Minggu, 22 Juni 2008

Memburu Kekalahan

T. WIJAYA
Memburu Kekalahan

TIM sepakbola yang kalah dalam Piala Eropa 2008 yang digelar di Swiss-Austria adalah kesedihan. Kedukaan. Taufik Hidayat dan kawan-kawan takluk di tangan Korea Selatan dalam Piala Thomas Cup beberapa waktu lalu juga sebuah kesedihan. Lalu, merupakan kesedihan pula pasangan yang diusung Partai Golkar dan PAN kalah dalam pemilihan walikota Palembang periode 2008-2013.
Kekalahan sering juga dimengerti sebagai sebuah kemaluan. Aib. Dan, dampaknya membuat seseorang atau masyarakat menjadi frustasi. Marah. Bahkan bunuh diri.
Sebaliknya, kemenangan merupakan sebuah kebanggaan. Kejayaan. Luar biasa. Menganggumkan. Pokoknya, ada sejuta ungkapan yang membuat pihak yang menang untuk meninggikan bahunya atau menaikkan dagunya.
Pertanyaannya, adakah orang atau kelompok yang mau kalah? Jawabannya, hampir dipastikan, tidak ada. Hanya orang tidak waras yang mau kalah. Begitu pun hari ini, dari anak-anak yang ikut lomba mewarnai hingga mantan pejabat yang kaya ikut suksesi politik, tidak yang mau kalah.

KEINGINAN untuk selalu menang merupakan karakter purba manusia. Sejak peradaban batu hingga peradaban mesin ini, manusia selalu menciptakan berbagai permainan atau ruang buat berkompetisi. Permainan dan ruang kompetisi ini tentunya buat melahirkan subjek-subjek atau kelompok yang dinilai unggul. Pemenang. Mulai dari fisik, ilmu pengetahuan, keterampilan, hingga keindahan tubuh atau berakting.
Kesadaran purba manusia ini diperkuat oleh pemikiran eksistensial yang berkembang pesat di awal abad 20. Tiap manusia didorong untuk menjadi manusia yang paling unggul. Mereka yang lemah, bodoh, merupakan subjek yang harus dimusnahkan atau disingkirkan di dunia ini.

SETELAH Soeharto tumbang, saya melihat ada fenomena yang sangat menonjol dalam masyarakat Indonesia. Yakni tiap orang ingin menjadi pemenang. Ingin meraih kemenangan. Tekanan kekalahan yang diterapkan Soeharto benar-benar menjadi tsunami luar biasa pada kesadaran eksistensial manusia Indonesia.
Di dalam ruang politik, misalnya, mulai dari penambal ban, pegawai negeri, ahli agama, mantan pejabat, pengusaha, akademisi, ibu rumah tangga, pekerja seni, guru, preman, aktifis LSM, bersama para aktifis partai politik, bersaing buat menjadi anggota dewan, kepala daerah, atau sebuah organisasi.
Lalu, anak-anak dan remaja didorong para orangtuanya menjadi yang terbaik dalam berbagai lomba terkait dunia hiburan, seperti menjadi penyanyi, artis, atau model.
Di bidang ilmu pengetahuan juga seperti itu. Lomba matematika, fisika, kimia, menjadi ajang yang sering diselenggarakan buat para pelajar atau mahasiswa. Bahkan, seni pun turut dilombakan, seperti lomba penulisan puisi, penulisan novel, teater, film, akting, dan seterusnya.
Dan, bagi mereka yang tidak dapat menunjukkan prestasinya seperti disebutkan tadi, membuka ruang sendiri, misalnya menjadi juara ngebut motor di jalan, jagoan berkelahi di sekolah atau kampus, atau jagoan berkelahi di kampung.
Seperti yang banyak dikatakan orang, bila keinginan untuk menang sudah tertanam ke dasar hati seseorang atau kelompok, berbagai cara dilakukan. Mulai dari lobi dengan sogokan uang atau perempuan, teror, fitnah, hingga menggunakan cara-cara gaib atau dunia perdukunan. Dampaknya pun dapat kita perkirakan, yakni kekerasan. Baik kekerasan secara fisik maupun moral. Hari ini, setiap hari, kita membaca berita, mendengar, merasakan, dan menonton berita mengenai berbagai kekerasan yang sumbernya sebetulnya akibat persaingan untuk menang.

Kalah Itu Nikmat?
Dari uraian di atas, saya ingin mengatakan bahwa sebuah kekalahan itu merupakan kenikmatan. Buktinya, manusia yang mengakui dirinya kalah dari Tuhan, dia akan masuk surga. Meskipun ini sifatnya berupa keyakinan moral.
Namun, manusia yang merasa dirinya kalah dapat dipastikan menjadi penakut dan lemah, sehingga dia tidak mau berbuat sesuatu yang membuat dirinya kian terkalahkan. Katakanlah, tindakannya selalu baik, sopan, menghindari konflik. Dia memilih bersikap damai dan adil.
Memang, ada juga orang yang kalah tapi tidak dapat menerima kekalahan sehingga berbuat jahat. Tetapi, sebenarnya orang seperti ini memiliki kesadaran dirinya tidak kalah, justru sebaliknya dia yakin dirinya telah menang. Lantaran sesuatu hal kemenangan dirinya telah dirampas.
Mereka yang kalah, tidak akan pernah gelisah bagaimana mempertahankan sebuah kemenangan. Dan, sebaliknya mereka yang menang cenderung merasakan kesepian dan cemas bagaimana mempertahankan sebuah kemenangan. Logikanya, sebuah perlombaan, pertandingan, yang diikuti banyak orang selalu melahirkan satu orang pemenang. Bukankah dia sendirian?
Jadi, maukah kita menjadi orang-orang yang kalah? Maukah kita memburu kekalahan? Sekali lagi, saya percaya, tidak seorang pun yang mau kalah. Sebab kekalahan itu membuat kita merasa menjadi miskin, tertindas, dan tidak dapat menyampaikan keinginan atau ide. Meskipun kondisi paling kalah, akan dialami setiap manusia, ketika memasuki realitas kematian.
Jika begitu, jangan kita salahkan kondisi manusia Indonesia hari ini. Sebab kita tidak mau menjadi orang yang kalah. Minoritas ingin menang, mayoritas ingin selalu menang! Bersaing hingga tanah dan langit penuh fitnah, darah, dan sumpah. [*]

0 Comments: