingga di parit-parit ini, memakan makhluk hidup apa saja, seperti serangga, ikan kecil, kodok, atau berudu. Jadi, tak heran, ikan gabus dan ikan toman menjadi hama bagi komunitas ikan air tawar lainnya. Bahkan gabus atau toman yang telah berukuran besar, dapat mencapai panjang sekitar 1-2 meter, juga berbahaya bagi manusia. Dalam sejumlah kasus ditemukan sejumlah tangan atau kaki manusia pernah digigit toman atau gabus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hebatnya, mereka mampu hidup beberapa menit di darat, tanpa membutuhkan air. Mereka memiliki organ labirin, yang mampu mengambil udara secara langsung. Pada musim kemarau, mereka mampu hidup berbulan-bulan atau bahkan bertahun dengan cara berendam di dalam lumpur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sama seperti ikan gabus dan ikan toman adalah ikan betok (Anabas testudineus). Bedanya, ikan ini memiliki ukuran yang lebih kecil, maksimal panjangnya 25 centimeter, lalu mereka pun hidup di pinggiran sungai Musi atau anaknya, seperti di rawa-rawa, kolam atau parit. Betok juga mampu bertahan hidup di darat untuk sekian lama. Bahkan, kecepatan berjalan di darat lebih cepat dari gabus atau toman. Insangnya yang digerakan dengan dimekarkan seperti menjadi "kaki depan" betok saat bergerak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kian hilir, tepatnya pada sungai Musi yang melintasi kota Palembang, kita akan menemukan gerombolan ikan juaro (Pengasius). Meskipun ikan ini juga ditemukan di sejumlah daerah agak ke hulu dari sungai Musi. Ikan yang masuk ordo Osthariophysi, seperti ikan baung, termasuk ikan yang paling rakus. Selain memakan ikan kecil, serangga, ikan ini juga memakan kotoran manusia dan buntang. Jadi, dapat dikatakan ikan juaro selalu hadir di sekitar manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain jenis ikan di atas, cara makan yang menarik dari ikan yang hidup di sungai Musi atau perairan yang airnya berasal dari sungai itu adalah ikan seluang bada (Rasbora daniconius) dan ikan sepat (Trichogaster pectoralis). Ikan ini suka bergerombol dan mereka juga memakan apa saja, meskipun tidak sebuas atau serakus ikan gabus, toman, semah, juaro, atau betok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;CARA makan ikan-ikan air tawar yang hidup di sungai Musi, atau yang berada di perairan yang dialiri sungai Musi, di atas, kita tranformasi kepada karakter manusia, kita akan menemukan manusia seperti ikan semah, ikan gabus, ikan toman, ikan betok, ikan seluang, atau ikan sepat. Karakter ini lebih ditekankan pada caranya mencari makan atau profesinya dalam kehidupan kekinian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Manusia yang berpenampilan menarik, anggun, memesona banyak orang, dan suka pamer, tapi dapat memakan apa saja, sehingga membuat kita terkejut terhadap kontradiksi antara penampilan dan cara makannya, dapat dibaratkan ikan semah. Kelemahan manusia ini mereka gampang ditaklukan, lantaran tidak jagoan, atau hanya mengandalkan daya tarik fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, manusia yang suka menunjukkan dirinya jagoan, memakan apa saja. Kian besar kian rakus dan jagoan, serta tidak peduli dengan penampilan dirinya, dan lingkungannya, dapat diibaratkan ikan gabus atau ikan toman. Manusia seperti ini tidak membutuhkan komunitas, tapi mereka membutuhkan pengakuan bahwa mereka harus ditakuti. Manusia seperti ini sulit ditaklukan. Mereka dapat hidup meskipun lingkungannya yang didiaminya dalam kondisi sulit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Manusia yang rakus, jagoan, dan hidup dalam kondisi apa pun, tapi tidak mau menunjukkan dirinya kepada banyak orang, dapat diibaratkan seperti ikan betok. Manusia jenis ini pun tidak peduli dengan penampilan diri maupun lingkungan tempat hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kemudian, manusia yang senang bergerombol, tambeng, dan makan secara bersama, serta memakan apa saja, termasuk jenis ikan juaro. Manusia jenis sulit sekali dimusnahkan, sebab meskipun tidak jagoan, manusia ini mampu mereproduksi dirinya sedemikian rupa. Mereka pun tahan terhadap segala jenis arus, suara, dan limbah atau racun perkotaan. Sementara komunitas yang jauh lebih lemah dari juaro, yakni manusia seperti ikan seluang. Apapun jenis makanan yang diberikan akan diburu komunitas ini, meskipun itu hanya segumpal air ludah. Tapi, ada komunitas seperti ini yang tidak mau berani tampil di muka umum, atau hanya bermain di pinggiran. Mereka ini mungkin termasuk jenis ikan sepat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Makanan Kapitalis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;JADI, dapat disimpulkan karakter manusia yang meniru cara makan ikan yang hidup dari air sungai Musi, secara moral tidak dapat dibanggakan. Selain memalukan, juga menjadi parasit, mengancam keberadaan manusia lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pertanyaannya, apakah manusia yang hidup di Sumatra Selatan semuanya meniru cara makan ikan yang hidup di sekitar dirinya, atau sebaliknya ikan-ikan itu meniru cara makan manusia yang hidup di sekitar dirinya? Tidak gampang menjawabnya, sebab belum ada satu pun penelitian mendalam mengenai cara makan ikan dengan manusia yang hidup dalam lingkungan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Meskipun begitu, saya membaca fenomena manusia transisi di Sumatra Selatan memiliki kesamaan dengan karakter ikan yang hidup di sungai Musi, setidaknya dalam cara makannya. Karakter yang paling menonjol yakni tidak atau malas berbagi dengan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kecenderungan yang ada, yakni menikmati apa yang didapat secara individu, meskipun makanan itu didapat secara bersama-sama seperti halnya ikan juaro, seluang, atau sepat. Bahkan, tidak akan berhenti sebelum makanan itu habis dilahap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dari yang berpenampilan yang menarik maupun berpenampilan buruk, dari yang jagoan maupun yang penakut, semuanya memburu makanan, dan demi kepentingan pribadi. Tidak peduli makanan itu halal maupun tidak halal. Bahkan, tidak jarang mereka pun akan memakan kawan atau anak-anaknya, seperti yang dilakukan ikan gabus dan ikan toman.&lt;br /&gt;Yang mengejutkan, semua jenis ikan di atas, diakui sangat enak buat disantap. Bahkan, ikan juaro yang suka makan kotoran manusia atau buntang itu, dipercaya rasanya paling enak di antara ikan-ikan lainnya. Hanya, yang harus diperhatikan yakni cara menangkap atau menyiangnya. Ini tentu berbeda dengan cara menangkap ikan mas atau ikan mujair.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maka, tidaklah heran, seganas dan serakus apa pun manusia di Sumatra Selatan, sejak dahulu gampang ditaklukan para pendatang, yang tentunya telah mengerti karakter mereka. Umumnya dengan cara diracuni, ditipu, atau dengan kelembutan. Jarang sekali manusia di Sumatra Selatan ditaklukan dengan cara-cara kekerasan. Ini terbukti dengan kuatnya pengaruh ajaran Budha dan Islam di Sumatra Selatan. Mereka masuk dengan cara yang lembut, menyejutkan, sehingga manusia di Sumatra Selatan menerima dua ajaran tersebut. Ini berbeda dengan kekuatan Hindu, yang cenderung datang dengan kekerasan, sehingga mereka tidak mampu bertahan lama di Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cara ini pula yang dilakukan VOC dan kolonial Belanda. Setelah letih dengan cara-cara kekerasan, mereka pun menawarkan konsep damai atau bahkan menampilkan karakter orang baik, buat menguasai manusia di Sumatra Selatan. Hanya dengan cara memberi gaji, pangkat, atau gaya hidup ala Eropa, manusia di Sumatra Selatan rela simbol kekuasaan mereka sebelumnya dibubarkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beranjak dari fakta itu, saya percaya manusia di Sumatra Selatan hanya dapat ditaklukan oleh kekuatan kapitalis, dibandingkan kelompok fundamentalis. Mengapa? Sebab hanya kekuatan kapitalis yang memiliki kemampuan bermain lembut, dan menipu. Dengan cara mengusung isu demokrasi, kemanusiaan, kekuatan kapitalis lebih dapat diterima. Apalagi, kaum kapitalis paling pintar menjanjikan makanan enak atau gaya hidup yang enak. Sementara kelompok fundamentalis yang berkarakter keras, lebih sulit menaklukan manusia di Sumatra Selatan. Apalagi mereka tidak mampu menjanjikan makanan enak atau gaya hidup enak. Janji yang diberikan kaum fundamentalis umumnya bersifat jauh ke depan, seperti surga atau kondisi yang enak di masa mendatang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Teror Antu Banyu &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;TETAPI, ada makhluk di sungai Musi yang tidak dapat ditaklukan siapa pun. Bahkan, mereka ini beratus-ratus tahun menjadi teror bagi kehidupan di sepanjang sungai Musi. Makhluk itu adalah Antu Banyu atau yang berarti "Hantu Air". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cara kekerasan maupun kelembutan terbukti tidak mampu menaklukan atau menghancurkan Antu Banyu. Mereka terus mengincar manusia, tidak peduli anak-anak, orang dewasa, perempuan maupun laki-laki, kaya atau miskin, pribumi atau bule, penjahat atau orang baik, buat disantap dengan cara mengisap darahnya melalui umbun-umbun di kepala.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, kalau Antu Banyu diibaratkan manusia, dia merupakan sosok yang dikenal misterius, sadis, kejam, dan sulit ditaklukan atau ditangkap. Mereka juga tidak suka menonjolkan dirinya. Tertutup. Dan, selalu muncul sendirian. Tidak bergerombol atau berkelompok seperti ikan-ikan di sungai Musi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pertanyaan pentingnya, apakah Antu Banyu merupakan makhluk yang menjaga keberadaan sungai Musi, atau sama seperti ikan-ikan yang disebutkan di atas, sebagai makhluk yang secara moral tidak pantas ditiru? Penjelasan yang ada, kaum agamis menyatakan Antu Banyu merupakan sosok jin yang jahat atau syetan, sementara kelompok positivisme menyebutnya sebagai binatang purba. Sayang, sampai sekarang sosok Antu Banyu tidak dapat dimusnahkan atau ditangkap, dikurung, sehingga kita mampu melihat dan mempelajari sosok fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, mungkinkah di Sumatra Selatan ini memiliki manusia seperti Antu Banyu? Jika ada, merekalah yang abadi menjadi teroris bagi masyarakat Sumatra Selatan, yang tidak tergantung siapa atau kelompok yang menjadi penguasa. Untungnya, mereka ini hanya senang menjadi teroris, dan tidak punya ambisi menjadi penguasa. Ini terbukti mereka tidak menyantap habis ikan semah, ikan gabus, ikan toman, ikan betok, ikan juaro, ikan sepat, atau ikan seluang. Mereka hanya memangsa manusia yang senang menyantap ikan-ikan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;BERANJAK dari cara makan makhluk hidup di sungai Musi, mungkin kita dapat membayangkan bagaimana masa depan Sumatra Selatan. Masa depan yang bergantung pada makanan. Hidup Abraham Maslow! [*] &lt;em&gt;Dimuat majalah kebudayaan Musi Terus Mengalir dan Lampung Post&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-1036199230990966041?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/1036199230990966041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=1036199230990966041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1036199230990966041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/1036199230990966041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-wong-sumsel.html' title='Esai Wong Sumsel'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWw2Qn9cLI/AAAAAAAAAHY/lSOuGEixG0E/s72-c/betok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-7775472549337716461</id><published>2008-06-03T13:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.753-08:00</updated><title type='text'>Esai Gerakan Musi Raya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWt3An9cKI/AAAAAAAAAHQ/nlIev-iy4SY/s1600-h/idolacilik.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207759704695861410" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWt3An9cKI/AAAAAAAAAHQ/nlIev-iy4SY/s400/idolacilik.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Gerakan Musi Raya! &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;SEORANG mahasiswa dari Eropa yang melakukan penelitian politik, merasa sangat cemas dengan Sumatra Selatan hari ini. Menurut dia, bila tidak dilakukan konsolidasi sosial dan budaya, Sumatra Selatan berpotensi menjadi wilayah konflik yang lebih keras dan tajam, dibandingkan di Aceh, Papua, atau seperti sejumlah daerah di Indonesia Timur lainnya. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Menurut dia, saat ini hampir semua warga Sumatra Selatan mengindentifikasikan dirinya sebagai bagian dari etnis tertentu. Buktinya, saat ini lahir banyak organisasi yang berbasis etnis di Sumatra Selatan. Jumlah organisasi ini jauh melebihi organisas buruh, profesi, yang umumnya menjadi fenomena dari sebuah masyarakat transisi atau modern. Selain itu, dia menilai semangat "pemekaran" yang muncul di Sumatra Selatan, lebih banyak pendekatan etnisitas dibandingkan keadilan soal ekonomi atau pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebenarnya fenomena ini juga berlangsung di banyak daerah lain di Indonesia, tapi jika Sumatra Selatan "meledak" dampaknya akan lebih luas dan panjang, melebihi apa yang telah terjadi di Aceh dan Papua. Bahkan, menurut dia, ledakan itu akan menyeret wilayah-wilayah yang berada di sekitarnya, seperti Bengkulu, Jambi, Lampung, Bangka, dan Sumatra Barat. Sebab etnisitas yang berada di Sumatra Selatan masih terkait dengan wilayah yang disebutkan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, menurut dia, perlu dilakukan konsolidasi sosial dan budaya, sebelum berlangsungnya peristiwa politik seperti pemilihan kepala daerah, anggota dewan dan senator, presiden, yang dapat menjadi pemicu ledakan tersebut. Gerakan Musi RayaBeranjak dari pemikiran teman yang kini