Selasa, 03 Juni 2008

Esai Sepakbola vs Parpol








T.WIJAYA
Sepakbola VS Parpol

SEANDAINYA sepakbola sudah ada di jaman nabi yang menerima alkitab, seperti Daud, Musa, Isa, dan Muhammad, apakah sepakbola dilarang atau justru didukung sebagai alat menyebarkan pesan-pesan dari Tuhan? Saya tidak tahu. Sebab sampai saat ini, saya belum menemukan satu baris kalimat sebagi pesan Tuhan mengenai olahraga massal seperti sepakbola dalam empat alkitabnya tersebut.


Yang jelas, dari abad pertengahan hingga awal abad ke-19, di Inggris sepakbola sempat dilarang oleh kerajaan. Sepakbola dinilai sebagai olahraga yang dekat dengan syetan. Siapa saja yang tertangkap atau diketahui bermain sepakbola, akan dipenjara bahkan dihukum mati!

Hari ini, sebagian besar warga dunia menyukai sepakbola. Dalam sepekan, mereka menyisihkan waktu sekian jam untuk menonton pertandingan sepakbola, baik di stadion, televisi, atau bermain sepakbola di stadion, lapangan kampung, lapangan futsal, hingga bermain sepakbola melalui Play Station. Seperti saya dan anak saya, dalam sepekan kami menghabiskan waktu sekitar 10 jam buat urusan sepakbola ini!

Tapi, di sisi lain, menjadi pemain sepakbola profesional, saat ini sangat menjanjikan. Gaji yang diterima seorang pemain sepakbola di Indonesia setiap bulan, misalnya, jauh melebihi gaji seorang wartawan Indonesia dalam setahun. Tidak heran, bila saat ini di Indonesia betaburan pemain asal negara-negara miskin di Afrika. Sementara gaji pemain sepakbola di Eropa, seperti di Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, rata-rata jauh melebihi anggaran belanja sebuah provinsi di Indonesia!

Agama Baru
Melihat fenomena sepakbola hari ini, mungkin saya sepakat bila ada yang menilainya sebagai agama baru yang mencandui masyarakat dunia. Tiap penggemar sepakbola, selain berkorban waktu juga uang, baik digunakan buat menonton pertandingan sepakbola, atau berbelanja pernik-pernik yang terkait dengan sepakbola.

Coba kita hitung, berapa besar waktu dan dana yang dikeluarkan seorang penggemar sepakbola dalam sepekan, bila dibandingkan dengan waktu dan dana mereka buat melakukan ritual agama dan menyumbang ke masjid, pure atau gereja dalam sepekan.

Sebagai agama baru, sepakbola yang tidak menjanjikan surga atau neraka itu, selalu menyedot ribuan hingga jutaan orang buat menyaksikan 22 orang berlari di atas lapangan beralas rumput sepanjang 110 meter. Sungguh ajaib, permainan yang sebenarnya konyol ini; 22 orang mengejar dan berebut bola, setelah bola didapat kemudian ditendang atau disundul selama 90 menit atau 120 menit, membuat penontonnya berteriak-teriak, menari-nari, bertelanjang dada, bahkan berkelahi hingga ada yang mengorbankan nyawanya.

Jadi, tidak heranlah pula, bila dua negara di Amerika Tengah, El-Salvador dan Honduras terlibat perang, menyusul perkelahian antarsporter mereka ketika tim sepakbola nasional mereka bertanding dalam babak penyisihan Piala Dunia 1970.

Soal sepakbola ini, Che Guevara pernah mengatakan bahwa sepakbola sangat berpotensi buat dijadikan alat revolusi.

Sepakbola vs Parpol
TERKAIT revolusi (baca reformasi) politik di Indonesia, saat ini muncul gagasan pembentukkan partai politik lokal, selain gagasan soal calon presiden dan kepala daerah independen.


Ada yang berpendapat, gagasan partai politik lokal ini merupakan reaksi atas gagalnya peranan partai politik nasional dalam menampung dan memperjuangkan kepentingan publik. Bila ini benar, dapat dibayangkan akan lahir banyak partai politik lokal di Indonesia.
Bila ini terjadi, menurut saya, akan terjadi perang antara partai politik lokal dengan klub sepakbola. Perang ini akan lebih seru dibandingkan petarungan antara partai politik lokal dengan partai politik nasional.


Perang akan terjadi pada wilayah pengumpulan massa, penggalangan dana, dan kaderisasi. Loh?

Sebagai partai politik, tentu saja yang harus dilakukan yakni penggalangan pendukung sebanyak mungkin. Selain itu, partai politik juga akan menghimpun sebanyak mungkin dana. Partai politik tanpa sumber dana, ibarat manusia tak pernah makan. Mati perlahan. Kemudian, partai politik juga akan melakukan kaderisasi.

Sementara melihat fenomena sepakbola yang ada, saya percaya akan banyak bertumbuhan klub-klub sepakbola. Sama seperti partai politik, klub sepakbola juga akan menggalang pendukung atau seporter sebanyak mungkin. Mereka pun menggalang sumber dana sebanyak mungkin. Selanjutnya, klub sepakbola membutuhkan pemain-pemain terbaik, yang artinya mereka akan melakukan pengkaderan.

Dengan kondisi ini, saya percaya proposal permohonan bantuan dana atau permintaan menjadi sponsor di meja kerja pimpinan perusahaan, pengusaha, pejabat daerah, akan didominasi dari klub sepakbola dan partai lokal.

Di sisi lain, perang publikasi akan berlangsung seru antara klub sepakbola dengan partai politik. Dan, di setiap rumah, akan terjadi diskusi panjang antara anak dengan orangtuanya, saat memilih menjadi anggota persatuan sporter sepakbola atau partai politik.

Lalu, siapa yang akan menang, klub sepakbola atau partai politik lokal? Banyak politisi pasti berpendapat, tidak akan terjadi perang antara klub sepakbola dengan partai politik. Sebab keduanya memiliki perbedaan tujuan atau misi. Serta, pengurus, pemain, atau seporter sebuah klub sepakbola, juga memiliki pilihan terhadap partai politik. Bahkan sebuah partai politik kemungkinan akan memiliki klub sepakbola.

Tapi, saya berpendapat bahwa yang akan menang adalah klub sepakbola. Kenapa? Sebab sebuah klub sepakbola memberikan kepuasan terhadap publik. Keinginan menang, selalu diberikan klub sepakbola. Klub sepakbola juga bersifat fairness, artinya janji mereka hanya satu; memberikan kemenangan. Dan, soal ini, banyak klub sepakbola memenuhi janjinya. Ini berbeda dengan sebuah partai politik, yang banyak memberikan janji, tapi sedikit sekali dipenuhi. Bahkan, tidak sedikit sebuah kebijakan atau perilaku aktor politik dari partai politik justru merugikan publik.

Jadi, saya tidak akan heran, bila pada pemilihan Presiden 2009 mendatang, banyak masyarakat Indonesia memilih Susilo Bambang Yudhoyono, seandainya Timnas PSSI menjadi Juara Asia atau masuk putaran final Piala Dunia 2010, bukan lantaran mendapat banyak dukungan dari partai lokal di Indonesia. Bagaimana? ***
*) Dimuat Berita Pagi, September 2007

0 Comments: