Senin, 09 Juni 2008

Esai Dongeng Gebi








T. WIJAYA
Dongeng Gebi

Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan
Semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku

Reff :
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Disini aku merindukan dirimu
Kini ku coba mencari penggantimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

SETELAH mendendangkan lagu di atas, yang berjudul ”Tinggal Kenangan”, Gebi Caramel bunuh diri. Lagu itu sendiri ditulisnya lantaran kekasihnya, lebih dulu meninggal dunia lantaran bunuh diri. Tragis dan menyedihkan. Begitu omongan para remaja dari berbagai belahan dunia tentang Gebi Caramel.
Siapa Gebi Caramel? Tidak ada yang tahu. Misteri. Hanya informasi yang beredar gadis cantik—dibayangkan dari suaranya—berasal dari Bali. Mungkin lantaran misteri dan kisahnya tragis ini, membuat para remaja menyukainya.
Saya sendiri mengetahui lagu ini setelah anak saya yang tertua mendendangkannya.
”Bagus benar, lagu siapa itu?” tanya saya.
Selanjutnya, berceritalah anak kelas 5 sekolah dasar itu. Saya tertarik. Saya cari di
www.google.com dan www.youtube.com. Ada ratusan file mengenai lagu ini. Termasuk MP3-nya. Berbagai komentar muncul; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan bahkan ada yang cemas.
Ternyata lagu itu merupakan milik Pay alias Rifai Ilyas (24), gitaris kelompok band Caramel di Makasar, Sulawesi Selatan. Begitu sebuah pengakuan Pay dengan detikcom. Tidak ada kisah tragis mengenai si penulis dan penyanyi lagu itu.

Romantis
Dilihat dari lirik dan senandungnya, lagu “Tinggal Kenangan” merupakan lagu yang romantis. Melankolis. Lagu ini sebenarnya tidak istimewa, sama seperti lagu-lagu melankolis yang dinyanyikan grub band yang ada di Indonesia, seperti lagu-lagu milik Letto, Dewa, Ada, atau lagu-lagu milik Melly Goeslaw dan Ari Lasso.
Jadi, menurut saya, meledaknya lagu ini, yang juga banyak dinyayikan para pengamen, lantaran ada cerita alias dongeng tragis dan misteri yang melatari lagu ini.
Kisah lagu ini mungkin sama dengan lagu “Love Story”, yang mengikuti ledakan film dan novel “Love Story”. Atau, di Indonesia, seperti melegendanya lagu “Badai Pasti Berlalu” milik Erros Djarot yang digemari para remaja saat itu—sebagian saat ini—bersamaan dengan filmnya.
Yang membedakannya, “Tinggal Kenangan” dibangun dengan kisah romantis yang dibangun melalui “kebohongan” di dunia internet, sementara “Love Story” dan “Badai Pasti Berlalu” dari kisah romantis dari sebuah cerita fiksi alias kebohongan yang legal.

Kecemasan Orangtua
Terus-terang, saat ini saya begitu cemas dengan meningkatnya aksi bunuh diri para remaja di Indonesia. Alasan bunuh diri ini mulai dari permintaan si anak yang tidak dipenuhi orangtuanya, hingga persoalan cinta seperti dongeng pada lagu “Tinggal Kenangan”.
Tentunya, kecemasan ini sangat wajar. Sebab pada masa sekarang, seorang anak bukan hanya berguru dan bertanya dengan orangtuanya. Anak seorang petani, misalnya, ketika mau tahu persoalan agama, bukan hanya bertanya dengan orangtuanya, juga bertanya dengan gurunya, tokoh agama, atau bertanya dengan seseorang beridentitas ”nama” di dunia maya alias internet. Kondisi ini, seperti yang dicemaskan Emha Ainun Nadjib 20 tahun lalu melalui puisinya, ”Ibuku satu, bapakku satu, tapi orangtuaku seribu...”
Persoalan anak ini, seperti yang kita rasakan dulu, bukan hanya persoalan ilmu pengetahuan, tapi juga persoalan batin. Mulai dari persoalan Tuhan, hingga asmara. Dan, bila mereka menghadapi persoalan tersebut, mereka bukan hanya bertanya dengan bapak dan ibunya, juga bertanya dengan orangtua yang lain.
Lalu, seandainya pertanyaan itu menghadapi benturan atau tidak memuaskan si anak, apa yang terjadi? Kaum agama mungkin menyebutnya, si anak menjadi sesat. Tapi realitas yang saya tangkap adalah sikap frustasi, marah, sehingga melahirkan aksi yang paling menakutkan kita yakni bunuh diri.
Mungkin banyak orang akan mengatakan persoalan ini muncul lantaran lemahnya peranan orangtua menjadi ”kawan komunikasi” anak-anaknya. Jika orangtua mengambil peranan yang optimal dan baik, mungkin anak-anak mereka akan selamat.
Tetapi, banyak orangtua—terutama yang miskin—memberikan alasan, waktu mereka lebih banyak untuk mengatasi perut. Alasan ini cukup wajar. Jika seseorang tidak bekerja keras, ancaman kelaparan cukup terbuka lebar di Indonesia. Bahkan, banyak orangtua yang sudah bekerja keras, keluarga mereka tetap hidup miskin.

Ruang Publik
Saya melihat, ruang komunikasi para remaja Indonesia menjadi macet lantaran hilang dan menyempitnya ruang publik bagi para remaja. Pembangunan di berbagai kota besar, lebih melayani kebutuhan orang dewasa. Taman, gelanggang remaja, sarana olahraga, kian terpinggirkan, dan tergantikan dengan plasa, rumah toko, maupun tempat hiburan orang dewasa.
Para remaja kemudian lari ke dunia maya alias internet. Nah, menurut saya, ruang ini terlalu liberal, sehingga seseorang dapat mengekspresikan dirinya sedemikian rupa. Di dunia internet, seseorang dapat menjadi apa saja. Jadi, termasuk membangun dongeng Gebi Caramel di dunia maya tersebut.
Namun, perlukah kita membatasi dunia internet? Saya pikir tidak. Sebab liberalisasi yang diciptakan dunia internet itu juga membawa perubahan positif bagi para penggunanya. Seperti dalam menambah ilmu pengetahuan dan sahabat.
Saya masih percaya, kegagalan ruang publik yang dibangun pemerintah yang membuat para remaja kita kehilangan ruang buat mengekspresikan diri, sehingga kemacetan itu melahirkan aksi bunuh diri atau aksi lain seperti kebohongan yang membuat kita tercengang. ***

2 Comments:

Jajat Sudrajat, A.Md.Com said...

mas/bu/mba benar g kisah tentang gebi itu??
ko cerita GABI yang aku browsing di internet ku b'beda2...???

Anonim said...

Edy. Analisis yang diurai dengan runtut dan sangat menarik, luar biasa daya berfikir bpk/ibu ini. Jujur saya agak mrinding kalo dgrin lagu ini sdrian. Mungkin memang benar Gebi tlah bunuh diri, benar2 akan menggemparkan panggung musik dunia (posted from mot E398) 29des.wordpress.com