masih kuliah di sebuah universitas di Berlin, Jerman, itu, saya mempunyai gagasan berupa Gerakan Musi Raya. Gerakan ini semacam "nasionalisme" masyarakat Sumatra Selatan. Sehingga tiap warga Sumatra Selatan memiliki kesadaran untuk menjaga persaudaraan, sebagai bagian dari bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gerakan ini sebetulnya seperti yang pernah dilakukan para leluhur di Sumatra Selatan, yang mana dengan menggunakan ajaran Budha dan Islam, mereka mampu menyatukan puluhan suku di Sumatra Selatan, kemudian menjadi kekuatan yang mampu menyatukan berbagai suku bangsa di Nusantara, seperti yang diusung para pemimpin Sriwijaya dengan Budha-nya, atau keluarga Raden Fatah bersama Islam-nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Memang, secara teori Pancasila adalah ideologi pemersatu setelah ajaran agama yang sebelumnya menjadi alat pemersatu. Tetapi, berbeda dengan penyiar agama, penyiar Pancasila mengalami kegagalan saat berkonsolidasi dengan berbagai perbedaan budaya dan sosial di Nusantara, sehingga ideologi yang sangat tepat di Indonesia itu seperti "dipaksakan" atau sebatas formalitas bae. Akibatnya, seorang pemimpin yang mengaku berideologi Pancasila, saat melaksanakan pemerintahan cenderung mementingkan kelompoknya, baik eknisitas, kepercayaan, maupun keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jadi, tepatnya, Gerakan Musi Raya merupakan penyiaran ulang Pancasila di wilayah Sumatra Selatan, sehingga keberadaan negara-bangsa ini bertahan hingga ratusan tahun atau puluhan abad, seperti Sriwijaya, Majapahit, maupun kerajaan Islam yang pernah ada. Simbol MusiSebelum adanya Indonesia, Kesultanan Palembang Darussalam, Kerajaan Islam Palembang, Kerajaan Sriwijaya, atau jauh sebelum adanya manusia di Sumatra Selatan, sungai Musi sudah ada. Dia hadir dengan ratusan anaknya. Dia bukan hanya menjadi produsen air dari Bukti Barisan ke laut di Selat Bangka dan Lautan Hindia, dia juga menjadi sumber kehidupan hewan, tumbuhan, sehingga wilayah ini menjadi kaya dengan sumber alamnya.&lt;br /&gt;Melihat potensi ini, manusia jelas menjadi tertarik. Mereka kemudian memanfaatkannya sebagai sumber dan penunjang kehidupan.Termasuk sebagai sarana transportasi pada masa tradisional hingga modern.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lantaran keberadaan sungai Musi ini, berbagai manusia yang berasal dari berbagai daerah di dunia, datang dan membangun komunitasnya di sekitar sungai Musi. Gelombang pendatang ini, saat ini, ada yang masih terlacak dan tidak sedikit yang tidak terlacak. Bahkan, kita harus percaya, nenek-moyang bangsa Malaysia dan Singapura, pernah dihidupi oleh sungai Musi.&lt;br /&gt;Nah, para pendatang yang memanfaatkan sungai Musi ini melahirkan berbagai suku yang sebagian masih bertahan sampai saat ini, seperti Palembang, Komering, Besemah, Kisam, Dayo, Rawas, Ranau, atau Sekayu. Tepatnya, bila tidak ada sungai Musi, mungkin tidak semua eknis di atas masih bertahan di Sumatra Selatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di masa lalu, pengakuan berbagai eknis itu terhadap sungai Musi dengan menyebutkan identitas mereka sebagai masyarakat "negeri batanghari sembilan".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tepatnya, kita yang ada hari ini, dengan berbagai identitas, baik berdasarkan kesukuan, kepercayaan, profesi, mungkin tidak akan ada, apabila sungai Musi menolak kehadiran kita. Misalnya air yang dialirkannya mengandung racun, meskipun pada akhirnya justru manusia yang meracuni sungai Musi dengan limbah seperti amoniak, plastik, soda, atau klorin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kongres Sungai MusiLangkah awal dari Gerakan Musi Raya, yakni dilangsungkannya Kongres Masyarakat Sungai Musi. Kongres ini menghadirkan berbagai etnis yang hidup sepanjang sungai Musi, atau tepatnya kongres yang menghadirkan perwakilan masyarakat "Batanghari Sembilan". Baik tokoh adat, intelektual, praktisi politik, maupun pendamping sosial dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dalam kongres itu dirumuskan soal identitas masing-masing etnis, mulai dari bahasa, seni, maupun tradisi. Selanjutnya, disampaikan juga persoalan yang dialami mereka. Baik persoalan ekonomi, pendidikan, seni, budaya, keamanan, pembangunan, hingga lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berdasarkan rumusan identitas dan persoalan yang dialami masing-masing etnis, selanjutnya dirumuskan agenda kerja ke depan yang tentunya bertujuan untuk memakmurkan semua warga atau masyarakat di Sumatra Selatan. Agar tidak melenceng dari cita-cita nasionalisme Indonesia, segala rumusan agenda kerja tersebut diukur dengan semangat Pancasila dan UUD 1945. Tetapi, agenda kerja dirumuskan dahulu baru diukur dengan semangat Pancasila dan UUD 1945, bukan sebaliknya, sehingga sejak awal tidak ada pembatasan gagasan maupun persoalan. Katakanlah, bukan membatasi orang ingin membentuk kota baru, tapi apakah kota baru yang digagas itu bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Rumusan agenda kerja ini yang kemudian menjadi pegangan setiap warga Sumatra Selatan, termasuk menjadi kontrak politik, kontrak sosial, kontrak ekonomi, dengan para kepala daerah, investor, maupun penyiar agama dan pekerja kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Memang, rumusan agenda kerja ini tidak mungkin dapat disimpulkan dalam satu pertemuan, mungkin berulang kali, sampai didapatkan sebuah rumusan yang ideal. Cukup melelahkan pikiran, emosi, dan fisik. Tapi, itu mungkin lebih baik--damai dan cerdas--dibandingkan harus menjadi seorang cowboy seperti yang dialami Amerika Serikat, atau harus melahirkan Hitler, Bonaparte, Mussolini, seperti di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kesimpulan saya, jauh sebelum ilmu pengetahuan, ajaran agama, selera, membedakan identitas tiap warga Sumatra Selatan, kita sesungguhnya adalah ciptaan Tuhan YME yang datang ke Sumatra Selatan atau negeri Pasemah--suku bangsa di sekitar Bukit Barisan--ini untuk bergantung dengan sungai Musi. Seperti halnya sindiran penyair Yunen Asmara berbisik dengan saya, sekian puluh tahun lalu, "Lihatlah, sungai Musi menertawakan kita yang tengah berdebat soal makanan dan pakaian ini." [*] &lt;em&gt;Dimuat di harian Sriwijaya Post dan Berita Pagi, Oktober 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-7775472549337716461?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/7775472549337716461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=7775472549337716461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7775472549337716461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/7775472549337716461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-gerakan-musi-raya.html' title='Esai Gerakan Musi Raya'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEWt3An9cKI/AAAAAAAAAHQ/nlIev-iy4SY/s72-c/idolacilik.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-2012201250570352647</id><published>2008-06-03T08:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:37.855-08:00</updated><title type='text'>Esai Monolog Sungai Musi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVd-An9cHI/AAAAAAAAAG4/hXKTNi5wSNI/s1600-h/Dibersihkan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207671864024723570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVd-An9cHI/AAAAAAAAAG4/hXKTNi5wSNI/s400/Dibersihkan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T. WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Monolog Sungai Musi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;DULU, aku pernah berteriak “Sungai Musi bukan pacarku!”. Warna airnya yang coklat, serta beraroma sampah, limbah amoniak, limbah karet, membuatku sama sekali tidak tertarik menjadi kekasih sungai Musi. Selain itu, perkampungan tua di sepanjang sungai Musi kondisinya kumuh, dan di sana hampir setiap hari terjadi peristiwa kriminalitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku membencinya. Tetapi aku tidak dapat berlari. Aku harus menerima bahwa air pertama yang menyentuh tubuhku di dunia ini adalah air sungai Musi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebencianku dengan sungai Musi, seperti menguburkan sejarah kebesaran Danputa Hyang, Bala Putra Dewa, atau Ariodilah. Aku membenci sungai Musi, seperti kebencian Parameswara terhadap Chang Lien, yang menjadi kepala perompak di Palembang , dan para pangeran dari Majapahit yang menguasai sungai Musi, pada abad ke-14.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetapi, aku tidak mau seperti Parameswara yang lari ke pulau Tumasek, dan membangun kerajaan di Melaka. Aku tetap bertahan di Palembang , bergerak dari suatu kampung ke kampung lainnya. Dari Suro pindah ke Kalidoni, Pakjo ke 10 Ulu, kembali ke Kalidoni, pindah ke Plaju, Kenten, Dwikora, balik ke Kenten, dan kembali lagi ke Kalidoni.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebencian tersebut kutuliskan dalam sebuah novel berjudul Juaro, yang mana aku ingin mengungkapkan kehidupan manusia di tepian sungai Musi, seperti ikan juaro. Ikan yang paling suka memakan kotoran manusia dan buntang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sehabis menulis novel itu dan dibaca orang lain, aku justru menjadi ketakutan. Aku cemas. Aku membenci diriku. Pertanyaan pentingnya, benarkah nenek moyangku adalah para juaro yang mengendon di tepian sungai Musi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mereka marah. Mereka menceritakan soal pangeran yang kaya dan alim telah melahirkan buyutku. Hanya, mereka tidak dapat membantah parang dan tombak silih berganti menyumbangkan darah ke sungai Musi, demi menjaga setumpuk warisan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mereka berkata, ”Ada sesuatu yang tidak selesai kita pelajari. Kita selalu meninggalkan sesuatu, tapi belum tuntas mendapatkan yang baru.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku marah dalam novel Buntung. Dalam ceritanya, aku memaksa sungai Musi menjadi kekasihku, meskipun aku bukan seorang raja atau seorang imam. Aku menerima identitas sebagai manusia buntung. Manusia yang membaca terputus-putus. Dan, kucemaskan dalam diriku Palembang tenggelam lalu Indonesia bubar. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;MENERIMA sungai Musi sebagai calon kekasih atau pacar, cukup melelahkan. Setiap hari harus berdebat dengan banyak orang. Harus monolog terhadap para pendatang. Harus berteriak dengan saudara, yang terus mengotori tubuhnya.Aku harus percaya, kampung-kampung kumuh yang tumbuh di sepanjang sungai Musi, dulunya adalah kampung yang makmur, asri, dan tempat tinggal para ulama, saudagar, atau intelektual muslim. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku harus percaya, sejak 13 abad lalu, sungai Musi telah dikunjungi berbagai suku bangsa dari utara, seperti dari Tiongkok, India, Persia, Arab, Afrika, dan Eropa. Mereka menjadi makmur di negeri yang kemudian disebut sebagai “Darussalam”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku juga harus percaya, sungai Musi pernah beratus tahun menghidupi para rohaniwan Budha, yang kemudian menjadi imam bagi jutaan rakyat di Tiongkok , Tibet , Jepang, maupun bangsa di Asia Selatan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sungai Musi tidak seperti yang kau lihat pada hari ini. Sungai Musi harus dibaca, dibaca, sehingga kau akan menyintainya,” kata mereka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Jika memang kita kaya, jika memang kita memiliki kebudayaan luhur, mengapa hari ini aku melihat perkampungan di sepanjang sungai Musi, seperti kota New York saat didatangi para penjahat dari Irlandia?” &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kau tidak membaca di balik kemiskinan yang tumbuh tiap detik di sepanjang sungai Musi,” jawabnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku membaca pesan dari jawaban itu. Yakni sebagai seorang penyinta, aku harus menerima pacarku apa adanya. Menerima kekurangan dan kelebihannya. Aku harus menerima dan mengerti sungai Musi sebagai dirinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai penyinta, aku harus menyelamatkan sungai Musi dari limbah industri, dan membebaskan kemiskinan yang dialami masyarakat yang hidup di tepian dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;O, itu terlalu naïf. Aku bukan Batman, bukan Superman, bukan Danputah Hyang, bukan Soros, bukan Soeharto, bukan Soekarno, yang mampu mengubah atau menyelamatkan banyak manusia. Aku manusia biasa, yang sangat tergantung pada kata buat mengungkapkan berbagai kecemasan. Kecemasan sebagai manusia yang tidak pernah bebas dari kemiskinan, kebodohan, dan keinginan menipu Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini, maukah sungai Musi menjadi pengantinku?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia tidak menjawab. Dan, dia pun tidak peduli apakah aku menyintainya atau membencinya. Dia justru menyembunyikan nenek moyangku, meskipun ribuan wisatawan melalui lembaran dolar turut membantu mencarinya. Kehilangan itu seperti sajak ini: Kehilangan seluruh tubuhku atas tubuh kami. Lenyap seperti sunyi milik kekuasaan yang kalah.Kehilangan seluruh kata atas dongeng kami. Menggelepar di dalam kuali tanpa minyak goreng, hanya api dari potongan ban sepeda. Kehilangan selalu kehilangan. Diam, tiba-tiba tubuh menjadi bencana. Lapar tanpa mengenal jalan pulang, kecuali mati yang pasti mengapung di sungai ini. Selanjutnya senyap tubuhku atas tubuh kami. [*] &lt;em&gt;Dimuat harian Sriwijaya Post, April 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-2012201250570352647?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/2012201250570352647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=2012201250570352647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2012201250570352647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/2012201250570352647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-monolog-sungai-musi.html' title='Esai Monolog Sungai Musi'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVd-An9cHI/AAAAAAAAAG4/hXKTNi5wSNI/s72-c/Dibersihkan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-4189716620635397938</id><published>2008-06-03T07:55:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:38.015-08:00</updated><title type='text'>Esai Kesultanan Palembang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVcOQn9cGI/AAAAAAAAAGw/ZSBcgeK2Q5k/s1600-h/Sultan+Iskandar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207669944174342242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVcOQn9cGI/AAAAAAAAAGw/ZSBcgeK2Q5k/s400/Sultan+Iskandar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;Iskandar Mahmud Badaruddin &lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;T.WIJAYA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Kesultanan Palembang Darussalam Bangkit Lagi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;KESULTANAN Palembang Darussalam sudah lama bubar. Tepatnya dibubarkan penjajah kolonial Belanda pada 1825. Dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, Palembang tak tercantum sebagai daerah istimewa sebagaimana Yogyakarta atau Aceh. Namun, selama tiga tahun terakhir, ada orang-orang yang ingin menghidupkan kembali kesultanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pada mulanya Raden Mas Syafei Prabu Diraja, seorang perwira polisi, menyatakan dirinya sebagai Sultan Mahmud Badaruddin III. Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai sultan setelah menerima wangsit. Itu terjadi pada tahun 2003 lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Banyak yang mempertanyakan keabsahan pengukuhan Syafei Prabu Diraja sebagai Sultan Mahmud Badaruddin III. Ada yang mendukungnya, tapi ada pula yang mencela.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, sejumlah zuriat wong Palembang yang berhimpun dalam Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam pada Oktober 2006 lalu, melakukan rapat atau pertemuan. Mereka mengukuhkan Raden Mahmud Badaruddin sebagai Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Akibatnya, Palembang jadi punya dua sultan. Polemik pun terjadi di media lokal maupun di forum diskusi. Siapa sebenarnya ahli nasab Kesultanan Palembang Darussalam yang berhak menerima gelar sultan? Syafei atau Mahmud?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Semua orang akhirnya tahu bahwa keduanya bukan ahli nasab. Syafei adalah keturunan dari istri keenam Sultan Mahmud Badaruddin II, sementara Mahmud keturunan sultan sebelumnya, Sultan Mansyur Jayo Ing Lago.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Perdebatan malah melebar. Kini orang mempertanyakan siapa sultan terakhir Palembang? Apakah Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Najamuddin Pangeran Ratu atau Sultan Najamuddin Prabu Anom? Posisi ini sangat penting. Jika Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan sultan terakhir Palembang, maka Syafei merasa berhak jadi sultan. Menurut Syafei dan pendukungnya, Sultan Najamuddin Pangeran Ratu maupun Najamuddin Prabu Anom adalah pengkhianat alias diangkat sultan oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mahmud Badaruddin ditunjuk sebagai sultan berdasarkan konsensus. Alasannya, Kesultanan Palembang Darussalam secara resmi sudah bubar dan bila dihidupkan kembali hanya sebagai simbol budaya. Satu-satunya legitimasi menghidupkan kesultanan sebagai simbol budaya hanya melalui sebuah kesepakatan politik, bukan wangsit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Polemik ini membuat saya tertarik menelusuri sumber-sumber sejarah yang jadi bahan perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;KETIKA Belanda menguasai Palembang pada 1821, semua catatan atau dokumen sejarah Kesultanan Palembang Darussalam hilang. Tepatnya, setelah Sultan Najamuddin Prabu Anom, yang mencoba melawan Belanda, dibuang ke Manado bersama pengikutnya.&lt;br /&gt;Demi kepentingan ilmu pengetahuan, para peneliti Belanda mencoba menelusuri kembali sejarah Kesultanan Palembang Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Metode yang dilakukan mereka cukup sederhana. Para peneliti Belanda, dari tahun 1825 sampai 1840, melakukan wawancara dengan para priyayi yang masih hidup. Dari penuturan kaum priyayi ini sejarah Kesultanan Palembang Darussalam disusun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hal tadi diungkapkan M.O. Woelders, penulis buku Het Sultanaat Palembang 1811-1825, saat ditemui Djohan Hanafiah di Belanda pada tahun 1987. Woelders juga mewawancarai para priyayi Palembang untuk keperluan penelitiannya, sedangkan Djohan orang Palembang yang tertarik pada sejarah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tetapi pantaskah kita mempercayai semua penuturan priyayi tersebut? Sejauh mana kebenaran versi sejarah yang dituturkan mereka?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jangan-jangan mereka selamat karena berkompromi dengan penjajah. Jangan-jangan mereka itu para pengkhianat sultan. Dan bagaimana mungkin cerita mereka bisa dipercaya? Namun, tak semua priyayi mau jadi kaki tangan Belanda. Sebagian pengikut Najamuddin Prabu Anom yang tak mau menyerah memutuskan melarikan diri ke selatan Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tentu saja sultan yang punya banyak keturunan adalah yang paling beruntung. Semakin banyak keturunan semakin banyak pula pencerita yang akan jadi sumber sejarah.&lt;br /&gt;Setahu saya, Sultan Mahmud Badaruddin II yang punya istri terbanyak. Sembilan orang. Sebagian istri dan anaknya tetap di Palembang ketika dia dibuang ke Ternate.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;SELAIN kelompok priyayi kesultanan atau lingkungan keraton, di Palembang juga ada kelompok priyayi di masyarakat, yang diberi gelar Kemas, Kiagus, dan Masagus. Kelompok priyayi ini merupakan keturunan Ki Bodrowongso atau Pangeran Bawah Manggis.&lt;br /&gt;Sebelum Kesultanan Palembang Darussalam berdiri, tepatnya pada abad ke-16, berdiri kerajaan Palembang. Pendirinya adalah Ki Gede Ing Suro dan beberapa panglima perang dari Jawa, tepatnya dari Demak dan Pajang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sekitar tahun 1622 sampai 1643, ketika Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat IV atau Pangeran Sido Ing Kenayan berkuasa, hiduplah seorang panglima perang yang bernama Ki Bodrowongso atau Ki Bagus Abdurrahman Bodrowongso bin Pangeran Fatahillah atau juga dikenal sebagai Panglima Bawah Manggis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain Ki Bodrowongso, seorang panglima perang lain bernama Jaladeri cukup terkenal di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Buku Sejarah Melayu Palembang yang ditulis R.M. Akib menyebutkan bahwa Jaladeri memiliki seorang istri dan dua anak. Sang istri, Nyi Marta, suatu hari meminta Jaladeri beristri lagi. Menurut Nyi Marta, cukup memalukan jika seorang panglima hanya memiliki satu istri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Akhirnya Jaladeri menikahi seorang gadis cantik sebagai istri kedua. Pesta perkawinan dilangsungkan di Pedaleman atau istana Pangeran Sido Ing Kenayan atau yang dikenal sebagai Kuto Gawang, yang kini lokasinya dijadikan tempat beroperasi pabrik Pupuk Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Usai pesta, istri kedua Jaladeri tidak langsung dibawa pulang. Dia ditahan di istana. Para perempuan di istana masih menaruh kekaguman atas kecantikan dan keelokan sang mempelai wanita. Mereka ingin melihat dan bercengkrama lebih lama dengannya.&lt;br /&gt;Tindakan tersebut membuat Nyi Marta menaruh curiga. Dia menduga ada rencana jahat orang-orang istana terhadap istri kedua suaminya itu. Dia juga curiga raja ingin merebut madunya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Nyi Marta menuturkan kecurigaannya pada sang suami. Hati Jaladeri terbakar. Tanpa pikir panjang, dia mengamuk di istana. Sebagian besar penghuni istana meninggal dunia, termasuk Pangeran Sido Ing Kenayan dan istrinya, Ratu Sinuhun, yang tidak memiliki keturunan. Sebelum mengamuk Jaladeri bahkan sempat membunuh kedua anaknya sendiri yang masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di antara mereka yang selamat kemudian ada yang melapor kepada Ki Bodrowongso. Tindakan tegas segera diambil. Jaladeri pun tewas di tangan Bodrowongso.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Meski demikian, Bodrowongso tak mau jadi raja. Dia menyerahkan kerajaan kepada kerabat Pangeran Sido Ing Kenaya. Dia tak ingin keturunannya terlibat konflik kekuasaan.&lt;br /&gt;Ketika tutup usia, Ki Bodrowongso dimakamkan di Sabokingking, Palembang, satu areal dengan makam Pangeran Sido Ing Kenayan dan Ratu Sinuhun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bodrowongso memiliki seorang istri dan lima anak. Dari kelima anaknya, tiga menurunkan gelar untuk masing-masing keturunannya. Ki Panggung mewariskan gelar Kemas, Ki Mantuk menurunkan Masagus, dan Kiagus Abdul Gani menurunkan Kiagus. Khalifah Gemuk dan Ki Bodrowongso Mudo sama sekali tak mewariskan gelar untuk keturunan mereka. Kedua keturunan Bodrowongso ini bahkan tak muncul dalam buku sejarah Palembang yang ditulis Belanda, mungkin karena mereka tak punya gelar priyayi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lucunya, gelar-gelar ini membuat sebagian orang merasa derajatnya lebih tinggi dibanding yang lain. Bahkan, orang yang menyandang gelar tertentu menganggap dirinya punya derajat lebih tinggi dibanding yang menggunakan gelar lain. Kemas, misalnya, dianggap berderajat lebih tinggi dibanding Kiagus atau Masagus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Orang-orang Palembang tanpa gelar kebangsawanan atau priyayi disebut “Palembang Buntung”, yang artinya orang biasa, rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebagian keturunan Ki Bodrowongso percaya bahwa kakek moyang mereka menyerahkan kekuasaan kepada kerabat Pangeran Sido Ing Kenayan, dengan syarat orang yang nanti jadi raja harus menjunjung adat istiadat yang ditulis Ratu Sinuhun dalam buku Simbur Cahaya. Buku ini berisi perpaduan ajaran Islam dan kearifan bangsa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika ada sultan atau raja Palembang yang melenceng dari kesepakatan ini, mereka akan mangkat dalam kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Percaya atau tidak, dari 10 sultan yang pernah berkuasa di Palembang, hampir semuanya mangkat dalam kehinaan. Jika tidak mati diracun, ya mati dibunuh atau dibuang ke tanah pengasingan seperti yang dialami tiga sultan Palembang itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lantas, untuk apa membangkitkan lagi sebuah kerajaan bila sejarahnya penuh darah, intrik, kesedihan, dan tipu-muslihat? Ketimbang membangkitkan kembali kesultanan dan bernostalgia tentang kebesaran masa lalu, lebih baik kita sama-sama memikirkan jalan keluar persoalan yang dihadapi orang dan negara Indonesia hari ini. Bagaimana mengatasi banjir, hutan terbakar, semburan lumpur, flu burung, demam berdarah, kemiskinan, kebodohan?** &lt;em&gt;*) Dimuat &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pantau.or.id/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;www.pantau.or.id&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-4189716620635397938?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/4189716620635397938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=4189716620635397938' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4189716620635397938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/4189716620635397938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/esai-kesultanan-palembang_4271.html' title='Esai Kesultanan Palembang'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEVcOQn9cGI/AAAAAAAAAGw/ZSBcgeK2Q5k/s72-c/Sultan+Iskandar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-6490599202181932598</id><published>2008-06-03T05:49:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:38.173-08:00</updated><title type='text'>Narasi Pabrik Udang (4)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEU-7gn9cFI/AAAAAAAAAGo/JRb0z3i-QJI/s1600-h/tambakdipasena.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207637736214589522" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEU-7gn9cFI/AAAAAAAAAGo/JRb0z3i-QJI/s400/tambakdipasena.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;KASUS PT WACHYUNI MANDIRA (4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Kamp Konsentrasi Pertambakan Terbesar Se-Asia Tenggara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;DALAM peta, Desa Bumi Pratama Mandira, Mesuji, OganKomering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mungkin hanya sebuah titik di pantaiTimur pulau Sumatera bagian Selatan. Namun, desa yang luasnya kurang-lebih20.000 hektare ini merupakan pertambakan udang windu terbesar di AsiaTenggara yang dibangun PT Wachyuni Mandira selama satu sejak 1995.&lt;br /&gt;Desa pertambakan ini terbagi dalam 161 kanal dalam empat blok, tapi baru duablok yang dihuni petambak plasma: Blok 3 dan 4. Setiap jalur dihuni 16 kepalakeluarga petambak. Desa yang kepala desanya ditunjuk PT WM itu diresmikanGubernur Sumsel Ramli Hasan Basri, November 1996.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Proses pembangunan desa ini banyak menimbulkan reaksi dari berbagai pihak,terutama para petambak tradisional di Desa Sungaisibur, Karangindah Kecik,dan Karangindah Besak. Sebabnya, perusahaan ini melakukan penggusuranlahan milik para petambak tradisional secara sepihak. Selain proses ganti rugiyang semaunya, para petambak tradisional yang lahan tergusur mengalamiintimidasi dari aparat militer.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bahkan banyak terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan aparat militer.Misalnya Hasan Bin Anang, 47 tahun, petambak tradisional yang juga Ketuaketip (penghulu) di Desa Sungaipinang Indah, mengalami stress selama tigabulan, dan sempat dirawat di rumah sakit, akibat seorang polisi menembakkanpeluru timah di atas kepalanya. Polisi yang bernama Mawarno dari Polres OKIitu menembaknya saat dia mencoba menghalangi jalan escavator yang masuk kearea tambaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Setelah diresmikan, masuklah ribuan petambak, baik yang sebelumnyapetambak tradisional atau petambak dari Palembang, Lampung, dan Jawa,menjadi petambak plasma. Mereka yang sebagian membeli kartu plasmakepada pihak perusahaan antara Rp2-2,5 juta itu, membawa harapan besarmenjadi petambak plasma yang sukses. Apalagi, dijanjikan perusahaan, setelahdelapan tahun, mereka akan memiliki dua lahan tambak. Setiap tambakberukuran 2.500 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun, mimpi manis 2.500 petambak dan 3.500 anggota keluarganya menjadimimpi buruk. Desa yang dibatasi Sungai Mesuji dan Laut Jawa tersebut, selamadua tahun malah mengubur harapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Para petambak yang mendapat pinjaman sebesar US$ 70.000 dari BankDagang Nasional Indonesia (BDNI) -- yang kini dibekukan -- sejak panenpertama belum pernah menerima bagi hasil dari pihak perusahaan. Bahkanmereka tidak mengetahui berapa besar biaya pengembalian pinjaman yangdibayar mereka melalui PT WM, karena PT WM tidak pernah memberitahupara petambak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebetulnya, saat pertama memasuki desa pertambakan tersebut, merekalangsung mendapatkan kebohongan dari pihak perusahaan. Rumah, peralatanrumah tangga, serta peralatan tambak yang disebutkan dalam akad kredit tidaksesuai dengan yang terima.&lt;br /&gt;Misalnya, rumah yang mereka kredit jauh dari layak. Kayu rumah sudah tampakrusak. Begitupun peralatan rumah tangga, sebagian besar sudah rusak dan tidakdapat dipakai lagi.&lt;br /&gt;Lalu, peralatan pertambakan seperti selang spiral air dan mesin penyedot airjuga tidak sesuai. Mesin penyedot air yang seharusnya diberikan pada setiappetambak satu buah, ternyata diberikan satu buah untuk empat petambak.Merk penyedot air itupun bukan Submarsible seperti disebutkan, tapi digantimerk Alkon yang harganya jauh lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pada panen pertama, enam bulan kemudian, para petambak tidak menerimabagi hasil dari penjualan udang yang diekspor ke luar negeri itu. Mereka hanyadiberi bonus uang oleh pihak perusahaan setiap bulan sebesar Rp175 ribu, sertabantuan sembako senilai Rp80 ribu berupa 35 kg beras, 3 kg gula pasir, 2 kgminyak sayur, 2 kaleng susu instant ukuran sedang, 1/4 kg kopi, 1 dos mieinstant, 1/4 kg sabun cuci, dan 20 liter minyak tanah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pada mulanya, para petambak mengira bonus uang itu merupakan persentasedari penjualan udang, baru setahun kemudian mereka mengetahui bila bonusuang itu merupakan bagian dari kredit mereka kepada BDNI.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena itu para petambak protes. Tetapi, protes berbentuk dialog tidakmendatangkan hasil maksimal. Mereka hanya menerima perubahan jumlah uangbonus: bulan Januari-Agustus 1998 menerima bonus Rp220 ribu dan bantuansembako senilai Rp100 ribu; September 1998 menerima bonus sebesar Rp375ribu dan bantuan sembako senilai Rp125 ribu; pada Oktober 1998 bonus naikmenjadi Rp500 ribu, dan bantuan sembako senilai Rp175 ribu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Padahal bila hak hasil usaha diterima petambak setiap kali panen, kredit US$70.000 dari BDNI dapat terlunasi sesuai batas waktu, delapan tahun. Sebabsetiap kali panen, dengan hasil minimal 1 ton untuk dua tambak dengan hargaudang per kilogram Rp100 ribu, para petambak menerima hasil kotor sebesarRp100 juta, sebelum dikurangi biaya produksi, cicilan kredit, dan simpanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun, selain tidak berlakunya bagi hasil, para petambak dan keluarganya dilokasi pertambakan mengalami tekanan. Mereka tidak diperbolehkanmelakukan komunikasi dengan pihak luar, atau setidaknya melalui birokrasiyang ketat dan panjang bila ingin mendapatkan izin keluar lokasi walau ituberhubungan dengan hajatan, atau ada keluarga yang meninggal dan sakit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bahkan, aparat marinir yang diperbantukan pihak perusahaan seringkalibertindak kasar terhadap para petambak. Pernah suatu kali, beberapapetambak dipukuli dan diterjang aparat karena ribut dengan sesama petambaksaat pertandingan sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sedangkan para pengawas lapangan sering kali melakukan intimidasi terhadappetambak. Misalnya ancaman surat peringatan apabila petambak tidak menurutiatau alpa instruksi yang mereka perintahkan. Bahkan banyak petambak yangdicabut keanggotaan plasma-nya tanpa alasan jelas, contohnya karena mesinpembangkit listrik tambak meledak karena persoalan teknis, petambaknyalangsung dicabut plasma-nya tanpa uang ganti rugi serupiah pun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Lolos Lewat Rawa-Rawa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada petambak melakukan protes terhadap pengawas lapangan melaluisurat maupun lisan, langsung dicabut plasmanya. Bila misalnya tercium aromamasakan udang, mereka langsung didatangi dan dibawa ke kantor, disidangkanselanjutnya diberikan surat peringatan.&lt;br /&gt;"Kami seperti hidup dalam camp konsetrasi," kata Iskandar Bachtiar, petambakasal Palembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang dialami usai kerusuhan 15 November 1998 kian mempertegasbetapa tercekamnya kehidupan para petambak itu. Seorang ibu dan anaknya,Ny. Siti Fatimah (35) dan Holid Mawardi (5), yang sakit akibat kekuranganpangan, keluar dari lokasi melalui jalan alternatif. Mereka berjalan kaki dirawa-rawa selama delapan jam, sebelum naik kendaraan umum menujuPalembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menyusuri rawa-rawa mereka melihat para aparat marinir berjaga-jagadi sekitar lokasi, serta di beberapa daerah di dekat perkampungan pendudukseperti Desa Gajahmati, Rawajitu, Sungaisibur, dan Sungaipinang Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesampai di Palembang, kami merasa seperti terhindar dari kematian," kataEndang, 32 tahun, setelah mengantarkan ibu dan anak yang mereka bawa kaburke RS Charitas.&lt;br /&gt;Selain korban tiga petambak yang dipukuli, empat petambak ditembak kakinya,dan empat petambak dikeroyok pam swarkarsa, kondisi fisik dan mental 6.000jiwa keluarga petambak di lokasi pertambakan sangat mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar petambak dan anggota keluarganya mengalami stress. Tercatat,bapak seorang petambak kedua kakinya lumpuh akibat stress, seorangpetambak sakit tifus, lima istri petambak yang tengah hamil mengalami gangguankesehatan, serta seorang anak kecil menderita tumor di bawah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ribuan petambak dan keluarganya mengalami kekurangan bahanmakanan. "Tiap malam, setiap blok, bayi-bayi menangis karena air susu ibunyakering," kata petambak Kiswanto. "Untuk mendapatkan susu para ibu terpaksamembawa bayinya keluar lokasi menemui penduduk sekitar melalui jalan pintasdi hutan," sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Endang, kelima ibu hamil tua yang mengalami gangguan kesehatan itu,tidak dapat berobat ke rumah sakit PT Depasena Citra Darmaja jaraknya belasan kilometer atau satu jam perjalanan menggunakan speedboat dari Desa Bumi Pratama Mandira walau pihak perusahaan mengizinkan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) Palembang, Indonesia 7 Desember 1998, saat menulis ini saya bekerja di Lampung Post dan peserta Workshop Liputan Politik yang diselenggarakan LP3Y)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1597773296991335541-6490599202181932598?l=menggergajibatu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/feeds/6490599202181932598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1597773296991335541&amp;postID=6490599202181932598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6490599202181932598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1597773296991335541/posts/default/6490599202181932598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menggergajibatu.blogspot.com/2008/06/narasi-pabrik-udang-4.html' title='Narasi Pabrik Udang (4)'/><author><name>T. Wijaya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06508061719706891695</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SYZcTddun4I/AAAAAAAAA38/P2C5dwmWj3E/S220/baru2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEU-7gn9cFI/AAAAAAAAAGo/JRb0z3i-QJI/s72-c/tambakdipasena.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1597773296991335541.post-8875887246814655401</id><published>2008-06-03T05:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T17:05:38.482-08:00</updated><title type='text'>Narasi Pabrik Udang (3)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEU9tQn9cEI/AAAAAAAAAGg/NFSZFN1w1fY/s1600-h/Sjamsul+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207636391889825858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_jJX5Ocadg-c/SEU9tQn9cEI/AAAAAAAAAGg/NFSZFN1w1fY/s400/Sjamsul+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;KASUS PT WACHYUNI MANDIRA (3)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Izin Diberikan Sesudah Dua Tahun Beroperasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;BOLEH dikatakan PT Wachyuni Mandira beroperasi selamadua tahun secara ilegal. Berarti, sejak 1996 perusahaan ini telahmengeksploitasi ribuan petambak dan alam, sehingga menciptakan konflik terbukaantara petambak dan karyawan perusahaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan oleh Harijanto, Direktur PT Wachyuni Mandira,Komisi Amdal Pusat mengeluarkan izin persetujuan pada 13 November 1998."Masa kami mengembangkan perusahaan sebesar ini secara asal-asalan. Sangattidak beralasan jika pengembangan budi daya tambak udang ini tanpapengkajian mendalam," kilahnya sambil menunjukkan surat persetujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Proses pengajuan amdal itu didukung oleh Muhammad Faisal dari FakultasTeknik Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, bukan oleh Pusat PenelitianLingkungan Hidup (PPLH) Unsri. Kenapa? Yang jelas, Dr. Ir. Syaiful D.E.A.,Kepala PPLH Unsri, secara tegas membantah bahwa pihaknya telahmenandatangani kontrak studi amdal PT Wachyuni Mandira. Artinya, iamembantah pernyataan pers yang disampaikan oleh Abadi Burdin Darmo,kuasa hukum PT Wachyuni Mandira.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disetujuinya amdal itu oleh komisi pusat itu malah mendapat reaksi dari WahanaLingkungan Hidup Sumatera Selatan (Walhi Sumsel). Heryansyah, aktivis WalhiSumsel, menilai bahwa persetujuan amdal itu sangat politis. "Kok saat adakonflik dan ada tekanan dari masyarakat, persetujuan amdalnya barudikeluarkan. Apa alasannya karena hitungan aset?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pernyataan Heryansyah sangat beralasan. Setidaknya Gubernur Rosihan Arsyadbeberapa kali menyatakan bahwa operasional PT Wachyuni Mandira tetapdilanjutkan, karena keberadaan perusahaan ini sangat dibutuhkan olehpemerintah dan masyarakat. "Asetnya sangat penting, apalagi selama iniperusahaan itu sudah menampung ribuan tenaga kerja," katanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal yang sama dikatakan oleh anggota ahli Komisi Nasional Hak Asasi Manusia(Komnas HAM) Nazirrasul. Menurutnya, aset PT Wachyuni Mandira harusdipertahankan karena dibutuhkan oleh negara dan masyarakat. Saat ditanyasoal amdal, Nazirrasul tidak mau berkomentar. "Ya, konflik ini harusdiselesaikan secara damai," katanya membelokkan pertanyaan setelahmengunjungi lokasi PT Wachyuni Mandira.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa pun, masih kata Heryansyah, operasional PT Wachyuni Mandira selamadua tahun tetap ilegal. Eksploitasi terhadap ribuan petambak dan alam harustetap diproses secara hukum. "Kalau dihitung secara materi, nilainya bukanmiliaran rupiah lagi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Kami meminta operasional PT WM dihentikan," kata Nur Kholis, DirekturWalhi setempat. Alasannya, karena selama dua tahun beroperasi, PT WachyuniMandira tidak memiliki dokumen amdal terhadap usaha budi daya udang danpabrik pengelolaan udang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Selama dua tahun itu PT WM beroperasi secara ilegal, sehingga perjanjianakad kredit dengan petambak plasma menjadi batal. Selain itu, kami mendugaadanya unsur KKN sehingga PT WM dapat beroperasi," kata Kholis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada pertemuan dengan para petambak, 21 September 1998, Wakil GubernurSatya Nazori juga menjelaskan bahwa amdal PT Wachyuni Mandira belumselesai, sehingga perjanjian akad kredit antara petambak dan PT WachyuniMandira dianggap batal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Soal amdal, Darmo, kuasa hukum PT Wachyuni Mandira, membantah bahwaperusahaan tersebut tak memiliki amdal. "April 1998 lalu amdal itu sudah ada,"kata Ketua Ikatan Advokad Indonesia Sumsel ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jabarannya, tetap saja izin itu muncul setelah PT Wachyuni Mandira malangmelintang selama dua tahun. Untuk itu, Darmo mengakui keterlambatan prosespembuatan amdal tersebut. Katanya, keterlambatan itu akibat kinerja PTWachyuni Mandira, yakni Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UniversitasSriwijaya.*** &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;*) Palembang, Indonesia 7 Desember 1998, saat menulis ini saya bekerja di Lampung Post dan peserta Workshop Liputan Politik yang diselenggarakan LP3Y)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.
